Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Air Dan Api


__ADS_3

Aku dan Tian kayak air dan api. Aku udah menggebu-gebu dengan memuntahkan lahar emosi yang menjalar di hati dan pikiranku selama ada Mama, tapi respon si Tian setenang air. Dia malah senyum-senyum menggoda. Kayaknya kepalanya minta di getok.


"Kamu harusnya bersyukur, Yang. Hubungan ini berkembang pesat sebelum kita melangkah jauh," ujarnya kalem.


Berkembang pesat ndasmu!


"Mamamu... udah jadi Mamaku juga," cengirnya seolah mengolokku.


Gak tahan lagi, beneran aku mau getok kepalanya, ku dekati si Babas.


"Enak aja!" Ku tinju lengan si Babas. Niat hati mau getok kepalanya, tapi malah berakhir meninju lengannya. Seenggaknya aku masih menjunjung sopan santun dengan meninju lengannya saja.


Si Babas malah mengaduh sambil terbahak. Puas banget ketawanya.


"Ketawa, terus ketawa!" ketusku hendak memukul kembali lengannya. Tapi tanganku keburu di tangkap si Babas.


"Kita belum nikah, kamu jangan KDRT, Yang..." ujarnya membuat jantungku berkhianat. Sialan. Aku malah deg-degan.


"Mas!" desisku.


"Aduh... Galak banget calon istri, Mas," godanya lagi.


Double kill!


Minta di sumpel pake bibir itu orang. Eh, Yaaang! Kamu juga gak waras!


"Apaan sih!" ku tepis tangannya tapi dia malah tersenyum.


"Jangan marah-marah terus. Terima takdir dong kalau kamu memang diciptakan buat dampingi Mas," ujarnya.


"Mikirnya kejauhan!" ketusku sambil menjatuhkan diri di kursi samping si Babas.


Si Babas tersenyum lagi. Gila kali ya, ini orang!


"Kenapa sih otak dan hati kamu terus-terusan tolak, Mas?" tanyanya.


"Ya aneh aja! Aku gak pernah menjalin hubungan karena hal konyol kayak gini. Seeeeumur hidupku," delikan mata galakku membuat si Babas menahan senyum.


"Bagus kan? Jadi kenangan tersendiri buat kamu," ujarnya.


"Iya. Kenangan buruk!" ketusku. Si Babas malah terbahak lagi.


"Yang... Yang... you drive me crazy, Yang," gumamnya.


Aku hanya mendengkus. Pura-pura gak denger aja, biar dia gak makin menjadi.


"Kok marah sih? Orang-orang seneng lho, pasangannya di terima dengan baik sama keluarganya. Biasanya gak mudah menyatukan dua keluarga," ujarnya kalem.


"Dua keluarga apa!" ketusku sambil melototinya.


Babas tersenyum, "maksudnya, akrab dengan keluarga," ralat si Babas.

__ADS_1


"Gak usah besar kepala! Bukan cuma situ yang begitu sama Mama!"


Si Babas menegakkan tubuhnya, "maksud kamu?" tanyanya serius.


Ku tatap wajahnya, "mantanku dulu juga deket sama Mama," ujarku berusaha mengecilkan kembali kepalanya yang terlanjur membesar.


Si Babas mendengkus, "tapi gak ada yang dekat dengan Puja kan?" sindirnya telak.


Aarrrgghhh...


"Ada," bohongku.


"Siapa?" tanyanya.


"Ya, pokoknya ada aja!" ketusku.


"Yakin? Mas tahu tipikal Puja seperti apa. Soalnya, dia mirip dengan Mas. Dia protektif. Sama kayak Mas ke Ellen juga gitu," ujarnya.


Benar juga. Mereka sama-sama pengganti Papa.


"Ya, memangnya kalau dekat dengan Mama harus dekat dengan Mas Puja juga?"


Si Babas mengangguk-angguk seolah mencerna ucapanku. "Seenggaknya, untuk menuju jenjang sana, Mas udah mengantongi restu Mama dan Puja," Si Babas gak mau kalah.


"Mas!"


"Becanda, Yang..." dia senyum lagi.


Kenapa sih, orang kayak dia itu seolah bermuka dua? Bisa cool, kalem, anteng, serius, tegas depan orang lain. Tapi berubah lembek, jinak, pecicilan dengan orang yang dia anggap dekat?


Apa dia bipolar? Kenapa gak menampilkan dirinya apa adanya aja?


Kalau aku, aku memang begini adanya. Mau depan followersku, mau depan temanku, keluargaku, rekan kerjaku, ya... Aku tetap begini.  Aku bisa memposisikan diri ketika berhadapan dengan siapapun. Dengan orang yang lebih tua, aku bisa mencari topik yang sesuai dengan umur mereka. Dengan anak-anak, aku juga bisa membahas hal-hal seru untuk anak. Apalagi dengan sebayaku, paling mudah memang membahas apa saja yang hits di jamanku dulu. Sehingga, tiap aku ngobrol dengan siapa aja, menjadi sesuatu yang seru.


