Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 35 : Kebahagiaan yang Terlambat


__ADS_3

Bel pulang berbunyi menandakan waktu habis sebelum semua kelompok mendapatkan kesempatan untuk menampilkan dramanya.


"Mohon maaf ya, untuk kelompok yang belum sempat tampil kita tunda di minggu depan," tutur Pak Bima yang kemudian di sambut sorakan oleh kelompok terakhir yang belum mendapat giliran.


Pak Bima memasang wajah bersalah karena waktu telah habis.


Setelah Pak Bima meninggalkan kelas, semuanya berkemas.


Begitupun dengan Raka yang saat ini telah siap untuk pulang, ia semakin deg-degan karena akan mempertemukan Kinanti dan Bunda.


"Lo ngapain ngajak Kinanti ke rumah?" Faisal yang masih memasukkan buku di sampingnya terlihat ingin tahu.


"Kepo banget," jawab Raka enteng.


"Lo mau apain Kinanti?"


Raka menatap Faisal tajam, ia sangat kesal dengan anggapan kotor itu.


"Bokap, Nyokap gue balik, pengen ketemu Kinanti," jawabnya kemudian.


Faisal kemudian terlihat berbinar, "Om Burhan pulang ke Indo?"


Faisal memang telah bersahabat dengan Raka sedari masih kecil, karena mereka selalu satu sekolah sehingga keduanya saling tahu cerita masing-masing.


Begitupun dengan cerita keluarga Raka, di mana Ibu Raka meninggal dan Ayahnya menikah lagi.


"Iya, kemaren."


Faisal menyangklong tas ranselnya, "Gue ikut dong, kangen sama Om, sama BUnda lo juga."


Raka terlihat tak setuju, "Nggak usah! Mau ngapain lo?"


"Yaelah Ka, gue kan anak kedua Om Burhan," ucap Faisal percaya diri menyebutkan dirinya sebagai adik Raka.


Ela dan Nadia kemudian datang ke meja mereka, "Kita ke mall yuk, pengen beli keperluan skincare."


Raka tersenyum manis, karena kali ini ia tak dapat menemani pacarnya itu lagi.


"Maaf ya beb, hari ini kamu pergi sama Nadia dulu ya. Aku ada acara keluarga."


Ela sedikit memberengut meski kemudian mengangguk.


"Faisal ikut kita aja mau? Ke mall nonton The Avengers deh, habis kita beli skincare," ajak Nadia pada Faisal.


Namun Faisal memberikan jawaban yang sama.


"Sorry Nad, kalian girls day out aja berdua. Aku juga ada urusan keluarga.


"Kamu alasan mulu kalau aku ajak, kalau sama Kinanti aja cepet," gerutu Nadia.


"Nad," ucap Faisal terlihat lelah.


"Ya sudah yuk, ah. Jangan bete dulu," ujar Ela menarik tangan Nadia, "Raka, aku duluan ya."


Ela melambai dan pergi bersama Nadia yang dirinya tarik.


"Cewek lo kan?" Tanya Raka pada Faisal.


Faisal menggeleng keras, "Nggak. Gue nggak pernah pacaran sama Nadia. Gue cuman bilang suka sama Kinanti doang sejauh ini."


"Lagi pada ngomongin aku?"


Suara Kinanti memecahkan lamunan keduanya yang tengah berdiri di pintu memandangi kepergian Ela dan Nadia.


Faisal tersenyum lebar, "Udah selesai? Mau pergi sekarang?"


Kinanti menatap Raka, "Aku mau pergi sama Raka."


"Aku juga, aku bakal ikut ke rumah dia," ujar Faisal yang di balas decakan kesal oleh Raka.

__ADS_1


"Dia maksa ikut Kinanti. Yok, biar kamu nggak telat pulang," ucap Raka kemudian menarik tangan Kinanti.


Belum sempat berjalan Faisal menarik tangan Kinanti yang ada dalam genggaman Raka.


"Anda sudah punya pacar ya!"


"Bacot!" Raka mengumpat.


"Udah! Udah! Aku bisa jalan sendiri!"


Teriak Kinanti yang kesal menyaksikan sikap kekanakan dari kedua temannya.


Ia kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan dua pemuda itu.


Ternyata pertengkaran belum berakhir, Raka dan Faisal berdebat siapa yang paling berhak membonceng Kinati.


"Lo siapanya sih anjir!" Raka hampir saja melempar helm yang dirinya pegang.


"Gue ..... Gue, ck! Ki kita apa ini sekarang?"


Kinanti gelagapan.


Raka tersenyum miring, "Makanya diem lo Kinanti pake helmnya ya," ucap Raka menyerahkan helm ke tangan Kinanti.


Saat Kinanti akan menerima helm tersebut Faisal kembali manahan tangannya.


"Ki, sama aku aja," ujar Faisal memohon.


Raka dengan cepat menepis tangan Faisal.


"Nan, sama aku aja."


Faisal berdecak, "Lo udah punya Ela. Jangan sampai besok Ela nyerang Kinanti karena denger gosip yang enggak-enggak dari anak-anak."


Faisal menunjuk parkiran yang masih ramai, belum lagi banyak siswa siswi yang menatap ke arah mereka dengan pandangan ingin tahu.


