Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 26 : Bahagia Selalu Melewatinya


__ADS_3

Tak seperti biasanya hati Kinanti pagi ini sangat riang, bahkan omelan Nenek tak mempengaruhi moodnya.


Kinanti hanya tersenyum saat Nana menanyakan hal yang sama sampai lima kali lebih pagi ini.


"Kakak lagi happy banget ya? pasti karena orang yang udah beliin obat kemaren kan?"


"Ih kak! cerita dong. Pasti karena cowok kemaren yang ke rumah kan?"


Kinanti lagi-lagi hanya tertawa, "Udah sana berangkat. Kita pisah di sini ya."


Kinanti melambaikan tangannya pada Nana saat mereka harus berpisah karena letak sekolah yang berlawanan arah.


Nana manyun sepertinya anak kecil itu benar-benar ingin tahu.


Kinanti pun sampai pegal kenapa pula ia sedari tadi tersenyum.


Kinanti menyentuh jepit kupu-kupu di kepalanya, hari ini rambutnya ia biarkan tergerai rapi.


Apakah Kinanti suka dengan jepit rambut itu? iya, dirinya sangat-sangat menyukainya.


Namun jika perihal Faisal, Kinanti tersenyum lagi. Entahlah ia sendiri belum berani menyimpulkan.


Tapi kali ini Kinanti membiarkan dirinya untuk sedikit membuka pintu bahagia, apalagi ini kali pertama dalam hidupnya ada seseorang yang secara terang-terangan mengungkapkan perasaan padanya.


Hari ini Kinanti tak telat datang ke sekolah, pagar masih terbuka dengan lebar saat dirinya tiba.


Kinanti bahkan tak sadar dirinya bergumam-gumam seperti menyanyikan lagu pagi yang membuatnya semangat.


"Sumringah banget Neng! habis dapat apa?"


Kinanti sontak berhenti, "Ngagetin mulu deh."


Syahril seperti biasanya tersenyum lebar, dengan rambut yang ia biarkan acak-acakan.


"Kamu belakangan pakai jepit rambut terus ya," ucap Syahril lagi kali ini melempar kunci motornya ke atas, lalu di tangkapnya sendiri berulang kali.


Kinanti menyentuh jepit rambutnya kembali, dengan senyum yang ditahan, "Enggak juga si, lagi pengen aja."


Keduanya kemudian saling diam sampai masuk kelas mereka.


Kinanti hampir saja menahan napas melihat orang yang mungkin bisa di bilang tak lagi mengesalkan di matanya berdiri tepat di depan pintu dengan tas di punggungnya.


"Mau kemana lo Sal?"


Syahril bertanya seolah mewakili Kinanti yang juga ingin menanyakan hal yang sama.


Kinanti kemudian memperhatikan penampilan Faisal yang memang berbeda dengan dirinya, cowok tersebut mengenakan seragam olahraga.


Faisal tersenyum pada Kinanti sebelum menjawab, "Mau tanding basket."


Kinanti masih berdiri salah tingkah, ia kemudian lanjut melangkah mendahului Syahril.


"Hai," sapa Faisal tersenyum hangat.


"Eh,,,, iya hai," gagap Kinanti membuat dirinya semakin merasa malu.

__ADS_1


Faisal pun tertawa, sebenarnya ia juga salah tingkah namun berusaha menutupinya.


"Nanti siang makan bareng mau? Kalau aku udah balik ke sekolah," ajak Faisal sebelum Kinanti kembali melangkah masuk.


Kinanti mengangguk cepat.


"Jepitnya cocok banget di kamu," ucap Faisal lagi kali ini membuat Kinanti tak dapat menahan tangannya untuk menutup wajahnya yang pasti sangat merah.


Syahril menyaksikan hal tersebut, ia merasa gerah lalu memilih menarik tas Kinanti.


"Modus banget sih lo!"


Tak lupa Syahril menendang kaki Faisal membuat pemilik kaki tersebut mengaduh kesakitan.


"Eh si anying. Sakittt!"


Kinanti tertawa menyaksikan hal tersebut, terlebih beberapa siswa lain mulai masuk membuat Kinanti tak ingin ada gosip mengenai dirinya.


Kinanti segera berlari ke tempat duduk paling belakang.


Sedangkan Faisal sudah berlalu, sepertinya belakangan ini memang Faisal terlihat sibuk latihan basket.


Kinanti sempat beberapa kali tak sengaja melihat pemuda itu sedang latihan di lapangna, untuk melawan sekolah lain.


Kinanti jadi ingin penasaran dan ingin sekali menonton Faisal bertanding, pasti keren banget.


Aduh apa sih yang dirinya pikirkan Kinanti memukul kepalanya sendiri.


"Mau sarapan ke kantin nggak?"


"Aku udah sarapan tadi," jawab Kinanti membenahi letak tasnya di bangku agar lebih nyaman bersandar.


