
Melek teknologi bukan berarti melek pergaulan. Padahal, anak jaman sekarang masuk generasi Z. Semua serba canggih dan milenial. Mobil aja udah pake tenaga listrik. Sinyal di negara orang udah sat-sat sat-set pake 5G. Kalau di rumahku, malah dari dulu sudah ada piring terbang. Itupun kalau Kanjeng Ratu lagi marah, canda denk. Mama gak gitu, cuma bikin kupingku budeg aja.
Tapi dasar, yang disampingku ini emang gen A kayaknya. Dia sama sekali buta bahasa gaul. Dan kayaknya bicara sehari-haripun bahasanya formal dan normal. Jadi gak paham kalau aku ngomong aneh sedikit. Pasti tanggapannya 'maksudnya gimana? Apa tuh?' kuper banget sih MastengBul (Mas setengah Bule).
Padahal si MastengBul berada di lingkungan yang anak-anaknya pada gaul abis waktu aku lihat di kantornya. Apalagi kerja di media. Harusnya dia paham bahasa-bahasa anak muda sekarang. Tapi kenapa dia begitu kolot? Om-om mainnya sama bahasa pemograman terus sampe gak tahu bahasa-bahasa jaman now. Greget jadinya...
Dan, yang lebih ngeselin, dia kayaknya ndableg. Gak paham kalau aku kodein. Masa aku harus to the point juga sama kayak dia? Kan... Jadi gimanaa gitu...
Bukan rahasia lagi kalau cewek senengnya main kode. Untuk cowok normal, biasanya mereka paham dan peka. Minimal menebak-nebak lah apa maunya cewek. Atau biasanya mereka bertanya secara langsung. Itu yang aku rasain selama pacaran dengan mantan-mantanku. Bahkan si Nico juga. Tapi kenapa Om yang satu ini gaaakkk ngerti-ngerti. Heran.
"Maaf kalau Mas gak paham bahasa gaul, Yang," ujarnya sambil menatapku.
Sumpah, gegera aku bilang 'B aja' bahasan si B ini jadi panjang kali lebar banget. Kayaknya kalau aku bilang metong aja dia mikirnya motong kalau nggak lontong kali ya?
"Ya, intinya sekarang aku ngerasa gak terusik dengan omongan Mas kalau misal orangtua kita harus bertemu," ujarku jujur setelah lelah menjelaskan perkara si B.
"Tapi tadi kamu bilang nyaman. Maksudnya kamu nyaman kita begini atau nyaman-nyaman aja orangtua kita bertemu?" tanyanya lagi yang belum aku jawab karena tengsin.
"Skip deh Mas untuk pertanyaan itu. Mas kan udah bilang kalau Mas mau mundur setelah orangtua kita ketemu," sindirku. Moga aja dia peka kalau digituin.
"Kalau boleh sih, Mas maunya ya tetap bisa menjalin hubungan sama kamu. Tapi Mas gak mau maksa kayak kemarin," jawabnya.
Paksa aku, please...
"Hubungan apa dulu? Saat ini kita kan sedang menjalin hubungan—"
Si Babas tersenyum lebar karena kegeeran.
"Pertemanan Mas," ujarku sambil menepuk bahunya. Si Babas melengos sebal membuatku terbahak seketika.
"Kenapa sih?" tanyaku.
"Mas pikir kamu bakal jawab hubungan yang spesial," ujarnya cemberut.
"Mau banget gitu?" tanyaku merasa ada kesempatan.
"Iya. Tapi gak mau maksa kamu lagi," jawabnya seraya melirikku.
"Terus maunya gimana?" tanyaku lagi. Coba, dia paham gak kalau aku giniin?
"Hm... Terserah kamu aja. Mas ngikut. Mas gak mau bikin kamu stres atau sakit hati sama Mas," jawabnya.
Aku mengambil botol minuman milikku, "kita bahas apa sih ini Mas? Rasanya gak jelas," kekehku lalu meneguk minuman yang berhasil kubuka.
"Gak tahu. Mas ikutin bahasan kita aja," si Babas ikut mengambil minuman.
"Terus orangtua kita buat apa ketemu? Maksudnya tujuannya apa?"
__ADS_1
"Silaturahmi, Yang," jawabnya sambil tersenyum.
Silaturahmi doang? Mending gak usah. Daripada aku ngarep lebih.
"Kalau kamu izinkan, Mas lamar kamu. Tapi gak mungkin kan ya?" tanyanya sambil tersenyum.
"Kenapa gak mungkin?" tanyaku.
"Kamu... Kan gak suka sama Mas," jawabnya.
"Kata siapa gak suka?" tanyaku. Eh?
"Jadi suka?"
"Enggak," Jawabku cepat. Gila... Gila... Gilaa... Gak peka-peka si Om.
"Sesuai prediksi Mas," jawabnya.
