
Niat pulang ke rumah untuk menghindari si Babas, eh kenyataannya malah makin pusing dengan omongan Mama.
Jujur aja, si Tian itu ganteng, berkharisma, tajir juga. Tapi dari awal ketemu dia, nilaiku untuknya udah minus.
Meskipun pandangan pertama, dia membuatku terpesona. Tapi setelah dia salah paham, langsung nilainya jeblok di mataku. Persetan dengan wajah tampan nan rupawan itu. Toh, kelakuannya bikin aku sebal. Ditambah perkara nomor hape yang bikin hidupku gonjang-ganjing. Makin memuncak kekesalanku.
Tapi manusia itu kayaknya gak peka. Dia gak merasa kalau aku itu benci sama dia. Malah tanpa tedeng aling-aling ngajak nikah.
Yang bikin herannya lagi, tadi dia bilang apa? Aku menghindar aja bikin dia penasaran? Aku jutekin, dia bilang menggemaskan? Dasar buaya buntung! Sorry-sorry jek, gombalannya gak bikin aku klepek-klepek.
Sekarang aku harus putar otak, gimana caranya biar dia tarik kembali ajakan nikahnya itu. Gak apa-apa deh, dia ilfil atau benci sama aku juga. Yang penting, aku bisa putus kontak sama manusia aneh itu.
Oh, bukan cuma dia yang harus aku tangani. Tapi Mama juga. Heran banget, Mama yang selektif, yang suka komen ini itu sama mantan-mantanku, tiba-tiba bisa luluh gitu aja sama si Babas. Padahal baru pertama kali ketemu. Pakai pelet apa sih orang itu? Kok, efeknya bisa maha dahsyat gitu ke Kanjeng Ratu.
Walau gak dipungkiri, dilihat dari kaca mata seorang ibu, si Tian itu husband material seperti yang aku sebutkan tadi. Dia punya segalanya yang menggiurkan. Tapi kan, kalau kelakuan jungkir balik dengan penampilannya, aku sih ogah. Gak kebayang, gimana menderitanya kalau harus menghabiskan seumur hidup bareng dia.
^^^Babas Tumbas :^^^
^^^Saya sudah di rumah, Yang. Kamu istirahat ya... ^^^
Bodo amat. Mau udah sampai rumah, mau sampai ke akhirat juga gak peduli. Ngapain coba pakai WhatsApp kasih kabar segala? Gak penting!
^^^Babas Tumbas :^^^
^^^Oya, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk saya. Jangan lupa, pertimbangkan tawaran yang tadi ya, Yang.^^^
Gak perlu pakai pertimbangan. Dari tadi aku sudah langsung tolak kan? Ngapain dipertimbangkan lagi? Toh, gak ada sesuatu yang mestiku pertimbangkan.
Kalau dilihat cuma dari kegantengnya yang harus aku pertimbangkan, masih banyak lelaki di dunia ini yang ganteng tanpa kepedean kayak dia. Kalau dari segi finansial? Aku gak muluk-muluk minta suami tajir kok. Buatku itu bonus aja. Yang jelas, calon suamiku nanti, mau usaha, kerja keras. Toh, aku juga bukan pengangguran. Lagian, rezeki masih bisa di cari bareng-bareng kan? Malah enak kalau hasil bersama. Dia gak akan merasa besar kepala karena udah menanggung beban dengan membiayai hidupku.
__ADS_1
Terus mengenai jujur apa adanya seperti yang dia sebutkan tadi, menurutku semua yang mau rumah tangga memang begitu kan? Bukan hal yang spesial, tapi kejujuran memang sangat dibutuhkan dalam berumah tangga.
Perkara teori rumah tangga, aku masih bisa berkomentar kalau rumah tangga itu harus begini begitu. Tapi aku gak tahu prakteknya bakal sesuai teori atau enggak. Lagipula, berumah tangga itu bisa berjalan sukses dengan siapa kita berpartner bukan? Kalau partner kita toksik, gak bikin kita berkembang, ya... buat apa berumah tangga? Dan, kalau partner kita nyebelin juga bisa-bisa bikin kita gila. Point ini nih yang ada di si Tian, yang bikin aku langsung 'say no' tanpa pikir panjang.
"Jadi, semalam Mas Tian ngajak kencan?" tanya Mbak Retno yang membuatku melek seketika ketika mendengar suaranya.
"Sehat Mbak?" sapaku dengan suara serak. Masih ngumpulin nyawa lho aku, udah di todong pertanyaan yang bikin aku sulit tidur semalaman aja.
"Makanya ke sini pagi-pagi juga udah sehat. Jadi bener tho, Mas Tian suka sama kamu?" tanyanya lagi.
"Hoooaaaammmm... masih ngantuk aku, Mbak," dalihku.
"Gak usah mengalihkan pertanyaanku, Yang. Semalam, Lilik juga cerita kalau kamu di jemput dia. Mbak udah curiga dari pas dia minta alamat rumahmu," jelasnya.
"Masih pagi, Mbak. Bahasnya nanti aja," jawabku seraya duduk.
"Lha, emang kenapa kalau bukan founder, CEO, atau jabatannya yang tinggi-tinggi itu?" tanyaku sebal. Mulai deh, materi, cuan, nomor wahid.
