Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
Episode 41 : Faisal yang Paling Manis


__ADS_3

"Lama banget," kesal Faisal dengan muka yang di tekuk.


Bukannya ikut kesal, Kinanti malah tergelak melihat tingkah pemuda jangkung tersebut.


"Najis banget lo sok imut gitu!"


Raka mendorong tubuh Faisal, membuat wajah Faisal semakin masam.


"Iya nih, sok imut banget," tawa Kinanti.


"Udah semua kan Nan?" Raka menatap tempat jualan yang telah bersih.


Kinanti tersenyum,"Udah kok, makasih ya."


"Kita balik ke rumah sakit?" Raka mengeluarkan kunci dari sakunya.


Kinanti yang tengah mengunci pintu ruko nya beralih pada Faisal, "Kamu langsung pulang aja, udah malam."


"Enggak dong. Aku mau jenguk Nana," ujar Faisal enteng, ia pun mengeluarkan kunci motornya.


"Balik aja lo, takutnya Nana tambah sakit," cibir Raka.


"Enak aja, emangnya gue penyebar virus apa?!"


Faisal kembali protes dengan pernyataan Raka.


Ponsel Raka berdering, membuatnya mengeluarkan benda pipih tersebut dari saku celananya.


Namun Raka tampak tak terlalu bersemangat, ia berdecak sebelum mengangkat.


"Siapa? kok jadi kusut muka lo?" Tanya Faisal karena panggilan tak kunjung Raka angkat.


"Ela, nih."


"Yaelah, cinta lo mulai pudar?" Kali ini Faisal yang meledek Raka.


"Bacot banget lo!" Umpat nya sebelum bertanya pada Kinanti, "Aku angkat telpon dulu ya."


Mendapat anggukan Kinanti, Raka melipir agar dapat berbicara pada Ela.


Kinanti kembali menyuruh Faisal pulang, "Kamu pulang aja, Sal."


Faisal malah duduk di salah satu bangku depan ruko Kinanti.


"Nana sakit apa?"


Kinanti menyusul duduk di samping Faisal, "Gejala tipes."


"Kasian banget, Nana. Kalau Nenek?" Tanya Faisal kini menatap Kinanti.


Kinanti turut menoleh ke arah Faisal, "Nenek tahu aku ketemu Ibu, makanya tadi sempet ada keributan di rumah sakit, dan ya darah Nenek melonjak."


Faisal menghela napas, ia tahu bagaimana bahagianya Kinanti tadi, tapi sayang sekarang harus kembali bersedih lagi.

__ADS_1


Tangan Faisal terulur, ia mengusap pelan kepala Kinanti, "Anak baik, anak kuat, anak pinter, good job Kinanti. Pasti semuanya berat buat kamu."


Kinanti terasa tersihir, untuk beberapa saat ia lupa caranya bernapas karena jantungnya berdegup kencang.


Saat ini posisi mereka sangat dekat, belum lagi tangan Faisal mengelus kepalanya.


"Ada aku, kamu nggak sendirian. Kalau ada apa-apa bilang ya," sambung Faisal.


Kinanti hampir menangis, baru kali ini ada seseorang yang menyemangatinya dengan cara yang begitu manis.


Kinanti mengangguk, "Terima kasih."


Tepat saat itu tangan Faisal di tepis seseorang.


"Jangan mesum ya! sekarang Kinanti keluarga gue," ketus Raka.


"Dih! nggak jelas," cibir Faisal.


"Ela kenapa Ka?" Tanya Kinanti berusaha menengahi.


"Biasa, minta dianterin. Kamu mau aku anterin ke rumah sakit dulu?"


Kinanti dapat melihat wajah lelah Raka, mungkin pemuda itu tengah memiliki masalah dengan pacarnya.


"Nggak usah Ka, aku bisa ke sana sendiri kok. Kamu kalau mau langsung cabut, nggak apa-apa lho," ujar Kinanti meyakinkan.


"Kinanti biar sama gue aja," ucap Faisal kemudian.


