Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Nama


__ADS_3

Jika aku harus bersyukur, maka aku akan bersyukur diberi mata yang jernih dan mampu melihat secara jelas. Apalagi dihadapan ku ini, berdiri dua pria matang kualitas super yang sangat memanjakan mataku. Sayangnya, yang satu terlihat santai, yang satunya terlihat... cemburu? Tuh kan, aku jadi suudzon.


Gak mungkin 'kan, dua bidadara di hadapanku ini belok? Eh tapi gak menutup kemungkinan juga sih. Temanku yang ganteng, ada juga yang belok.


Sayang banget cowok ganteng, berkharisma kayak mereka kalau beneran belok. Bikin barisan para gadis banyak yang ngenes patah hati karena saingannya bukan lagi gadis cantik bak putri khayangan, tapi laki-laki ganteng nan macho. Menyedihkan. Udah gak bisa diganggu gugat buat adu kecantikan atau adu gaya kalau gitu. Percuma, gak bakal mempan. Mereka pasti lebih tertarik batangaan.


"Bukan masalah cipika-cipikinya, Ndi. Tapi—"


"Ck... Oke-oke. Maaf ya Yang, dia posesif, aku gak boleh macam-macam," ujar Mas Andi memotong ucapan lelaki ganteng di sebelahnya. Kayaknya Mas Andi takut banget cowok itu marah. Malah sekarang, aku semakin curiga. Cowok itu beneran cemburu sama aku?


"Lo lupa sama janji lo sendiri, Ndi?" ketusnya lagi. Suaranya pelan, tapi masih bisa ku dengar. Wajahnya mengeras pas melirikku. Galak banget. Sumpah, aku jadi merinding. Gimana aku gak suudzon kalau mereka belok, coba? Berantemnya aja khas orang pacaran.


Duh, gimana dong kalau mereka beneran belok? Katanya kalau kaum mereka udah cemburu itu bar-bar banget. Gak mandang siapa yang mereka hadapi. Gak mikir resiko yang akan ditanggungnya buat ngasih pelajaran bagi yang mengusik pasangannya.


Gimana kalau aku dianiaya? atau tiba-tiba cowok itu serang aku karena cemburu. Padahal aku gak merebut Mas Andi, kan? Walaupun sejujurnya aku suka Mas Andi pada pandangan pertama, tapi aku masih bisa jaim kok. Gak menunjukkan kalau aku terpikat sama pesonanya Mas Andi.


"Iya. Iya. Bawel. Cuma cipika-cipiki doang. Udah biasa kan? Lo gak usah lebay gitu." Mas Andi masih membela diri.


Ini kenapa mereka terang-terangan banget depan aku sih?


"Panggilannya juga Ndi!" ketus orang itu seraya melirikku. Lagi-lagi dengan tatapan sinis. Tanpa peduli kalau aku tersinggung. Tiap lihat aku, matanya kayak keluarin laser. Tajam, menghunus, ketus, menyeramkan. Lebih seram dia daripada Kanjeng Ratu kalau lagi ngambek. Yang ini kayak mau telen aku bulat-bulat.


"Ha?" Mas Andi mengerutkan keningnya kemudian tawanya menyembur.


Aku makin gak paham. Kenapa sih sama dua orang ganteng ini? Apa orang-orang yang belok seaneh mereka? Tapi temenku yang juga belok, gak gini lho. Masih terlihat normal dan gak seterang-terangan mereka.


Aku jadi takut kalau kayak gini. Mana Mbak Retno belum balik-balik dari kamar mandi dari tadi. Udah tahu acara penting kayak gini, Mbak No malah sarapan pakai ayam geprek. Dasar, manager gak ada otak.


"Aduh, Yan. Lo kayaknya salah paham. Gue manggil 'Yang' ya karena nama dia Yayang," ujar Mas Andi disela-sela tawanya sambil melirikku geli. "Tenang, gue gak mungkin genit-genit sama cewek lain," tambahnya lagi.


