
Sumpah, idenya Mas Bojo out of the box sekali. Belum pernah aku melihat dekorasi seperti ini sebelumnya. Biasanya, dekor yang dipakai bertabur bunga hidup atau berbentuk castle, dan rumah adat. Tapi kali ini, aku merasa dibawa ke dimensi lain oleh suamiku tercinta.
"You happy?" bisik Mas Tian padaku.
"Banget. Makasih Sayang, semua di luar ekspetasiku," ujarku jujur.
Mas Tian tersenyum hangat, "me too. Mas Johan cerdas banget. Dia tahu banget apa yang Mas mau," ujar Mas Tian menyebut nama sang dekorator.
"Aku bangga banget, semua yang datang takjub sama dekorasinya Mas," ujarku lagi.
Mas Tian mengangguk. "Iya. Tapi dibalik itu semua, siapa dulu yang berdiri di sini. Pastinya yang tercantik dan terganteng malam ini. Jadi semuanya terasa pas," ujarnya pongah.
__ADS_1
"Dih, muji diri sendiri ganteng maksudnya?" sarkasku.
Mas Tian terbahak bersamaan dengan sang fotografer yang diam-diam membidik kami saat ku lihat blitz mengarah pada kami tapi ku abaikan.
"Ah, kenapa pas wedding aku, Mas gak nyumbang ide kayak gini sih? Curang banget!" gerutu Mbak Ellen mendekatiku dan Mas Tian setelah tak ada lagi tamu yang naik untuk menyalami kami.
"Ya, itu kan wedding dream kamu. Masa Mas mau ikut campur?" sanggah Mas Tian.
"Sumpah Yaaang... Aku iri sama kamu. Kenapa wedding kalian perfect banget. Gak ada yang cacat sedikit pun. Makanan super enak. Souvenir cantik. Semuanya oke banget. Yang bikin cacat cuma Mas Andi yang salah lirik doang pas tadi nyanyi. Hiiihhh... Itu orang malah ketawa, udah tahu salah juga," gerutu Mbak Ellen pada suaminya membuatku dan Mas Tian terbahak seketika.
"Kemana orangnya?" tanya Mas Tian.
Setelah berbincang dengan Mbak Ellen, aku dan Mas Tian turun dari singgasana, untuk menghampiri keluarga besar kami sekedar berterima kasih pada mereka.
"Ini dekorasinya kok nyeleneh gini tho Yang?" sindir Bude — istri si juragan emping.
__ADS_1
"Iya Bude, biar beda dengan yang lain," jawabku sambil tersenyum.
"Tapi kok begini banget ya? Gak ada tradisional sama sekali. Kamu kan orang Jawa, harusnya kalian pake Jawi Jangkep sama kebaya gitu lho. Bukan jas dan baju begitu," tajamnya membuatku menghela nafas.
"Nggih, Bude. Ini hasil kesepakatan bersama. Apalagi suamiku kan BULE Bude."
"Lha, bukannya dia keturunan Jawa juga? Harusnya ndak begini. Ada adatnya gitu lho," kemudian dia ngomong bahasa Jawa yang aku gak ngerti sama sekali.
Terus harusnya gimana? Harus sesuai selera Bude? Ini kan acara nikahanku. Terserah aku dong, mau pake adat atau enggak juga.
Hih, julid amat jadi orang. Biayain nggak. Ikut nyumbang nggak. Tapi berasa jadi komentator di ajang pencarian bakat.
...Kalau gelar hajatan ya gitu Yang. Bagus di komentarin, jelek apa lagi. ...
...Wes, mending sayang-sayangan lagi sama Mas Tian. ...
__ADS_1
...Yuk lanjut baca di syenel yucupku : cerita ambu. ...
...Jangan lupa subrek. Mamaciiw... ...