Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 18 : Satu Pesan Bahagia


__ADS_3

Dua hari telah berlalu namun Kinanti masih merasa sesak setiap kali mengingat apa yang ia ketahui di rumah sakit.


Neneknya saat ini masih harus dirawat, entah kapan bisa pulang kembali Kinanti pun masih belum siap apa yang akan neneknya itu lakukan saat melihat dirinya dan Nana masih di rumah ini.


Meskipun tak berjualan, dan rukonya tutup Kinanti memilih untuk tidak masuk sekolah.


Bukan apa-apa Kinanti merasa belum siap bertemu dengan siapapun. Kinanti bahkan belum mengatakan apa yang telah ia ketahui pada Nana.


Ia tak mampu mengungkapkan kebenaran tersebut, sungguh perasaannya tak tega dengan Nana yang masih sekecil itu harus mengetahui kebenaran keluarga mereka.


Saat Kinanti semakin larut dalam lamunannya ia mendengar ponsel di meja makan berdering.


Sarah, gumamnya membaca nama yang tertera.


"Kinanti cepetan turun, aku di depan rumah kamu, eh di depan toko ya," ucap Sarah terdengar tak yakin, tempat tinggal Kinanti lebih tepat disebut rumah atau toko.


"Ha? Kok bisa?" Kinanti tentunya terkejut, kenapa pula Sarah menemuinya dengan keadaannya saat ini.


"Udah buruan turun!"


Sarah langsung mematikan ponsel begitu saja, setelah mengatakan hal tersebut.


Kinanti buru-buru mencuci mukanya yang sembab. Ia tak ingin temannya melihat keadaan Kinanti yang semrawut seperti saat ini.


Setelah Kinanti merasa lebih baik, akhirnya ia turun dan siap menemui teman-temannya.


"Kinanti!" pekik Farah setelah Kinanti membuka pintu rumah, dan juga ruko tempatnya tinggal.

__ADS_1


"Kamu baik-baik aja kan?" Sarah sama hebohnya, ia menangkup muka Kinanti dengan kedua tangannya.


Kinanti hanya tersenyum coba untuk menenangkan, "Aku nggak apa-apa kok, Alhamdulillah se-"


Belum sempat melanjutkan kalimatnya Kinanti menyadari ada orang lain selain dua sahabat perempuannya, "Lho, Raka? Kamu juga kesini?"


Raka tersenyum tipis, "Kamu udah alfa dua kali, gimana kita nggak khawatir," jawabnya berterus terang.


Kinanti tak dapat menahan rasa senang dalam hatinya, benarkah Raka ternyata khawatir padanya? Namun Kinanti kemudian buru-buru menepis hak tersebut.


Farah mengalir lengan Kinanti, "Iya kamu kok nggak ngabarin Ki? Kita kan takut kamu kenapa-napa."


Sarah celingukan agar dapat melihat kondisi dalam rumah Kinanti, "Kamu cuma sendiri di rumah?"


Kinanti menggeser tubuhnya agar teman-temannya itu dapat melihat dengan jelas dalam rumahnya, "Iya, Nana ada tugas kelompok sama pembimbingnya di sekolah. Nenek sama tante aku masih di rumah sakit. Mau masuk dulu?"


"Kinanti, keadaan nenek kamu gimana?" Kali ini Raka yang bertanya.


"Sebenarnya udah lebih baik, tapi belum tahu bisa pulang kapan." Kinanti sedikit menerawang mengingat kondisi neneknya saat ini.


"Oh iya Ki, salam dari Faisal. Dia tadinya mau kesini, cuma nggak tahu tiba-tiba nggak bisa," tutur Farah saat teringat sesuatu.


Tadinya mereka sepakat untuk datang berempat, Sarah, Farah, Raka dan Faisal, namun entah kenapa Faisal mengatakan dirinya tak bisa ikut karena satu dan lain hal.


Kinanti hanya mengangguk singkat, ia paham mengapa Faisal bersikap demikian.


Pastinya pemuda itu merasa tidak enak dengan Kinanti setelah kejadian tempo hari lalu.

__ADS_1


Kinanti jadi kepikiran, ia merasa sikapnya terlalu dingin pada Faisal. Mungkin ia harus meminta maaf kalau nanti bertemu dengan pemuda itu, apalagi hari itu Faisal membantunya saat keadaannya kacau.


"Ki, dateng ya ke ulang tahun aku. Meskipun aku tahu kondisi kamu saat ini mungkin bikin kamu enggan untuk datang, tapi aku sangat berharap kalau kamu hadir," ujar Sarah setelah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Meskipun Sarah tak berniat memaksa, namun Kinanti sangat sadar bahwa temannya itu berharap sekali agar Kinanti menghadiri acaranya.


"Iya Ki, dateng ya. Aku pengen kamu sehari aja lupain masalah kamu."


Farah tak tinggal diam, ia pun berusaha membujuk Kinanti.


"Iya, aku bakal dateng kok," jawab Kinanti akhirnya, ia tahu betul kesedihannya tak seharusnya membuat orang lain kesulitan seperti ini.


Mereka tentunya bersemangat, ternyata tak sesulit itu membujuk Kinanti. Begitupun dengan Raka turut tersenyum melihat Kinanti dan teman-temannya.


Bagaimanapun Raka tak bisa pungkiri ia juga ikut khawatir dengan keadaan Kinanti dua hari ini. Namun ia tak mungkin gegabah untuk memaksa Kinanti menceritakan apa yang telah terjadi.


Saat itu juga ponsel Raka berbunyi, notifikasi satu pesan masuk.


Raka, Bunda dan Ayah akan pulang ke Indonesia Minggu ini.


Senyumannya kian mengembang, ini pesan yang lima tahun belakangan ini Raka tunggu.


Kemudian ia menatap Kinanti, semoga kali ini Raka pun dapat mengajak Kinanti merasakan kebahagiaan seperti dirinya.


Semoga, ucap Raka dalam lubuk hatinya yang dalam.


[]

__ADS_1


Ps. Ada yang penasaran ga, sebenarnya siapakah Raka ini....... 😍


__ADS_2