Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Paket


__ADS_3

"Istirahat makan siang dulu, Yang. Aku mau minum obat," ujar Mbak Retno padaku.


Banyak banget iklannya sih dari tadi? Perasaan kerja hari ini kurang efektif. Lagi kerja aja yang di bahas si Tian, Tian, Tiaaaan mulu. Muak banget sama nama itu. Tumbenan juga Mbak Retno kerjanya santai. Alasannya dia masih lemas. Dih, tadi pagi aja bilangnya udah sembuh. Giliran harus kerja, ada aja alesannya. Bilang aja niat ke rumah cuma mau ghibah sama Mama dan Mbak Gita doang. Pakai alasan kerja segala. Padahal, dia libur aja aku seneng kok. Damai rasanya hidupku tanpa diganggu Mbak Retno.


"Yang..."


"Hmm..."


"Makan dulu, yuk..." ajak Mbak No lagi.


"Aku kenyang, Mbak. Mbak duluan aja," jawabku tanpa meliriknya, masih asyik scroll instagram.


"Kenyang makan apa? Dari tadi kamu gak makan apa-apa. Kiriman dari Mas Tian aja belum kamu colek," omelnya.


"Ya udah, Mbak aja yang makan," jawabku enteng.


"Gimana kita mau ikutan makan makanannya kalau kamu belum sentuh? Nanti kalau dia tanya siapa yang makan, kita yang malu," omelnya. "Udah, kamu makan dulu," Mbak Retno menarik tanganku.


"Ish! Aku gak lapar, Mbak," ku tarik tanganku dari pegangan Mbak Retno.


"Bohong! Lagian cuma salad doang. Keburu gak enak kalau di lamain. Udah buruan. Atau jangan-jangan, kamu gak mau berbagi sama kita?" sindirnya.


"Suudzon! Buat Mbak semua juga aku ikhlas, kok!" ketusku.


Boro-boro ingin makan semua makanannya. Sentuh makanan dari dia aja ogah. Kalau dia pelet aku lewat makanan itu gimana? Amit-amit.


"Ck... Gak usah banyak omong. Buruan makan dulu. Mbak gak mau ya, nanti Lilik mar—"


"Iya!" potongku. Selaluuuu aja ngancam bawa-bawa nama Kanjeng Ratu. Tahu banget kelemahanku yang satu itu.


"Nah gitu. Gak banyak ngeles. Ayo..." ajaknya.


"Mbak, duluan aja. Aku ke toilet sebentar."


Aku butuh waktu buatku sendiri lho. Males kalau turun, udah tahu topiknya gak jauh dari si Tian. Bosen banget dengarnya.


"Yaaannggg..." teriak Farel menyusulku. Baru aja sebentar, udah di susulin lagi. Ya Tuhan... Keluargaku begini banget.


"Iya. Bawel banget sih, Rel..."


"Ada telepon, Yang... Buruaaan..." ujarnya.


"Telepon?"


"Iya. Di hape Yayang."


"Ha?" buru-buru aku mencari hapeku.


Ya Tuhan, Mbak Noooooo... Usil banget sih. Hapeku sampai dibawa turun segala. Lengah sedikit langsung di samber. Nyebelin banget punya manager!


"Ayo, Yang. Teleponnya keburu mati," titah si bocil lagi sambil menarik tanganku. Aku cuma pasrah mengikuti langkahnya.


"Yang, Mas Tian..." Mbak Retno menyodorkan hapeku.


Ku lirik Mama memberiku kode lewat sorot matanya.


"Hallo Assalamu'alaikum, Mas..." sapaku basa-basi sambil menjauh dari makhluk-makhluk kepo.


"Hai, wa'alaikumsalam. Sibuk ya?"


"Oh, enggak," jawabku cepat.


"Kok, gak balas pesanku kalau gak sibuk?" tanyanya.


"Oh... Itu... Tadi kerja, Mas. Gak pegang hape. Ini baru aja pegang hape," bohong banget. Jelas-jelas dari tadi kerjaanku pegang hape terus.


