
"Kinanti!"
Sarah memanggil Kinanti, sahabatnya itu hari ini terlihat cantik mengenakan dress berwarna putih dengan bunga-bunga di bagian bawahnya.
Kinanti mendekat, ia memeluk Sarah singkat, "Sarah, selamat ulang tahun ya! Maaf aku belum bisa kasih kado."
Kinanti merasa tak enak hati, tabungannya belum cukup untuk membeli sesuatu yang layak untuk sebuah hadiah.
Sarah mengibaskan tangan, "Nggak usah. Kamu dateng aja udah seneng banget aku, Ki."
Rumah Sarah terlihat begitu luas, pasti orang tuanya pegawai, melihat semua rumah di Imam Bonjol ini bagus. Pastilah mereka kalangan menengah ke atas semua.
Anak-anak kecil dengan seragam muslim sudah rapi duduk berbaris, acaranya memang akan di mulai sebentar lagi.
Terlihat orang tua Sarah yang tampak sibuk membagikan entah apa dalam bingkisan, Kinanti dan Nana tadi sudah bersalaman.
Orang tua Sarah begitu hangat membuat Kinanti sedikit mendamba suasana seperti itu dalam rumahnya.
"Yaampun, kamu yang namanya Kinanti? Sarah sering cerita tentang kamu. Cantik gini," ucap Ibu Sarah menepuk kepala Kinanti.
Kinanti hanya tersenyum, ia lalu bergabung dengan teman yang lain, apalagi saat Farah pun datang.
Meski tak banyak yang Sarah undang namun Kinanti sempat melihat beberapa teman sekelasnya juga datang.
Kata Farah sih, sebenarnya mereka sudah satu sekolah sejak Sekolah Dasar. Pantas saja Sarah seakan tahu banyak hal mengenai teman sekelasnya yang hits itu, meskipun sering kali Sarah tak bergabung.
Dan satu lagi ternyata Ela juga datang, kini duduk tepat di sebelah Kinanti, mereka memilih untuk duduk di gazebo rumah Sarah.
Untuk teman-teman Sarah semuanya berada di gazebo samping rumah, lengkap dengan meja panjang penuh aneka kue, hal ini pula yang membuat Nana sedari tadi hanya diam karena mulutnya selalu penuh.
"Lucu banget Adik kamu Ki," komentar Ela ramah seperti biasanya.
Hari ini Ela mengenakan rok bunga-bunga, dengan kemeja tanpa lengan berwarna broken white, satu lagi sebuah jaket bomber berada di atas pangkuan gadis itu, menutupi pahanya yang terlihat saat rok pendek yang ia kenakan tersingkap.
Kinanti tahu betul itu jaket milik Raka, karena saat bertemu di depan tadi Raka mengenakannya.
"Makasih," jawab Kinanti yang kini turut memperhatikan Nana.
Nadia datang membawa dua gelas minuman bersoda, yang kemudian gadis itu serahkan pada Ela, tanpa menggubris Kinanti.
"Cantik banget lo, El," komentar Nadia yang kemudian duduk begitu saja di samping Kinanti, membuat Kinanti mau tak mau harus bergeser karena terdorong kecil.
Ela tersenyum menanggapi, perempuan itu menyesap minuman dari gelasnya.
"Mau ngedate habis ini ya?"
__ADS_1
Meski Kinanti memusatkan perhatiannya pada Nana, namun telinganya ia buka lebar untuk mendengar percakapan dua temannya itu.
"Raka ngajak nonton."
Suara Ela terdengar riang, membuat Kinanti sedikit terhenyak. Seharusnya Kinanti sadar akan hal itu.
Tapi Kinanti pun sedikit merasa jengkel, kenapa pula Raka bersikap baik padanya, membuat hati Kinanti semakin berharap saja.
"Cieee, nyari di mana sih cowok kaya Raka gitu," rengek Nadia seakan dia benar-benar menginginkan kekasih, seperti kekasih temannya itu.
Ela kembali tertawa, namun tertawa yang terdengar anggun di telinga siapapun yang mendengarnya.
"Jangan sampai lo demen sama cowok gue ya," candanya kemudian.
"Enggak lah. Gue nggak gatel, yang diem-diem ngerebut cowok orang ya."
