Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 31 : Nana Telat Pulang


__ADS_3

Setelah Kinanti di antar pulang oleh Faisal, tak lantas kehidupannya telah berubah drastis.


Semua masih sama, Nenek tetaplah Neneknya yang kejam.


Pukul 17.00 wib Nana belum juga terlihat pulang ke rumah.


Ini sudah sangat gawat, karena dia harusnya sudah ada di rumah sejak pukul sepuluh tadi.


Kinanti mondar-mandir, ia mengkhawatirkan Nana.


Apalagi Nenek yang sedari tadi menanyakan kemana perginya Nana.


Kinanti tak bisa menghubungi teman Nana, karena anak seusia adiknya itu belum ada yang menggunakan ponsel.


Kinanti takut kalau Nana ternyata main ke rumah temannya tanpa mengatakan padanya terlebih dahulu.


Kinanti sangat paham bahwa anak-anak seusia Nana pastinya ingin bermain, maka saat Nana pergi biasanya Kinanti akan mencari cara untuk membohongi Nenek mereka.


Tapi kalau seperti ini Kinanti tak dapat memberikan jawaban, kemana perginya Nana.


Kinanti akhirnya memilih untuk menyetrika baju, sebelum nanti Neneknya akan naik pasti beliau mengamuk karena pekerjaan belum selesai.


Dengan perasaan yang tak tenang Kinanti memaksa dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.


Namun sekitar pukul 17.20 wib terdengar suara Nana yang berteriak dari bawah.


Kinanti segera bangkit, tak lupa mencabut colokan setrikanya.


Ternyata Nenek tengah menarik seragam sekolah Nana, lebih tepatnya Nana diseret Nenek naik ke atas.


Kinanti yang mulanya syok, bergerak cepat untuk menolong Nana.


"Nenek, Nana kesakitan," ujar Kinanti memberanikan dirinya, ia menarik seragam Nana yang masih Nenek cengkeram hingga terlepas.


Mereka masih berada di tengah-tengah tangga.


Nana menangis kencang, membuat hati Kinanti terasa ngilu.


"Anak kurang ajar! Berapa kali saya bilang pulang sekolah langsung pulang ke rumah!"


Melihat Nana yang kesusahan untuk berdiri dengan bantuan Kinanti, wanita tua itu tak tinggal diam.


Nenek menarik rambut Nana yang kemudian ia seret kembali ke atas.


Mata wanita itu tampak gelap, setelah sampai di atas masih dengan rambut Nana dalam genggamannya wanita itu mengambil gunting yang berada di atas meja.


Kinanti mengerjap beberapa saat sebelum menyadari apa yang akan Neneknya lakukan.


"Jangan Nek! Nenek jangan!"


Tangis Nana semakin menjadi-jadi, kaki Nana berusaha menendang agar terlepas dari cengkraman Nenek.


"Anak setan! Kenapa susah sekali dikasih tahu!"


Kinanti dengan sekuat tenaga menahan tangan Neneknya yang siap melayangkan gunting ke rambut Nana.


Nana menatap Kinanti dengan harap, "Kakak tolong!"


"Nenek jangan!" Kinanti berhasil mengambil alih gunting di tangan Nenek.


Karena ujung gunting yang tajam tangan Kinanti sempat terasa perih.


Nenek menatapnya semakin nyalang, "Kinanti! Kamu kenapa ikut campur?! Mau kamu yang saya hukum?!"

__ADS_1


Kinanti menarik Nana agar terlepas dari Neneknya.


Kinanti berusaha menarik Nana kebelakang tubuhnya agar menjauh dari Nenek.


"Mending Kinanti Nek! Nenek hukum Kinanti saja, jangan Nana."


Tubuh Nana yang berada di belakangnya terlihat bergetar, Kinanti menatap Nana tak tega.


"Kakak! Jangan!"


Nenek kembali mengambil gunting yang tadi Kinanti lempar.


"Sini kamu!"


Dengan langkah lebar Nenek berhasil berada di hadapan Kinanti.


Wanita itu lantas menarik rambut Kinanti yang terkuncir.


Kinanti tak tinggal diam, ia menarik kepalanya menjauh berusaha menghindari Neneknya.


"Kakak Jangan!'


Teriakan Nana membuat Kinanti kehilangan fokusnya, namun ia masih mencoba menjauh serta melindungi Nana dalam satu waktu.


Nenek berhasil menarik rambutnya saat Kinanti limbung, hingga terjatuh.


Kali ini Kinanti berusaha merebut gunting dari tangan Neneknya, begitupun dengan Nana yang maju menarik tubuh Nenek dari belakang.


Sayang Kinanti mendengar suara krek, yang artinya rambutnya terpotong.


Tak cukup sekali Nenek yang tenaganya lebih besar berusaha memotong kembali rambut Kinanti.


