Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 40 : Membantu Kinanti


__ADS_3

Meski Nenek sudah sadar namun keadaannya masih drop.


Beliau tak lagi punya tenaga untuk sekedar marah-marah, sehingga memilih diam saja saat Kinanti mulai menyuapi nya bubur.


Hari sudah mulai petang, pasti toko masih dalam keadaan terbuka, entah kepada siapa tadi Nenek menitipkannya.


Sedangkan Tante Eva paling cepat besok baru sampai.


"Habis ini aku pulang beresin dagangan ya Nek," ujar Kinanti memberanikan diri.


Nenek menatap Kinanti malas, "Iya lah. Kamu harus beresin. Gara-gara kamu juga Nenek di sini."


Kinanti menelan ludah, "Iya Nek, maaf."


Nenek kemudian memicing, meski tak seseram biasanya.


"Kamu selama ini tertekan tinggal sama Nenek?"


Meski masih ada rasa takut, namun entah kenapa Kinanti sedikit senang saat Nenek menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'Nenek'.


Karena biasanya wanita itu akan menyebut, 'saya' atau 'aku' saat menyebut dirinya sendiri.


"Nenek suka mukul, aku nggak tega lihat Nana."


Kinanti berusaha untuk jujur, lagi pula menilik keadaan Nenek sekarang pasti tak sanggup untuk memukulnya.


Nenek mendengus, "Terserah kamu saja lah. Nenek juga capek kalau ada kalian. Nenek mau hidup bebas sendiri."


Kinanti mengerjap, mencoba mencerna apa yang Neneknya katakan, "Maksud Nenek kami boleh ikut Ibu?"


Nenek tak menjawab beliau justru memutar tubuhnya membelakangi Kinanti.


"Nek, maksud Nenek gimana?"


Nenek menggerutu, yang tak terlalu terdengar namun kalimat selanjutnya membuat bahu Kinanti kembali jatuh.


"Dasar nggak tahu terima kasih!"


Kinanti kemudian keluar, meninggalkan Nenek yang masih memunggunginya.


"Nenek kamu mau istirahat?"


Raka ternyata telah menunggunya di depan ruangan.


Kinanti mengangguk, "Iya, aku mau pulang sebentar beresin dagangan."


Raka berdiri, "Aku anterin, kalau gitu."


Mereka berjalan bersama ke arah ruangan tempat Nana di rawat.


Tadi saat Burhan pergi ke ruangan Dokter, ternyata Nana terkena gejala tipes sehingga harus di rawat.


"Kayanya nggak usah deh, Ka. Deket ini," tolak Kinanti.


"Udah aku anterin aja. Langit makin gelap, Nan."


Kinanti membuka pintu ruangan Nana yang berjarak lima kamar dari ruangan Nenek.


"Yaudah."


Ibu terlihat tengah menyuapi Nana, sedangkan Burhan duduk mengamati interaksi keduanya.

__ADS_1


Mendengar suara pintu terbuka, Dewi menoleh.


"Nenek udah baikan?"


"Udah Bu, tapi ya gitu masih terlalu kesal sama Kinanti," ujar Kinanti yang kemudian menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang Nana.


"Kak, aku nggak mau ikut Nenek lagi," rengek Nana dengan mulut penuh Nasi.


Kinanti berusaha tersenyum, "Iya, kita nanti ikut Ibu aja ya. Adek seneng kan kalau ikut Ibu?"


Nana mengangguk bersemangat, "Yey! akhirnya aku bakal tinggal sama Ibu."


Kinanti merasa sedih, apakah keinginan Nana bisa dirinya kabulkan?


Namun untuk saat ini Kinanti tak ingin menghancurkan kebahagiaan Nana.


"Bu, aku mau ke rumah sebentar. Dagangan Nenek pasti belum diberesin," pamit Kinanti.


"Iya, biar Raka anterin kamu ya? Atau mau di antar Om Burhan?"


Pertanyaan Dewi membuat Raka buru-buru maju, "Aku aja Bun."


Burhan tertawa, "Kalian yakin, nggak mau pacaran aja?"


"Astaghfirullah Mas! Ini bukan waktunya bercanda ya!"


Dewi melotot kesal, Kinanti dan Raka tertawa sebelum mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit.


"Aku harus manggil kamu Abang nggak sih Ka?"


Pertanyaan aneh Kinanti muncul tiba-tiba, membuat Raka yang membawa motor tergelak.


"Nggak usah, kita kan seumuran Nan. Lagian kita bukan saudara kandung, kalau aku jadi Abang kamu nanti malah nggak bisa pacaran kita," jelas Raka panjang lebar.


Namun Raka hanya tergelak, "Nggak ada siaran langsung."


"Kamu sejak kapan ngeselin si Ka," sungut Kinanti.


Mereka akhirnya tiba, namun yang membuat Kinanti terkejut ada Faisal di sana.


"Kalian dari mana?" Tanya Faisal begitu melihat Kinanti dan Raka.


"Kamu ngapain?" Tanya Kinanti alih-alih menjawab pertanyaan Faisal.


