Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 39 : Cobaan Tak Ada Habisnya


__ADS_3

Kinanti menunduk semakin dalam, tatapan Nenek terasa menusuk.


Saat ini mereka berada di ruang petugas keamanan, untuk menyelesaikan semua kekusutan.


Dewi mengelus pelan tangan Kinanti, "Tenang ya Nak, semuanya bakal selesai. Bismillah."


Ternyata yang Dewi lakukan tertangkap oleh Nenek, membuat perempuan itu melengos malas.


"Kinanti! kamu harus pulang!"


Nenek bangkit siap untuk menarik Kinanti, untung saja petugas keamanan dengan sigap menarik Nenek untuk kembali duduk.


"Tolong tenang, Bu. Kami akan beri waktu untuk Ibu menyelesaikan masalah secara kekeluargaan," ucap petugas tersebut tegas.


Petugas keamanan tersebut kemudian, mengangguk pada Burhan untuk memberikan kesempatan pada mereka untuk mulai menyelesaikan permasalahan.


Burhan berdehem, "Begini saja Bu, kita bicarakan pelan-pelan ya. Agar masalah ini ketemu titik terangnya."


"Nggak usah ikut campur, saya nggak kenal sama kamu! Oh apa kamu selingkuhan Dewi, sehingga dia meninggalkan anak saya?! ******!"


Tampaknya ingin membicarakan secara tenang dan kekeluargaan tak akan terjadi, kalau ini menyangkut terdapat Nenek di dalamnya.


"Ibu yang harusnya malu memiliki anak seperti Prabu. Selama ini yang jadi korban saya Bu!"


Dewi tak tinggal diam, ia menggenggam tangan Kinanti seakan mencari kekutan.


"Prabu yang telah memperkosa saya! Sampai saya hamil, dan harus putus kuliah. Karena itu juga saya di usir dari rumah Bu! Bagian mananya saya mana saya yang telah merusak hidup anak Ibu?!"


Mendengar ungkapan hati Dewi, untuk beberapa saat Kinanti menangkap raut wajah Nenek terlihat terkejut.


Mungkin semua ini terlampau bertubi-tubi.


"Sama seperti yang Prabu lakukan sampai sekarang, dan dia menelantarkan anaknya dan istrinya lagi!"


"Cukup!" Nenek berteriak lantang.


Namun Dewi sudah terlampau kesal, masih banyak hal yang ingin Dewi katakan.


"Ibu kira anak Ibu suci?! Prabu main perempuan, mabuk-mabukan, dia bahkan menjual obat-obatan terlarang-"


Dewi merasakan remasan di tangannya, Kinanti terlihat tertekan.

__ADS_1


Hal ini membuat Dewi merasa menyesal, semarah apapun dirinya, ada anaknya di sini.


Anak mana yang akan kuat mengetahui keburukan ayahnya, meski Kinanti sudah tahu semua ini, tetap saja sulit untuk menerimanya.


Air mata Dewi menetes, "Lalu Ibu, dengan teganya memperlakukan anak aku, yang juga cucu Ibu sendiri, anak dari Prabu seperti ini. Nenek macam apa Ibu? Apa Ibu nggak punya sedikitpun belas kasihan?!"


Dari tempat duduknya Nenek mulai menepuk-nepuk dadanya sendiri, seperti kehabisan napas.


Kinanti yang melihat ha tersebut panik, "Bu! Nenek, Nenek punya riwayat darah tinggi, takutnya bisa ke jantung."


Kinanti berlari mendekati tubuh Nenek yang hampir terjatuh ke lantai.


Dewi dan Burhan pun terlihat pani, sedangkan beberapa petugas memanggil petugas kesehatan.


"Nenek, Nenek kenapa?"


Nenek tak lagi menjawab, seluruh tubuhnya dingin dan wajahnya pucat.


Begitu petugas kesehatan tiba, Nenek di bawa ke ruang ICU.


Tampaknya ini masalah besar, Kinanti menatap Ibunya yang kini pun terlihat tak tenang.


Dewi mendekati Kinanti, "Nenek darah tinggi?"


