
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, bel tanda istirahat membuat semua siswa berhamburan keluar kelas.
Begitu pula dengan Kinanti yang sedari tadi sudah cukup tertekan dengan perdebatan di tengah kelompoknya.
Beberapa saat lalu seseorang mengajak Kinanti untuk bergabung dengan kelompok mereka, kisah Malin Kundang jadi pilihan final setelah musyawarah lama.
Jangan tanya Kinanti mendapat peran apa, selama diskusi berlangsung ia hanya diam mendengarkan dengan seksama. Sesekali terlihat ingin melontarkan apa yang dirinya pikirkan, namun urung sesaat kemudian.
Sempat seseorang memberi Kinanti kesempatan untuk berbicara, apa yang dirinya lakukan? hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Entah dapat dikatakan peran atau tidak, Kinanti menjadi seseorang yang akan menjadi batu setelah tokoh Malin Kundang dikutuk ibunya.
Namun itulah yang sedari tadi Kinanti inginkan, aneh memang, namun itu lebih baik sehingga ia nantinya tak menghabiskan banyak waktu untuk latihan.
Tak seperti beberapa anak yang akan dengan lesu karena bukan peran utama, Kinanti dengan langkah riang menuju kantin.
Nasi goreng buatan ibu kantin telah menguar ke seluruh penjuru sekolah, terlebih perutnya yang masih kosong sedari pagi membuatnya tak terlalu memusingkan berjalan sendirian di tengah kerumunan siswa.
"Kinanti sini!" Panggil suara yang sudah Kinanti hafal itu.
Kinanti lantas melambai serta memberikan isyarat akan memesan makannya terlebih dahulu.
Masih menimang-nimang apa yang akan Kinanti santap seseorang menyentuh pundaknya, refleks Kinanti mundur satu langkah.
"Sorry, kamu kaget ya?" Raka sebagai pelaku merasa sedikit tidak enak.
Kinanti lantas mengelus dadanya menandakan ia benar-benar terkejut, "Aku kira siapa."
Raka lantas tersenyum memaklumi, "Mau makan apa?"
Kinanti teringat bahwa dirinya belum memutuskan apa yang akan ia makan untuk mengisi perutnya, entahlah membuat keputusan makan saja memakan waktu selama ini.
"Aku pesankan nasi goreng ya?" Raka memberikan saran.
Jangan tanya, Kinanti saat ini mulai menahan napas karena merasa Raka sangat perhatian pada dirinya. Entahlah ia merasa seperti ini setiap berinteraksi dengan Raka.
"Nan? Oke, nasi goreng ya?"
"Iya boleh, terima kasih."
Kinanti tak dapat menahan untuk tersenyum selebar mungkin apalagi harumnya nasi goreng yang membuat dirinya tadi ingin segera menuju kantin.
Namun Raka tak ambil pusing dengan sikap seseorang dihadapannya itu, "Nan, kamu duduk aja. Nanti aku bawa sekalian sama pesananku."
"Eh, jangan. Aku bisa bawa sendiri kok," ujar Kinanti merasa tak enak.
Agar percakapan tidak berlagsung lebih lama di tengah kerumunan yang semakin ramai Raka lantas memutar bahu Kinanti, "Udah kamu duduk aja ya, tuh sama Sarah."
Wajah Kinanti rasanya memanas menahan senyum, akhirnya ia menuruti perkataan Raka tanpa mengajukan protes lagi.
"Kenapa senyum-senyum Ki?" Farah langsung melontarkan pertanyaan begitu Kinanti tiba di mejanya.
"Tumben nggak biasanya kamu gitu, ih mukanya merah lagi," lanjutnya kemudian.
Kinanti memegang pipinya, "Ih, enggak kok biasa aja."
"Udah biarin aja, nggak pernah kita lihat Kinanti kaya gini."
__ADS_1
Sarah menengahi kemudian, turut tersenyum melihat tingkah malu-malu sahabatnya itu.
Begitupun dengan Farah yang turut tertawa melihat tingkah laku Kinanti. Meski begitu ia merasa senang mungkin saja akan ada sedikit kebahagiaan bagi Kinanti kedepannya.
"Oh iya, Abang aku ngajar dikelas kamu ya, Ki?" Tanya Sarah pada Kinanti.
"Pak Bima? Pak Bima, Abang kamu?"
Kinanti membelalakkan matanya takjub, sedari tadi memang dirinya masih menebak-nebak Bima sepertinya mirip seseorang yang dirinya kenal.
"Iya, Pak Bima," Jawab Sarah singkat terkesan agak malas.
"Pantesan, mirip banget sama kamu."
Kinanti mengamati wajah perempuan dengan hidung bangir itu.
Farah yang tengah mengaduk teh manis turut menimpali, "Bang Bima memang versi cowoknya dari Sarah, Ki. Coba kamu perhatiin wajah Sarah."
Kinanti mengangguk tanda setuju, "Iya, mirip banget."
"Permisi Mbak, ini makanannya silahkan dinikmati." Raka memecah perhatian dengan meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Kinanti.
"Cocok banget Ka, kaya pelayan lo," ceketuk Sarah terbahak dengan gaya Raka yang seakan-akan pelayan restoran.
"Enak aja. Gue gabung di sini ya? meja lain udah penuh," katanya lalu menarik kursi tepat di samping Kinanti.
"Gabung sama cewek lo aja, nanti dia salah paham lagi, males banget gue drama sama ciwi-ciwi geng lo," keluh Farah menunjuk salah satu meja di sudut kanan yang telah terisi penuh.
"Udah penuh, lagian dia nggak pernah cemburuan," imbuh Raka mulai menyantap makanannya.
"Raka, terima kasih ya," cicit Kinanti yang kini membuka suara.
