Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 29 : Saudara Tak Sedarah


__ADS_3

"Terus-terus!"


Burhan meletakkan sendok nya ke atas piring yang telah tandas.


Setelah ia tak sengaja mendengar percakapan Dewi dan Raka, ia tak dapat menahan rasa penasaran nya.


Kinanti, anak dari istrinya dan mantan suaminya dulu satu sekolah dengan Raka, anak laki-lakinya.


Itu benar-benar jalan cerita yang tak pernah Burhan bayangkan.


"Ayah, sabar dong anaknya lagi makan," tegur Dewi pada Burhan.


Mereka sekarang sedang di ruang makan keluarga.


Dewi bersyukur, ternyata Raka bisa dengan dewasa menyikapi masalah keluarganya.


Bahkan anak laki-lakinya itu dapat mengenali Kinanti dengan mudah.


Dulu Dewi memang sering menceritakan rumah tangganya pada Burhan, namun ia tak menyangka Raka kecil merekam semuanya.


Bahkan Raka ingat sampai saat ini. Dewi tak dapat menyembunyikan rasa senangnya mendapatkan putra seperti Raka.


Raka menelan nasi di mulutnya terlebih dahulu.


"Kinanti setiap hari harus bantu Neneknya yang jualan, bahkan Neneknya sering main tangan."


"Ha?" Dewi terkesiap, ia tak pernah membayangkan Kinanti dan Nana akan menanggung semua itu.


"Cerita Kinanti ini udah sampai semua orang di sekolah tahu Bun," imbuh Raka.


Burhan bersedekah, "Satu sekolah tahu?"


"Iya."


"Kok biasa?" Dewi tak dapat membayangkan bagaimana jadi putrinya.


"Yang Raka tahu sih, karena Neneknya ini suka mukul. Jadi waktu mereka nangis banyak orang yang denger," Raka berhenti sejenak, ia menatap Dewi sesaat sebelum melanjutkan ceritanya, "Termasuk ada beberapa guru yang pernah kebetulan lewat waktu Kinanti dan Nana dipukulin."


"Kenapa nggak ada yang laporin?" Burhan hampir saja menaikkan nadanya karena merasa marah.


Dewi bahkan kehabisan kata-kata, dadanya terasa di remas. Ia merasa bersalah, sangat merasa bersalah karena meninggalkan anak-anaknya.


Raka menggeleng, "Kinanti pernah menolak dengan keras. Katanya itu biar jadi masalah keluarga mereka. Dan ya, Kinanti nggak bisa laporin Neneknya sendiri ke polisi."


Raka tahu semua itu, karena selama ini ia diam-diam mencari informasi tentang Kinanti.

__ADS_1


Sendok dari tangan Dewi jatuh, air matanya tak dapat ditahan lagi.


"Dewi, kamu tenang ya," tutur Burhan berusaha menenangkan.


Burhan tahu hal ini akan sangat berat untuk Dewi terima, bahkan untuk dirinya ia sangat marah atas perlakuan Nenek Kinanti.


"Mas, anak aku. Anak aku ternyata selama ini menderita."


Raka berdiri ia pun menatap Dewi khawatir, kalau saja Bunda nya itu tak memaksa pasti Raka akan menahan diri untuk tak menceritakan apapun sampai waktu yang tepat.


Dewi kini bersandar di pelukan Burhan, mental Dewi memang belum sepenuhnya pulih meski sudah melakukan terapi saat berada di Jerman.


Dewi sempat mengalami depresi karena trauma dan masalah dalam rumah tangganya bersama Prabu.


Raka merasa bersalah.


"Kamu istirahat dulu ya," bujuk Burhan lembut.


Dewi tak menjawab, ia kembali menegakkan tubuhnya.


"Raka, ini bukan salah kamu. Justru Bunda berterima kasih sekali, setidaknya sekarang Bunda tahu harus mengambil anak-anak Bunda," ucap Dewi yang sadar putranya merasa bersalah.


"Maafin Raka Bunda," ucap Raka menunduk.


"Terima kasih, karena kamu sudah menerima anak-anak Bunda."


Dewi kembali tenang ia menyuruh Burhan dan Raka duduk kembali.


"Kita istirahat aja ya?"


Burhan masih khawatir, ia tak ingin melihat Dewi tumbang kembali.


"Enggak Yah, aku masih mau dengerin cerita Raka. Ayo Nak, cerita lagi," suruh Dewi memperlihatkan wajah antusiasnya menunggu cerita Raka.


Raka menimang sejenak apakah ia harus kembali menceritakan lagi pada Bunda nya.


Tepat saat itu ponselnya menyala satu notifikasi muncul.


Wirang Faisal


Ka, tolongin gue!


Gue bener-bener buntu, Kinanti kenapa? Bisa stress gueeee


Tolong Hayati Bang! :(

__ADS_1


Raka mengangkat ponselnya, "Kinanti juga lagi ada yang naksir, Bun."


Burhan maupun Dewi kini terbahak.


"Yaampun anak sekarang," ucap Dewi masih dengan tawa yang tersisa, "Siapa yang suka sama Kinanti?"


Tanpa membalas Raka meletakkan ponselnya, "Faisal."


"Faisal teman kamu?" Burhan kini yang bertanya.


"Iya, Yah," jawab Raka kini tak bersemangat.


"Suruh anak itu main ke sini, sudah lama nggak ketemu dia. Apa dia sekarang lebih tinggi dari kamu?" Kali ini Dewi yang bertanya, ia ingat betul Faisal adalah teman Raka yang sering main ke rumah.


Raka menatap ponselnya kembali yang menyala, namun ternyata pesan dari operator.


"Lebih tinggi Raka kali," protesnya, "Lagian nggak usah Bun, dia rese anaknya."


Burhan tertawa, "Tapi kenapa nggak kamu aja yang suka Kinanti. Kan lucu, kalau kita akhirnya menikahkan anak kita, iya kan Dewi?"


Namun atas ide out of the box yang Burhan lontarkan, ia sukses mendapat cubitan di pinggangnya.


"Aduh, sakit sayang."


"Kamu ada-ada saja. Lagian Raka sudah punya pacar," sungut Dewi melihat suaminya yang sangat di luar nalar.


Raka tak menanggapi ia hanya diam saja, namun ada sebagian hatinya yang merasa tak suka saat Faisal ataupun orang lain ada yang mendekati Kinanti.


Untuk saat ini Raka bisa bertahan karena dirinya sudah memiliki kekasih, namun entahlah nanti.


Dan juga fakta dirinya dan Kinanti bersaudara, meski tak sedarah.


Bukannya tak masalah kalau? ah! Raka memukul kepalanya sendiri pikiran apa yang barusan terlintas di otaknya.


"Raka kenapa?"


Pertanyaan lembut Dewi menyadarkan Raka.


Ia lalu berlari begitu saja tak ingin larut dalam pikiran gilanya.


Sedangkan Burhan dapat menangkap apa yang sempat Raka pikirkan tadi. Sama seperti yang dirinya pikirkan.


Burhan lantas tertawa, menyaksikan anaknya yang telah beranjak dewasa.


[]

__ADS_1


__ADS_2