
Aku gak tahu, sifat jahil itu turunan atau bukan. Yang jelas, semua keluargaku memiliki sifat jahil yang sama. Mau Mama, Mas Puja, bahkan aku sendiri. Oh kecuali almarhum Papa yang lebih kalem dari kita.
Tapi ya gitu, kejahilan kami hanya untuk lelucon atau lucu-lucuan aja - sekedar meramaikan suasana rumah agar gak sepi dan canggung satu sama lain.
Saat ini, yang selalu jadi korban kejahilanku cuma si Farel. Bocah polos yang gak pernah curiga kalau dijahili, membuat seisi rumah ngakak karena kelakuan polosnya. Terkadang, orangtuanya ikut menjahili dia. Tapi tak jarang, mereka juga mengomeliku jika aku sudah keterlaluan menjahilinya.
Tapi, baru kali ini aku dibuat syok gara-gara kejahilanku. Aku gak pernah mikir kalau kejahilanku bisa berakibat fatal bagi seseorang.
Jam lima pagi, aku di telepon si Babas. Awalnya aku kira si Babas bercanda memintaku untuk mengantarnya ke rumah sakit. Karena ku pikir, dia hanya mengerjaiku agar aku bangun untuk menemaninya olahraga. Tapi begitu mendengarnya merintih, aku langsung loncat dari tempat tidur dan pamit sama Mama untuk menemuinya di hotel tempat dia menginap.
Melihatku panik, Mama gak banyak bertanya. Mama malah meminta Mas Puja untuk mengantarku karena takut aku sembrono saat berkendara.
Alhasil, di rumah sedikit heboh karena kelakuanku. Untungnya, Mas Puja juga gak banyak bicara. Mungkin dia masih ngumpulin nyawa setelah di seret Mama untuk mengantarku.
Rasa bersalah akibat kejahilanku, merenggut semua kepercayaan diriku ketika melihat wajah pucat si Babas. Tubuhnya terkulai lemas bahkan badannya terasa dingin saat ku pegang.
Ya Tuhan, gak lagi-lagi aku jahili anak orang. Sumpah, aku kapok sekapok-kapoknya.
Bersyukur aku ditemani Mas Puja masuk ke kamarnya. Dengan gesit, Mas Puja membantu si Babas ke rumah sakit, bahkan Mas Puja juga yang mengurus administrasinya.
"It's oke, Yang. Mas gak apa-apa. Cuma diare sama heartburn aja," ujar si Babas sambil mengelus lenganku.
Melihatnya lemas dengan infusan di tangan, bikin aku semakin merasa bersalah.
"Mas...." Aku gak tahu harus ngomong apa.
"Kamu khawatir banget ya sama Mas? Wajahnya sampai tegang begitu," ujarnya sambil tersenyum.
Gila ini orang, udah aku bikin celaka, tapi dia masih positif thinking aja. Aku malah pengin nangis di buatnya.
"Tinggal masuk ruangan, Yang. Lagi di siapin dulu ruangannya," ujar Mas Puja begitu masuk ke bilik dimana si Babas di tangani.
"Thanks Ja. Sorry kalau repotin," ujar si Babas.
"Never mind. Yang penting udah di tangani. Tapi gue gak bisa temani lo. Gue ada meeting pagi ini," Mas Puja melirikku.
Mas Puja gak ada canggung-canggungnya sama si Babas. Panggilannya itu lho, gak pakai embel-embel Mas atau apa kek. Padahal usia Mas Puja terpaut 6 tahun lebih muda dari si Babas.
"Biar Yayang aja yang jaga lo. Tapi kalau ada apa-apa, kamu hubungi Mas aja, Yang," Mas Puja menatapku lekat.
Aku hanya mengangguk. Gak bisa ngomong dari tadi. Kalau aku ngomong, pasti tangisku langsung pecah.
Sebenarnya, dari awal aku gak berniat jahil yang macam-macam sama si Babas. Aku cuma memberi pelajaran dengan mengisi piring si Babas sampai penuh dengan masakan Mama. Dan si Babas sendiri yang membuat tantangan untuk menandaskan masakan Mama berikut rawit-rawitnya dia makan. Jadi, seharusnya bukan salahku dong? Tapi kenapa aku yang merasa bersalah gini?