Kinanti berusaha menahan gunting dengan kekuatannya.


Sedangkan Nenek yang berdiri dihadapannya lebih keras lagi mendorongkan guntingnya.


Semakin Kinanti mendorong ke depan, Nenek akan semakin mendorong ke depan pula, yang artinya saling dorong, dengan posisi gunting yang terbuka.


Tumpukan baju yang tadi Kinanti setrika kembali berantakan karena mengenainya saat berusaha mundur.


Kinanti merasakan tangannya yang semakin perih, apalagi saat cairan merah mulai terlihat dari balik tangannya.


Nana yang tak kuat menarik tubuh Nenek berpindah pada kaki.


Terlebih saat melihat tangan Kinanti yang bersimbah darah, Nana semakin kencang menarik kaki Nenek.


Akhirnya Nenek limbung juga, dan terjatuh dengan posisi tengkurap.


Kinanti merangsek mundur saat tubuh Neneknya hampir terjatuh ke atasnya.


"Kurang ajar!"


Nenek memekik dengan mengusap hidungnya yang terkantuk lantai.


"Nenek maaf," ucap Nana.


Namun Nana langsung berlari menolong Kinanti, "Kak, darah."


Kinanti lalu melihat darah yang mulai mengotori lantai.


Nenek dengan susah payah bangkit, namun beliau tak lagi menyerang setelah menyadari hidungnya pun kini mimisan.


"Awas ya kalian!"

__ADS_1


Lalu beliau berlari turun membuat Kinanti dan Nana akhirnya bernapas lega.


Nana meniup tangan Kinanti, "Kak Maaf ya, aku bikin Kakak terluka lagi."


Kinanti melihat tangannya, "Untung sebelah Kiri Na, setidaknya Kakak masih bisa makan dengan tangan kanan."


Namun ucapan Kinanti yang ia lontarkan berniat membuat Nana merasa lebih baik gagal.


Nana kembali menangis, "Huaaaa! Kakak maafin aku."


"Udah! Kok malah makin kejer sih."


Kinanti kemudian bangkit, ia teringat dengan rambutnya.


Kinanti berdiri menghadap kaca lemari di ruang tengah.


Karena rambutnya yang masih di kuncir belum terlalu jelas di mana sekiranya rambut yang dipotong Neneknya tadi, Kinanti akhirnya membuka ikat rambutnya.


Betapa terkejutnya Kinanti melihat rambut bagian kanannya sudah tergunting miring.


Kinanti menatap sedih rambutnya yang terlihat seperti jajar genjang.


Sebelah kiri masih panjang sepunggung, dan sebelah kanan yang hanya terlihat sebahu.


"Maaf ya kak," lirih Nana di sampingnya yang kini mengikat tangan Kinanti dengan kain yang entah anak itu dapat dari mana.


"Nana kebiasaan. Makanya kalau mau ngapain-ngapain bilang dulu sama Kakak."


Nana menunduk, "Tadi dadakan Kak, Ibu Rio ngajak akau datang ke rumahnya karena Rio ulang tahun."


Kinanti hanya bisa menghembuskan napas, marah juga tak akan mengembalikan rambutnya sekarang.


"Iya, oke. Kakak maafin," ucapnya akhirnya.


Kinanti lalu mengambil gunting yang tergeletak di bawah meja.


Ia menarik napas dalam-dalam, sekarang yang bisa Kinanti lakukan adalah merapikan rambutnya.


"Kak," cicit Nana disampingnya.


Kinanti tersenyum, memantapkan dirinya sekali lagi, "Udah nggak apa-apa."


Ia lantas menggunting rambutnya sebagian agar panjangnya sama.


Dengan keahlian yang seadanya, dan bantuan dari cermin Kinanti memotong rambutnya sampai sebahu.


"Sini aku bantuin Kak," tawar Nana saat melihat Kinanti kesulitan memotong rambut bagian belakang.


Kinanti saat memotong rambutnya menahan napas. Hal ini sejujurnya berat untuk dirinya lakukan, apalagi menunggu rambut sepanjang ini sangat lama.


"Udah," ucap Nana yang kini terdengar riang.


"Lumayan juga ya." Kalimat ini keluar dai mulut Kinanti setelah mematut dirinya sendiri di kaca.


Nana mengangguk setuju, "Kakak sekarang mirip Dora."


Kinanti tertawa mendengar perkataan Nana.


Ponselnya kemudian berdering, membuat Kinanti buru-buru mencari sumber suara tersebut.


Kinanti hampir tak percaya saat suara dari nomor yang belum dirinya simpan itu terdengar.


"Halo, Kinanti?"

__ADS_1


Kinanti diam beberapa saat, "Raka? Ini Raka?"


[]


__ADS_2