Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 28 : Foto Milik Bunda


__ADS_3

Tatapan Raka tak dapat teralih sejak tadi, bahkan pelajaran Biologi tak masuk dalam kepalanya.


"Awas aja ya kalau Kinanti kenapa-napa!"


Raka menatap tajam pada teman sebangku nya yang juga menatap Kinanti.


Raka tahu Faisal memang sangat menyukai Kinanti, apalagi hampir setiap hari nama Kinanti tak pernah absen dari mulut sahabatnya itu.


Padahal Raka hari ini berniat membagikan kabar baik pada Kinanti, namun urung karena suasana hati Kinanti yang tak baik.


"Gue beneran nggak tahu, apa salah gue," ratap Faisal menghela napas gusar.


Bel berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba.


Raka membereskan semua barangnya, hari ini kedua orangtuanya akan pulang ke rumah.


"Kalau Kinanti beneran terluka gara-gara lo," Raka menghentikan gerakannya, "Gue nggak akan sudi jadi sahabat lo lagi."


Mata Faisal membola, sepertinya hal ini tak pernah ia sangka bahwa perkataan itu akan keluar dari mulut Raka.


"Sampai ketemu minggu depan anak-anak!"


Setelah Bu Wina - guru Biologi mengucap salam, semua murid membubarkan diri masing-masing.


Tadinya Raka ingin mendatangi Kinanti terlebih dahulu, namun urung saat Faisal sudah ngacir duluan menghampiri Kinanti yang terlihat ogah-ogahan untuk sekedar melihat Faisal.


"Ka, pulang sekarang?"


Ela menyentuh tangannya, sudah menjadi kebiasaan bahwa ia akan mengantar pacarnya pulang hampir setiap hari.


"Langsung pulang ya?"


Raka kini beralih pada Ela sepenuhnya, sebenarnya entah kenapa perasaannya tak seperti dulu lagi.


Apalagi Ela belakangan ini sering mencurigai nya dengan hal yang menurut Raka tak penting.


Namun karena dirinya tengah belajar untuk komitmen, Raka berusaha untuk mempertahankan hubungannya.


Ela memutar bola matanya, "Kamu nggak mau nganterin aku ke toko buku?"


"Oh iya, aku lupa," jujur Raka tersenyum berusaha membuat pacarnya itu luluh.


Namun yang ada Ela semakin terlihat kesal, pacarnya itu langsung menghentakkan kakinya keluar kelas.


"El, maaf banget. Hari ini orang tua aku pulang."


Ela berhenti, sepertinya kalimat Raka berhasil membuat Ela kali ini tak marah lagi.


"Kok kamu baru bilang. Kan aku bisa ketemu mereka juga," tutur Ela terlihat sedih karena hampir saja seenaknya bersikap pada Raka.


Ela tahu sedikit cerita mengenai orang tua Raka yang lima tahun berada di Jerman karena Bunda Raka yang tengah berobat.


Ela mengapit lengan Raka, "Aku boleh ke rumah kamu?"


Raka menunduk, "Nanti ya kapan-kapan. Kalau sekarang aku mau temu kangen dulu sama mereka. "

__ADS_1


Ela mengangkat ibu jarinya, "Oke deh."


"Kinanti!"


Keduanya terinterupsi oleh suara Faisal yang berlari kecil mengejar Kinanti.


Raka geleng-geleng kepala menyaksikannya.


"Nadia bisa makin sebel lihat Kinanti," kata Ela setelah beberapa saat diam, berjalan ke parkiran.


"Kenapa?" Raka kembali membuka telinganya untuk mendengar jawaban pacarnya.


"Nadia kan suka sama Faisal. Kamu ingat jepit rambut yang Faisal beli setelah kita nonton kemaren?"


"Emangnya Faisal beli jepit rambut?"


Ela hampir saja kembali emosi, "Faisal beli jepit rambut kemaren. Nadia kira itu buat dia, ternyata Faisal kasih Kinanti."


Raka terasa seperti dapat pencerahan, ia sekarang tahu masalah apa yang tengah terjadi antara Faisal dan Kinanti. Ia baru tahu ternyata Faisal secepat itu bergerak mendekati Kinanti.


Ela menarik kembali lengan Raka, "Yaudah lah biarin aja. Pulang yuk!"


Raka mengangguk ia lalu mengantar Ela, dan segera pulang. Masalah Kinanti akan ia pikir besok lagi.


Raka tersenyum riang sepanjang perjalanan, membayangkan rumahnya tak lagi kosong. Ada Ayah dan Bunda yang telah menunggunya.