"Udah nyaman kan?" tanya Mas Puja pada si Babas setelah pindah ke ruangan.
"Ya, lumayan," jawab si Babas sambil membenahi posisi tidur.
"Gue tinggal kalau begitu, ya? Udah mepet nih waktunya," Mas Puja menyalakan hape di tangannya untuk melihat jam.
"Thanks banget, Ja," si Babas kembali berterima kasih pada Mas Puja.
__ADS_1
"Mas pulang dulu, Yang. Nanti kabari Mas kalau ada apa-apa," Mas Puja mengelus pundakku. Dari tadi dia sama sekali gak bertanya apapun padaku. Mungkin melihat raut wajahku, Mas Puja bisa menyimpulkan sendiri.
"Makasih Mas. Tolong bilang ke Mama kalau aku di sini dulu," ujarku.
Setelah kepergian Mas Puja, aku masih diam di samping si Babas. Bingung, aku harus bicara apa sama dia. Sementara si Babas sendiri sibuk dengan hapenya. Lagi sakit juga masih sibuk kerja Om-Om yang satu ini.
"Yang, kamu sarapan dulu. Belum makan apa-apa, kan?" tanya si Babas lembut setelah menaruh hapenya.
Aku menggeleng. Pengin ngomong tapi masih susah.
"Cari sarapan dulu, Yang. Atau mau pesan online aja?" tanyanya lagi.
Aku masih menggeleng. Ngumpulin keberanian untuk minta maaf.
"Kamu tumben jadi pendiam gini?" Mas Tian menatapku lekat.
"Mas... Aku... minta maaf. Gara-gara semal-"
"Ssshhh... Bukan salah kamu, Yang. Mungkin karena perut Mas kosong terus langsung diisi makanan pedas. Makanya kayak gini," jawabnya.
"Kosong gimana? Mas makan tiga potong pizza sebelumnya!" semprotku yang langsung membuatnya tersenyum.
"Oh iya," ujarnya pendek.
"Kenapa sih Mas mesti maksain makan rawit tadi malam? Jadi gini kan? Bikin aku takut aja!" ketusku lagi.
"Masa sih Yayang masih gak paham juga? Atau harus Mas ungkapkan berkali-kali kalau Mas serius sama kamu?" sindirnya.
"Terus gimana? Mas datang ke rumah, kamu marah. Mas pesenin makanan, kamu juga marah. Terus gimana caranya biar kamu ada atensi sama Mas?" tanyanya lagi. "Kalau begini kan, Mas jadi tahu seberapa khawatirnya kamu sama Mas."
"Jadi Mas sengaja sakit biar dapat perhatian aku?" tanyaku.
"Enggak sengaja juga, Yang. Masa sakit di sengaja? Maksud Mas, dengan kondisi Mas kayak gini, Mas bisa lihat ekspresi lain di wajah kamu selain ekspresi kesel kamu sama Mas," si Babas tersenyum melihatku yang ku balas dengan dengkusan kasar.
"Tapi jangan khawatir, sekarang Mas udah mendingan."
"Mas sih semalam malah bilang kayak gitu! Kejadian kan? Makanya jangan sembarangan bicara!"
"Mas bilang apa?"
"Kalau ada apa-apa Mas bisa langsung minta tanggung jawab kamu," cibirku dengan bibir mencebik membuat si Babas tersenyum geli melihatku.
"Mas semalam cuma asal bicara aja, Yang. Gak bermak—"
"Tapi jadi do'a kan?"
"Iya. Maaf. Maaf udah ngerepotin kamu," ujarnya.
"Bukan masalah ngerepotinnya Mas. Aku gak masalah Mas telepon aku tengah malam juga. Cuma Mas bikin khawatir tahu gak! Aku jadi ngerasa bersalah banget," jawabku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Duh, jangan sampe nangis.
