
"Yang, pinjam hair dryer-mu dong, punya Mbak kok gak nyala," pinta Mbak Gita begitu masuk ke kamarku.
"Ambil aja, Mbak." jawabku seraya meliriknya sepintas saat aku membersihkan wajah setelah kepulang si Babas beberapa saat yang lalu.
"Kenapa pacarmu gak nginep di sini tho Yang? Lumayan jauh lho dari sini ke Kemang," Mbak Gita duduk di bibir kasur sambil memperhatikanku.
"Biarin aja. Suruh siapa tiba-tiba datang ke rumah gak kasih kabar dulu," gerutuku.
"Lho, bukannya senang di datangi pacar. Bela-belain pulang dari Bogor langsung ke sini, gak pulang ke rumahnya dulu."
Pacar-pacar terus. Gak Mama, gak Mbak Gita, sama aja. Malah si Babas sendiri sekarang melabeliku sebagai calon istri segala. Bikin pusing.
"Eh tapi Yang, buat yang ini, bukan cuma Mama sama Mbak yang setuju. Masmu juga oke," ujar Mbak Gita membuatku menoleh seketika.
"Kok bisa?" tanyaku heran.
Sebelumnya Mas Puja kan belain aku. Kenapa tiba-tiba pindah haluan? Fix sih, sekeluarga kena peletnya si Babas kecuali aku.
"Tahu kan gimana songongnya Masmu sama laki-laki yang deketin kamu. Gak peduli dia lebih tua dari Masmu atau di bawahnya. Masmu pasti cerca habis-habisan. Tapi tadi pas pacarmu datang, belum juga Masmu tanya macam-macam, pacarmu udah bilang duluan."
"Bilang apa?"
"Ya itu, mau seriusin kamu. Dia tahu kalau Masmu itu kepala keluarga di rumah ini, makanya dia minta izin ingin serius menjalin hubungan sama kamu, gitu katanya."
"Ha?"
"Baru lho, Mbak ketemu orang se-gentle pacarmu itu. Gak pake basa-basi langsung nembak dar-der-dor sama Masmu," ujar Mbak Gita membuatku tak bisa berkata-kata lagi.
"Kalau menurut Mbak, coba kamu jangan menghindar terus, Yang. Mungkin saat ini kamu merasa belum cocok sama dia. Tapi barangkali, malah dia yang terbaik buatmu. Siapa tahu, Tuhan memang kirim dia untuk menjadi pendampingmu, Yang," ujar Mbak Gita menatapku serius.
"Ya, walaupun Mbak tahu seleramu seperti apa, tapi untuk yang satu ini, kayaknya lebih dari patut untuk di pertimbangkan." tambahnya.
"Bentar, Mbak. Tadi Mas Puja bilang apa sama si Tian, Mbak?" tanyaku penasaran.
Mbak Gita tersenyum, "pokoknya tadi lucu banget, Yang. Masmu malah jadi gagap sendiri. Kayak bingung mau jawab apa begitu pacarmu minta izin," Mbak Gita terkekeh
Aku menatap Mbak Gita untuk melanjutkan ceritanya.
"Intinya, semua keputusan ada di kamu. Mas Puja cuma bilang, gak mau adiknya di jadikan mainan. Gitu-gitulah kayak biasa."
Aku bingung mesti gimana. Masih gak ngerti semua ini kenapa jadi begini. Semua pikiran negatifku dan wejangan postif dari keluargaku berenang di kepala. Berlomba-lomba mana yang harus ku dengar lebih dulu. Ditambah, kesepakatan konyol yang tadi dibuat si Babas secara sepihak membuatnya merasa menang telak.
__ADS_1
"Udah tidur. Jangan di pikirin. Nanti juga ketemu jalannya. Hatimu juga bakal tahu sendiri kalau dia layak apa enggak buatmu," ujar Mbak Gita seraya berdiri.
"Mbak kenapa dulu bisa yakin menikah dengan Mas Puja?" tanyaku membuat Mbak Gita duduk kembali seraya menatapku.
"Kenapa ya? Mmm... Pertama. Awalnya Masmu ganggu Mbak terus, bikin Mbak benci tapi juga kepikiran. Ke dua, ya... pokoknya hati Mbak aja yang bilang kalau dialah orangnya. Feelnya beda aja."
"Kadang ya Yang, keputusan menikah itu bukan dilakukan saat kita benar-benar cinta sama dia. Karena pada saat kita tergila-gila, justru akal kita tidak bekerja. Tapi pikirkan menikah itu saat lagi waras. Jadi bukan cuma hati yang bicara. Tapi logika juga bekerja."
"Maksudnya gimana?" tanyaku bingung.
"Kalau kamu lagi cinta mati sama seseorang, segimanapun orang lain atau keluargamu menentang, atau ada omongan jelek tentang pasanganmu, kamu pasti teguh sama pendirian bahwa dia itu yang terbaik untukmu. Omongan orang, atau kejelekan dia tertutup oleh perasaan yang meletup-letup itu. Tapi beda lagi kalau kamu lagi di posisi gak cinta-cinta banget. Nah, pertimbangan-pertimbangan lain pun biasanya muncul."
"Kamu tahu kan, berapa lama Mbak sama Masmu pacaran? Saking lama dan terbiasanya, rasa cinta Mbak ke Masmu gak semenggebu-gebu kayak awal-awal pacaran. Sampe suatu waktu Mba mikir, mau dibawa kemana hubungan—"
"Mau dibawa kemana hubungan kita? Jika kau terus—"
"Malah nyanyi! Mbak serius ini," gerutu Mbak Gita yang ku sela dengan nyanyian.