IH TUHAAN... LAMANYA BIKIN DIA SADAR.
"Emang prediksi Mas gimana?" tanyaku sengaja muter disana. Pengin banget dia yang peka.
"Kamu gak mau kan?" si Babas ikut meladeniku dengan sabar.
"Gak mau apa? Gak jelas nih," ujarku.
"Gak mau Mas lamar," jawabnya pendek.
"Kata Mas," jawabnya pendek kayak orang lagi di interview.
"Kalau kata aku gimana?"
"Gak tahu," si Babas mulai kesel kayaknya.
"Gak nanya?" tanyaku.
"Nanya apa?"
ASTAGANAGAAAAAAAA....
"Udahlah. Bahas yang lain," gerutuku.
Si Babas tersenyum, "habis kamu dari tadi muter-muter disana," ujarnya menbuatku mendelik sebal.
"Jangan ngambek," Babas memegang tanganku lembut. Lansung bikin aku kayak kesetrum gak bisa gerak.
"Mas mengawali semuanya dengan cara yang salah. Maksa kamu terima Mas. Maksa kamu ketemu sama Mas. Maksa kamu dengan datang ke rumahmu. Kini Mas gak mau maksa. Tapi kalau Mas tanya, tolong Yayang jawab ya?"
__ADS_1
Aku mengangguk seperti terhipnotis.
Si Babas kemudian melepas tanganku. "Yang, Mas ke parkiran bentar ya, ada yang lupa," ujarnya tergesa.
Aku hanya melongo melihat si Babas menjauh.
Sinting kali ya itu Om-Om. Udah bikin serangan jantung malah ninggalin gitu aja.
Lama nungguin si Babas yang gak datang-datang, akhirnya aku mainin hp sambil sesekali memotret lingkungan sekitar. Mau jalan-jalan, gak nyaman bawa-bawa totebag berisi jajananku. Tapi pandanganku beralih pada seseorang yang berlari.
"Maaf lama," dengan nafas ngos-ngosan si Babas menghampiriku.
"Ngapain si Mas? Kebelet ya?" tanyaku.
"Iya," jawabnya sambil nyengir.
Ganteng-ganteng losdol. Sumpah aku pengin ketawa. Gak cocok banget sama mukanya yang dingin begitu tapi dia hobinya poop. Duh, ada-ada aja.
"Bohong Yang. Jangan ngetawain gitu," pintanya membuat tawaku akhirnya meledak.
"Aku gak nyangka Mas. Kenapa sih setiap ketemu aku bawaan kamu pengen buang air besar terus," ujarku sambil menahan senyum. "Emangnya muka aku kayak wc?" protesku. Si Babas malah ikut tertawa.
"Ada-ada aja kamu. Masa muka disamakan dengan wc," ujarnya.
"Ya lagian, Mas masa tiap ketemu aku pasti sakit perut," protesku lagi.
"Siapa bilang? Mas gak sakit perut kok," jawabnya. "Barusan Mas bohong. Mas keparkiran karena ngambil ini. Lupa, Mas taro di mobil," Si Babas mengulurkan kotak kaca yang terlihat sangat estetik.
"Sini duduk dulu, Yang." Si Babas menarik tanganku kembali ke bangku tadi.
"Emm... Jujur aja, ini usaha Mas untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, Mas gak akan ganggu kamu lagi. Waktu itu, Mas bodoh banget ya? Ngajak nikah kamu tanpa mempersiapkan apa-apa. Mas maklumi kalau Yayang syok. Tapi kali ini, izinkan Mas melamar kamu dengan cara yang benar. Walaupun melewati tahapan pacaran sesuai dengan keinginan kamu. Tapi intinya sedikit demi sedikit kita udah saling mengenal. Apalagi dengan semua masalah yang tercipta kemarin-kemarin."
"Maka dari itu, sebelum orangtua kita bertemu. Mas mau mengungkapkan isi hati Mas dengan benar. Jujur aja, Mas kepikiran kamu terus. Bahkan setelah kamu minta putus, semalaman Mas benar-benar gak bisa tidur. Mas masih mmm... Kalau anak jaman sekarang bilangnya cinta. Mas—"
"Kalau anak jaman dulu bilangnya apa emangnya?" potongku.
Si Babas mengusap tengkuknya, "sama sih," jawabnya sambil tersenyum kikuk.
"Ya udah. Kelamaan pidatonya. Pasangin," ku ulurkan tanganku kepadanya.
Si Babas tersenyum lebar sambil menatapku, "serius mau Mas lamar?" tanyanya tak percaya.
"Kalau gak ma—"
"Mau lah! Enak aja! Mas udah cape-cape nyusun stategi. Masa gagal!" ujarnya menarik kembali tanganku.
__ADS_1
"Maksudnya gimana?" tanyaku galak.
KAYAKNYA AKU DIKERJAIN ORANGTUA KALAU BEGINI CARANYA....