"Makasih, Yang. Kamu bikin Mas nyaman. Mas merasa udah kenal lama sama kamu. Mas juga gak paham kenapa begini," lirihnya.


Lho, dia kayak yang bisa baca isi pikiranku. Aneh banget. Jangan-jangan, bukan cuma pelet orang, tapi dia juga bisa baca pikiran orang? Ya Tuhan...


"Mas..."


"Hmm..."


Tanya jangan ya?


"Mas... Mas... tahu isi pikiranku?" tanyaku takut.


"Isi pikiranmu?" si Babas mengernyit heran mendengar pertanyaanku. "Mau nikah besok sama Mas 'kan?" godanya.


"Mas!"


Babas malah terbahak.

__ADS_1


"Aduh... Yang, kenapa kita baru ketemu sekarang sih? Kenapa gak dari dulu aja kalau kamu bisa bikin Mas kayak gini," ujarnya.


"Dari dulu kapan? Pas aku lahir? Aku lahir, Mas udah ABG ya!" ketusku.


Dia malah tertawa, "gak ABG banget juga. Mas masih anak-anak, kok. Tapi yang penting Mas gak nyesel karena Mas gak buru-buru nikah kayak orang-orang. Kalau Mas udah nikah, bisa-bisa kamu sama orang lain."


"Mas, kenapa sekarang Mas jadi gini? Kemarin-kemarin Mas gak kayak gini," protesku.


"Gak kayak begini gimana?" tanyanya.


"Kemarin Mas angkuh, sombong, nyebelin, res-"


"Nah, itu yang belum terhapus dari memori kamu," potongnya.


"Mas udah bilang, first impression kamu sama Mas itu karena kita salah paham aja. Walau Mas gak memungkiri kalau Mas memang cukup introvert. Tapi bukan berarti Mas sombong, angkuh, nyebelin yang kamu sebutkan tadi."


"Tapi Mas gitu sama aku!"


Si Babas menggelengkan kepalanya, "Mas bilang kalau Mas salah paham gara-gara si Andi sebut namamu itu," si Babas tersenyum geli. "Kalau ingat kejadian itu lagi, Mas suka senyum sendiri," si Babas menggelengkan kepalanya seraya tertawa kecil lagi.


"Mas emang gak tahu aku sebelumnya?" tanyaku.


"Enggak. Emang kamu ngetop?" tanyanya dengan wajah nyebelin.


"Gak ngetop. Siapa sih aku. Cuma remahan bakpia yang kebetulan bisa jadi bintang iklan jamu tolak angin sama wara-wiri di majalah doang. Satu dua kali masuk tivi walau cuma jadi cameo. Terus dicantol Mas Andi buat jadi BA perusahaannya. Gak sekelas sama Mas!" ketusku panjang lebar.


"Bukan begitu. Memang Mas kurang tahu sama model atau artis-artis Indonesia. Mas hampir gak pernah nonton tivi," ujarnya.


"Sombong!" cicitku pelan.


"Bukan sombong, Yang. Mas sibuk deng-"


"Iya yang sibuk!" potongku.


"Yang, Mas bukan anak konglomerat. Hidup Mas juga gak seenak yang kamu kira. Kalau Mas cerita tentang hidup Mas, apa kamu bakal percaya? Minimal mengurangi nilai minus Mas di mata kamu?" tanyanya serius.


"Pasti mau pamer," ketusku.


"Ck... Belum apa-apa sudah mikir begitu, Yang. Mas mau cerita, biar kamu tahu. Biar kamu paham juga tentang Mas. Biar kamu mengenal Mas dan menilai Mas dari cerita Mas sendiri. Bukan persepsi-persepsi aneh yang muncul di kepalamu," ujarnya.


"Tapi Mas gak ngarang kan?"


Si Babas tersenyum, "tuh kan, gak percaya lagi. Mas itu harus pake cara apa biar kamu bisa percaya sama Mas?" tanyanya.


Aku juga bingung. Kadang aku mau percaya, tapi kadang aku juga takut. Jujur aja, pengalaman kemarin dengan si Nico, bikin aku lebih waspada menghadapi laki-laki. Apalagi yang berhadapan denganku sekarang, bukan lelaki sebaya. Dia Om-Om. Jauh lebih dari itu segalanya. Dari mulai umur, sampai finansial.


Belum lagi, kehadirannya yang datang secara tiba-tiba dengan keanehan yang dia buat, bikin aku gak paham sama jalan hidupku. Ditambah kesalahpahaman yang terjadi kemarin-kemarin. Gimana aku mau percaya sama si Babas?


"Mau dengar sedikit tentang Mas, Yang?" tanyanya lagi.


.

__ADS_1


Mau denger ndaaakkk... Kak Tian akan bercerita. Ayo anak-anak sini kumpul... Tunjukan jempolnya manaaaa


__ADS_2