Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 27 : Kemarahan Kinanti


__ADS_3

Kinanti mengaduk-aduk kuah bakso nya tak berselera.


Padahal Sarah dan Farah mulai berkeringat karena sibuk menikmati bakso Pak Tarjo yang tak ada lawan enaknya di sekolah mereka.


Farah menyikut tangan Sarah di sampingnya memberi kode ada yang tak beres dengan Kinanti.


"Ki? kamu kenapa?"


Kinanti masih tak menjawab, ia memandangi asap yang mengepul dari mangkuknya.


"Ki?"


"Kinanti?!"


Baru Kinanti tersadar saat Sarah menyentuh tangannya.


"Ha? iya? kenapa?"


Kinanti mendongak menatap dua sahabatnya yang menatapnya khawatir.


"Kamu kenapa? lagi ada masalah di rumah ya," tanya Farah khawatir.


Kinanti menggeleng cepat, "Enggak kok."


Ia berusaha memperlihatkan giginya saat senyum agar terlihat meyakinkan.


"Ada apa sebenarnya, jangan bilang nggak apa-apa. Itu jidat kamu di perban, pasti Nenek berulah lagi kan? " ucap Sarah tak mau Kinanti berkelit.


Kinanti berusaha menutupi perban di kepalanya dengan rambut, kenapa bisa Sarah melihatnya.


"Kamu tutupin percuma, siapapun bisa lihat Ki," ucap Farah membuat Kinanti menghentikan gerakannya. "Udah cerita aja Ki."


Kinanti menimang kembali apakah ia harus menceritakan apa yang terjadi padanya atau tidak.


Kinanti malu, karena ini bukan masalah di rumah. Namun untuk pertama kalinya Kinanti galau karena laki-laki.


Namun Kinanti mendapatkan ide, "Oh iya aku mau nanya dong."


Sarah mengusap mulutnya dengan tissue, "Tanya aja."


Farah pun mengangguk setuju.


Kinanti menghela napas, ia meletakkan sendok nya.


"Ini misal ya, misal. Temen aku itu dia cerita, ada cowok yang nyatain perasaannya. Cowok ini baik, dan ya cowok ini selalu ada di waktu-waktu yang teman aku mungkin butuh seseorang lah."


Farah turut meletakkan sendok nya, "Terus?"


"Tapi di lain hari, ternyata temen aku tahu kalau cowok ini bersikap baik sama perempuan lain juga. Jadi itu gimana, aku harus gimana?" Kinanti menggeleng-geleng saat menyadari sesuatu, "Maksudnya temen aku ini bingung harus gimana."


Sarah dan Farah tertawa bersamaan membuat Kinanti merasa malu.


"Yakin ini cerita temen?" goda Sarah yang seperti dapat membaca gerak-gerik Kinanti.


Farah kembali tertawa, "Emang siapa temen kamu selain kita Ki?"


Kinanti mengibaskan tangannya, "Adalah pokoknya. Temen jauh."


Ketiganya mendongak serentak menyadari kehadiran seseorang yang meletakkan sepiring nasi di meja.


Sarah mengangkat jari telunjuknya pada

__ADS_1


cowok tinggi yang siap duduk, "Dia Ki?"


Kinanti menggeleng, padahal barusan ia hampir berdegup, namun urung saat ternyata Raka yang datang.


Bentar, jadi perasaannya berubah? Bukannya yang membuat Kinanti merasa bersemangat dan degup jantungnya kencang Raka, mengapa ia mengharapkan orang lain?


Raka menatap ketiga temannya itu heran, "Kenapa? lagi pada ngomongin gue?"


Kinanti menarik kursinya sedikit menjauh, bisa gawat kalau Ela lihat.


"Kenapa Nan?" Raka kini beralih padanya.


Kinanti tersenyum semanis mungkin agar Raka tak melihat apapun di wajahnya, "Enggak kok, kita nggak ngomongin kamu."


Sarah menatap Kinanti, sepertinya benar memang bukan Raka yang sahabatnya itu maksud.


Lalu apa ...... Faisal? pikirnya. Iya! sepertinya Faisal. Pasti sesuatu telah Faisal lakukan. Mengingat cowok itu bolak-balik ke rumahnya untuk sekedar menanyakan Kinanti.


Sarah yakin cerita Kinanti mengenai temannya itu hanya karangan semata, karena yang Kinanti ceritakan adalah dirinya sendiri.


"Temen lo mana?" Sarah melontarkan pertanyaan.


Raka melihat kana kiri sebelum akhirnya menunjuk seseorang yang berjalan menuju ke arah mereka.


"Tuh!"


Faisal berlari kecil membawa sebotol air mineral, masih dengan seragam olahraga yang menempel di tubuhnya.


Kinanti hampir tersedak saat minum, Faisal langsung melihatnya.


Kinanti buru-buru mengalihkan pandangan dan berdiri, untuk saat ini ia tak bisa bertemu dengan Faisal. Tidak dalam keadaan marah yang setengah mati Kinanti tahan.


