Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 22 : Kamar Mandi


__ADS_3

Kinanti akhirnya sampai rumah hampir magrib, karena tak enak pergi begitu saja ia memilih untuk membantu Ibu Sarah merapikan sampah-sampah yang berserakan.


Pintu rumah telah terbuka, pasti Nenek sudah ada di dalam.


Kinanti harus menyiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum masuk, berharap Neneknya tak melakukan hal yang Kinanti takutkan.


"Nana, kamu langsung mandi ya," ucap Kinanti mengingatkan adiknya, setidaknya kalaupun nanti Nenek akan marah, Nana tak begitu kena sasaran, biar dirinyalah yang menanggung.


Untungnya Nana paham dengan maksud tersirat Kinanti yang menyuruh mandi.


"Assalamualaikum," ucap Kinanti pelan saat kakinya telah menapak di lantai dua.


Tatapannya langsung bertemu dengan Nenek yang ternyata tengah berdiri tepat di pintu kamar beliau.


Tatapan bengis yang tak berani Kinanti lihat lebih dari semenit. Ada tumpukan kebencian dari sorot mata Nenek, apalagi perbuatan yang telah Ayahnya lakukan.


Kinanti bergidik ngeri, rasanya seluruh tubuhnya terasa di tusuk-tusuk.


"Na, buruan mandi!"


Kinanti mendorong adiknya itu agar segera menghilang masuk ke kamar mandi.


"Udah pulang Ki?"


Tante Eva muncul dari balik punggung Nenek, membawa satu tas besar yang Kinanti yakin pasti itu baju-baju Eva yang siap meninggalkan rumah ini lagi.


Kinanti meringis, "Iya Tante," lalu ia memberanikan diri bertanya pada Ibu yang telah melahirkan Ayahnya, "Nenek sudah sembuh?"


Tepat seperti dugaannya, Nenek hanya melengos masuk ke dalam kamar.


Eva yang menyaksikan hal tersebut memanggil Kinanti untuk mendekat, "Sini Ki, ada yang mau Tante omongin."


Wanita itu telah duduk terlebih dahulu di ruang tengah, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar yang dibawanya tadi.


"Tante langsung pergi lagi?"


Eva mengangguk, membuat Kinanti mendesah gusar.


Setelah kepergian Eva, pastilah Nenek mulai memarahinya seperti biasa.


"Tante nggak bisa lama-lama di sini, karena Yusuf masih kecil," tutur Eva menyebutkan nama anaknya yang masih berusia sekitar lima tahu.


"Apa lagi, Om Dimas kerja, nggak bisa sambil jagain Yusuf," sambungnya.


"Kenapa nggak di ajak ke sini Tan?"


Eva menutup tasnya yang telah penuh, kini ia menatap Kinanti sepenuhnya.


"Nggak bisa Kinanti, Yusuf belum terbiasa Tante bawa dalam perjalanan jauh. Memang Tante tadinya ke sini hanya mengurusi pekerjaan, nggak tahu kalau Nenek sampai masuk rumah sakit."


Kinanti mengangguk paham, hanya saja ia tak dapat menyembunyikan rasa takutnya menghadapi Nenek tanpa seorangpun di rumah ini.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya. Tante sudah bilang sama Nenek agar nggak mukulin kalian lagi, karena nggak seharusnya kalian jadi sasaran pelampiasan kemarahannya."


Kinanti mengangguk lagi, namun rasanya kepalanya sangat berat. Tak mungkin Nenek akan setuju dengan apa yang Tante Eva katakan, itu sangat mustahil.


"Tante minta tolong sama kamu, jagain Nenek. Suruh Nenek minum obatnya tepat waktu ya," ucap Eva kali ini menepuk pundak Kinanti.


Setelahnya perempuan itu bangkit masuk ke kamar Nenek, mungkin berpamitan atau mengatakan hal lain beberapa saat kemudian Tante Eva keluar lagi.


Kali ini Eva mengulurkan tangannya, agar Kinanti dapat mencium punggung tangannya itu.


"Tante langsung pergi ya? Nana!"


Panggilnya membuat Nana keluar dari kamar mandi masih dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


"Iya Tante?"


Nana awalnya tampak kebingungan sebelum akhirnya menyadari Eva akan meninggalkan rumah saat itu juga.


"Tante mau pergi lagi?"


Eva tertawa renyah, Nana di matanya terlihat anak kecil yang sangat menggemaskan.


"Iya, Tante mau berangkat lagi. Kamu jangan nakal ya Na. Kasian Kakakmu kalau kamu nakal terus gitu."


Nana cemberut, "Aku nggak pernah nakal, Nenek saja yang selalu memarahi kami tanpa sebab."


Kinanti mengerjap kaget, sejak kapan pula Nana jadi bisa menjawab perkataan orang dewasa selancar itu.