"Ya gak apa-apa. Tapi kalau sekelas itu naksir kamu, kamu bisa hidup enak tanpa harus banting tulang, Yang," cengirnya.
"Ngawur! Dah, aku mau mandi dulu ah," buru-buru aku melesat ke kamar mandi sebelum Mbak Retno tanya yang macam-macam lagi.
Perlu di garis bawahi. Aku gak mau ya, nikah cuma untuk memanfaatkan laki-laki yang jadi suamiku nanti. Mentang-mentang suami tajir terus aku cuma ongkang-ongkang kaki doang. Gak gitu tsaay... Prinsipku, aku harus berdiri di kakiku sendiri. Kayak Mbak Gita yang masih bisa cari cuan sendiri. Bukan gak bersyukur kalau misalkan nantinya aku dapat suami kaya raya. Tapi kalau aku keenakan — terlena dengan kemewahan yang dia beri — terus kalau suatu saat tiba-tiba dia bosan sama aku, lalu aku di depak dari hidupnya, gimana? Gak mau ya, hidupku kayak sinetron. Ih, amit-amit.
Aku kerja keras kayak gini udah biasa. Di nikmati punya kesibukan seperti sekarang. Bersyukur di zaman sekarang, masih bisa kerja. Apalagi kerjanya santai kayak aku gini. Alhamdulillah, di kasih rezeki cukup dan ngalir terus. Gak sedikit kok, yang susah cari kerja.
Dan banyak juga wanita yang udah berumah tangga, resign kerja kemudian total mengurus rumah tangganya. Pada akhirnya mereka juga ngeluh ingin kerja lagi. Sama kayak cerita temanku yang udah dapat posisi enak di kantornya waktu gadis dulu, kemudian resign dan sekarang menyesal melepaskan kerjaannya itu karena ternyata rumah tangganya gak berjalan mulus. Aku gak mau kayak gitu.
Yang paling aku ingat sampai saat ini, pengalaman keluargaku dulu. Waktu kami ditinggal Papa pergi untuk selamanya. Mama yang notabene ibu rumah tangga, bingung harus gimana membiayai Mas Puja dan aku yang masih sekolah. Pinjam sama keluarga, gak ada yang mau kasih. Gak ada yang bisa di andalkan juga. Sampai akhirnya Mama jual rumah mewah kami, dan pindah ke rumah yang sampai sekarang kami tempati. Dan sisa uangnya dipakai untuk usaha Mama juga untuk keperluan sehari-hari kami.
__ADS_1
Itu masih terbilang mending, Papa meninggalkan warisan berupa rumah mewah, bukan utang-piutang. Lantas gimana kalau nanti aku bernasib sama seperti Mama kalau aku gak kerja? Makanya aku gak mau, apa yang sudah kami alami dulu, nanti anakku juga mengalaminya. Gak, gak mau. Gak enak kalau ingat jaman-jaman sulit itu.
Mama sih masih untung, Mas Puja cukup dewasa waktu itu. Dia rela kerja, begitu lulus SMA dan menunda kuliahnya demi bantu Mama. Nah, gimana kalau nanti aku di tinggal suamiku pas anakku masih kecil-kecil? Siapa yang bakal bantuin aku, kalau gak berpijak dengan kakiku sendiri? Saudara? Teman? Sahabat? Mereka ada saat senangnya saja aku rasa.
Sudah aku bilang kan, kalau aku ini over thinking parah? Aku selalu berpikir panjang ke depan untuk menghadapi resiko-resiko yang akan ditemui di depan nanti. Jadi aku gak mau gegabah dan silau hanya karena tawaran si Tian.
"Jadi ceritanya gimana kalian bisa tiba-tiba sedekat itu?" todong Mbak Retno lagi padaku.
Aku pikir, dia udah keluar kamar sejak ku tinggal mandi. Nyatanya malah rebahan di kasurku.
"Gak dekat. Cuma kebetulan aja," jawabku.
"Memangnya Mbak bisa kamu bodohi? Gak mungkin cuma kebetulan aja! Udah Mbak bilang kan, dia itu ngincar kamu dari awal," ujaranya.
Tuh kan. Kalau belum dijawab pasti kayak gini.
Tapi kalau dijawab, Mbak Retno itu koncone Mama. Udah pasti dia berpihak sama siapa. Jadi, aku gak mau bocorin atau cerita apapun sama Mbak Retno lagi. Kalau ujung-ujungnya aku tahu dia bakal gimana.
"Selamat pagi, Yang. Hari ini sibuk apa?" ujar Mbak Retno membaca WhatsApp dengan suara lantang dari hapeku.
"Jadi selain ketemu, sekarang intens WhatsApp-an juga?" sindir Mbak Retno.
Kumaat deh!
.
Ada yang punya pola pikir seliar si Yayang gak? Mikirnya jauuuh banget ke Arab. Padahal dia masih di Jakarta-Jakarta juga. Pokoknya, Yayang ini hidupnya harus tertata. Mau nikah aja harus melalui step by step sesuai dengan alur pada umumnya. Pdkt - pacaran - nikah - punya anak. Dikasih cowok random yang tiba-tiba ngajak nikah kayak si Tian, asli hidup Yayang langsung gonjang-ganjing.
Gimana luluhnya cobaaaaaa?
__ADS_1