"Iya Bu, terakhir kali Nenek masuk rumah sakit karena darah tinggi, gimana kalau Nenek kenapa-napa, berarti ini salah Kinanti," lirih Kinanti.


Burhan mengelus puncak kepala Kinanti, "Nak, kita berdoa bersama agar Nenek baik-baik saja. Lagi pula ini bukan salah kamu."


"Iya Nak, ini bukan kamu, ini salah Ibu. Ibu terlalu terbawa emosi. Jangan bebankan semuanya ke kamu Nak, kita hadapi ini bersama ya? Apa ada yang bisa di hubungi? selain kamu dan Nana, siapa keluarga Nenek?"


Mau bagaimana pun ada yang harus mengurus semua administrasi Nenek.


Kinanti mengangguk, "Tante Eva Bu."


Ia kemudian membuka ponselnya untuk coba menghubungi Tantenya itu.


Tepat saat itu, Dokter yang memeriksa Nenek keluar.


"Bagaimana keadaan beliau Pak?" Tanya Dewi tak sabaran.


Dokter tersebut membenarkan letak kacamatanya yang sedikit miring, "Beliau terlalu banyak berpikir, sampai stress sehingga tekanan darahnya melonjak. Hal ini pula yang mengarah ke komplikasi pada jantung. Sebaiknya, untuk saat ini beliau jangan terlalu berpikir berat."

__ADS_1


Rasa bersalah semakin menggulung-gulung di benak Kinanti.


Kalau jadinya begini, apakah mungkin ia akan tetap keluar dari rumah Nenek?


Kinanti buru-buru menelpon Tante Eva.


"Kamu kenapa nggak bilang Tante dulu Kinanti! Tante tahu kamu ingin segera pergi dari rumah Nenek, tapi kamu harus pikir dulu apa yang kamu lakukan bisa berakibat fatal pada kesehatan Nenek sekarang!


Itu yang pertama kali Eva katakan setelah Kinanti menceritakan semuanya.


Ia berulang kali memohon maaf, begitupun dengan Dewi yang menguatkan dengan menggenggam tangan Kinanti.


Panggilan di tutup setelahnya, Eva mengatakan akan segera terbang dari Yogyakarta.


Kinanti menerawang, "Apa kebahagiaan terlalu mahal untuk aku dan Nana ya Bu? Jujur tadi Kinanti udah senang sekali, Kinanti kira setelah semua ini Kinanti bisa langsung ikut Ibu dan keluar dari rumah Nenek," keluh Kinanti.


Dirinya mengingat bagaimana beberapa saat sebelum menemui Nenek, seakan akhirnya dunia berpihak padanya. Ia akan tinggal bersama Ibunya.


"Sabar ya Nak, inshaallah pasti Allah akan kasih jalan. Supaya kita bisa kembali bersama," ucap Dewi berusaha menguatkan.


"Aku capek Bu. Kenapa semuanya selalu berakhir nggak sesuai sama apa yang aku harapkan?"


Kinanti tak dapat menahan diri saat tubuhnya mulai bergetar.


"Maafin Ibu Nak, maafin Ibu," ucap Dewi memeluk Kinanti.


"Aku capek Bu. Aku capek, kenapa hidup kita seperti ini?!"


Dewi tak dapat menjawab, ia turut meneteskan air mata. Betapa pilu mendengar anaknya yang merasa sakit dengan kehidupan ini.


Burhan melihat seorang Ibu dan putrinya itu turut merasakan kepedihan, ia merenggangkan kedua tangannya berusaha memberikan pelukan hangat untuk keduanya.


"Allah tahu kamu mampu Nak, akan ada kejutan yang telah Allah persiapkan untuk kamu. Sabar ya, sedikit lagi. Om yakin kamu pasti bisa, selama ini kamu telah melewati berbagai cobaan, kali ini pun sama kamu pasti bisa," ujar Burhan lembut.


Kinanti mengangguk dalam tangisnya, semoga saja apa yang Burhan katakan benar.


Semoga semua ini akan berakhir dengan hal baik bagi mereka.


[]


Ps. Begitulah hidup, penuh cobaan Ki, semangatšŸ¤

__ADS_1


__ADS_2