
Menjadi orang yang lebih baik lagi setiap harinya, adalah motto hidup Kinanti.
Tak ingin bermalas-malasan, pun kembali telat masuk sekolah sepertinya hari ini berhasil ia lakukan.
Jam dinding menunjukkan pukul 6.30 wib ketika ia menata berbagai macam lauk pauk matang di meja, yang siap untuk dijual.
Bahkan saat ini Kinanti sudah siap dengan seragam yang terpasang dengan rapi di tubuhnya.
Saat Kinanti menyiapkan celemek dan beberapa kain lap perempuan yang telah melahirkan ayahnya itu turun dari lantai dua, terlihat sudah rapi, "Semua sudah siap?"
Kinanti mendongak melihat seseorang yang bertanya, "Sudah siap semua Nek, ini tinggal kain lap yang belum di keluarin. Oh iya, piring masih di rak, soalnya tadi belum aku lap."
Nenek Kinanti memakai celemek yang telah disiapkan, "Piringnya bawa ke depan saja, nanti biar saya yang lap."
"Nggak apa-apa, Nek?"
"Kamu kalau sudah siap berangkat saja, kemaren ada laporan kamu telat masuk sekolah. Kamu kira saya tidak malu?"
Belum sempat Kinanti menjawab, Nana turun dari lantai dua, telah rapi dengan tas di punggung.
"Kalau sudah pada rapi, langsung pada berangkat. Uangnya ada di meja."
Setelah mengatakan hal tersebut, wanita paruh baya tersebut meninggalkan mereka begitu saja.
Kinanti sempat tersenyum memandang Neneknya, ada sedikit rasa syukur yang ia rasakan.
Walaupun sikap neneknya yang seperti itu tapi tetap saja untuk saat ini hanya beliau yang dia punya, uang saku tak pernah absen ia dapat, begitu pun dengan uang SPP.
"Kak, Nana udah siap. Barengan yuk berangkatnya," ajak Nana bersemangat.
"Sebentar ya, Kakak pakai sepatu dulu, emang sekarang jam berapa?"
Nana lantas mendongakkan kepala untuk melihat jam yang terletak lebih tinggi, "Em, jarum pendeknya di angka enam, jarum panjangnya di angka sembilan."
"Itu namanya jam enam lewat empat puluh lima menit, atau bisa di bilang jam tujuh kurang lima belas menit. Yuk, Kakak udah siap."
"Nanti aku ajarin cara baca jam ya, Kak?"
Kinanti meraih tangan Nana, "Iya, asalkan jangan tidur waktu belajar."
Keduanya lalu tertawa bersama dan menuju ke sekolah. Sebelum bener-benar meninggalkan rumah mereka menyempatkan untuk berpamitan dengan Neneknya yang saat itu tengah sibuk menyiapkan pesanan makan pelanggan.
__ADS_1
Arah Kinanti dan Nana searah, walaupun harus berpisah di pertigaan gang rumah mereka, Kinanti menuju ke arah kanan, sedangkan Nana sebaliknya yaitu ke kiri.
"Nanti langsung pulang ke rumah ya, awas kalau main dan pulang telat," ujar Kinanti mengingatkan, alasannya hanya satu agar Nana tak lagi di marahi oleh Nenek.
"Siap, Kak. Aku malah nggak berani main, pasti di marahin Nenek."
Kinanti merapikan riap-riap rambut Nana yang tertiup angin, "Hati-hati ya."
"Sampai bertemu di rumah lagi!"
Nana melambaikan tangan, dan berlalu meninggalkan Kinanti.
Kinanti cukup bersyukur karena jarak antara sekolah dan rumah mereka dekat, cukup berjalan kaki sekitar kurang lebih sepuluh menit kini ia telah berada di depan gerbang tempatnya mengenyam pendidikan.
Terlihat beberapa anak yang juga baru datang sama seperti dirinya, namun yang membuat Kinanti sedikit terkejut Syahril salah satu teman di kelasnya tiba-tiba melewatinya.
Bagaimana dirinya tidak terkejut lantaran Syahril murid yang beberapa kali selalu telat datang ke sekolah, hari ini tepat waktu.
"Ngapain lo bengong di situ?" Tiba-tiba pemuda yang sedari tadi Kinanti perhatikan punggungnya berbalik.
