Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 30 : Klarifikasi Faisal


__ADS_3

Bab ini panjang banget :)


Enjoyyy ya!


...****************...


Kinanti salah kalau dirinya pikir Faisal akan berhenti, ternyata teman sekelasnya itu nekat.


Bahkan Faisal memaksa datang ke rumahnya.


Nenek Kinanti yang tengah berjualan menatapnya memicing.


"Itu yang kemaren datang lagi?"


Kinanti menoleh kebelakang, Faisal sedang melepas helmnya.


"Iya Nek, nggak tahu mau ngapain. Tolong usir aja."


Kinanti hendak melangkah masuk tak ingin lagi menggubris Faisal.


Biarkan saja apa yang pemuda itu lakukan, toh bukan urusannya. Kinanti sudah memperingatkan agar Faisal tak datang ke rumahnya lagi.


Sebelum Kinanti sempat melepas sepatu Nenek memanggilnya.


"Itu temannya datang kok kamu tinggal."


Nenek berkacak pinggang di depan pintu pembatas antara toko dan tangga.


"Kinanti banyak kerjaan Nek."


Kinanti tak bohong, tadi pagi dirinya belum mencuci piring dan baju.


Sudah banyak daftar pekerjaan yang telah menantinya.


Nenek masih tetap menatapnya, seperti biasa dengan tatapan yang nyaris membuat mata beliau keluar.


"Temuin dulu, mungkin dia mau sama kamu."


Kinanti menatap Neneknya heran, biasanya Nenek tak begitu peduli kalau ada orang yang mencarinya namun kenapa kali ini Nenek seperti ngotot menyuruh Kinanti menemui Faisal?


Apalagi dengan kalimat aneh yang Neneknya gunakan, mau sama kamu, maksudnya apa Kinanti tak tahu.


"Enggak Nek. Bilang aja Kinanti sibuk."


"Kinanti!"


Nenek mulai membentak, namun sedikit ditahan agar orang di depan sana tak mendengarnya.


"Kenapa Nek? Kinanti banyak pekerjaan di atas."


"Kamu nggak tahu dia anak siapa?"


Kinanti menggeleng.


"Dia anak Bu Sekar, bendahara pengajian Ibu-Ibu tempat Nenek ngaji."


Kinanti semakin bingung, maksud Neneknya itu sebenarnya apa. Lagi pula apa hubungannya Faisal anak siapa dan ketidak inginan Kinanti untuk menemui pemuda itu.


"Sana kamu temui dulu! Sopan lah pada tamu."


"Nenek nggak salah? bukannya Nenek yang nyuruh Kinanti untuk nggak bawa pulang temen ke rumah? Jadi Nenek boleh suruh dia pergi."


"Yang ini beda," tukas Nenek mulai geram.


Kaki Kinanti mulai naik satu tangga, "Beda apanya Nek?"


"Dia anak Bu Sekar, teman ngaji Nenek. Bu Sekar itu yang suka ngasih mukena, dan iuran paling besar. Dia anak orang kaya. Jangan nolak kalau temenan sama orang kaya."


Kinanti membuka mulutnya kaget, "Maksud Nenek gimana?"


Jadi karena Faisal orang kaya? Kinanti disuruh berteman dengan cowok itu. Bagaimana dengan temannya yang lain?


Sepertinya Nenek semakin stress berat setelah sakit kemaren, itu yang terbersit dalam benak Kinanti.


"Nggak Nek, Kinanti nggak ada waktu."

__ADS_1


"Kinanti!"


Meletakkan tasnya begitu saja di atas tangga, Kinanti melangkah malas menemui Faisal.


Sepertinya mendengar keributan yang terjadi di dalam, Faisal berdiri menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Ki, kamu-"


Kinanti menarik tangan Faisal, "Kita ngomongnya di tempat lain aja."


Faisal paham ia lalu membawa Kinanti ke Comfort Zone cafe favoritnya.


Kinanti tak banyak bicara, ia menatap jalanan dari kaca jendela cafe.


"Kinanti," panggil Faisal pelan, berinisiatif untuk memulai, "Apa aku bikin salah?"


Kinanti masih tak menjawab.


"Apa ini tentang Nadia?"


Faisal teringat pesan Raka beberapa menit lalu, saat dirinya di tempat Kinanti.