Oalaaaahhh... Seriusan dia cemburu? karena namaku?


Ternyata namaku memakan korban untuk kesekian kalinya. Dikiranya aku ini kesayangan Mas Andi sampai dipanggil 'Yang' kali ya? Padahal memang nama asliku Yayang. Yayang Puji Lestari.


Asli, bukan kali ini aja orang salah paham karena namaku. Dulu aku pernah  sampai menunjukan KTP karena orang itu gak percaya sama nama asliku.

__ADS_1


Tapi yang sekarang lebih ngeri. Biasanya yang cemburu padaku, sesama perempuan — mengira pacarnya selingkuh sama aku. Eh, sekarang aku dicemburui oleh mas-mas ganteng. Aneh banget rasanya.


"Ehm... Iya Mas, nama asli saya Yayang. Kalau Mas gak percaya, saya bisa kasih lihat KT—"


"Gak usah!" ketusnya.


Orang ini bener-bener gak ada akhlak dari tadi. Ganteng tapi kalau nyebelin kayak dia, bikin emosi juga. Cemburu sih cemburu, tapi gak lebay juga kali. Dia udah tahu kalau nama asliku itu Yayang kan? Kenapa masih ketus juga? Lagian, salah aku apa coba? Dari tadi aku cuma diam. Mereka debat aja aku gak ikut campur. Gak ngomong sepatah kata pun. Terus kenapa dia ketus sama aku?


Huh! Kalau bukan karena cuan dan menghargai Mas Andi yang notabene bos kreatif HPEC, udah aku tinggalin tanpa permisi.


"Duh, jadi salah paham begini. Saya kenalin aja ya kalian. Yan, ini Yayang, BA (Brand Ambasador) kami yang baru. Yang gue ceritain kemarin," ujarnya pada si Yan-Yan ini. Mas Andi kemudian melirikku, "Yang, kenalin, si posesif ini namanya Sebastian. Founder tempat ini, maksud saya Oke.com."


Aku cuma senyum terpaksa. Catat, terpaksa loh yaaa... Karena udah kesel duluan sama si Sebastian sombong ini. Halah dipanggil Yan-Yan. Cocokan dipanggil Babas Tumbas. Alias Babas si kuburan kalau dalam bahasa Spanyol. Mukanya horor kayak kuburan gitu kok.


Mas Andi menyenggol lengan si Yan-Yan itu seolah ngasih kode sampe akhirnya si Yan-Yan males-malesan ulurin tangannya.


Dih, kalau bukan karena tatakrama dan lagi di kandangnya, aku juga ogah nerima uluran tangan si Babas Tumbas. Tangannya aja terasa dingin. Sama kayak wajahnya.


"Maaf ya Yang, dia orang jaman baheula (jaman dulu) Gak punya instagram, facebook atau akun medsos lainnya. Jadi gak tahu kalau kamu selebgram ngetop," Mas Andi malah meminta maaf padaku.


"Eh, Mas Andi udah datang," tiba-tiba Mbak Retno datang sambil basa-basi. Pake bilang 'Mas Andi udah datang?' Dia sendiri ngapain aja di kamar mandi? Nyikat wc? Lama banget.


"Loh, Mbak Retno. Saya kira Yayang datang sendirian," balas Mas Andi lagi-lagi melirikku. Boleh geer gak sih kalau Mas Andi ada atensi sama aku? Dikit-dikit lirik. Dikit-dikit lirik. Lirik kok dikit-dikit tho Mas... Sini, kita saling pandang aja.


"Gak mungkin lah anak gadis saya lepas sendirian, Mas. Bisa-bisa digondol orang, nanti saya juga yang repot," cengir Mbak Retno sambil melirik... Si Yan-Yan. Kan, dia juga terpesona pada pandangan pertama sama lelaki itu. Belum tahu aja kalau si Yan-Yan ini lekong super posesifnya Mas Andi. Kalau tahu, dia pasti kaget juga sama kayak aku tadi.