"Oke, kalau gitu. Aku pergi duluan ya Ki, Hati-hati kamu kalau deket sama dia nanti rabies lho," ledek Raka sengaja sedikit berbisik menggoda Faisal.


"Anjir! emang gue guk guk apa!" Faisal tak terima.


Namun Raka tak menggubris dan pergi begitu saja.


"Ngeselin banget dia, aku yakin kamu nggak akan betah tinggal sama dia."


Faisal masih bergumam kesal pada Raka, membuat Kinanti tergelak.


"Ngomel mulu kamu," canda Kinanti, "Ayo anterin aku ke rumah sakit."


Kinanti lalu bangkit, menepuk rok selutut nya yang sedikit kusut.


Tumben sekali Kinanti mengenakan rok jeans, serta kaos putih polosnya.


"No, no, no, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat dulu," tutur Faisal yang juga turut berdiri.


"Kemana? Nanti aku di cariin Ibu."


"Nggak lama kok, bentar doang. janji," ucap Faisal mengacungkan kelingking nya.


"Mau kemana? Aku nggak mau ah, nanti Nadia marah lagi," tolak Kinanti.


Meski Faisal telah menegaskan bahwa dirinya dan Nadia tak ada hubungan, tetap saja Kinanti tak ingin mencari perkara pada teman sekelasnya itu.

__ADS_1


Faisal berdiri tegap tepat di hadapan Kinanti, kedua tangannya ia letakkan di pundak gadis itu, "Kinanti, aku nggak ada hubungan sama Nadia. Kamu takut ya kalau dia bakal ganggu kamu?"


Kinanti mengangguk.


"Aku bakal jagain kamu Ki, janji. Siapapun nggak akan aku biarin ganggu kamu," tegas Faisal.


Kinanti melepaskan kedua tangan Faisal di pundaknya, "Pretttt. Tipikal mulut cowok banget."


Ia kemudian melangkah cepat menuju letak motor Faisal, padahal pemiliknya masih tertinggal di belakang.


"Ayo buruan! katanya mau ngajak aku pergi?"


Faisal tersadar lalu, buru-buru menyusul Kinanti.


"Kok kamu nggak percaya, aku serius lho ngomong gitu," ucap Faisal yang mulai memasukkan kunci motornya.


"Iya percaya deh, biar cepet. Tapi jangan ada yang tahu ya kita jalan, aku tetap nggak nyaman aja. Kamu kan banyak fansnya," kata Kinanti setengah meledek.


Faisal memberikan jaketnya, yang sedari tadi tersampir di atas motor.


"Buat apa?" tanya Kinanti bingung.


"Kamu pake rok, pasti susah naiknya. Itu buat nutup kaki kamu," ucap Faisal santai.


"Iyuhhh sok manis," gelak Kinanti.


"Lah emang manis," ucap Faisal sambil mengurai rambutnya, "Kamu nggak mau jadi fans aku?"


Kinanti bergumam seakan berpikir keras mempertimbangkan jawaban untuk pertanyaan Faisal.


"Emmm, enggak deh. Maunya jadi yang lain aja. Udah yok jalan, ngomong mulu!"


Faisal memutar kepalanya menatap Kinanti, "Mau jadi apa emang? pacar ya? jadi pacar aku ya?"


"Enggak! enggak! ayo jalan!"


Pipi Kinanti memerah, dirinya salah tingkah.


"Mau dong, ayo jawab dulu baru jalan!" Faisal sengaja membuat Kinanti semakin salah tingkah.


"Enggak! ayo!"


Kinanti dengan sengaja mencubit pinggang Faisal.


"Aw! iya iya ampun! nggak seru banget, nggak pacaran kita. Patah hati mulu aku kalau sama kamu," rengek Faisal.


"Dih. Kalau kata Raka jangan sok imut kamu."


Namun tangan Kinanti tak bisa bohong saat kedua tangannya melingkar di pinggang Faisal.


Momen ini akan Kinanti ingat sampai kapanpun, ada kenangan manis di tengah penderitaan yang dirinya alami.


[]

__ADS_1


__ADS_2