Kalau saja Kinanti dan Nana dapat ia ajak juga pasti kebahagiaan nya akan lebih berlipat ganda.


Saat Raka tiba, pintu pagar terbuka, mata Raka berbinar menyaksikan Ayahnya tengah mencuci mobil di halaman depan.


Ayah Raka menyambutnya riang.


Setelah motor ia standar Raka berlari memeluk Ayahnya itu.


Sudah sangat lama Raka menahan rindunya, kesedihan yang Ayahnya itu alami beberapa tahun lalu tampaknya telah hilang sepenuhnya.


"Ayah apa kabar?"


Ayah Raka merentangkan tangannya, agar Raka dapat melihatnya dengan cermat.


"Seperti yang kamu lihat. Baik sekali, apalagi ketemu lagi sama kamu My Boy!"


Raka tergelak, dari dulu ia bersyukur karena hubungan dengan Ayahnya sangat dekat.


Beberapa temannya curhat kalau mereka sangat segan dengan Ayah mereka sendiri, hal inilah yang membuat Raka heran.


Padahal dirinya bisa sangat dekat dengan Ayahnya.


"Bunda mana?"


Raka melihat ke dalam rumah, sedari tadi ia tak melihat ada orang lain.


"Ada kok. Di kamar sepertinya," terang Burhan kembali dengan kegiatannya mencuci mobil.


"Apa keadaan Bunda sudah membaik?"

__ADS_1


Burhan tersenyum, "Sangat-sangat baik. Sana, kamu temui, pasti Bunda mu akan sangat senang."


Raka tak lagi mendengar apa yang Ayahnya itu katakan, ia sudah berlari masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Bunda nya.


"Bunda," panggilnya melongokkan kepala ke dalam kamar utama yang berada di lantai satu.


Perempuan yang terlihat masih sangat muda untuk usianya yang mulai menginjak angka empat menoleh.


"Raka!"


Perempuan tersebut sontak berdiri untuk menyambut Raka dalam dekapannya.


Raka hampir saja menangis karena rasa haru, sudah lama ia tak mendapatkan pelukan dari seorang Ibu, apalagi setelah Ibu kandungnya meninggal sewaktu dirinya berusia sepuluh tahun.


"Kamu kurusan sayang. Apa kamu jarang makan? pasti kamu nggak suka makan sendirian ya?"


Raka menggeleng cepat tak ingin perempuan yang telah ia anggap seperti Ibunya sendiri itu khawatir.


"Enggak Bun, memang Raka belakangan ini lagi rajin olahraga," ucapnya sebelum menutup mulutnya seperti akan berbisik, "Biar cewek-cewek pada klepek-klepek."


Dewi - nama perempuan yang dipanggil Bunda oleh Raka tertawa.


"Bisa aja kamu. Nggak boleh mainin anak perempuan ya," peringatnya sambil memukul pundak Raka pelan.


"Enggak kok Bun, tenang aja."


Dewi kemudian menatap Raka, "Kamu masih sama Ela kan? teman SMP dulu? "


Raka terlihat takjub, "Lho Bunda masih ingat sama Ela."


"Iya lah! Itu pacar pertamamu kan?"


Raka tak menjawab lagi, kini tatapannya beralih pada foto di atas tempat tidur. Sepertinya sebelum dirinya datang, Bunda nya itu sibuk dengan foto tersebut.


"Bun, itu .... "


Dewi mengikuti arah pandang Raka, perempuan itu diam beberapa saat. Apakah Raka akan senang jika ia membahas mengenai hal ini.


Namun ia melihat Raka, anak lelakinya sudah tumbuh dewasa. Tak ada salahnya untuk mulai mengetahui kebenaran ini, "Mereka, anak Bunda."


Tangan Raka terulur mengambil foto tersebut, "Dia tumbuh dengan baik Bun. Jadi anak cantik, baik, mirip sekali dengan Bunda."


Dewi mengerjap, mencoba menarik dalam-dalam napasnya. Apa yang baru saja Raka katakan?


Apa anak lelaki ini bertemu dengan anaknya? bagaimana bisa?


Bahkan Dewi sendiri tak pernah berani menampakkan diri setelah ia pergi meninggalkan Prabu.


"Raka, kamu ....... "


Raka masih menatap potret dia anak kecil di tangannya. Ia ingat saat Bunda memperlihatkan foto ini pada Ayahnya.


"Aku tahu Bun. Udah lama aku tahu, kalau dia anak Bunda. Mirip sekali dengan anak kecil di foto ini."


[]

__ADS_1


__ADS_2