"Acaranya mulai bentar lagi kan Ndi?" tanya si Yan-Yan yang diangguki Mas Andi. "Langsung aja ke ruang siaran. Di sana ada Mbak Endah sama Mas Agus dari Oke Tekno. Gue tinggal ya?" ujarnya lurus. Sama sekali gak melirikku atau Mbak Retno yang masih menatapnya dengan tatapan memuja.


"Oke. Lo gak keluar kan?" tanya Mas Andi menatap serius si Babas Tumbas.


"Gak. Stay sampe sore di sini. Kalau ada apa-apa, lo ke ruangan gue aja," jawab si Yan-Yan sambil menepuk pundak Mas Andi. Ih, pegang-pegang begitu. Situ mau nunjukin kalau Mas Andi milikmu? Nyooh ambil... Yang ganteng masih banyak. Gak usah meng-klaim begitu.


"Ya udah, yuk Yang, kita ke ruangan," ajak Mas Andi padaku.


"Mas Andi tumben sendirian?" tanyaku sambil berjalan ke ruangan yang ditunjukan tadi.

__ADS_1


"Udah biasa sendiri sih kalau kesini," ujarnya sambil tersenyum.


Ya ampun, berarti hubungan mereka udah lama. Kira-kira karyawannya tahu gak ya, kalau Mas Andi dan bos-nya merajut kasih? Ah, masa bodoh lah. Yang jelas, niatku kesini untuk kerja. Bukan ikut campur urusan orang.


Aku akui, kantor Oke.com emang keren banget. Terlepas dari founder-nya yang... Ah, sudahlah, malah jadi bahas dia lagi. Pokoknya, tempatnya super cozy. Bikin betah kayaknya kalau kerja disini. Karyawannya juga ramah. Beberapa orang yang kontak mata denganku, mereka tersenyum tulus. Begitupun Mbak Endah dan Mas Agus yang jadi host, seru banget orangnya. Sampai gak terasa, udah satu jam aku cuap-cuap bareng mereka. Rasanya gak sia-sia aku menghafal fitur-fitur smartphone ini sampai khatam di luar kepala. Mas Andi aja kasih dua jempolnya padaku.


...



"Yang, habis ini kita ada wawancara dikit bareng Oke Seleb," ujar Mbak Retno padaku setelah acara selesai. Mas Andi sudah pergi duluan karena ada meeting. Entah meeting beneran atau "meeting" sama lekongnya. Pokoknya judulnya meeting. Aku gak berani tanya-tanya karena bukan ranahku juga. ...


"Loh, emang ada jadwalnya?" tanyaku heran. Setahuku habis ini aku free. Baru nanti sore nge-endorse lagi kayak biasa.


"Gak ada sih, tapi tadi Mas Sebastian panggil aku ke ruangannya. Dia mau wawancara kamu. Lumayan kan Yang,  sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," cengir Mbak Retno seraya berbisik.


"Mbak ke ruangan siapa?" tanyaku untuk memastikan.


"Mas Tian," jawabnya bangga. "Gila Yaaang... aku ke ruangan Mas Tian deg-degan banget. Gantengnya bikin meleleh," masih dengan semangat menggebu Mbak Retno bercerita. Dih, sok akrab banget manggil Mas Tian segala. Baru juga ketemu sejam yang lalu.


"Mbak No, aku ada fakta soal si Babas Tumbas," bisik ku padanya. Buru-buru aku menutup mulut. Ampun, bisa keceplosan gini. Mentang-mentang ini mulut gak punya rem.


"Siapa Babas Tumbas?" tanya Mbak Retno heran.


"Ssstt... Nanti deh aku cerita, Mbak. Pok—"


"Mbak Yayang, udah di tunggu Mas Tian sama Mbak Umi di ruangannya," ujar Mbak Endang padaku.


Tuhaan... kok perasaanku gak enak ya?


.


Kayak biasa, bantu vote ya mantemaaan... Jangan lupa ramaikan komennya juga biar aku makin semangat.


Sarangbeoooo

__ADS_1


__ADS_2