Entah perasaan Kinanti saja atau memang begitu adanya, saat mengatakan hal tersebut Nadia menoleh ke arahnya.
Mereka kemudian berlalu untuk mengambil makanan di meja membuat Kinanti akhirnya dapat menghela napas lega.
Semangatnya telah merosot sempurna, memang sedari awal yang salah dirinya sendiri kenapa pula berani suka pada Raka.
"Kak, aku mau lagi boleh ya?"
Rani tertawa maklum, "Iya boleh, tapi nggak boleh berantakan ya. Dan secukupnya aja ngambilnya, ingat mubazir temannya setan."
Nana berlari begitu saja ke arah kerumunan anak-anak kecil lainnya yang juga mengantre mengambil kue.
Seperti garden party kecil-kecilan, memang terdapat beberapa meja lainnya yang lengkap dengan makanan, namun sayangnya Rani tak bernafsu makan apapun hari ini.
Kinanti melongok ke arah dalam, sepertinya doa bersama di dalam telah selesai.
Kinanti tersenyum melihat Nana yang dengan mudah berbaur dengan anak kecil sebayanya, itulah yang selalu dirinya ingin kan berteman dengan siapapun dengan mudah.
Namun tetap saja Kinanti selalu berakhir diam, tak pernah bisa memulai obrolan.
Kinanti kembali melamun melihat lalu lalang orang lain yang menikmati acara ini.
Kinanti tak sadar ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.
"Yaelah, ngeces tuh Nanti!"
Bima dengan tak berakhlaq memukul bahu Faisal dengan keras.
"Aduh! sakit Bang," rintih Faisal.
__ADS_1
Bima membawa sekotak air mineral yang akan ia susun di meja, "Lagian ngapain di liatin. Samperin lah kalau suka, cemen lo."
"Lo bukannya merestui gue sama Sarah? kenapa malah nyuruh gue deketin orang lain," goda Faisal mengalihkan pembicaraan. Ia malu karena ketahuan memperhatikan Kinanti.
"Sarah jijik sama cowok macem lo. Jadi ya lo gue bebasin deh, sono!"
Faisal membantu Bima menyusun minuman gelas tersebut, "Ck! apaan sih Bang."
"Lo kira gue bego apa, dari tadi lo ngelihatin Kinanti kan? sampai melongo gitu."
Benar-benar tak terlihat sedikit pun wibawanya Bima yang seorang guru, mulut Abang temannya itu sangat ceplas-ceplos seperti petasan.
"Susah Bang," keluh Faisal.
"Cemen banget! keburu disalib orang lain. Tuh, lihat!"
Faisal mengikuti arah telunjuk Bima, benar saja di sana terlihat Syahril menghampiri Kinanti.
Faisal berdecak, "Kenapa pada caper sama Kinanti sih!"
"Lah namanya juga suka," ujar Bima enteng.
Faisal memasang wajah serius, "Emangnya cecurot itu suka juga sama Kinanti?"
Bima meletakkan kardus yang telah kosong di bawah meja sebelum menjawab.
"Yaelah, pertama kali gue masuk kelas kalian aja gue langsung bisa tahu. Nih, semuanya kaya mata lo gini," tunjuk Bima.
"Emang mata gue gimana?"
"Tatapan pengen jaga dia. Mana matanya tajem-tajem banget lagi. Kayanya gue kudu jaga siswi gue satu itu deh, dari buaya ciliwung macem kalian."
Bima kemudian berlalu begitu saja sebelum Faisal sempat protes.
" Enak aja! Buaya Ciliwung? gue dari awal cuman suka sama Kinanti kali!" Gerutu Faisal.
Faisal membelalak saat kini Syahril sudah duduk tepat di samping Kinanti, sambil tertawa lebar membuat Faisal ingin merobek mulut temannya itu.
Tapi setelah Faisal ingat-ingat, memang Syahril sering kali berada di dekat Kinanti.
Faisal buru-buru berlari ke gazebo, enak saja kalau sampai Syahril duluan yang dekat dengan Kinanti, duh di tambah Raka tahu-tahu jalan ke arah sana.
Bisa pecah kepala Faisal sekarang membayangkan akan semakin sulit untuk dirinya, semua lawannya temannya sendiri.
[]
__ADS_1