Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Gagal Menghindar


__ADS_3

Antara tiga banding satu, sudah jelas yang bakal menang ya yang banyak. Kubu Mama, Mbak Gita dan Mbak Retno tentu aja lebih kuat dari pada aku yang cuma seorang diri.


Aku pikir, Mama bakal malu sama si Babas setelah ngomong tadi. Tapi nyatanya malah cengengesan ngobrol santuy sama orang itu. Ya Tuhan...


Belum lagi, Mbak Gita dan Mbak Retno ikut nimbrung bareng Mama. Makin rame dan makin kompak aja mereka bertiga.


Si Babas juga kayaknya makin di atas angin. Merasa di terima Mama dan Mbak-Mbakku membuatnya bahagia meladeni tiga ibu-ibu centil. Bahkan, dia janji akan datang ke rumah untuk menikmati masakan Mama. Gila... makin susah aja aku menghindar dari bujang tua yang satu itu.


"Kok melamun?" tanya si Tian padaku.


"Eh? Kenapa Mas?" Aku sampai lupa kalau kita lagi video call. Orang itu kalau makan gak pernah ngomong bikin aku jadi mikirin hal lain kalau begini.


"Mas..."


"Ya?" jawabnya sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Mas emang gak pernah ngomong ya saat makan?" tanyaku. Bosan juga cuma diam sambil lihatin dia makan. Dan ini untuk yang ke tiga kalinya.


"Hmm... Kenapa?"


"Gak apa-apa. Malah gak asyik buatku," jawabku apa adanya. "Bosen Mas." Moga aja dia akhiri sesi makan bareng online ini.


"Maaf. Mas biasa gak bersuara kalau makan. Kan kalau lagi makan, kita dilarang bicara. Baik itu secara agama atau dari segi attitude juga. Lagi pula, menurut medis juga bahaya kan? Nanti kalau tersedak, bisa fatal akibatnya," jawabnya panjang lebar.


Aku cuma bilang bosan aja, dia jawabnya formal banget. Udah kayak isi lembar jawaban ujian.


"Kenapa bisa fatal?"


Duh, ini mulut ikutan khianat juga.


"Ya, karena nanti makanannya bisa masuk ke saluran pernafasan. Terus bisa masuk ke paru-paru yang tentunya bikin susah nafas. Dan, lebih fatalnya lagi, bisa mengakibatkan kematian," jawabnya lugas.


Gila... Aku kayak lagi dengerin dosen yang lagi jelasin materi kuliah.


"Masa kamu gak tahu hal sepele kayak gitu, Yang?" sindirnya.


"Tahu lah. Mas jawabnya serius banget sih. Sampai bahas secara medis segala," jawabku.


"Ya, kan kamu tanya kenapa bisa fatal. Mas gak salah jawab begitu dong?"


Hmm... Mulai deh, gak mau ngalah!


"Iya. Tapi aku gak biasa Mas.


Gak nyaman kalau makan cuma diem aja. Mending gak usah video call aja ya kalau kayak gini," ancamku.


"Ck... Ya udah."


YES!


"Nanti lagi, kalau kita makan bareng, Mas ngobrol deh sama kamu," bujuknya sambil nyengir.


Sialan. Kirain bakalan menutup sesi ini. Ini kesannya malah aku pengin ngobrol sama dia?


"Mending gak usah makan bareng kayak gini, Mas," gerutuku.


"Lho? Jadi kamu maunya ketemu langsung ya? Sama, Yang. Mas juga maunya ketemu kamu. Tapi kerjaan Mas lagi banyak," ujarnya.


"Bukan mau ketemu Mas! Ya aku maunya, kita gak usah video call segala. Udah kayak anak ABG aja!"


"Kita jangan kalah sama anak ABG dong, Yang. Memangnya cuma anak ABG yang boleh melakukan ini?" tanyanya dengan wajah mengejek.


"Ya, malu aja, Mas. Udah ketuaan juga kayak begini-beginian."


"Lho, kamu masih muda kok. Mas aja yang umurnya di atas kamu, gak malu kok kayak begini. Malah Mas seneng bisa lihat kamu, Yang," gombalnya.

__ADS_1


Dih! Ini Om-Om pinter banget ngerayunya. Pake bilang umurnya di atas aku. Bilang aja tua, gak mau mengakui banget.


"Tapi aku gak nyaman, Mas," keluhku. Masih usaha lho aku ini. Biar gak keterusan harus mabar (makan bareng) online gini.


"Di biasakan, Yang. Nanti lama-lama nyaman, kok. Percaya sama Mas," bujuknya.


"Mas emang biasa kayak gini sama cewek-cewek ya?" sindirku.


Si Babas tersenyum, "cemburu?"


"Ha? Enggaklah! Ngapain cemburu?" gerutuku.


"Ya kamu tanyanya gitu. Mas baru sekarang kok kayak gini. Dan ternyata lumayan menyenangkan juga," jawabnya masih dengan senyumannya itu.


Ngapain sih itu orang senyum-senyum mulu?


Udahlah, susah sama orang bebal kayak dia. Selalu punya jawaban setiap aku ngomong.


"Nanti jadi puasanya?" tanya si Babas menyinggung kebohonganku tadi.


"Jadi, Mas." Gengsi dong, kalau aku bilang gak jadi. Nanti ketahuan bohongku.


