
"Udah! Kenapa jadi pada ribut gini. Kalian sahabatan ya, jangan kayak anak-anak gini."
Ela menarik lengan pacarnya itu meninggalkan kerumunan orang-orang yang semakin berspekulasi, bahkan bertanya-tanya ada apa diantara mereka.
Dari tatapan mata semua siswa siswi seakan mempertanyakan Kinanti. Siapa siswi itu hingga mampu membuat kedua sahabat yang selalu akur itu kini bersitegang.
Bahkan beberapa siswa menyimpulkan adanya cinta segitiga diantara mereka.
Namun bagaimana bisa Kinanti siswi biasa, dengan raut muramnya setiap datang ke sekolah bahkan tak ada semangat di matanya. Selalu diam, bagaimana bisa ia terlibat dengan dua lelaki yang bisa dibilang populer di Nusa Bangsa.
Semua masih mempertanyakan jawabannya, serta perkataan Raka yang membuat Faisal kesal, apa yang sahabatnya itu maksud bahwa dirinya punya hak? Atas Kinanti? Yang benar saja, batinnya.
Tak pernah ia marah dengan Raka, apalagi berkelahi.
Kinanti, benaknya seketika sedikit sesak apa yang akan Kinanti hadapi kali ini.
Semoga tak hanya kesedihan yang terjadi dalam hidup teman sekelasnya itu.
...****************...
Ela sudah lama mengenal Raka, begitupun dengan Faisal sahabat pacarnya itu. Namun hal ini menjadi pertama baginya, menyaksikan ketegangan diantara keduanya.
Jika mengenai Kinanti, selain teman sekelasnya semester ini Ela tak mengetahui banyak tentang Kinanti.
Ia hanya kerap mendengar bahwa kehidupan Kinanti semuram raut wajahnya, temannya itu harus menanggung beban yang begitu berat diusianya, itu yang selalu dirinya dengar dari mulut siswa lain.
Meskipun tak mengetahui kebenaran mengenai rumor tersebut Ela tak pernah mencari tahu lebih jauh.
__ADS_1
Bukan tak peduli, hanya saja Ela tak pernah ingin ikut campur urusan pribadi orang lain.
Bahkan seingatnya ia hampir tak pernah berinteraksi dengan Kinanti, tapi pacarnya ada hubungan apa dengan gadis itu?
Seminggu berada di kelas yang sama dengan Kinanti memang Raka sedikit berubah, pernah sekali Ela melihat Raka yang tengah memperhatikan Kinanti dari tempat duduk nya.
Namun tak ingin ambil pusing, karena toh hubungan mereka sudah cukup lama. Lagi pula selama ini Raka tak pernah bermain-main di belakangnya.
Ela saat ini menatap Raka dengan menyelidik, setelah beberapa saat lalu menarik pacarnya itu untuk menjauhi kerumunan, saat ini mereka berada di bangku taman belakang kantin yang tak begitu ramai.
"Kamu suka sama dia?" Ela tak dapat basa-basi lagi, ia hanya ingin segera mendengar jawaban dari pacarnya itu.
Raka menatapnya terkejut, "Kamu kira aku cowok brengsek yang suka sama cewek lain, ketika aku sendiri udah punya hubungan sama seseorang?"
Kali ini Ela tak terima dengan tuduhan Raka, "Terus yang aku lihat tadi apa Ka? coba kamu jelasin."
Raka menghela napas sebelum akhirnya menjawab, "Kita udah pacaran dari SMP, kamu tahu sendiri aku nggak akan selingkuh."
Meskipun mereka sempat beberapa kali putus hal tersebut karena perbedaan pendapat diantara keduanya.
"Jadi kamu cuma kasihan sama Kinanti, sama seperti anak lainnya karena rumor kehidupan Kinanti yang nggak bahagia?"
Raka menggelengkan kepalanya, "Itu bukan rumor, memang begitu adanya."
Keduanya saat ini duduk bersisian, Raka kini menatap Ela, "Ada hal yang nggak bisa aku ceritain ke kamu sekarang," Raka menghela napas seakan ada beban berat di dadanya, "Tapi aku minta kamu mengerti bahwa aku harus jagain Kinanti."
Ela masih tak paham apa yang Raka maksud, saat ia ingin mengungkapkan apa yang sedari tadi masih dibenaknya, "Kamu-"
__ADS_1
"Enggak. Aku nggak suka sama Kinanti. Bukan hal seperti itu yang buat aku peduli sama dia. Bukan juga karena aku kasihan, tapi lebih dari itu," jelas Raka yang sudah menduga hal apa yang akan pacarnya itu utarakan.
Mungkin kali ini Ela harus mengalah, meskipun sulit saat ini ia hanya dapat mempercayai Raka kembali.
"Aku janji sama kamu, begitu sudah waktunya aku akan jelasin semuanya sama kamu," tutur Raka berusaha meyakinkan kekasihnya itu.
Ela berdecak, tetap saja ia tak bisa bohong jika dirinya merasa cemburu melihat cara pacarnya itu tiap kali menatap Kinanti.
"Terserah kamu deh!"
Raka semakin merapatkan tubuhnya pada Ela, lalu ia genggam tangan gadis itu coba membujuk.
"El, kamu cemburu?"
Ela berdecak lagi, "Ngapain ditanya sih! Kamu nggak sadar gimana tadi cara kamu marah-marah seakan kamu memang pengen banget nganterin Kinanti."
Raka menggaruk kepalanya, "Memang iya sih. Tapi bukan karena aku suka juga kali, ya anggap saja itu kepedulian seorang teman."
"Terus kalau pas kamu sering ngeliatin Kinanti, apa itu kepedulian seorang teman juga?"
Ini bukan pertanyaan, Raka tahu perkataan Ela merupakan sindiran halus untuknya.
"Yah ketahuan, tapi aku janji nggak akan main dibelakang kamu El. Percaya sama aku."
Ela menarik tangannya kasar, "Terserah kamu aja deh."
Namun tetap saja Ela tak merasa lebih baik, ada secuil hatinya tak tenang, apa sih yang membuat Kinanti semenarik itu di mata Raka?
__ADS_1
Ela tak mendengar lagi apa yang Raka katakan panjang lebar, ia malah sibuk dengan pikirannya sendiri mungkin setelah ini Ela harus mencari tahu mengenai Kinanti.
[]