
Setelah suara pecahan mengenai tembok terdengar, pintu ditutup begitu saja dari luar.
Kinanti meraih kepalanya yang berdenyut nyeri, namun buru-buru dirinya mengecek keadaan Nana.
"Dek, ada yang sakit?"
Kinanti panik, terlebih lampu kamar mandi yang masih padam membuat dirinya tak dapat melihat dengan jelas.
Belum lagi pintu memblok cahaya dari luar, Kinanti tak berani untuk sekedar menggeser tubuhnya takut mengenai pecahan kaca lain.
"Kak, aku takut," lirih Nana semakin merapatkan tubuhnya pada Kinanti.
Hati Kinanti sakit sekali mendengarnya, mengapa hidup Nana yang masih kecil harus menjalani hal ini.
"Nana maafin Kakak. Maaf karena nggak bisa berbuat apa-apa," ucap Kinanti dengan pundak yang mulai bergetar.
"Ada yang sakit nggak?" tanya Kinanti lagi memastikan.
"Nggak ada Kak, cuman dingin."
Kinanti segera memeluk Nana dengan erat, berusaha membuat Adiknya hangat.
"Kak, ini apa?"
Kinanti merunduk, membuka matanya lebar-lebar untuk melihat apa yang Nana maksud.
"Aku ke tetesan, ya ampun Kakak! Ini darah, Kakak luka, ini luka Kakak," rengek Nana yang mulai menangis kembali.
Kinanti kemudian menyentuh pelipisnya yang terasa sakit tadi, benar saja ada cairan yang terus keluar dari sana.
Kinanti menggunakan tangan satunya untuk tetap merengkuh Nana yang semakin histeris.
"Udah Kakak nggak apa-apa, ini luka kecil doang.''
Kinanti menekan dengan kuat pelipisnya itu, berharap darah berhenti detik itu juga.
"Kakak! Itu pasti sakit, maafin Nana, maafin Nana Kak."
"Iya Kakak maafin, udah, sekarang jangan nangis lagi."
"Maafin Nana," lirih Nana masih merasa bersalah.
Kinanti mengambil handuk yang terlihat tersangkut di atas bak mandi, setengahnya masih kering sedangkan bagian yang masuk kedalam bak air basah.
Setelah memeras handuk itu, ia lantas menutup seluruh tubuh Nana.
"Jadi sebenarnya kenapa kamu ambil manik-manik itu? Betul kamu yang ngambil?"
Nana kini menunduk, namun ia tetap menjawab.
"Maaf Kak, aku pikir dengan cara gitu aku bisa dapat uang banyak."
"Nana-"
"Iya aku tahu mencuri nggak baik dan Kakak selalu ngomong gitu. Tapi aku mau ngumpulin banyak uang, biar kita bisa pergi dari sini."
"Emangnya manik-manik itu kamu jual?"
__ADS_1
"Iya, aku jual ke temen-temen, eh malah ketahuan," ucap Nana terdengar sedih.
Bagaimana bisa Kinanti marah, niat Nana malah membuatnya terharu, ya meskipun caranya memang salah.
"Apapun alasannya, mencuri tetap salah ya Dek," tutur Kinanti mengingatkan.
"Maaf ya Kak."
"Iya Kakak maafin,, tapi jangan diulangi lagi. Tapi kok Nenek bisa tahu?''
Nana diam, mungkin anak itu sedang berpikir mengapa dia bisa sampai ketahuan.
"Aku nggak tahu, waktu Kakak turun. Nenek keluar dari kamar udah bawa tas sekolah aku."
Kinanti menghela napas, "Jangan lagi ya."
"Iya Kak."
Kinanti merapatkan perlahan tubuhnya ke tembok, jika melihat pintu yang rapat sudah pasti dikunci dari luar.
Alamat mereka akan tidur di kamar mandi malam ini.
"Hati-hati ya Na, takutnya kena beling kamu," ucap Kinanti mengingatkan saat Adiknya turut bergeser mencari posisi nyaman.
Entah sudah berapa lama Kinanti memejamkan matanya, saat pintu tiba-tiba terbuka dari luar.
Kinanti harus mengerjap beberapa kali, karena cahaya yang menyergap matanya begitu saja.
"Keluar! Udah pagi masih molor!"
Nana yang berada disampingnya pun turut bergerak tak nyaman.
"Ayo bangun!"