"Oh, pantes yang angkat telepon Mbak Retno."


"Iya."


"Yang, suka makanannya?" tanya si Babas.


"Oh, suka Mas. Makasih ya..." jawabku sambil melirik tiga manusia yang masih memperhatikan gerak-gerikku.


"Sama-sama. Mas tahu kamu pasti suka, kok," ujarnya bangga.


"Tahu dari mana?"


"Instagram kamu," jawabnya.

__ADS_1


"Kok—"


"Mas juga kirim buat makan siang. Mudah-mudahan kamu suka. Soalnya Mas beli di tempat langganan Mas," tambahnya.


Sebentar, dia tahu makanan yang aku makan dari instagramku? Maksudnya, dia kepoin aku?


"Mas..."


"Ya?"


"Mas kepoin instagramku?" tanyaku ketus.


"Iya. Mas lihat beberapa postinganmu lagi makan makanan itu. Makanya Mas kirim makanan yang sama, sesuai selera kamu," jawabnya.


Ya Tuhan... Kok rasanya gerak-gerikku diperhatikan banget. Kebebasanku sudah di renggut keluarga, kini nambah satu orang lagi yang jadi stalker. Kalau followers sih, oke aja. Selama mereka gak mengganggu dan malah jadi penyemangatku. Tapi ini si Babas lho. Orang yang paling aku hindari saat ini.


"Mas, kenapa sih pakai kirim-kirim makanan itu segala? Aku kan gak minta, Mas."


"Mas tahu kamu gak minta. Tapi, ini sebagian kecil bentuk perhatian Mas buat kamu. Masa kamu gitu aja gak paham. Katanya pernah pacaran," sindirnya.


"Ya tahu, tapi kan Mas—"


"Biasanya wanita suka di kasih surprise begitu kan, Yang?"


Iya suka. Suka banget. Maksudnya keluargaku yang suka. Saking sukanya, mereka sampe kegirangan dapat makanan enak dari si Babas. Apalagi si Babas barusan bilang mau kirim untuk makan siang juga. Auto jadi idola tiga manusia centil.


"Tapi aku gak suka Mas!" jawabku ketus.


"Kenapa?"


"Aku gak suka bikin keluargaku salah paham. Mas ngerti gak sih?" omelku.


"Salah paham gimana?"


"Ya mereka kira, kita ada hubungan. Mas ga—"


"Syukurlah. Saya kira kenapa," potongnya tanpa merasa bersalah.


"Kok syukurlah?"


Ya Tuhan... Boleh gak sih, cincang ini orang? Kayaknya seneng banget lihat aku menderita.


Sialan. Iya juga. Dia pasti bahagia banget.


"Tapi Mas terlalu berlebihan. Dan aku gak suka, Mas," ketusku lagi. Bodo amat dia mau tersinggung juga. Aku cuma gak mau dia besar kepala dan gak mau bikin keluargaku makin salah paham. Udah cukup hari ini yang jadi topiknya si Tian. Besok-besok gak mau lagi dengar nama dia di rumah. Titik.


"Yang, kamu kok keras banget tolak Mas," ujarnya kalem bikin aku yang mendengarnya malah jadi gak enak.


"Aku... Aku bingung Mas. Kita ini gak dekat, tapi Mas kenapa tiba-tiba begini sih? Aku tuh masih gak paham," keluhku.


"Maksudnya, kamu ingin Mas gimana?"


"Ya gak gimana-gimana. Kayak dulu aja," gerutuku.


"Ya kalau begitu, sampai kapanpun kita gak bisa dekat dong? Katanya kamu mau kasih Mas kesempatan?"


Hhh...


"Ya, tapi gak kirim makanan juga, Mas. Aku gak enak," jawabku lemah. Udah gak ada tenaga lagi buat debat. Udah terkuras emosiku sama orang serumah tadi.


"Enakin aja, Yang. Mas juga dengan senang hati ngirimnya. Malah, Mas juga pesan makan siang buat Mas sendiri. Biar kita samaan makannya," ujarnya tanpa tahu malu.


