
Entah sejak kapan Faisal merasa sangat penasaran dengan kehidupan seseorang seperti saat ini, dengan menurunkan egonya segenap jiwa dan raga cowok dengan tinggi 176 cm itu kini berada di depan rumah tetangganya yang menurutnya super duper menyebalkan.
Ya, siapa lagi kalau bukan Sarah. Semua ini dia lakukan demi mendapatkan informasi mengenai Kinanti, orang yang sudah diam-diam diperhatikannya semenjak masuk Nusa Bangsa.
Entah kenapa rasanya Faisal ingin sekali masuk kedalam lembar kehidupan Kinanti, rasanya ada banyak kepahitan yang gadis itu simpan sendirian.
"Ngapain lo ngelamun di situ?" Tiba-tiba seseorang keluar dari rumah tersebut.
Seketika lamunan Faisal buyar, "Eh Bang, mau kemana? rapi bener."
"Mau ketemu ayang dong, emang lo, jomblo dari lahir," jawab Abang Sarah jumawa.
"Enak aja, asal lo tahu aja banyak yang mau sama gue," ujar Tama tak kalah sombong.
Bima, kakak Sarah terkekeh mendengar pernyataan pemuda tanggung di depannya.
"Dih sok kecakepan banget!" Entah dari mana kini Sarah ikut nimbrung di antara kedua lelaki di halaman rumahnya.
Faisal menoleh ke sumber suara, "Nenek lampir PMS ya, sewot mulu lo."
"Gue sambit lo ya!" Sarah mulai mengangkat tangannya siap menyerang Faisal sebelum akhirnya Bima menahan keduanya.
"Udah-udah, berantem mulu kalian. Jadian aja, deh."
"Amit-amit!" Jawab keduanya serentak.
"Cie barengan jawabnya," tutur Bima jahil.
"Udah pergi sana!" Usir Sarah pada Abang satu-satunya itu.
Bima tertawa, "Oke deh, gue cabut dulu ya. Sal, titip adek gue ya. Mau lo jadiin pacar juga gue restuin. Bye!"
Bima langsung menancap gas motornya begitu melihat keduanya siap menyemprotnya dengan sumpah serapah.
"Mau ngapain? Numpang ngeprint pasti," tuduh Sarah sudah menduga bahwa kedatangan Faisal pasti ada maunya.
Faisal duduk di bangku teras rumah tanpa dipersilahkan pemiliknya, "Suuzon mulu kenapa sih lo."
"Coba jelaskan bagaimana caranya saya tidak suuzon kepada spesies seperti anda?" Sarah coba mendramatisasi apa yang diucapkannya.
"Yeeee mau ikut casting sinetron azab lo?"
"Ngeselin banget!" Sarah ikut mengisi bagian bangku yang masih kosong tepat di samping Faisal.
"Deketin gue sama Kinanti dong," ucapnya kemudian tanpa beban.
Faisal tampaknya tak ingin berbasa-basi lagi.
"Ha? coba bilang sekali lagi."
"Gue pengen deket sama Kinanti."
__ADS_1
"Lo suka sama Kinanti?"
"Harus banget gue jawab?"
"Bukan gitu, Kinanti itu sahabat gue. Hidupnya udah cukup menderita, kalau lo cuma mau main-main atau penasaran aja mending nggak usah."
Sarah benar-benar serius kali ini dengan ucapannya.
"Gue tahu."
Sarah mengernyitkan dahinya, "Tahu sebanyak apa lo tentang Kinanti?"
"Gini, gue tahu kalau hidupnya Kinanti nggak baik-baik aja. Tapi gue juga belum benar-benar tahu apa yang terjadi di hidupnya."
Sarah menyandarkan punggungnya, "Kasian gue sama dia, harus nanggung semua itu sendirian."
"Kalau boleh tahu sejak kapan kalian dekat?"
"Dia dikelas gimana?" Sarah kembali bertanya.
Faisal menghela napas, "Selama beberapa hari ini yang gue liat, diem banget anaknya. Palingan duduk di belakang baca buku, kalau enggak nelungkupin kepalanya di meja. Nggak pernah gabung sama yang lain."
"Yah, emang gitu dia. Dulu waktu sekelas sama gue juga gitu. Sebelum akhirnya gue sama Farah liat dia nangis di toilet."
"Ha? Ngga ngarang kan lo?"
"Si anying, emang gue kelihatan lagi mengarang bebas?"
"Siapa tahu kan, lo lagi ngerjain gue. Terus? lanjutkan!"
Faisal semakin penasaran, "Terus?"
"Waktu jam istirahat kita ke toilet, sepi waktu itu nggak ada orang. Ada suara orang nangis, horor banget tadinya, gue udah mau kabur si Farah malah ngotot pengen liat penampakan, kalau itu emang hantu."
Faisal menahan tawa membayangkan tingkah Sarah dan Farah.
