
...Akankah ada bahagia, bila lara jadi bagian cerita hidupnya yang berulang-ulang. ...
...****************...
Kinanti kini terduduk lesu di koridor rumah sakit.
Sesaat lalu setelah dirinya mendapatkan izin dari Bu Indira-wali kelasnya Kinanti dengan segera menuju rumah sakit yang untungnya, dekat dengan rumahnya.
Tak sulit bagi Kinanti menemukan Neneknya, ternyata Tante adik dari Ayahnya pun telah terlebih dahulu berada di sana.
"Kinanti," panggil lembut Wanita yang usianya hampir 30-an itu memeluk Kinanti hangat.
Ia menatap neneknya yang berada di dalam ruangan dengan tangan yang telah terpasang infus.
"Nenek gimana Tante?" Tanyanya kemudian.
"Nenek udah membaik, tadi sempat syok aja karena darah tingginya kambuh akhirnya pingsan," jelas Tante terlihat menerawang.
"Kok bisa?"
Wanita yang kerap dipanggil Tante Eva oleh Kinanti tu lantas duduk di kursi koridor rumah sakit, "Gara-gara tante Ki."
"Maksud Tante?" Kinanti benar-benar tak mengerti, selama ini Tantenya itu tinggal di luar kota dengan suaminya.
"Tante di Yogyakarta ketemu sama istri Ayah kamu, niat tante memang nyari ayah kamu. Kenapa dia selama ini sama sekali nggak ada kabar, bahkan nggak bertanggung jawab ngasih nafkan buat kalian."
Kinanti kini tak bisa memberikan jawaban, pembicaraan mengenai lelaki, yang disebut ayahnya itu selalu membuat Kinanti sakit hati.
"Ayah kamu sekarang sudah punya tiga orang anak dari istri mudanya," lanjut Tante.
__ADS_1
"Itu yang bikin Nenek sampai syok?" Tanya Kinanti alih-alih menanyakan kabar ayahnya.
"Bukan," tutur Tante Eva diam sesaat.
Rani pun sama ia terdiam, menimang apakah dia harus mengungkapkan kebenaran yang telah ia ketahui selama ini.
"Tante tolong kasih tahu aku, apapun itu. Sudah cukup aku selama ini bingung dengan sikap Nenek yang tiba-tiba berubah semenjak ayah pergi. Aku nggak bisa diam aja, aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa masalah yang sebenarnya."
Menatap Kinanti dengan rasa iba, akhirnya Eva memutuskan untuk mengatakan yang sesungguhnya.
"Ayah kamu di penjara Ki, udah dari sebulan lalu. Dia ketahuan jadi pengedar narkoba."
Kinanti lantas tercekat, ia tak bisa lagi menahan dirinya selama ini untuk baik-baik saja. Kakinya lemas begitu saja, ia menjatuhkan dirinya pada dinginnya lantai rumah sakit.
"Selama ini sikap nenek kaya gitu ke kalian, karena ayah kamu dulu bawa pulang perempuan dan satu anak kecil, nggak hanya itu bahkan perempuan itu tengah mengandung."
Kinanti rasanya tak tahan lagi dadanya terasa begitu sesak. Benar apa yang selama ini neneknya katanya, bahwa dirinya anak haram.
Kali ini Eva tak lagi memanggil nama Prabu dengan embel-embel kakak lagi, kesabarannya pun turut habis melihat tingkah Prabu.
"Dia masih suka judi, mabuk-mabukan. Lalu ibu kandung kamu tak tahan dan memilih meninggalkan kalian. Sebelum kami tahu kebenaran ini, kami sangat marah pada Ibu mu Kinanti, yang dengan tega meninggalkan anak-anaknya. Mau bagaimanapun kesalahan yang anak lakukan, tak ada orang tua yang bisa membenci anaknya, makanya nenek yang kasian sama ayah kamu memutuskan untuk menerima kalian di rumahnya. Agar kalian bisa sekolah, dan juga ayah kalian nggak terlalu menderita sendiri harus mengurus anak-anaknya," terang Eva panjang, sedangkan Rani semakin merasa udara di sekelilingnya habis, dadanya begitu sakit menerima informasi bertubi-tubi.