Syahril mengambil ponsel dalam tasnya, "Aku ke kantin dulu ya."


"Jangan sampai telat lho, kamu sering banget telat masuk kelas," tutur Kinanti mengingatkan.


Syahril menatap Kinanti dengan seulas senyum jahil, "Udah mulai perhatian nih?"


Kinanti memutar bola matanya, "Nggak!"


Syahril tertawa sebelum meninggalkan Kinanti yang masih geleng-geleng kepala.


Menatap suasana kelasnya yang masih tenang, terlebih masih sekitar 10 menit lagi bel berbunyi Kinanti memilih untuk meletakkan kepalanya di atas meja.


Mungkin karena sempat tidur di kamar mandi, makanya tubuh Kinanti terasa tak enak.


Untung saja Faisal memberinya obat sehingga Kinanti tak terlalu ambruk karena sakit.


Kinanti memejamkan matanya perlahan, berharap dapat mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sesaat.


Sayang ada langkah-langkah masuk dengan topik yang membuat Kinanti penasaran.


"Itu," ucap seseorang yang Kinanti tahu Ela.


Kinanti mempertahankan matanya agar tetap tertutup, itu siapa maksudnya apakah dirinya? batin Kinanti.

__ADS_1


"Aku kira pas Faisal milih jepit itu mau dikasih ke lo," lanjut Ela lagi kali ini lebih jelas.


Terdengar kursi ditarik, sepertinya Ela tak sendiri.


Kalau Faisal membeli jepit, apa yang meraja maksud jepit rambut yang saat ini dirinya kenakan?


"Gue kira juga gitu, apalagi pas akhirnya mau nonton kemaren itu."


Itu suara Nadia, Kinanti semakin membuka lebar telinganya.


Jadi hari itu Faisal akhirnya mau nonton sama Nadia? setelah cowok itu berulang kali sok menjelaskan padanya bahwa mereka tak ada hubungan apa-apa?


"Sabar ya Nad," tutur Ela terdengar sangat lembut.


"Lo harus hati-hati El sama dia."


Sama dia? apa maksudnya dengan diri Kinanti? Dada Kinanti kembali berdegup namun kali ini degup kekhawatiran ada apa sebenarnya dengan dirinya.


"Menjual kesedihan buat narik simpati orang lain. Jijik gue," sambung Nadia dengan tajam.


Kinanti tercekat, maksud Nadia apa? sejak awal Nadia memang tak terlihat menyukainya namun Kinanti bahkan tak pernah menjual kesedihan, seperti yang Nadia bilang barusan.


"Gue juga heran, sejak masuk ke kelas ini yang diomongin Raka ya seputar dia. Kinanti, Kinanti, Kinanti," protes Ela kali ini.


Sepertinya dua cewek tersebut memang menyimpan dendam pada Kinanti, tapi kenapa? bahkan mereka sangat jarang berinteraksi secara langsung dengan dirinya.


"Tapi kayanya Faisal bakal sama lo deh Nad," suara Ela menyemangati.


Nadia tertawa senang mendengar kalimat tersebut, namun ia tak menjawab apa-apa.


"Soalnya habis nonton doi nggak nolak waktu lo minta dianterin pulang kan?"


Nadia masih tak terdengar menjawab, mungkin gadis itu mengangguk atau tersenyum senang entahlah Kinanti merasa dadanya akan meletup-letup.


Ela tampaknya mencatat semua daftar curhatan sahabatnya, "Terus kata lo kemaren Faisal megangin tas lo waktu belanja, ngasih jaket biar lo pake kan? itu semua pasti dia lakuin karena suka sama lo Nad."


"Iya! pas lihat gue kedinginan dalam bioskop dia ngasih gue jaketnya. Itu sweet banget kan?"


Kedua cewek itu lantas tertawa-tawa bersama, apalagi Nadia yang terasa semakin yakin bahwa cintanya berbalas.


Mereka tak sadar Kinanti meremas kuat roknya, ia lalu menarik kasar jepit kupu-kupu di rambutnya hingga terlepas.


Ternyata ia tak sespesial itu, jaket yang Faisal kasih padanya ternyata dipakai pula oleh Nadia.


Apa mau kamu Faisal!


Kinanti menyesal membiarkan dirinya sempat membuka ruang untuk pemuda itu. Bahagia? Kinanti menertawakan dirinya sendiri. Mana pernah ada kebahagiaan dalam hidupnya.


Tak dapat Kinanti tahan lagi saat bibirnya mengumpat, Faisal brengsek!


Kinanti terlalu bodoh, waktu sesingkat itu bagaimana pula ia percaya dengan mulut super manis laki-laki.


Laki-laki tetap laki-laki, toh Kinanti sadar betul ia jauh dari Nadia.


Jauh dari segala sisi, Faisal brengsek!

__ADS_1


__ADS_2