Menghiraukan kepalanya yang berdengung dengan secepat kilat Kinanti bangkit.
Untung saja ia teringat ada banyak pecahan kaca, Kinanti melompat keluar dengan hati-hati
Nenek telah berlalu turun ke bawah, mungkin beliau menggunakan kamar mandi di bawah menilik penampilannya telah rapi.
"Na, ayo keluar," ucap Kinanti menyadarkan Adiknya yang masih berusaha mengumpulkan nyawa.
Untung saja hari ini minggu, Kinanti tak perlu takut masuk sekolah.
Setelah memastikan Nana mengenakan baju lengkap, Kinanti dengan cekatan membersihkan kekacauan yang terjadi semalam.
Tak hanya piring, beberapa gelas raib dari rak piring membuat Kinanti ngeri mengingat apa yang terjadi semalam.
Nenek benar-benar seperti kerasukan.
Kinanti mengambil plastik untuk memasukkan pecahan tersebut, kepalanya kembali ngilu.
"Kak, obatin dulu itu lukanya," ujar Nana menunjuk kepala Kinanti.
Nana menyodorkan betadine dan kapas pada Kinanti.
Saat Kinanti merana kembali pelipisnya, ternyata darah sudah mengering.
__ADS_1
Kinanti beranjak menatap dirinya di depan cermin, untuk mengobati lukanya.
Kinanti hampir saja berteriak terkejut melihat pantulan nya sendiri, rambutnya acak-acakan, dengan dress lembat kemaren belum sempat Kinanti ganti.
Belum lagi setengah wajahnya bercak darah.
Kinanti kembali ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, baru kemudian ia mengobati lukanya sendiri.
Kinanti menekan mengusap sekitar lukanya dengan kapas yang telah ia bubuhi betadine.
Namun tak ada rintihan sedikitpun dari mulutnya, mungkin ada tapi entahlah rasanya Kinanti terbiasa menahan rasa sakitnya.
"Perih banget ya Kak?"
Nana sedari tadi memperhatikan tiap gerakan Kakaknya.
"Enggak kok, nggak apa-apa."
"Kinanti!"
Terdengar teriakan Nenek dari bawah, membuat Kinanti berlari menuruni tangga, karena tak ingin lagi ada keributan di rumah.
"Dek, tolong beresin ya," pinta Kinanti pada Nana, karena kapas yang ia tinggalkan begitu saja.
Tak seperti biasanya Nenek menunggu Kinanti hingga menuruni anak tangga terakhir.
Biasanya beliau akan berteriak dari luar, membuat Kinanti sedikit merasa aneh.
"Kenapa belum mandi kamu?!"
"Memangnya ada apa Nek?"
Nenek melengos malas sebelum menjawab, "Itu ada teman kamu, katanya ada tugas kelompok. Berapa kali saya bilang, jangan pernah kasih tahu alamat rumah ke sembarang orang kak?!"
"Maaf Nek," ucap Kinanti menunduk.
Siapa pula yang dateng ke rumahnya dengan alasan itu, bahkan seingat Kinanti ia tak memiliki tugas, selain drama.
Oh iya, tugas Seni Budaya. Tapi untuk apa dia latihan, toh perannya hanya menjadi batu.
"Udah sana cepetan, keluar! Jangan di biarin masuk, kalau perlu ngajak kemana gitu ketemu di luar!"
Nenek Kinanti berlalu, begitu saja. Kinanti pun tak buang-buang waktu langsung berlari menyusul.
Seorang pemuda terlihat mengenakan jaket berwarna navy duduk di depan ruko, Kinanti mencoba mengingat siapa kira-kira orang itu.
Mungkin karena mendengar langkah yang mendekat pria itu pun menoleh.
Sedetik, dua detik, tiga detik berlalu. Kinanti hampir tak bisa bernapas, mengingat pantulan nya di kaca tadi, bagaimana dia bisa bertemu dengan pria itu sekarang.
Sepertinya sama dengan Kinanti, teman sekelasnya terlihat membeku untuk beberapa saat sebelum dengan cepat bangkit menguasai kembali ekspresinya.
"Itu Kinanti nya, kalau bisa kalian ngobrol di luar aja ya Nak," ucap Nenek Kinanti yang di buat-buat sangat ramah dan hangat.
Pemuda itu lantas mengangguk kaku, masih mempertahankan tatapannya pada Kinanti.
[]
__ADS_1