Usia dia 35 tahun kan ya? Tapi aku kayak menghadapi ABG yang baru jatuh cinta. Norak banget sih gayanya. Mana bangga banget lagi sama kenorak-annya itu.


"Iya. Tapi besok jangan ya?"


"Kenapa? Mau ganti menu?"


Astagaaaa


"Aku puasa, Mas," bohongku.


"Puasa apa?"


"Bayar utang puasa ramadhan," bohongku lagi.


"Oh. Mau Mas temani?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Sahurnya Mas temani. Mau?" tanyanya.


"Gak usah, Mas. Aku biasanya gak sahur, kok."


"Jangan gitu, Yang. Kamu udah kurus banget. Kalau gak sahur, nanti gak ada tenaga," ujarnya.


"Hmm... Udah biasa Mas."


"Gak boleh dibiasakan. Ya sudah, pokoknya nanti begitu waktu sahur, Mas bangunin kamu, ya?"


Ih Ya Tuhan, kok jadi gini sih? Aku kan sengaja bohong biar dia gak kirim-kirim makanan lagi. Eh, malah dia jabanin juga mau bangunin sahur segala. Aku kudu gimana lagi sih biar ngusir orang ini dari hidupku?


"Yang, Mas Tian kirim makanan lagi?" suara Mbak Retno mengalihkan atensiku dari si Babas.


"Oh, udah sampe?" tanyaku refleks yang membuat Mbak Retno tersenyum jahil.


"Apa yang sampe?" tanya si Babas di seberang sana.


"Ini... Makan siang dari Mas," jawabku.


"Oh, baru sampai. Makan bareng yuk?" ajaknya.


"Ha? Gimana?"


"Makan bareng virtual. Mau?"


Kirim makanan ternyata ada maunya ini orang.


"Mas... Aku udah keny—"


"Makan, Yang. Yuk?"


Aarrggghhh...


"Oke. Tapi... Orang rumah pasti rame, Mas. Kita lagi kumpul soalnya."


Moga aja dia mengurungkan niatnya.


"Oh gak apa-apa, kita virtual bareng-bareng aja."


GILA ini orang!


"Atau kamu pindah makannya biar fokus bareng Mas?" pintanya.


Ya Tuhan. Ini Om-Om kenapa sih? Maksa terus.


"Mau kan, Yang?"


"Hmm..."


Wis, gak bisa nolak lagi kalau begini. Terlalu keras kayak tadi, dia malah protes kalau aku gak tepati janji. Di baikin, malah minta jantung plus empedu-empedunya kayak gini.


"Yes! Mas ganti dulu jadi vcall ya..." ujarnya yang refleks aku terima panggilan video darinya.


"Hai, Yang..." sapanya dengan senyum mengembang.


"Eh? Hai... Mas..."


Bodoh banget, malah gak siap kan lihat wajahnya si Tian yang sumringah.


"Mana makanan kamu?" tanyanya.


"Oh, aku ambil dulu. Bentar..."


Mau gak mau aku balik ke meja makan. Tuh kan, mereka lagi ghibahin aku sambil bongkar makanan dari si Babas.


"Yaang... Masmu kirim makanan lagi. Haduh, kalau tiap hari di kirimin kayak gini, Mama gak usah masak. Suenengnya..." ujar Mama sumringah. Pake bilang Masmu segala lagi! Dia bukan Masku. Gak bakal jadi Masku juga.


Mooohhh!


"Ma..." ku plototi Mama yang gak sadar kalau aku lagi video call sama si Babas.


"Opo sih? Kok plototi Mama kayak gitu?" Nada bicaranya kembali naik satu oktaf.


"Ini... Mas Tiannya denger," ku arahkan hapeku ke muka Mama. Mama kayaknya kaget banget. Tapi malah cengengesan.


"Hallo, Tante..." sapa si Babas sambil tersenyum.


Hmmm... Sukurin... Kanjeng Ratu bisa malu sama ulahnya sendiri....

__ADS_1


Bantu vote dong teman-teman. Bantu share juga biar kisah mereka banyak yg baca. Makasii....


__ADS_2