"Eh, jangan dong," protes Kinanti ia merasa tak enak hati bila seseorang sebaik ini padanya.
"Udah terima aja Kinanti, rezeki nggak boleh di tolak," ujar Farah.
"Iya Kinanti, sesekali bantuan dari orang harus kamu terima. Begitulah cara kamu menghargai," kata Sarah yang kali ini turut berkomentar.
Kinanti hanya dapat tersenyum merasa semakin serba salah, namun benar juga apa yang dikatakan Farah dan Sarah.
"Faisal mana, tumbenan kalian nggak bareng?" Sarah mengedarkan pandangannya ke seluruh Kantin.
"Lah, lo yang tumbenan nanyain Faisal. Kalau barengan juga pasti berantem mulu."
Bukan Raka, melainkan Farah yang menjawab pertanyaan Sarah.
"Basket," jawab Raka singkat.
Baru saja di bahas sosok Faisal muncul dengan keringat yang mengalir di pelipisnya bahkan bajunya basah oleh keringat. Namun yang membuat mereka heran Faisal datang dengan berlari, bahkan napasnya tak beraturan.
"Kinanti, kamu harus pulang sekarang," ujarnya mengatur napas.
Kinanti yang namanya disebut lantas terkejut, "Kenapa aku harus pulang?"
Sarah yang mendengar hal tersebut turut panik, "Ada apa woi? tenang dulu ngomong pelan-pelan."
Saat deru napasnya mulai surut, Faisal mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi, "Nenek kamu, masuk rumah sakit, Ki. Kamu harus pulang, tadi Bu Indira ditelpon Tante kamu."
__ADS_1
Kinanti bahkan tersedak saat mendengarkan berita tersebut, ia memastikan sekali lagi mengenai apa yang baru saja dirinya dengar, "Kamu serius?"
Faisal hanya mengangguk, ia mulai menyadari perubahan raut wajah Kinanti, matanya kini mulai berkaca-kaca.
Tanpa pikir panjang Kinanti langsung beranjak ingin bergegas pulang, bagaimanapun sifat neneknya tetap saja Kinanti khawatir.
Namun baru beberapa langkah dirinya berjalan seseorang manarik lengannya, "Kinanti aku anterin kamu."
"Faisal, terima kasih. Tapi aku bisa pulang sendiri," ujar Kinanti menepis tangan Faisal perlahan.
Tak sampai disitu seseorang turut mendekati keduanya, "Nggak. Kinanti biar gue yang anterin pulang."
Kinanti sedikit kesal, ini bukan waktunya untuk mengulur waktu ia harus segera ke rumah sakit.
"Lo ngapain sih, kenapa Kinanti harus lo yang nganterin?" Faisal merasa tak setuju dengan kalimat yang dilontarkan Raka.
"Kinanti, aku bakal anterin kamu," kata Raka tak menghiraukan protes yang Faisal lontarkan.
"Nggak! Kinanti sama Gue!" Faisal kini kembali menarik tangan Kinanti tanpa menunggu persetujuan pemiliknya lagi.
Ditengah perdebatan yang terjadi ternyata Sarah turut geram menyaksikan hal tersebut, ia sangat memahami posisi Kinanti saat ini.
"Kalian apa-apaan sih! childish banget. Kinanti nggak ada waktu buat drama kalian ini."
Sarah kemudian beralih pada Kinanti yang terlihat semakin gusar, "Ki, sekarang kamu pergi aja. Nenek kamu di rumah sakit."
Kinanti lantas mengangguk dan berlari meninggalkan teman-temannya begitu saja.
Menatap punggung Kinanti yang semakin menjauh, Sarah lantas mengeluarkan emosi yang dari tadi dirinya tahan.
"Kalian ngapain sih? Mau main ftv? Norak tahu nggak. Lo juga Raka ngapain ngelakuin hal yang bikin Kinanti nanti punya masalah."
"Kenapa gue bakal bikin Kinanti punya masalah? niat gue cuma mau bantu Kinanti," protes Raka yang dituduh akan menyusahkan Kinanti.
"Lihat tuh, cewek lo. Kayak mau makan orang. Awas aja sampai Kinanti ada masalah karena drama kalian!"
Ancam Sarah sebelum meninggalkan dua pria yang masih tak beranjak.
Mereka baru sadar sedari tadi semua tatapan mata tertuju pada keributan yang sempat terjadi tadi.
Bahkan tak hanya itu, Ela pun turut menatap Raka tak habis pikir dengan apa yang beberapa waktu lalu gadis saksikan.
"Udah punya cewek, nggak usah deketin cewek lain makanya!"
Mata Faisal sudah merah padam, menandakan pemuda itu benar-benar tak suka dengan apa yang sahabatnya kali ini lakukan.
"Bacot. Mau gimanapun, gue yang paling berhak atas Kinanti, daripada siapapun," katanya dengan Tajam.
Faisal semakin tak dapat menahan diri lantas ia menarik kerah baju Raka, "Anjing. Maksud lo apa? Lo siapanya dia bangsat!"
Hampir saja Raka mengarahkan pukulan pada sahabatnya itu, untung saja Ela bergegas datang menarik pacarnya agar tak terjadi perkelahian.
Raka maupun Faisal tampaknya sama-sama ingin menunjukkan siapa yang paling berhak atas Kinanti dengan kekuatan mereka, saat Faisal kembali mengepalkan tangannya.
Ela nyatanya dengan jelas melihat hal tersebut, "Udah cukup Faisal!"
Hal ini membuat Ela tak dapat menepiskan perasaan tak sukanya, sebenarnya siapa Kinanti? mengapa dua pria yang saling bersahabat dihadapannya dapat meributkan seorang Kinanti?
__ADS_1
[]