"Nana," panggilnya pelan kemudian menggeleng mengingatkan agar tak melanjutkan apa yang tadi Adiknya itu lakukan.


Itu juga yang membuat Kinanti selama ini hanya diam saja, semuanya terasa sia-sia setiap kali ia meminta tolong pada Tantenya, ataupun saudara yang ia temui.


Terakhir kali Nana dan Kinanti ditampar berkali-kali dengan kamus tebal bahasa Inggrisnya.


Eva hanya tersenyum tipis, "Makanya kamu kalau Nenek kasih tahu nurut ya. Yasudah Tante sudah di tungguin ojek di bawah."


"Kamu ganti baju aja," suruh Kinanti pada Nana yang tadinya akan mengikuti langkah Eva.


Kinanti turut mengikuti langkah Eva, ia turun mengantarkan kepergian Tantenya itu.


Benar saja ojek online telah mangkir di depan ruko, Eva menoleh sekali lagi saat siap naik ke atas motor yang mesinnya masih menyala.


"Ki, Tante berangkat ya," ucapnnya melambaikan tangan.


Kinanti tersenyum, "Hati-hati Tante. Salam untuk Om dan Yusuf."


Setelahnya Tante menjauh pergi menyisakan bau asap dari motor yang membawanya.


Kinanti menengadah menatap langit yang mulai gelap. Apa lagi yang akan dirinya hadapi kali ini.


Kinanti kemudian segera menutup pintu rukonya setelah menyadari tak ada lagi satu orang pun di luar.

__ADS_1


Saat kakinya mulai menapak pada tangga yang akan membawanya ke lantai dua terdengar tangisan Nana yang meraung, di susul teriakan Neneknya.


Kinanti menaikkan kecepatan agar kakinya segera sampai ke atas, jantungnya mencelus saat suara Nenek semakin terdengar jelas.


"Anak anjing! Kalian memang nggak seharusnya masih hidup!"


"Nggak tahu diri sudah dikasih makan, tetap saja nggak tahu terima kasih! Anak setan!'


Napas Kinanti terengah-engah, ia melihat Nenek berdiri di depan kamar mandi yang berarti Nana ada di sana


"Kenapa Nek? Ada apa lagi sekarang?!"


Kinanti bertanya, namun terdengar seperti kekesalan yang ia tahan selama ini, ada apalagi sekarang. Mengapa Neneknya itu tak henti-hentinya menyiksa Nana.


Kinanti membelalakkan matanya, Nana, anak kecil itu meringkuk di sudut kamar mandi tanpa sehelai pun baju.


"Dia mencuri!"


Suara Nenek memekakkan telinga Kinanti yang masih mencerna apa yang telah wanita itu lakukan pada Nana.


Kinanti berlari masuk, memeluk Nana yang terlihat menggigil dengan badan basah kuyup.


"Seharusnya saya nggak pernah biarin kalian tinggal di sini. Anak Babi pantasnya tinggal di jalanan biar jadi ***** seperti Ibu kalian!"


''Nenek!"


Kinanti kini berteriak, dadanya bergemuruh ada banyak amarah yang selama ini ia tahan.


"Ada apa? Kenapa Nenek tega lakuin ini sama Nana?! Dan jangan bawa-bawa Ibu kami lagi."


Nenek menghilang di balik pintu, kemudian kembali dengan melemparkan tas sekolah Nana.


"Dia mencuri!"


Tas yang tak tertutup membuat isi di dalamnya tumpah berserakan, Kinanti dapat melihat manik-manik halus mulai menyebar di lantai kamar mandi yang tak terlalu besar.


Toko konveksi yang tak seberapa lengkap ini memang menjual kancing, pernak-pernik hiasan baju, salah satunya itu manik-manik.


Kinanti tak dapat berkata-kata lagi, namun ia juga tak tega menyalahkan Nana dalam keadaan seperti ini.


"Adik kamu jadi pencuri di rumah ini! Memang anak haram akan selalu jadi masalah di manapun! Nggak ada gunanya tetap hidup!'


Tak sampai di situ Nenek mengambil apapun yang ada di dekatnya yang kemudian beliau lemparkan ke dalam kamar mandi.


Kinanti mengeratkan pelukannya pada Nana, saat sapu hampir mengenai kepalanya.


Kemudian ember, baskom, Kinanti sedikit menyeret tubuhnya beserta tubuh kecil Nana, berusaha menghindari setiap barang yang masih tak berhenti Nenek lempar.


Puncaknya saat Nenek terdengar suara kaca bergesekan, yang Kinanti tahu itu suara piring dari rak.


"Nek, tolong udah-"

__ADS_1


Terlambat saat kepala Kinanti terasa sangat pening karena terkena benda keras, di susul dengan perih yang terasa di pelipisnya.


[]


__ADS_2