
Baru kali ini aku merasa nyaman selama jalan bersama si Babas. Plong aja rasanya kalau hati ikhlas mah. Gak kayak kemarin yang uring-uringan setiap si Babas datang.
Memang betul ya, segala sesuatu kalau dilakukan dengan tepat, bawaannya ringan. Gak grasak-grusuk, gak lelet juga. Tapi sersan alias serius tapi santai. Malah aku gak ngerasa terbebani sama sekali. Bahkan aku gak canggung lagi padanya.
Si Babas juga lebih aktif, bund. Dia banyak senyum selain banyak nanya. Seperti biasa, Babas lebih komunikatif, ya walaupun selama ini memang dia yang sering mengajakku bicara, tapi baru kali ini, aku benar-benar menyimak apa yang dia ucapkan. Pokok'e bedaaa banget sama kemarin-kemarin. Kita kayak lagi pdkt-an gitu lho. Bukan mantanan yang saling benci.
Semua itu berkat buku cat—
Ya Tuhan...
Kenapa aku lupa gak bawa buku itu? Aaarrggghhhh... Padahal kesempatan emas buat balikin buku catatan itu ke tempatnya. Duh... pikun banget sih!
"Ngantuk Yang?" tanya si Babas saat aku hanya diam.
"Enggak, Mas." Cuma lagi nyesel gak bawa buku catatan milikmu. Lanjutku dalam hati.
"Bentar lagi nyampe. Maaf kalau jauh ya?"
"Santai Mas," balasku sambil tersenyum.
Tiba di kawasan apartemen si Babas, membuatku takjub. Ini sih kawasan elit. Aku malah baru pertama kali menginjakan kakiku ke daerah ini. Model sekelas aku, gak mungkin banget bisa tinggal disini, kalau bukan simpanan gadun. Hiiihhh...
"Yuk, turun," ajaknya. Si Babas turun duluan sementara aku merapikan rambut. Babas membuka pintu belakang mobil kemudian membawa goodybag yang berisi jajananku.
"Jangan di bawa semua, Mas. Kan gak mungkin aku makan semua," ujarku padanya. "Atau mau Mas bawa ke unit Mas buat persediaan?" tanyaku.
"Enggak. Buat kamu aja. Tadinya mau Mas bawa semua takut kamu bingung mau makan yang mana duluan," ujarnya.
"Bentar," aku buru-buru turun mendekati si Babas. Dia mempersilahkanku untuk memilih cemilan yang akan aku makan.
"Mas makan ini?" Ku acungkan mini pastrie kemasan padanya.
"Boleh," si Babas tak menolak sama sekali.
"Kalau ini?" Ku tunjukan kacang-kacangan ke arahnya.
Si Babas mengangguk, "boleh," jawabnya lagi.
Semakin iseng, aku berbalik menghadapnya lagi setelah mengambil salah satu snack, "chiki mau?" tantangku.
Dia mengangguk, "boleh juga," jawabnya.
"Tumben semua mau. Kan gak sehat Mas?" cibirku.
__ADS_1
"Sekali-kali gak apa-apa. Kita makannya berdua, gak semua Mas yang abisin kan?" Dia bilang makan berdua, kenapa aku jadi geer sih? Padahal cuma makan dari plastik yang sama. Bukan bekas juga. Duh, itakku kayaknya udah gak waras.
Menyusuri lorong dengan design yang modern dikelilingi oleh pepohonan, kami tiba di depan sebuah bangku menghadap taman kecil.
Suasananya nyaman. Seger banget karena sekelilingku hanya ada tanaman hijau.
"Nyamannya... Udah lama banget aku gak kayak gini," ujarku seraya duduk di bangku.
Si Babas mengangguk, "betul. Mas juga udah lama gak menikmati pemandangan kayak gini. Paling, Mas lihat di wallpaper laptop aja," ujarnya ikut duduk di sampingku. "Kapan-kapan, kamu mau jalan-jalan sama Mas?" ajaknya.
"Ha? Mmm... Boleh," jawabku sok-sok mikir. Padahal aku seneng banget kalau dia beneran mau ngajak jalan lagi. Berarti pertemuan kita gak berakhir sampai di sini.
"Kamu lebih suka gunung atau pantai?" tanyanya.
"Aku lebih suka pantai sih, Mas," jawabku sambil meliriknya.
"Sama dong. Mas juga," si Babas tersenyum. "Tapi sekarang sih lebih suka kamu," gombalnya sambil tertawa.
Saaeeee Kang Bule. Bikin aku salting. Mau gak mau aku ikut tertawa juga.
"Gimbil, Mas. Sekarang suka, besok nggak. Gitu maksudnya?" tanyaku masih disertai tawa.
"Besok suka banget. Besoknya lagi suka—"
"Oya, Mas bahas apa sama Mama? Kok Mama bilang gitu?" tanyaku langsung pada intinya.