"Oke lanjut, Mbak," ujarku sambil nyengir.
"Sampai dimana tadi?" tanyanya.
"Mau dibawa kemana, Mbak," ulangku.
"Waktu itu, Mbak nilai Masmu pekerja keras, sayang keluarga tapi gak bikin Mbak cemburu sama keluarganya. Kan ada juga yang sayang keluarga tapi istri sendiri kurang di perhatikan. Nah, Masmu gak begitu. Perhatiannya buat Mbak, kamu, sama Mama itu sesuai porsinya masing-masing menurut Mbak. Selain itu, Mas Puja bisa jadi partner yang menyenangkan. Saat debat, dia sering ngalah. Tahu sendiri kan kalau Mbak udah ngomong kayak kereta express. Dan mau gimanapun, wanita selalu benar," cengir Mbak Gita.
"Tapi ada kalanya Masmu tegas. Kalau Masmu udah begitu, itu artinya gak bisa di ganggu gugat. Mbak yang harus ngalah. Tapi yang palung utama, saat Mbak bingung butuh masukan, Masmu selalu kasih pilihan buat Mbak. Paham ndak maksudnya?"
"Pilihan gimana maksudnya?" tanyaku.
"Jadi gini, wanita itu kan sering plin-plan karena yang kita pake lebih dominan perasaan bukan logika. Begitu Mbak butuh masukan untuk memutuskan sesuatu, Mas dengan tegas memberi arahan gitu lho. Bukan cuma bilang terserah Mbak mau gimana. Itu yang Mbak maksud. Dia bisa mengarahkan Mbak yang lagi kebingungan. Dan itu yang bikin Mbak suka sama Masmu."
"Malah seringnya kalau Mbak sama Masmu lagi sharing, kita bisa nemu jalan keluarnya lebih cepat tapi sama-sama nyaman dengan keputusan itu," ujarnya panjang lebar.
"Sekarang kamu, Yang. Kamu kan gak lagi cinta sama Mas Tian. Coba kamu lihat segi positifnya dari dia apa aja?" Mbak Gita menatapku.
"Apa ya? Aku sama dia kesel terus, Mbak. Gak ada positifnya," jawabku membuat Mbak Gita tertawa.
"Percis Mbak saat nilai Masmu pas awal-awal. Gak ada bagus-bagus di mata Mbak. Yang ada nyebelin, ngeselin, bikin emosi terus," ujarnya. Aku mengangguk setuju untuk bagian ini. Si Tian juga begitu.
"Ya udah, gak usah di paksakan. Sekarang jalani aja dulu. Siapa tahu besok lusa kamu minta di nikahkan langsung," cengir Mbak Gita.
__ADS_1
"Ngawur! Nggak ya. Enak aja!" gerutuku membuat Mbak Gita terbahak.
"Dah, istirahat sana. Mbak pinjem ya hair dryer-nya," ujarnya seraya mengacungkan alat itu sambil melenggang keluar kamar.
Apa aku harus melakukan apa yang Mbak Gita katakan tadi? Terima si Babas dan jalani aja dulu? Perkara berujung ke pernikahan atau enggak, ya gimana nanti aja. Toh, kalau gak cocok tinggal putus. Kenapa aku jadi repot sih? Lagi pula kalau dia macam-macam, ada Mas Puja yang bakal maju lebih dulu.
Tapi... gimana caranya buka hati untuk si Babas? Bawaanya emosi terus kalau ketemu. Eh, jangankan ketemu, sekarang aja bikin emosi. Belum ada setengah jam, udah telepon aku. Ngapain lagi sih?
"Assalamu'alaikum Mas..." sapaku.
"Wa'alaikumsalam. Mas lupa kabari kamu kalau Mas udah sampe—"
"Mas ngebut? Kok cepet banget?" potongku sambil melirik jam. Gak salah? Masa dari sini ke Kemang cuma 20 menit? Dia naik mobil atau pake jurus menghilang?
"Mas nginep di hotel tempat kita makan kemarin, Yang," ujarnya.
"Ha? Kok di hotel?" tanyaku heran.
"Mas gak sanggup nyetir. Perutnya penuh banget. Makanya daripada terjadi hal-hal yang gak diinginkan, lebih baik Mas nginep di sini aja. Lagian kalau disini, Mas bisa langsung minta pertanggungjawaban dari kamu kalau Mas kenapa-kenapa," ujarnya.
Alasan. Emangnya aku apain? Cuma di kasih makan banyak plus rawit beberapa potong doang pakai minta pertanggungjawaban segala.
"So, besok temani Mas olahraga di sekitar sini ya?" pintanya.
"Lah? Apa hubungannya sama olahraga?"
"Mas kan harus buang lemak hasil makan tadi. Jadi kamu harus temani Mas." ujarnya lagi.
"Kalau gak sanggup, kenapa tadi malah dihabisin makannya?" gerutuku.
"Kamu tahu sendiri jawabannya apa, Yang," ujarnya datar. "Besok Mas jemput, ya?" tanyanya lagi. Kali ini terdengar lebih lembut.
"Hmmm..."
"Ya udah, istirahat Yang. Selamat malam calon istri Mas," ujarnya dengan nada tengil.
Apaan sih Baaasss!
.
Btw pada paham gak sih omongan Mbak Gita? Atau blibet? Maaf bestie, part ini gak maksimal. Gak aku edit sama sekali krn masih sakit. Doain sehat terus yaaa....
__ADS_1
Jangan lupa dukung aku trus dengan vote dan follow me. Hehehe