Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 10 : Rasa Bersalah


__ADS_3

"Anak Setan!" terdengar umpatan seseorang dari lantai dua, siapa lagi yang akan memaki orang seperti itu selain Neneknya.


Kinanti yang sedang mencuci piring di lantai satu membuang napas dengan keras, entah kesalahan apa lagi yang dilakukan Nana kali ini. Ia membilas tangannya yang berlumuran busa dari sabun cuci piring sebelum bergegas naik.


"Ini kenapa masih belum rapi sih! Sengaja taruh sapu di situ biar saya jatuh dan langsung mati? Iya? itu mau kamu?!"


Kinanti cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya, baju yang susah payah tadi pagi ia tata dengan rapi kembali berantakan memenuhi tiap sudut ruang tengah rumah mereka yang kecil itu.


Menyadari kehadiran Kinanti, wanita yang saat ini berkacak pinggang memicingkan matanya.


"Emang dasar anak-anak tolol nggak berguna! Kalian nggak ada yang bisa diandalkan. Tahu itu artinya apa? Artinya nggak ada yang berguna!" Tandasnya meninggalkan mereka berdua yang masih bergeming.


"Ini kenapa bisa berantakan gini Dek?" Kinanti bergegas merapikan kembali kekacauan yang entah disebabkan oleh siapa.


"Aku tadinya mau nyapu Kak, tapi karena mejanya juga berdebu jadi sapunya aku taruh, terus aku lap meja dulu," jelas Nana mengusap tangannya yang perih, pasti tadi sempat di cubit oleh Neneknya.


"Terus?"


"Aku taruh sapunya sembarangan, entah di mana aku aja lupa. Tapi tahu-tahu Nenek hampir jatuh karena kesandung sapu itu katanya, habis itu Nenek marah deh, makanya semua ini diamuk," lanjut Nana polos sekali sambil menunjuk ruang tengah yang berantakan, hingga Kinanti tak sanggup menahan tawanya.


"Ya ampun kamu ini Dek, lain kali jangan gitu lagi ya," tutur Kinanti lembut, bagaimanapun ia tak pernah tega memarahi Nana yang masih kecil.


Nana sedikit kurang setuju dengan pernyataan kakaknya, "Lho aku nggak salah Kak, justru harusnya nenek yang lebih hati-hati kenapa sapu benda mati yang diam saja di tabrak."


Kali ini Kinanti tak sanggup semakin terbahak, "Yaampun kamu ini, Kakak sampai sakit perut. Tapi tetap saja taruh barang sembarangan itu nggak bener kan?"


Keduanya masih melipat baju-baju yang berserakan dilantai. "Iya Kak, kalau itu aku setuju."


"Kakak bantuin merapikan ini, nanti kamu tinggal nyapu, ya. Kerjain yang kamu bisa aja Dek. Nanti yang belum bisa panggil Kakak, soalnya Kakak juga lagi cuci piring di bawah."


"Oke, nanti aku akan menyapu sampai bersih dan kinclong semua."


Kinanti tertawa menyambut semangat adiknya itu. Sayang sekali anak sekecil Nana main saja dilarang, harusnya bukan pekerjaan rumah yang saat ini ia kerjakan.


Tapi apa boleh buat neneknya memang aneh entah kenapa untuk sekedar main ke rumah teman saja tidak boleh apalagi teman mereka yang main ke rumah mereka dengan alasan nanti semua orang akan ngomongin kita dibelakang setelah tahu keadaan rumah, kalimat itu yang selalu dilontarkannya.


Padahal selama ini beliau yang selalu memberitahu semua orang diluar sana bagaimana keadaan rumah sebenarnya, seperti saat ini beliau tengah melancarkan aksinya seperti calon legislatif yang sedang berkampanye semangat sekali menjelek-jelekkan cucunya sendiri di depan sana entah dengan pembeli entah dengan ojek yang mangkal tepat di depan tokonya selalu saja seperti itu.


"Emang dasar ya kalau anak haram, diatur susahnya minta ampun."

__ADS_1


Kinanti tercekat mendengar perkataan neneknya, entah apa maksud beliau dengan berkata seperti itu.


"Hush, nggak boleh ngomong gitu Wak," itu suara Ibu-Ibu pisang goreng yang berjualan tepat di samping gerobak Nenek terdengar mengingatkan.


"Kamu nggak tahu kan gimana aku ngasih makan mereka. Eh, mereka seenaknya sendiri makan tidur seperti tanpa beban, bodoh sekali bersihin rumah saja tidak becus, tak bisa diandalkan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Masih sedikit mending yang besar disuruh apa-apa mau, lah yang kecil nyapu saja tidak bersih dia. Rasanya kalau tidak berdosa ingin aku bunuh hidup-hidup."


"Lagian mereka itu cucu kamu Wak, bukan pembantu. Yang aku lihat selama ini mereka rajin-rajin malah hampir semua pekerjaan kamu suruh mereka yang ngerjain."