Hanya satu nama itu dalam pesan Raka.


Meski Faisal masih mencari tahu apa yang membuat Kinanti marah padanya.


Kinanti akhirnya mau menatapnya, walau masih diam.


Faisal meneguk salivanya, entah kenapa kegugupan menghampiri, "Apa Nadia ngomong sesuatu ke kamu?"


"Bukan Nadia, tapi kamu. Kenapa kamu bilang suka sama aku?"


"Ya karena aku suka sama kamu," jawab Faisal cepat.


"Yakin? bukannya kamu memang bersikap manis sama semua orang?"


Faisal menunjuk dirinya sendiri, "Aku? berbuat manis sama semua orang?"


Kinanti tak menjawab, pun tak memberikan reaksi apapun.


Kinanti menghembuskan napas lelah, "Sal, kerjaan aku di rumah banyak. Beban hidup aku juga tak kalah banyak. Kenapa kamu malah jadi beban kesekian."


Faisal menunduk, "Kinanti, jujur aku deketin kamu untuk bikin kamu merasa lebih baik. Mau bikin kamu ngerasa punya seseorang. Bukan jadi beban seperti yang kamu bilang."


"Tapi nyatanya kamu berakhir jadi beban aku."


Faisal mengangkat wajahnya untuk menemukan keseriusan dalam ucapan Kinanti.


"Nadia udah bilang apa sama kamu?"


"Jangan bawa-bawa Nadia," tegas Kinanti.


"Tapi karena Nadia kan, kamu jadi gini. Aku udah jelasin beberapa kali. Aku dan Nadia nggak pernah ada hubungan apapun. Yang aku perhatiin dari masuk SMA cuman kamu, Kinanti."


Kinanti tak dapat menahan degup jantungnya yang tahu-tahu mulai bersuara. Namun Kinanti berusaha biasa saja.


"Aku bahkan nggak pernah nyatain perasaan selain sama kamu. Kalau itu yang mau kamu dengar."


Keusilan diri Faisal hilang sepenuhnya, kini Faisal seperti pria yang keluar dari Novel idaman anak remaja.


Kinanti berusaha untuk tetap waras, "Kamu jadi nonton sama Nadia, setelah pulang dari rumah Sarah?"


Faisal mengangguk dengan cepat, bahkan ia tak berusaha untuk menutupinya.


"Sore itu Nadia nangis, katanya orang tua dia berantem. Aku nggak bisa nolak, pas dia bilang butuh temen. Tapi itu pure karena aku kasihan Ki," jelas Faisal dengan lembut.


"Bisa aja, kamu sekarang baik sama aku karena kasihan."


"Enggak. Aku kira awalnya iya, waktu pertama kali aku lihat kamu. Tapi makin kesini aku makin sadar, ini bukan sekedar rasa kasihan. Kamu beneran nggak sadar aku sering merhatiin kamu sejak kita masuk SMA?"


Kinanti mengingat-ingat apakah ia mengenal Faisal sebelum masuk kelas inti, nihil. Faisal tak pernah masuk catatan memori di kepalanya.


Faisal terlihat kecewa, namun kemudian ia tersenyum, "Untung ada sistem baru di sekolah kita. Kalau enggak, mungkin kamu tetap nggak lihat aku."


"Balik ke soal Nadia tadi. Termasuk ngasih dia jaket kamu? bawain tas? dan mungkin semua yang nggak aku lihat Sal?"

__ADS_1


Kinanti hampir saja memukul mulutnya sendiri, ia sudah seperti seorang perempuan yang menginterogasi kekasihnya.


Faisal tertawa, "Aku nggak tahu, ternyata kamu punya sisi ini juga."


"Sisi ini, maksudnya? "


Faisal memajukan tubuhnya, "Jealous kan?"


"Enggak," bantah Kinanti salah tingkah, "Aku cuman nggak mau dikira perusak hubungan orang aja."


Faisal berdecak, "Aku nggak ada hubungan sama siapapun. Makanya aku berani deketin kamu. Soal Nadia," Faisal menatap Kinanti yang tengah menunggu jawabannya, "Waktu di dalam bioskop dia kedinginan dan minjem jaket aku."


Minjem apa kamu yang ngasih Sal, batin Kinanti.


