Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 7 : Sebotol Air Mineral


__ADS_3

"Ha? beneran?!"


"Iya," jawab Kinanti lagi.


"Aku tetanggaan sama beliau, kok nggak pernah lihat kamu?"


"Aku tinggal sama nenek soalnya."


"Lho kan Dokter Ibrahim juga tinggal sama istrinya, nah istrinya itu nenek kamu kan?"


Kinanti tampak sedikit tidak nyaman ditanya-tanya masalah keluarganya namun ia tetap berusaha menjawab seperlunya.


"Nenek aku istri pertama."


"Oh pantesan, soalnya setahuku cucunya Dokter yang pertama baru masuk SD tahun kemaren. Udah lama cerainya?"


"Cepetan, keburu jam pertama habis ni." Kinanti berusaha mengalihkan perhatian Syahril.


"Terus kok kamu ikut nenek kamu, orang tua kamu kemana?"


"Aku buang ini dulu ya, udah penuh biar bisa diisi sampah lagi."


Kinanti berlari menenteng keranjang sampah yang tampak penuh di tangannya.


Kinanti selalu merasa tak nyaman tiap kali ada orang yang mulai ingin tahu tentang dirinya, maupun keluarganya. Ia rasa informasi yang Syahril ketahui sudah cukup.


Setelah membuang sampah, Kinanti kembali ke lapangan namun berusaha menghindari Syahril dengan memilih sudut lapangan yang berbeda. Saat ia sedang memunguti sampah plastik ada seseorang yang menarik rambutnya.


"Aw!" Kinanti meringis kesakitan.


"Kasian banget sih telat."


"Ya ampun Faisal, sakit tahu!"


Seseorang tampak terlihat menyusul di belakang Faisal.


"Lah kirain nggak masuk Nan. Telat kamu ternyata. Aku kira, yang dari tadi ngambilin sampah anak kelas sepuluh," tutur Raka menjelaskan.

__ADS_1


Hari ini pria itu terlihat agak berbeda dari kemaren, Kinanti mengamati Raka lebih lama sebelum menjawab, oh ternyata Raka habis potong rambut. Pantas saja dia terlihat lebih charming.


"Kinanti? Kok malah bengong?" Faisal mengibaskan tangannya di depan wajah Kinanti yang mungkin saat ini tengah melongo.


Kinanti merapikan rambutnya yang tadi di tarik Faisal. "Eh,Iya, Ka. Aku telat, tuh, sama Syahril juga."


Kinanti menunjuk Syahril yang berada di sudut lain lapangan.


"Kalian pacaran ya?" Faisal menuduh.


Kinanti mulai kesal dengan perkataan pemuda berlesung pipi itu, "Apaan sih, fitnah kamu."


"Oh iya, udah ngerjain PR Fisika belum, sini mau kita kumpulin sekalian."


Raka menunjuk tumpukan kertas yang di bawanya."


"Oh iya, bentar ada di tas aku."


Kinanti bergegas mengambil tasnya yang dia tinggalkan di depan ruang guru tadi.


Saat menemukan apa yang ia cari, petugas yang membukakan gerbang tadi mendekatinya.


"Udah boleh masuk kelas berarti pak?"


"Udah sana masuk aja," usir penjaga tersebut yang kali ini tak terlihat lagi kemarahannya.


"Terima kasih, Pak."


Kinanti sangat senang, sebenarnya dari tadi ia hampir menyerah karena kepanasan, juga perutnya yang dari tadi keroncongan.


"Ni, Ka. Cuma catatan bebas aja kan? Semoga bener deh, semalem aku nyampe begadang lho," ucap Kinanti menyerahkan tugasnya.


"Iya, nggak apa-apa kok salah, lagian kan kita baru aja masuk kemaren, tau-tau dikasih tugas aja. Aku masuk dulu ya."


Raka masuk kedalam ruang guru meninggalkan Kinanti yang merapikan tasnya untuk masuk ke kelas.


Kinanti tiba-tiba teringat kejadian di pasar kemaren, dia sedikit tersenyum.

__ADS_1


Namun, apabila di lihat dari sikap Raka yang biasa saja, bisa jadi memang hanya Kinanti yang kege-eran apalagi Raka sepertinya baik dengan semua orang.


Kinanti menepuk jidatnya, yaampun memang dia ini siapa, Raka juga sudah punya pacar. Tak mau memikirkannya lagi Kinanti menghampiri Syahril yang masih membersihkan lapangan.


"Ril, udah cukup kata Bapaknya tadi."


"Beneran? Alhamdulillah!" Syahril berseru sedikit dramatis.


Mereka bergegas masuk ke kelas, Syahril bahkan sedikit berlari karena panas yang mulai terik.


Ketika mereka sampai di kelas ternyata jam pertama telah selesai sehingga Kinanti tidak perlu khawatir akan di marahi lagi oleh guru lagi karena telat.


Kinanti tampak terkejut saat menemukan sebotol air dingin kemasan, di atas mejanya. Dia melihat teman di kelasnya tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Kinanti mengusap mejanya yang sedikit basah karena embun dari botol air mineral itu. Tanpa pikir panjang Kinanti langsung meminum air tersebut, dari tadi memang Kinanti menahan haus, ia berterima kasih pada siapapun yang telah memberinya minum.


Tak lama kemudian jam pelajaran kedua di mulai, Bahasa Indonesia. Kinanti sangat menyukai mata pelajaran ini.


Apalagi tema menulis puisi, karena menulis puisi menjadi salah satu hobinya.


Menurutnya puisi adalah tulisan indah yang memiliki banyak makna, tergantung dari sudut pandang mana pembaca mengartikannya.


Namun kali ini ternyata bukan puisi yang menjadi materi pertama, melainkan cara menulis berita. Setelah tiga puluh menit berlalu, Pak Amar, guru Bahasa Indonesia menjelaskan unsur apa saja yang harus ada di dalam berita, Pak Amar memberikan tugas sebuah berita yang harus di analisa dengan menentukan 5W+1H yang terdapat dalam teks tersebut.


Kinanti menyelesaikan dengan cukup cepat, baginya menganalisa teks seperti ini tidak terlalu sulit dan cukup menyenangkan.


Namun, sepertinya temannya yang lain belum ada yang selesai sampai bel istirahat berbunyi.


"Baik anak-anak, yang belum selesai boleh di lanjutkan di rumah ya, sampai bertemu minggu depan."


Begitu Pak Amar keluar kelas, semua seakan telah menanti-nanti waktu istirahat dan langsung berhamburan keluar. Kinanti masih tak beranjak, ia bingung apakah harus pergi ke kantin sendirian karena tak ada yang mengajaknya, namun Kinanti merasa lapar sekali karena dari tadi pagi belum sarapan.


Akhirnya dengan berat hati Kinanti memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian berharap akan bertemu dengan Farah dan Sarah nanti.


Namun sebelum benar-benar meninggalkan kelas Kinanti tak sengaja mendengar percakapan beberapa orang yang masih berada di kelasnya yang membuat dirinya kali ini sebal bukan main.


"Kasian dia ditinggal orangtunya."

__ADS_1


Kinanti tak habis pikir kenapa juga kehidupan pribadinya menjadi topik yang harus mereka bicarakan?


[]


__ADS_2