Si Babas menarik nafas, gesturnya jadi canggung lagi karena kali ini dia tak menatapku.
"Hmm... Mas minta maaf ya, kalau Mas lancang ke rumah kamu lagi. Tadinya, Mas cuma mau buktiin obrolan di telepon aja, kalau kamu masih izinkan Mas ke rumah," ujarnya melirikku sepintas.
"Terus?" tanyaku tak sabar.
"Ya... Terus Mas..." si Babas melirikku. "Ya gitu, begitu ketemu Mama, Mas merasa dosa dan gak enak, inget Mama gak Mas undang ke pernikahan Ellen. Jujur, waktu kamu larang Mas huat undang Mama, Mas merasa ini tuh gak bener. Tapi karena waktu itu backstreet, akhirnya Mas pasrah aja. Untungnya Mama kamu juga tahu kalau kita lagi backstreet dari keluarga Mas. Jadi beliau maklum. Walaupun Mas tetap minta maaf sama Mama karena masih merasa berdosa," si Babas melirikku lagi.
"Dari sana, Mama singgung perkara pulang malam. Mama ceritain tentang kamu yang meskipun kerja di dunia entertaint tapi kamu gak Mama bebasin bergaul karena takut terbawa arus yang menyimpang. Sampe...." si Babas melirikku.
"Sampe apa?"
"Hmm... Kamu janji gak marah kan sama Mas?"
"Apa dulu?"
"Mas mohon maaf banget ya Yang. Semua karena Mas bingung, Ma—"
__ADS_1
"Sampe apa dulu?" potongku.
"Sampe... Mama akhirnya tanya lagi sama Mas, Mas beneran serius gak sama Yayang. Disitu Mas kaget. Mau bilang gak serius, nyatanya Mas memang serius sama kamu. Mau bilang kita sudah putus, kayaknya gak rela," si Babas tersenyum kikuk sambil mengelus leher belakangnya. "Akhirnya Mas jawab serius dan kalau boleh, Mama mau silaturahmi ke rumah Yayang," cengirnya dengan wajah sedikit memerah karena malu.
"Maaf banget ya Yang. Kalau Mas kurang ajar. Mas soalnya bingung ditanya keseriusan Mas sama Mama. Tapi kalau—"
"Mama jawab apa?" potongku.
"Ha? Ya... Mama bilang pengin kenal juga sama Mama Mas. Tapi Yang, kalau kamu gak setuju. Nanti cukup sampe orangtua kita aja silaturahmi. Mas bakal ingetin Mama Mas buat gak bahas macem-macem hubungan kita. Sekali lagi Mas minta maaf ya, kalau Mas lancang," ujarnya hati-hati.
"Oh," jawabku sedikit kecewa. Berarti dia juga gak benar-benar ingin memperjuangkanku kalau dia akan memperingati orangtuanya. Padahal kalau dia nekat lagi, dengan senang hati aku akan menerimanya.
"Menurut kamu gimana?" tanyanya. "Kamu marah sama Mas?" Si Babas menatap netraku.
"Gimana ya?" aku menatap lurus ke depan. Maunya sih, kamu berjuang lagi, Mas. Tapi gak mungkin kan aku bilang gitu.
"Mas gimana?" tanyaku balik.
"Ya kalau Yayang merasa gak nyaman, Mas cuma minta izin sekaliii ini lagi. Paling sampe orangtua kita ketemu. Habis itu, Mas janji gak bakal ganggu atau bikin Yayang gak nyaman lagi," ujarnya.
"Terus?" tanyaku meliriknya.
"Terus? Terus apa ya?" tanyanya sambil berpikir. Wajahnya itu lho, Ya Tuhan... Gemesin sih, anak orang.
"Terus kalau aku B aja, Mas mau gimana?" tanyaku pada akhirnya. Hhh... Sudahlah, ngaku dikit daripada diamuk readers mulu.
"B aja? Maksudnya gimana Yang?"
"Hadeeehhh... B aja itu maksudnya biasa aja. Aku gak marah, biasa aja gitu maksudnya," terangku.
Si Babas tersenyum, "ya Mas terima kasih kalau kamu gak keberatan," ujarnya polos.
Ya Tuhan. Kodeku gak mempan buat Om-Om kayak dia. Masa aku harus ngomong njeplak gitu aja. Kan gengsi.
"Udah? Cuma gitu aja?"
"Ha? Ya... Apa lagi ya... Mas gak bakal gang—"
"Kalau aku biasa aja. Kalau aku nyaman-nyaman aja. Mas mau gimana?" tanyaku pada akhirnya.
"Oh... Ya kalau... Kamu nyam— kamu nyaman sama Mas maksudnya? Atau kamu nyaman orangtua kita ketemu?"
INI KENAPA SI BABAS JADI BEGO BANGET SIH? DIA GAK NGERTI DI KODEIN APA GIMANAAAA?
__ADS_1
YAYANG CAPE YA TUHAAAANNN...