Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?

Kalau Sudah Jodoh, Mau Bagaimana Lagi?
Perihal Nge-Date


__ADS_3

"Mas, Mama bilang apa sama Mas?" tanyaku begitu Mama masuk ke dalam.


"Mmm... Ngobrol di luar mau gak? Masa kita mau bahas Mama di sini. Gak sopan kayaknya," Si Babas melirik ke dalam rumah.


Aku mengangguk, "aku bilang Mama dulu ya?" pamitku membuat si Babas tersenyum senang.


Jangankan dia, aku juga seneng kok mau jalan sama mantan.


"Mama di kamar, Mbak?" tanyaku pada Mbak Gita yang asyik di depan tv sementara si bocil lagi nyusun mobil-mobilannya di atas sofa.


"Yang..." Mbak Retno melambaikan tangannya agar aku mendekat.


"Bener, Tian mau bawa Mamanya kesini?" tanya Mbak Gita kepo.


"Aku juga gak tahu. Mama sama Tian tadi bahas apa emangnya?" tanyaku.


"Malah tanya Mbak. Mbak juga gak tahu, baru tahu barusan dari Mama. Kan gak mungkin Mbak nemenin Mama ngobrol sama pacarmu? Yang ada nanti dia merasa di sidang," ujar Mbak Gita membuatku tersenyum.


"Kalau beneran gimana ya?" tanyaku.


"Kok gimana?"


"Ya... Aku bingung Mbak," jawabku jujur.


"Ck... gampang. Nanti kita diskusi rame-rame aja kayak biasa. Sana, katanya kamu cari Mama? Kasian Tian nungguin," usirnya membuatku beranjak ke kamar Mama untuk pamit.


Lebih ketat dari kemarin, Mama memberikan wejangan panjang lebar sebelum kami pergi agar gak pulang larut seperti sebelumnya. Si Babas cuma jawab iya-iya doang. Entah karena gak enak atau biar kita cepet pergi. Yang jelas, jangankan anak orang, aku yang anaknya sendiri sampe bosen dengerin Mama ngoceh mulu.


"Mas, kok bisa sih?" tanyaku begitu kami duduk di dalam mobil.


Si Babas cuma senyum santai, "sabar dong. Kita cari tempat yang nyaman dulu buat ngobrol," ujarnya.


"Ih lama," jawabku gak sabar.


Skenario apalagi ini Tuhaan? Mama sama si Babas bahas apa selama aku di kamar tadi? Masa Mama tiba-tiba bilang orangtua si Babas mau datang. Ini siapa yang minta sih? Kok jadi begini?


"Kita mau kemana sore-sore begini Yang?" Si Babas memecah lamunanku tentangnya.


"Hmm... Kemana ya? Taman mau gak?" tawarku.

__ADS_1


"Ha?"


Aku tersenyum. Si Babas kayaknya bingung. "Ya... Biar gak sumpek Mas. Biar ada udara segar gitu lho," ajakku.


"Taman mana?" tanyanya.


"Hutan GBK aja. Gimana? Tapi nanti mampir dulu ke minimarket buat beli jajan," ajakku antusias. Udah lama banget aku pengin menikmati sore sambil santai di ruang terbuka.


"Yakin?" si Babas menatapku serius kemudian kembali melihat jalanan.


"Emang kenapa? Mas gak mau ya?" tanyaku.


"Tentu aja dengan senang hati. Tapi... " si Babas melirikku, "bukannya kamu gak suka berada di fasum (fasilitas umum) bareng Mas?" tanyanya hati-hati.


Makjleeebbbb... Aku sampe lupa.


"Hmm... Bukan sama Mas aja. Sama cowok lain juga sama Mas. Biar gak kena lambe-lambean maksudnya. Tadi Mama bilang kan, kalau beberapa kali aku kena gosip yang gak enak? aku pernah down gara-gara hal itu Mas. Itu kenapa, aku menghindari masuk akun gosip. Maaf kalau sebelumnya Mas tersinggung. Tapi jujur aja, bukan sama Mas doang. Aku kalau misal deket dengan cowok lainpun mungkin akan melakukan hal yang sama," terangku panjang lebar. Biar gak ada salah paham lagi. Aku maunya gini, tapi dia menanggapinya lain lagi. Kan jadi gak nyambung.


Aku hanya ingin mengurai sedikit demi sedikit benang yang udah terlanjur kusut antara aku dan si Babas. Meskipun sekarang status kita itu bukan siapa-siapa lagi. Tapi mungkin lebih baik jika aku jelaskan biar dia paham.


Si Babas menganggukkan kepala, "maaf kalau waktu itu Mas marah gara-gara hal ini. Mas gak tahu kalau kamu pernah mengalami hal demikian," ujarnya serius.


"Gak apa-apa. Salah aku juga gak ngasih tahu Mas," jawabku santai.