"Kamu diam saja. Kamu nggak tahu awal-awal datang mana tahu pekerjaan mereka, cuma duduk-duduk saja layaknya ratu. Emang kalau bukan anak dari anakku mana sudi aku terima tinggal di rumahku," suara Nenek masih terdengar tak terima.


"Memangnya Agung masih nggak ada kabar Wak?"


Kinanti melebarkan telinganya untuk mendengar percakapan mereka selanjutnya, setelah diingat-ingat benar juga dua tahun sudah kurang lebih ayahnya tak ada kabar.


Entah karena sudah terlalu bahagia dengan keluarga barunya sehingga lupa dengan anaknya yang susah payah bertahan hidup di sini.


"Mana pernah, dia selama hidupnya mengingat ibunya. Aku sudah lepas tangan dengan apapun yang mau dia lakukan, memang aku gagal mendidik Agung."


Kinanti menyadari kini suara Neneknya turun satu oktaf setelah membahas anak pertamanya.


"Entah sampai kapan hidupnya akan begitu selalu membuat aku menderita. Nggak pernah terbayangkan kalau aku punya anak seperti Agung. Mungkin dia nggak akan pernah berhenti membuat hidupku seperti ini," lanjut Nenek kini suara beliau tampak bergetar.


"Ini buktinya seperti itulah yang dia lakukan, hanya lahir untuk bikin Ibunya darah tinggi."


"Agung juga pastinya mengalami kesulitan dengan hidupnya," ucap Ibu penjual pisang goreng lagi.


"Nggak usah di bahas lagi. Bahas dia malah darahku makin naik, aku nggak mau mati karena hanya satu anak itu, masih ada anak lain yang harus aku pikirkan."


Kali ini Kinanti sadar bahwa sebenarnya di balik sikap neneknya yang sangat keras ada bagian hidup Nenek, yang juga menyembunyikan luka.


Selama lebih kurang lima tahun Kinanti tinggal dengan neneknya ia sedikit banyak tahu kalau pengalaman hidup wanita yang memasuki usian akhir 50 tahunan, itu juga penuh lika-liku.


Ditinggal oleh suaminya, belum lagi selalu bertengkar dengan Ibunya, Nenek buyut Kinanti, karena dibanding-bandingkan dengan adik beliau yang jadi pegawai negeri.


Entah bagaimana ada satu momen terkadang neneknya masih bersikap normal layaknya seperti nenek yang dia harapkan, menceritakan mengenai kisah hidupnya ya walaupun tak lama kemudian kembali marah-marah dengan apapun yang sedang Kinanti atau adiknya lakukan.


Tring tring tring


Suara itu mampu menyadarkan Kinanti dari lamunannya, kebetulan sekali sekarang cuci piringnya sudah beres tinggal merapikannya ke dalam rak.

__ADS_1


Kinanti bergegas mengangkat benda pipih itu. Sarah, nama yang tertera di layar.


"Halo, Sarah."


"Kinanti kamu lagi ngapain?"


"Habis cuci piring ni, ada apa?"


"Ya ampun maaf ya, aku ganggu nggak? Nenek kamu mana? Nanti kamu dimarahin lagi kalau telponan?"


Kinanti melongokkan kepalanya untuk mengecek neneknya.


"Lagi jualan di depan, lagi ada orang beli kok aman."


"Aku mau minta maaf sama kamu."


"Minta maaf kenapa?" Kinanti mengingat-ingat setahunya Sarah selama ini tak melakukan kesalahan apapun padanya.


"Em, pokoknya aku mau minta maaf sama kamu kalau aku pernah salah dan mungkin nanti aku bakal punya salah kan?" Sarah masih merasa bersalah karena menceritakan kehidupan Kinanti pada Faisal, padahal ia telah janji tidak akan menceritakan kepada siapapun.


"Sarah, are you okay? Kayanya ada yang kamu sembunyiin ya dari aku?"


Sarah masih menimang keputusannya apakah dia akan menceritakan yang sebenarnya kepada Kinanti atau tidak, namun rasanya Kinanti tidak perlu tahu.


"Kuah lemaknya habis! Bikin lagi ya, bumbunya di kulkas."


Terdengar suara Nenek Kinanti menyuruhnya membuat kuah lemak, dan Sarah mendengar hal tersebut.


"Sarah maaf, udah dulu ya. Besok kita lanjut di sekolah lagi."


"Eh iya nggak apa-apa Kinanti, maaf ya ganggu waktunya."


Kinanti langsung memutus sambungan untuk bergegas melaksanakan perintah dari neneknya.


Sementara Sarah di rumahnya masih menatap ponselnya yang telah padam.


Ia menghela napas masih ada rasa bersalah yang menggelayuti hatinya. Tapi kemudian dia yakin bahwa disamping sifatnya Faisal yang sangat menyebalkan sepertinya pemuda itu akan memperlakukan Kinanti dengan baik.


[]

__ADS_1


__ADS_2