Belum sempat Kinanti berlari tangannya ditahan oleh Faisal.


"Ki, mau kemana? Aku dari tadi nyariin kamu lho."


Kinanti mengibaskan tangannya dengan kuat, ia sempat melihat wajah terkejut Faisal.


Namun biarkan saja, lagi pula kenapa Faisal harus mencari dirinya kenapa nggak sama Nadia aja, dengus Kinanti dalam hati.


"Mau ke kelas," jawab Kinanti ketus.


Faisal lagi-lagi menahan tangan Kinanti, "Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa."


Faisal mengerutkan alisnya, "Apa aku bikin salah?"


Kinanti tak menjawab lagi, ia lantas berlari dengan cepat untuk menghindari Faisal.


Faisal menatap punggung Kinanti heran, tadi pagi semua masih tampak baik-baik saja.


Kinanti mengenakan jepit rambut yang dirinya kasih, namun siang ini entah kemana perginya jepit itu..


Faisal menjatuhkan dirinya pada kursi yang tadi Kinanti duduki.


Faisal bahkan mendapatkan tatapan horor dari ketiga temannya.


"Lo apain sih Kinanti?" Sarah menatapnya penuh emosi.


Faisal meletakkan botol minumnya di atas meja, "Gue juga mau nanya itu. Kinanti kenapa?"

__ADS_1


"Dia dari tadi galau gitu, tuh makanannya aja nggak dimakan," tutur Farah menunjuk mangkuk bakso yang masih penuh di meja.


"Kinanti buru-buru pergi waktu ngelihat lo datang. Harusnya lo yang jelasin, lo apain dia?!"


Raka kali ini menatapnya tak kalah nyalang, ia tahu sahabatnya itu menaruh perasaan pada Kinanti.


"Gue udah bilang ya! jangan deketin Kinanti kalau cuman mau nambah beban dia. Seharusnya lo udah cukup paham dengan itu," tukas Sarah geram bukan main.


"Gue memang deketin Kinanti. Iya gue akuin, tapi semua masih baik-baik aja sampai tadi pagi. Gue nggak tahu kenapa Kinanti jadi gini," jelas Faisal yang sama bingungnya.


Sarah menatap Faisal lelah, "Makanya lo intropeksi diri, apa yang udah lo lakuin."


"Lo nggak cuman deketin Kinanti doang kan?" todong Farah membuat Faisal semakin bingung.


"Maksudnya?"


Farah menyapu mulutnya dengan lipbalm dari sakunya, "Lo kan buaya. Siapa tahu lo cuman main-main doang. Yang suka sama lo banyak Sal, gue khawatir aja lo cuman main-main. Dan Kinanti kena imbasnya."


Faisal mengeram, "Maksud lo apa sih!"


Ketiga orang di meja tersebut menatapnya kesal bercampur lelah.


"Awas aja kalau Kinanti kenapa-napa!"


Sarah membuat gerakan menggorok lehernya sendiri, ia coba mengancam Faisal. "Udah yuk Far, males gue dekat-dekat sama buaya."


Setelah Sarah dan Farah beranjak meninggalkan kantin Faisal semakin merasa frustasi.


Ia ingat bagaimana tatapan Kinanti padanya, memang seperti ada amarah yang tak Faisal ketahui.


Faisal mengacak rambutnya yang basah oleh keringat.


"Gue bikin salah apa sih!"


"Lo jangan deketin Kinanti! Gue nggak mau Kinanti sakit hati sama orang kayak lo."


Faisal menoleh ia mendapati Raka di sampingnya.


"Nggak.Gue udah bilang sama lo, gue suka sama Kinanti. Gue akan ngelindungin dia gimanapun caranya."


Raka tertawa, "Nggak usah sok jagoan. Cewek lo di mana-mana yang ada lo malah akan bikin Kinanti terluka."


"Gue nggak pernah deketin cewek mana pun, cuman Kinanti yang gue deketin, Ka," ucapnya lelah, "Kapan lo pernah lihat gue mainin cewek anjing!"


Raka mengedikkan bahu, "Semua orang juga tahu, cewek lo banyak."


"Mana?! Siapa?! Mereka yang suka sama gue. Tapi gue nggak pernah ya dengan sengaja ngasih harapan-"


"What ever lah, mending lo jauhin Kinanti," potong Raka tak ingin dibantah.


"Lo juga suka kan sama Kinanti?! lo sadar dong udah punya cewek nggak usah brengsek dengan deketin cewek sepolos Kinanti," tutur Faisal tak mau kalah.


Tangan Raka mengepal, "Udah gue bilang bukan hal semacam itu yang buat gue harus jagaan dia. Lebih dari itu, dan gue yang paling punya hak atas itu. Bukan lo atau siapapun. Sekali lagi gue bilang jangan deketin Kinanti!"


Lalu Raka berlalu begitu saja, membuat Faisal semakin frustasi.


pantas saja tadi di lapangan perasaannya tak tenang, inikah jawabannya?


Kinanti, kamu kenapa Ki aku bikin salah apa?


[]

__ADS_1


__ADS_2