"Kalau bawain tas, dia waktu itu bawa belanjaan yang banyak banget. Dan dia minta tolong Ki, kalaupun Nadia nggak minta tolong aku pikir itu sikap basic aku sebagai manusia aja sih. Pengen bantuin, ya kali ada orang kesusahan kita akan diam aja kan?"


Kinanti mengangguk, iya juga. Kinanti nggak mungkin diam aja, misalnya ada seseorang yang terlihat membutuhkan bantuan.


"Ngasih jaket waktu aku nganterin dia pun, itu karena roknya pendek. Nggak ada alasan lain. Buktinya waktu jalan sama Nadia yang aku inget kamu, aku beli jepit itu karena ingat kamu."


Kinanti jadi merasa bersalah, ia sangat kekanakan. Semua penjelasan Faisal begitu menyentaknya, sepertinya Kinanti belum dapat menjalin hubungan asmara saat ini.


"Maaf," ucap Kinanti pelan hampir tak terdengar.


"Jepit rambutnya nggak kamu buang kan?"


"Enggak. Aku simpan dalam tas. Tapi Sal."


Kinanti akan mengatakan sesuatu yang mungkin membuat Faisal tak senang.


"Nadia suka sama kamu. Aku, aku nggak mau aja dikira jadi cewek gatel yang deketin kamu," ujar Kinanti kemudian.


"Jangan dipikirin Ki. Nadia memang begitu, perasaan nggak bisa dipaksa. Begitupun perasaan aku ke dia," Faisal tertawa, "Aku nggak nyangka akan klarifikasi hal kaya gini ke kamu."


Kinanti menatap Faisal tulus, "Maaf Sal, udah ngira kamu cowok brengsek."


"Aduh, sakit banget," rengek Faisal memegang dadanya seolah ia betulan sakit dengan perkataan Kinanti.


"Maaf," ucap Kinanti lagi.


Faisal tergelak, "Kita udah kayak orang pacaran ya Ki. Kamu mau?"


Kinanti terperangah, "Ha mau apa? "


"Kita .... " Faisal menelan salivanya, akankah hal ini dirinya lontarkan, "Kita pacaran?"


Kinanti tersedak, padahal dia sedang tak makan ataupun minum.


"Untuk itu, kayanya aku belum bisa. Kamu tahu sendiri kita belum saatnya ke arah sana. Aku juga masih labil, belum siap punya hubungan sama siapapun. Dan masalah keluarga yang rumit banget, aku belum ada waktu untuk itu. Maaf," ucap Kinanti menunduk.


Faisal mengangguk paham, "Iya ngerti. Aku juga setuju dengan itu, kecuali yang kamu bilang labil. Menurut aku wajar sih, semua orang bilang aku buaya soalnya. Padahal aku hanya bersikap baik aja sama semua orang. Tapi ada batasannya. Mungkin aku harus perbaiki hal itu. Untuk saat ini mungkin prioritas kamu bukan untuk hal-hal romantisme kan?"


Kinanti mengangguk, ia terharu dengan sikap pengertian Faisal.


"Oke, aku juga gitu. Tapi boleh nggak kalau aku ada di sekitar kamu Ki? Kasih aku ruang biar aku ada di dalam hidup yang kamu jalani."


Kinanti hampir menangis, terlebih saat dirinya tak sadar mengangguk.


"Tapi jangan nyebelin bisa?"


Faisal tergelak, "Nyebelin gimana?"


"Usil banget kamu tuh!"


"Masak sih? tapi nggak tahu ya kalau ketemu kamu bawaannya pengen ngerjain mulu," aku Faisal setelah keduanya tertawa bersama.


"Udah ya, hari ini. Tolong anterin aku pulang, banyak kerjaan di rumah. Tapi ngomong-ngomong kamu bilang apa ke Nenek aku, kok beliau ngizinin kamu ketemu aku? "


Faisal mengangkat bahunya, "Aku cuman jawab waktu beliau nanya anak siapa."


Kinanti geleng-geleng kepala, mengingat Neneknya yang semakin aneh dari hari ke hari.


"Kamu anak orang kaya," ujar Kinanti.


Dia lalu menarik tangan Faisal, tak memperdulikan kernyitan bingung yang muncul di wajah cowok itu.

__ADS_1


[]


__ADS_2