"Kebetulan pintunya nggak dikunci. Begitu kita buka, ternyata Kinanti. Matanya udah bengkak, mukanya juga lebam di mana-mana. Sampai sesek dia, akhirnya kita bawa ke UKS."
Faisal menahan napas, entah kenapa saat ini dia ikut sesak membayangkan Kinanti pada saat itu.
"Setelah keadaannya tenang, kita paksa dia buat cerita. Awalnya memang kelihatan ragu, tapi mungkin karena dia udah nggak kuat nahan sendiri, akhirnya baru mau cerita."
"Cerita apa?"
"Tapi gue nggak bisa ceritain semuanya, Sal."
"Nggak apa-apa, yang menurut lo gue boleh tahu aja."
Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya, dia tinggal sama neneknya. Neneknya suka mukulin dia sama adiknya kalau kerjaannya nggak dilakuin dengan benar."
"Emang kerjaan apa?"
__ADS_1
"Kerjaan rumah, dia juga pernah cerita kalau neneknya jualan nasi gitu apa ya, lupa juga gue. Jadi kaya mereka dijadiin pembantu kasarnya, sama neneknya itu. Kalau nggak dilakuin ya langsung di marahin, nggak cuma di maki-maki tapi juga disiksa."
"Ha? Beneran?"
Sarah mengangguk-angguk, membenarkan.
"Adeknya lebih parah lagi di siksanya, Kinanti pernah cerita kalau Nana - nama adiknya itu diseret ke kamar mandi habis itu diinjak-injak badannya."
"Emang orang tua Kinanti kemana? Gue harus lapor polisi." Faisal bangkit dari duduknya.
"Eh apaan jangan! Kinanti nggak mau Neneknya di laporin, dia sendiri yang minta kita untuk diem aja."
"Nggak bisa gitu dong. Masak kita mau diem aja liat kekerasan ini terjadi."
"Mau gimanapun juga itu Nenek dia, Sal. Untuk saat ini yang dia punya cuman Neneknya. Ayahnya udah punya keluarga baru, entah di mana sekarang. Kalau Ibunya, Kinanti sendiri nggak tahu di mana. Udah hampir lima tahun lebih ibunya ngga ada kabar," jelas Sarah panjang lebar.
"Jadi Kinanti dan adeknya di telantarin? Tapi kenapa neneknya bersikap sejahat itu sama mereka?" Faisal sudah tidak tahan lagi, dadanya mulai menggebu-nggebu tak habis pikir dengan nenek Kinanti yang sejahat itu.
"Kalau itu gue juga nggak tahu Sal. Sekarang lo udah sedikit tahu kan tentang Kinanti, apa lo masih berniat buat deket sama dia?"
"Sekarang malah gue semakin ingin melindungi Kinanti. Gue nggak mau dia nanggung itu semua sendirian."
"Tapi bakal susah," ucap Sarah menerawang.
"Gue bakal lakuin apapun."
"Ga semudah itu," tutur Sarah lagi, menilik bagaimana sifat tertutup sahabatnya itu.
"Gue tahu, gue akan usaha. Tapi pelan, gue nggak mau kalau dia nanti malah nggak nyaman dengan kehadiran gue di sekitar dia. Tapi gue akan mastiin dia baik-baik aja selama ada gue di dekat dia."
"Yakin lo? Kinanti bisa aja terlihat baik-baik aja, tapi lo nggak tahu kan di dalamnya dia gimana, dan kayanya juga akan lebih susah."
Faisal menatap teman disampingnya, "Kenapa?"
"Kayanya Kinanti suka sama Raka."
Faisal kesal sekali dengan perkataan terakhir Sarah tadi sebelum akhirnya dia pulang karena di panggil Mamanya untuk beli minyak.
Dia sadar bahwa tatapan Kinanti untuk sahabatnya itu memang berbeda, tapi tetap saja seharusnya Sarah tidak mengatakannya sejelas itu.
Toh, Kinanti belum benar-benar bilang kalau dia memang menyukai Raka, bisa saja hanya kagum karena Raka memang tampan, banyak siswi Nusa Bangsa yang menyukainya.
Faisal semakin berguling-guling di atas tempat tidurnya memikirkan hal tersebut. Tapi Raka sudah punya pacar, jadi hal ini seharusnya tak perlu dipusingkan.
Faisal menghela napas, ia bangkit dari tempat tidurnya dan melihat pantulan dirinya di cermin.
"Gue juga kalau dilihat-lihat nggak kalah cakep."
Faisal mengelus-elus rahang tegasnya di sisi kiri dan kanan bergantian.
Namun kemudian dia teringat akan cerita Sarah mengenai Kinanti, matanya menerawang, dadanya rasanya kembali sesak membayangkan kehidupan gadis itu setiap harinya.
__ADS_1
"Gue bakal deketin Kinanti, gimanapun caranya."
[]