Si Babas tersenyum lagi, "nanti Mas bangunin pas sahur ya?"


"Hmm..."


"Harus sahur ya Yang. Biar ada tenaga. Jangan cuma minum air mineral aja," ujarnya.


"Hmm..." Bingung aku mau jawab apa lagi. Malah nambah kebohonganku aja kalau pun dijawab.


"Mau sahur sama apa?"


"Gak tahu."


"Kamu maunya apa? Biar nanti Ma—"


"Iya. Maaf kalau kamu gak nyaman. Tapi Mas seneng kok melakukannya. Mama sama Mbakmu juga kayaknya seneng juga kan?" tanyanya.


"Ya iyalah, siapa yang gak senang dapat makanan gratis kecuali aku. Aku gak mau nanti Mas berpikir macam-macam tentangku."


"Macam-macam gimana?"


"Matre atau gampangan."


"Ck... Kamu selalu negatif thinking sama Mas, Yang. Mas gak pernah mikir kalau kamu begitu. Malah Mas senang kalau kamu suka apa yang Mas kasih. Apalagi keluarga kamu juga ikutan suka. Mas merasa di terima," jawabnya.


Tuh kan. Dia itu pintar. Selain pintar bersilat lidah, dia juga pintar cari celah. Aku tahu, dia sengaja mengambil hati Mama dan Mbakku biar dia punya dukungan.


"Gak. Pokonya aku gak suka. Awas aja kalau nan—"


"Iya. Gak lagi. Tapi nanti makan bareng kayak gini lagi ya?" pintanya.


Selain pintar, si Babas ternyata licik juga.


"Mas—"


"Please. Takutnya Mas belum bisa sering-sering ketemu kamu. Lumayan sedikit sibuk sama kerjaan. Belum lagi undangan-undangan dari forum," keluhnya.


"Ya udah, fokus itu aja dulu, Mas. Kita gak usah kayak gini." Kesempatan untuk menghindar gak boleh aku sia-siakan.


"Gak bisa, Yang. Mas kepikiran kamu terus," gombalnya sambil menatapku.


"Apaan sih, Mas!" Wajahnya itu lho, malu-malu tapi maksain.


Eh, Yang! Eling Yang, eling!

__ADS_1


"Serius, Yang. Ini aja Mas masih betah ngobrol sama kamu, tapi Mas harus ke Bogor," keluhnya.


"Mau apa ke sana?" tanyaku.


"Undangan workshop. Sayangnya, gak bisa di wakili yang lain, harus Mas yang datang. Mana lumayan juga waktunya," keluh si Babas.


"Nginep di sana?" Jiwa kepoku mulai bergelora.


"Iya. Lusa baru bisa pulang," keluhnya. "Kalau Pak Menteri gak datang sih, Mas juga malas," keluhnya lagi.


"Loh, sama Menteri juga?" tanyaku heran. Gilaaa circlenya pejabat semua.


"Ya. Beliau juga tamu undangan untuk meresmikan salah satu aplikasi katanya. Sebenarnya yang punya acaranya sih dari Serikat Dagang gitu. Cuma seperti biasa, mereka kan undang media untuk di blow up. Makanya media juga di fasilitasi kayak gini," terangnya.


"Oh gitu."


"Tapi tenang aja. Nanti Mas bakal hubungi kamu, kok."


"Jangan..." protesku.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Mas fokus aja ya? Nanti malah ganggu, Mas," dalihku.


"Gak ganggu. Acaranya memang padat. Tapi kan ada coffee break, lunch, tea time, sama dinner. Di jam-jam itu, Mas bisa hubungi kamu," terangnya.


Ya Tuhan, makin pening kepalaku.


"Aku gak janji bisa angkat telepon dari Mas ya," tolakku secara halus.


"Kenapa?"


"Ya emangnya kerjaanku cuma nungguin telepon Mas doang? Aku juga punya kesibukan!" semprotku.


"Oh, iya," cengirnya tanpa merasa bersalah.


"Ya udah. Aku mau kerja lagi, Mas," putusku. Berasa dapat angin segar dengan ide brilliant-ku ini.


"Hmm..." jawabnya seperti tak rela


"Bye, Mas. Assalamualaikum," Putusku.


"Yang..."


"Ya, Mas?"


"Miss you. Nanti Mas hubungi lagi, ya?"


Gak usah. Aku lebih senang gak dihubungi.


"Hmmm..." Bingung kan, mau terang-terangan nolak kan gak mungkin.


"Bye Yang. Assalamu'alaikum, cantik..." ujarnya membuatku refleks tersenyum dengan gombalannya. Aneh banget dengar dia muji-muji begitu.


"Bye juga ganteng." suara Mbak Retno membuatku menoleh seketika.


Sejak kapan dia berdiri di depan pintu begitu? Jangan-jangan dari tadi dia nguping lagi!


"Duhh... Yang mau di tinggal ke Bogor. Kaciaaann..."


Tuh, kan. Mbak Retno mulutnya minta di sumpel duit!


.


Yayang baru pertama kali dideketin cowok yang super maksa kayak si Babas. Bikin dia gak nyaman banget. Ternyata, ganteng gak selamanya meluluhkan ya buuunnddd 🤭

__ADS_1


Yuk, tertib. Yang udah baca tekan like buat absen. Jangan lupa komengnya yaaaa... Hihihi


__ADS_2