Raka menghembuskan napas lelah, benar juga belakangan ini Ela uring-uringan makanya Raka dengan berat hati mengalah.


"Kalian kenapa sih! dari tadi kaya anak kecil. Nggak malu apa di lihatin banyak orang!"


Kinanti yang geram mengomel juga akhirnya.


"Kinanti galak," canda Faisal.


Sedangkan Raka memasang ekspresi bersalah, "Maaf ya Kinanti."


Mereka meninggalkan sekolah dengan Kinanti yang membonceng Faisal.


"Kamu deg-degan ya?"


Faisal sedikit melongok kan kepalanya ke belakang.


"Iya, sebenarnya aku masih bingung kenapa Raka ngajak aku ke rumahnya," ucap Kinanti jujur.


"Tenang aja, orang tua Raka baik kok. Mungkin dia ngajak kamu mau ngasih oleh-oleh kali."


Kinanti memajukan tubuhnya agar suara Faisal terdengar lebih jelas, "Oleh-oleh?"


"Iya, Ayah Bundanya Raka beberapa tahun di luar negeri, katanya sih Bundanya berobat," jelas Faisal.


Kinanti bergumam, "Em gitu ya."


Sore di mana Raka membujuknya untuk datang ke rumah, pemuda itu hanya mengatakan bahwa hal ini akan membuat Kinanti bahagia.


Letak rumah Raka tak terlalu jauh, sekitar 20 menit mereka telah sampai di rumah dengan pagar besar berwarna putih.


Rumah Raka terlihat seperti rumah-rumah bergaya Eropa yang Kinanti lihat di buku paket Bahasa Inggrisnya.


Raka memasukkan motornya ke dalam garasi, sedangkan Faisal menghentikan motor tepat di depan rumah Raka, sehingga ia langsung di sambut oleh Burhan, ayah Raka.

__ADS_1


"Om! apa kabar?"


Faisal memeluk begitu saja Burhan yang tengah sibuk dengan tanamannya.


"Kalem-kalem! Om bisa jatuh kamu tabrak gitu. Apalagi kamu bukan anak kecil lagi Sal," gurau Burhan.


Faisal tertawa, "Kok nggak kerja Om?"


"Kerja dari rumah, jagain tante soalnya," ucap Burhan lalu beralih pada Kinanti yang berdiri kikuk.


"Ini?" Burhan menunjuk Kinanti, yang buru-buru meraih tangannya untuk salim.


"Kinanti Yah."


Bukan Faisal yang menjawab melainkan Raka.


Burhan tampak terkejut beberapa waktu, setelahnya ia meletakkan cangkul kecil di tangannya dan memeluk Kinanti.


"Ya Allah Nak, alhamdulillah kita akhirnya ketemu."


Hanya Raka yang mengerti situasi ini, sedangkan Faisal dan Kinanti semakin bingung.


"Bunda mana Yah?"


"Lagi ngambil minum di belakang," ucap Burhan sambil menatap lekat Kinanti yang saat ini terlihat gugup.


"Raka, kamu udah pulang? Wah Faisal kamu sudah besar sekali!"


Suara perempuan terdengar dari balik tubuh besar Burhan.


Sepertinya perempuan itu belum menyadari kehadiran Kinanti.


Namun tubuh Kinanti membeku, ia ingat betul suara itu.


Suara yang lima tahun belakangan ia rindukan, tapi juga dirinya benci karena telah meninggalkannya.


Burhan yang masih meletakkan tangannya di kedua pundak Kinanti dapat menyaksikan bagaimana perubahan ekspresi Kinanti.


Begitu pula dengan Raka, ia menunggu reaksi Kinanti.


"Lho kok pada diam aja? Faisal kamu apa kabar Nak?"


Suara perempuan itu semakin dekat, membuat Kinanti keluar keringat dingin.


Benarkah itu Ibunya?


"Tante, apa kabar?"


Faisal yang tak tahu menahu mendekati perempuan itu.


Burhan menggeser tubuhnya, memberi ruang pada Kinanti agar dapat melihat sosok perempuan yang tertawa renyah bersama Faisal.


"Dewi," panggil Burhan lembut.


Perempuan itu menoleh, menatap Burhan lalu setelahnya tatapannya jatuh pada anak perempuan yang berada tepat di samping Burhan.


Mata Dewi berkaca-kaca, ia tak pernah membayangkan hari ini akan tiba.


"Bunda, ini Kinanti," tutur Raka.


Kinanti yang tercekat melihat ke arah Raka bertanya, Raka memanggil Ibunya Bunda? apa maksud dari semua ini?


Setelah lima tahun tak ada kabar ternyata Ibunya menikah dengan pria lain? Meninggalkan dirinya dan Nana yang hidup menderita. Bahkan memiliki anak teman sekolahnya? Kinanti mengusap kasar air matanya yang entah sejak kapan mengalir di pipinya.


Kinanti lantas mengibaskan tangan Burhan yang masih menahan tubuhnya.


Tanpa satu patah katapun Kinanti memilih untuk melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Raka.


Tak ada lagi yang ingin Kinanti dengar, semuanya cukup jelas.

__ADS_1


Apa Raka bilang kebahagiaan? semuanya terlambat.


[]


__ADS_2