Tak sampai situ, Eva melanjutkan, "Tapi lagi-lagi Prabu bikin ulah, dia pergi gitu aja nggak pernah sepersenpun transfer uang untuk keperluan hidup kamu dan Nana. Dia malah melakukan kesalahan yang sama, menghamili anak orang dan harus bertanggung jawab, sampai terpaksa menikah dengan Ibu tiri kamu. Entah sampai kapan hidupnya akan selalu seperti itu, apakah tuhan pun akan berbaik hati menerima taubat Prabu nantinya."
Jangan tanya keadaan Kinanti saat ini, selama mendengar penjelasan panjang lebar dari Eva, ia menutup rapat-rapat mulutnya agar orang lain tak mendengar tangisnya.
Hatinya begitu sakit, marah, ia ingin sekali membenci ayahnya, membenci hidupnya yang begitu kejam.
Apa yang harus dirinya lakukan? Kebenaran ini membuatnya mengerti, tak salah jika neneknya itu bersikap sangat kejam terhadap Kinanti dan adiknya.
__ADS_1
Eva kini beralih pada Kinanti, hatinya ikut sakit menatap keponakannya itu. Ia mengelus lembut bahu Kinanti, "Ki, ini bukan salah kamu. Tante minta kamu nggak nyalahin diri sendiri, tapi Tante juga minta kamu untuk mengerti kenapa Nenek bisa bersikap seperti itu terhadap kalian."
Kinanti hanya bisa mengangguk di tengah isak tangisnya, ia tak sanggup lagi hanya untuk bicara.
"Tante tahu betul apa yang Nenek lakukan selama ini salah, tapi Tante nggak bisa berbuat apa-apa."
Kinanti kembali mengangguk, namun untuk semua hal yang baru saja ia ketahui Kinanti butuh waktu untuk benar-benar menerimanya.
"Kamu lebih baik pulang, tenangkan diri. Biar Tante di sini yang jagain nenek," imbuh Eva menepuk pelan kepala keponakannya itu.
"Tapi Tan," ujar Kinanti yang masih ingin menemui terlebih dahulu, wanita yang selama ini mengurusnya itu.
"Kalau kamu ketemu nenek sekarang, Tante malah khawatir nenek akan melampiaskan emosinya sama kamu."
Tantenya itu benar, Kinanti tak bisa membayangkan bagaimana reaksi neneknya itu saat melihat Kinanti.
Meskipun ia tak masalah namun tetap saja, melihat kondisi Nenek saat ini yang bisa kapan saja semakin memburuk Kinanti memilih mengiyakan Eva.
Kinanti akhirnya memilih untuk pulang ke rumahnya, dengan langkah yang begitu berat ia berjalan meninggalkan rumah sakit.
Dalam benaknya terpikirkan apa yang Rani katakan, mengapa ayahnya sejahat itu. Apakah Kinanti dan adiknya tak berarti apa-apa untuk lelaki itu?
Dadanya kembali sesak, apa kehadiran Kinanti di dunia ini tak berharga bagi kedua orang tuanya?
Rasanya sekujur tubuh Kinanti mati rasa, ia tak dapat melanjutkan langkahnya. Ia memukul-mukul dadanya, berusaha menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa lakukan, namun sayang semuanya sia-sia saat yang bisa dirinya lakukan hanyalah menangis.
Saat kakinya benar-benar tak mampu berdiri dengan tegap lagi, seseorang meraih tubuhnya entah dari mana datangnya.
"Kinanti, kamu nggak apa-apa?"
__ADS_1
Bukannya membuat Kinanti merasa lebih baik, pertanyaan itu malah membuat dirinya semakin menangis menjadi-jadi tak peduli jika dirinya saat ini menjadi tontonan banyak orang.
[]