"Bingung, Mas," jawabku.


"Di apartemen Mas mau?" tanyanya membuatku melirik si Babas. "Maksudnya di tamannya, Yang. Lumayan sepi kalau disana. Gimana?" ralatnya buru-buru.


Hampir aja aku mikir yang iya-iya. Bisa-bisa si Babas aku blacklist langsung.


"Hmm... Nanti ada Mama Mas gimana?" tanyaku.


"Mama di rumahnya lah. Masa kamu lupa," ujarnya membuatku berpikir lagi.


"Hmm..."


"kejauhan ya?" tanyanya.


"Enggak sih. Tapi ya udah, daripada bingung," jawabku akhirnya. Cuma di taman kan? Gak pake naik ke unitnya kan? Kayaknya aman.

__ADS_1


Sepanjang jalan, baru kali ini, aku bisa ngobrol dengannya tanpa urat. Santai bahkan beberapa kali kita tertawa saat bercerita. Tian lumayan asyik juga meskipun ternyata dalam beberapa hal aku dan dia tak sejalan. Seperti jenis musik yang aku suka. Aku suka hampir semua genre yang sekiranya enak di dengar. Tapi dia hanya menyukai old song. Sesuai umur laaah yaaa... Dan Tian bukan tipe-tipe lebay. Film yang dia suka pun cuma film yang menurutnya laki banget. Beda sama aku yang hobynya nonton film romantis kayak cewek pada umumnya.


Tiba-tiba Tian membelokan mobilnya ke salah satu supermarket arah apartemen. "Mau jajan dulu kan?" tawarnya seraya melepas seatbelt.


"Mau," aku tersenyum lebar.


Sebelumnya, gak pernah terbayangkan aku bisa jalan berdampingan dengan laki-laki yang umurnya jauh di atasku sambil mengitari rak demi rak makanan. Memang, dulu aku sering melakukan hal ini dengan Nico bahkan Mas Puja. Tapi dengan manusia setengah bule ini, kok beda ya rasanya? Apa perasaanku padanya yang berubah?


"Kamu suka ngemil sebanyak ini?" tanya si Babas melihat beberapa cemilan yang aku masukan ke dalam troly.


Aku mengangguk, "sekalian. Persediaan di rumah abis. Biar aku gak bolak-balik Mas," jawabku. "Nanti titip dulu di mobil Mas, ya?" pintaku seraya meliriknya.


"Santai. Cuma Mas heran, kok kamu bisa kurus? Padahal makanan kamu banyak yang gak sehat lho?" tanyanya penasaran.


"Aku beruntung tahu. Banyak makan tapi tetep kurus. Kalau dulu Mama suka bilang rugi ngasih makan aku macem-macem tapi gak jadi daging katanya," ujarku sambil tertawa. Si Babas juga ikut tersenyum mendengarnya. "Tapi dengan profesiku sebagai model, aku bersyukuur banget punya badan kayak gini. Tahu gak Mas? temen-temenku ada yang sampe diet ekstrem demi body goals," ujarku.


"Diet ekstrim gimana? Gak makan berhari-hari maksudnya?" tanyanya merespon ceritaku.


"Bukan. Mereka makan kapas pake garam sama dikucuri jeruk nipis, tahu," ujarku membuat si Babas kali ini menatapku tak percaya.


"Jangan gila, Yang," sangkalnya.


"Serius. Masa aku harus sumpah?"


"Beneran?"


"Iya, Mas. Real ini tuh. Karena kan harus diet sementara perut lapar gak bisa bohong kan? Kalau makan makanan gitu kan tetep aja masuk kalorinya segala macam. Akhirnya mereka makan kapas," ujarku prihatin. "Udah jadi rahasia umum kali di dunia model mah," lanjutku.


"Kenapa begitu? Maksudnya kenapa menyiksa diri begitu?"


"Ya... Setiap pekerjaan ada resikonya masing-masing kan? Jangan di kira cuma melenggak-lenggok doang hal yang mudah. Bobot diluar standar mana bisa jadi model."


"Kamu pernah nyoba makan kapas?" tanyanya.


Aku mengangguk, "tapi gak ketelen," jawabku sambil cengengesan. "Tahu aja gitu, itu tuh kapas. Jadi nyangkut d tenggorokan akhirnya balik lagi," ujarku membuat si Babas tertawa.


"Bagus sih kalau kayak gitu. Jadi kamu gak ikut-ikutan makan kapas," jawabnya.


"Makanya aku bersyukur banget. Gak apa-apa dibilang kurus. Udah kebal sih dari kecil dikatain begitu. Yang penting aku bebas makan apapun," cengirku.

__ADS_1


"Setuju," si Babas mengelus rambutku.


Maaakkseeerrrrrr rasanyaa.... Mlenyoot dedeeekk, Maaasss....


__ADS_2