"Iya nih, lo ngapain di sini?" Raka tak kalah heran melihat Faisal berada di sana.


Faisal berdecak, "Aku khawatir aja sama kamu. Apalagi tadi telat pulang, takut kamu di marahin Nenek lagi."


"Dih, lo siapanya Kinanti sih? Bapaknya? Nggak perlu datang ke sini kali!" Raka terlihat tak suka.


"Bacot!" Faisal menukikkan kedua alisnya pada Raka.


"Aku dari rumah sakit, Nana sakit, Nenek juga. Mereka di rawat," jelas Kinanti kini mulai merapikan makanan di rak.


Wajah Faisal terlihat khawatir, "Terus keadaan mereka gimana?"


"Udah mendingan kok," jawab Kinanti dengan tangan yang cekatan melakukan pekerjaannya.


Melihat Kinanti mulai bekerja, kedua pemuda itu ternyata tak tinggal diam.


Raka merapikan kursi-kursi yang mungkin tadi pelanggan gunakan, ia susun menjadi satu.

__ADS_1


Begitu pula dengan Faisal yang mengumpulkan sampah dengan sapu yang ia ambil di depan toko.


"Kalian nggak usah, aku aja," ucap Kinanti merasa tak enak pada kedua pemuda itu.


"Kamu diem aja," kata Raka dan Faisal bersama membuat mereka terkejut karena tak menduganya.


Sedangkan Kinanti tergelak, ia kemudian memasukkan sisa makanan tersebut ke dalam rumah.


Raka menyusul membawa panci yang masih berisi kuah.


"Raka, udah aku aja," protes Kinanti menyadari Raka mengekorinya naik ke tangga.


"Aku bantuin, biar cepet selesai Nan."


Saat mereka akan mencapai tangga teratas, terdengar suara langkah menyusul.


Faisal membawa piring-piring yang masih bersih, "Tungguin! Kalian nggak boleh ya berduaan aja."


"Faisal itu piring bersih, nggak perlu di bawa naik. Kamu taruh di rak bagian bawah aja," kesal Kinanti, "Udah aku bilang kalian diem aja!"


Faisal tersenyum merasa bersalah, "Maaf, aku balikin deh."


"Lagian lo ngapain sih, malah bikin ribet Kinanti aja," ledek Raka.


Faisal akhirnya kembali keluar untuk mengembalikan piring tersebut, menahan cemburu menunggu Raka dan Kinanti kembali turun.


Kinanti meletakkan sisa makanan yang masih baru di masak ke dalam kotak, agar dapat di simpan ke dalam kulkas.


"Kamu setiap hari beresin ini?" Tanya Raka, yang kini telah berinisiatif mencuci piring.


Untungnya karena terbiasa Raka sudah di ajarkan mandiri oleh Ayahnya, sejak Ibunya sakit melakukan pekerjaan rumah tak sulit baginya.


"Iya," jawab Kinanti, tangannya bergerak menyusun kotak yang telah terisi ke dalam kulkas.


"Terus kamu sempat ngerjain PR?" Raka tampaknya masih sangat penasaran dengan keseharian Kinanti.


Kinanti terkekeh, "Di sempet-semeptin."


Kinanti kemudian membantu Raka, untuk membilas piring-piring yang telah Raka gosok dengan sabun.


"Maaf ya ngerepotin," ucap Kinanti tak enak.


"Enggak ngerepotin kok. Aku malah seneng, coba dari dulu aku bisa bantu kamu ya Nan," tutur Raka tulus.


"Aku penasaran, kenapa kamu manggil aku selalu 'Nan', enggak 'Ki' seperti yang lain," tawa Kinanti berderai.


Raka mengangkat kedua bahunya, "Gatau ya, mungkin karena aku sering dengar Bunda dulu cerita ke Ayah gitu. Kayak misalnya waktu Bunda cerita waktu ngobrol sama kamu, 'Nan nanti kalau besar mau jadi apa?' bisa jadi panggilan itu yang ke rekam di otak aku."


Kinanti tertawa, "Bisa gitu ya. Tapi memang dulu Ibu manggil aku Nan. Sekarang Kinanti, atau Nak, mungkin karena udah lama nggak ketemu kali ya. Jujur waktu kamu pertama kali manggil aku dengan sebutan itu aku seneng banget."


"Oh ya? yaudah aku panggil kamu terus. Nan! Nan! Nan!"


Kinanti kembali tergelak, tak terasa pekerjaan mereka selesai. Tinggal menyapu dan menutup toko saja.


"Kinanti! lama banget di atas kalian ngapain sih!"


Suara Faisal terdengar berteriak dari bawah membuat Raka dan Kinanti tertawa kembali.


Entah kenapa Kinanti sekarang merasa punya seorang Abang.


"Udah biarin aja dia nunggu sampai lumutan," ujar Raka saat mengeringkan tangannya dengan lap, pemuda itu bahkan menarik tangan Kinanti untuk ia keringkan bersama.

__ADS_1


[]


__ADS_2