"Eh, anu enggak," ucap Kinanti gelagapan Begitu tersadar Kinanti merasa malu sendiri.
"Lo sama kaya anak lainnya yang terheran-heran gue masuk sekolah nggak telat hari ini ya?" Syahril tampaknya menuntut penjelasan teman sebangkunya itu.
"Nggak apa-apa kali, lihat aja semua orang lihatin gue kaya lihat artis aja," gurau Syahril.
Lalu Kinanti langsung melihat orang di sekelilingnya, pantas saja semua orang sedang menatap ke arahnya, oh bukan lebih tepatnya ke arah Syahril.
Tapi entah kenapa setelah menyadari hal tersebut Kinanti kini yang merasa gugup, posisi dirinya yang berjalan beriringan dengan Syahril tentu membuat semua orang pun menatap padanya.
Sebelum Kinanti memilih untuk berjalan lebih cepat agar mendahului temannya itu seseorang menarik tasnya dari belakang.
"Ya ampun panas banget pagi ini, kamu kenapa berangkat bareng Syahril sih, Ki?" Katanya sambil mengibas-ngibaskan tangan bak kipas.
Faisal, lagi-lagi orang ini, batin Kinanti dalam hati.
"Lo lagi, ngapain jam segini udah di sekolah?" Kini pemuda itu beralih pada Syahril.
"Sewot aja lo." Tampaknya Syahril tak ingin menghabiskan energinya pagi ini, ia lantas berbelok menuju kantin.
"Eh bukan di situ kelasnya woi!" Faisal tampaknya masih ingin mengganggu Syahril.
__ADS_1
Kali ini Syahril tak menjawab ia hanya mengacungkan jari tengahnya yang disambut tawa oleh Faisal.
Kinanti tak hanya diam saja ia mulai kesal dengan Faisal yang selalu mengganggunya.
"Kamu ngapain narik tas aku sih, lagian kalau Syahril masuk sekolah pagi bukannya bagus? itu tandanya dia mau berubah jadi lebih baik."
Tak ada jawaban, Kinanti coba melihat reaksi pemuda di sampingnya. Namun ia lebih tak habis pikir lagi lantaran pemuda dengan lesung pipi itu malah tersenyum.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Akhirnya kamu duluan yang ngajak aku ngobrol Ki, biasanya aku harus nanya duluan, baru kamu mau ngomong," jawabnya cengengesan.
Kinanti menghela napas, lantas ia hanya menjawab, "Aneh."
Kini mereka sampai di kelas, berbeda dengan Kinanti, Faisal disambut oleh teman-teman sekelasnya.
Kinanti mendengar berbagai lontaran pertanyaan temannya untuk Faisal.
"Wihhh cakep nih, habis potong rambut di mana lo, Sal?"
Faisal habis potong rambut? Kinanti kembali menoleh sekali lagi, pasalnya ia tadi tak terlalu memperhatikan pemuda itu.
Dibandingkan dengan Raka, Faisal memang terlihat manis.
Jika Raka tampak tampan yang cowok banget tegas dengan rahang lancip pria itu, sedangkan Faisal pria tampan manis sedikit gelap namun manis dengan lesung pipi di kedua sisi wajah Raka.
Tapi tetap Kinanti memilih Raka, ya bagaimana tidak Raka bersikap lebih dewasa dari pada Faisal yang selalu mengganggunya.
"Tumben nggak bareng Raka?"
"Cie udah tancep gas nih deketin cewek."
Kinanti tak begitu menggubris pertanyaan teman sekelasnya yang dilontarkan pada Faisal.
Masih ada waktu sekitar sepuluh menit ia memutuskan untuk merilekskan dirinya dengan menyandarkan punggungnya di kursi.
Meskipun bertemu dengan orang di sekolah membuat Kinanti merasa gugup namun terkadang ia bersyukur karena dengan sekolah dirinya dapat beristirahat dari pekerjaan rumah yang tiada habisnya itu.
Rasanya Kinanti baru menutup mata beberapa saat ketika suara yang sangat familiar di telinganya muncul.
"Pagi guys!" Itu Raka, ia kenal betul dengan suara itu.
__ADS_1
Kinanti bersemangat, ia membuka lebar-lebar matanya, namun tak berlangsung lama saat seorang siswi cantik muncul dari balik tubuh Raka.
[]