Si Babas meraih tanganku untuk digenggamnya, "maaf ya... Maaf udah bikin Yayang khawatir sama Mas. Emm... Mas sebenarnya anti pedas, Yang. Gak begitu pandai makan makanan pedas kecuali dari lada atau paprika, perut Mas masih bisa toleransi. Tapi kalau rawit kayak semalam, sebenarnya Mas gak bisa. Cuma, Mas merasa tertantang dan bertindak impulsif saking semangatnya godain kamu," ujarnya santai membuatku melotot.
__ADS_1
"Gak lucu, Mas! Cuma karena mau godain doang Mas sam—"
"Gak godain. Maksudnya Mas serius agar kamu tahu pengorbanan Mas. Duh, malu banget Mas harus ngomong begini," cengirnya malu-malu tapi terlihat begitu lucu.
"Jangan gitu lagi ya, Mas. Jangan bikin aku merasa bersalah," pintaku.
"I promise. Gak bikin khawatir lagi. Maaf ya?" ujarnya seraya menepuk punggung tanganku yang langsung aku tarik dari genggamannya. Sampe lupa dari tadi dia pegang-pegang tanganku. Hiiih...
"Jadi kalau gitu, Mas gak bisa jadi bagian keluargaku dong? Kan Mas gak suka makanan pedas," godaku.
"Kok gitu? Mas masih bisa makan gudeg. Walaupun porsinya gak sebanyak kemarin," sindir si Babas. "Tapi kalau apa yang ada rawitnya itu?"
"Krecek," timpalku.
"Nah itu, kayaknya Mas gak lagi-lagi makan itu. Kapok," ujarnya dengan wajah enggan. "Tapi masa gara-gara itu Mas gak bisa jadi bagian dari kaluargamu? Masih banyak makanan yang Mas bisa makan kok," ujarnya meyakinkanku.
"Ya udah, nanti aku kasih Mas makanan yang lain. Yang ada rawitnya juga," ancamku.
"Tega banget sama Mas," jawabnya. "Tapi Yang, kamu tahu gak, persamaan makan krecek sama ijab qabul?" tanya si Babas mengalihkan atensi.
"Apa?" tanyaku heran.
"Sama-sama dibayar kontan," ujarnya sambil tertawa membuatku ikut tertawa juga. "Perut Mas langsung melilit gak karuan," tambahnya membuatku terbahak. Gak kebayang, seorang Sebastian Oetomo bolak-balik ke kamar mandi. Wajahnya masih ganteng gak ya, kalau lagi mules-mules?
Eh, Ya Tuhan... Ngawur banget bayangin begituan.
"Sebetulnya, begitu pulang, perut Mas udah kerasa gak nyaman. Terus ulu hati terasa panas. Makanya Mas putuskan nginep di hotel aja. Mas kira, semua karena kekenyangan aja. Tahunya malah gak berhenti dan bikin Mas bolak balik ke kamar mandi."
"Akhirnya pas subuh Mas beranikan diri menghubungi kamu karena udah gak kuat banget," ujarnya panjang lebar.
"Kenapa gak hubungi aku dari malam?" omelku.
"Gak lah. Mas kasihan sama kamu kalau malam-malam harus samperin Mas," ujarnya.
"Ya dari pada nahan sakit sampai kayak gini?" gerutuku.
Duh, ngomong sama dia kenapa sih aku sukanya dikit-dikit ngegas? Persis kayak Mama kalau lagi ngomong sama aku.
"Ya gak apa-apa. Buktinya Mas masih bisa tahan dan hubungi kamu menjelang pagi. Maaf ya, Mas udah merepotkan," ujarnya untuk kesekian kali mendengar permintaan maafnya.
"Mas lagi sakit, kamu jangan ngomel lagi ya hari ini?" pintanya dengan suara lembut saat aku hendak mengomelinya lagi. Akhirnya aku hanya mendengkus pasrah.
"Mas suka lihat wajah khawatir kamu, Yang," ujarnya tengil sambil menatapku.
"Apaan sih, Mas!"
"Mas juga baru tahu kalau kamu bisa salting juga kayak gini," cengirnya seolah tahu apa yang aku rasakan.
"Maaaaasssss!"
__ADS_1