
Faisal melangkahkan kakinya lebar-lebar, ia ingin segera sampai tempat Kinanti sebelum Raka.
Namun Faisal harus berdecak kesal saat yang ia hadapi malah Nadia menghadang jalannya.
"Kenapa?"
Nadia berdiri mematung seperti akan mengatakan sesuatu, namun teman sekelasnya itu masih tak berkata apapun.
Faisal mengerutkan alisnya, "Kenapa? ada yang mau lo omongin?"
Nadia mengusap hidungnya terlihat tak nyaman, "Nanti kita double date yuk, sama Raka dan Ela mau nonton bioskop mereka."
Faisal kembali melihat ke arah Kinanti berada, Kini Raka telah sampai di sana membuat Faisal kembali berdecak.
"Sal? mau ya? please?"
Nadia terlihat memohon, membuat Faisal bingung.
Nadia bukan hanya sekedar teman sekelasnya, namun perempuan itu seminggu lalu menyatakan perasaannya pada Faisal.
Di sinilah kelemahannya, ia tak tega menolak.
Tak hanya Nadia, Faisal tahu beberapa teman di sekolahnya menyukai dirinya, ada yang secara terang-terangan ada pula yang diam-diam.
"Sorry Nad, kita kan .... maksudnya gue belum jawab mau atau enggak pacaran sama lo. Kalau double date artinya kita udah pacaran, sedangkan kita kan ..."
Mata Nadia mulai memerah, Faisal bingung harus menjelaskan dengan cara bagaimana.
"Jadi ada pasangan baru nih?"
Faisal menoleh pada sumber suara yang membuatnya ingin menonjok muka orang tersebut.
Ternyata Raka, Syahril, dan Kinanti kini menatapnya penuh tanya, ralat Kinanti tetap tenang seperti biasa.
Faisal dan Nadia kini berdiri di tengah-tengah halaman rumah Sarah, membuat siapapun yang akan masuk ke dalam melewati mereka.
Syahril melemparkan tatapan jahil, "Asik, Faisal nggak jomblo lagi."
"Diem lo!" Kecam Faisal.
"Ih takut, Abang Faisal serem!" Tawa Raka kini turut meledek.
Faisal menatap Kinanti, ekspresi gadis itu datar, membuat Faisal menghembuskan napas gelisah.
"Hati-hati ya Nad," bisik Syahril sebelum ia menarik tangan Kinanti, "Ki masuk yok, biarin mereka pacaran."
"Syahril bangsat!" umpat Faisal hampir tak terdengar.
Ketiga temannya itu, kemudian meninggalkan Faisal yang masih mencak-mencak menahan emosi.
"Faisal, jadi gimana?" Nadia kini terdengar tak sabaran.
Yang akhirnya membuat Faisal memberanikan dirinya, "Nad, sorry ya. Next time deh kita nonton."
Faisal menepuk pundak Nadia sebelum akhirnya berlari menyusul Kinanti yang masuk ke dalam rumah Sarah.
"Kinanti," panggil Faisal setelah berhasil menyusul.
"Lah, kok pacarnya di tinggal Bang?"
Syahril lagi-lagi mancing, emang minta di bejek-bejek pakai cabe itu mulutnya yang lemes.
"Ki, aku nggak pacaran sama Nadia, beneran. Bahkan nggak pacaran sama siapapun," ucap Faisal membuat Kinanti bingung, mengapa pula Faisal harus menjelaskan hal tersebut padanya.
__ADS_1
Begitupun dengan teman-teman nya yang lain, Raka bahkan geleng-geleng kepala.
"Ngapain lo ngomong sama Kinanti?"
Namun Faisal tak menghiraukan temannya itu, ia hanya merasa perlu mengatakan hal ini.
Syahril merangkul pundak Kinanti, yang kemudian gadis itu tepis, "Iya nih. Kinanti aja nggak peduli, iya kan Ki?"
"Ayo pada masuk jangan di pintu!" Suara Ibu Sarah akhirnya menginterupsi mereka yang masih bertahan di pintu membuat beberapa anak tak dapat masuk.
Kinanti tak memusingkan Faisal, ia lantas duduk di atas karpet tebal menyusul Nana yang telah duduk manis bersama anak kecil lainnya.
Ternyata hari mulai sore, sehingga acara syukuran ini akan di tutup terlebih dahulu.
Tahu-tahu Faisal dan Syahril mendesak rebutan duduk di sampingnya, minus Raka yang kini sudah berada tepat di samping Ela, pacarnya itu.
Kinanti menghela napas berat, "Ini pada kenapa sih? kalian mau ngapain?!"
Keluar juga kekesalan Kinanti menyaksikan keributan dua cowok jangkung di sampingnya.
Sarah dan Farah kemudian mendekat, turut duduk di samping Nana yang masih ada celah kosong, sehingga mereka berdekatan pula dengan Kinanti.
"Nggak usah di pikirin Ki, pada masih kayak bocah emang," ujar Sarah menepuk bahu Kinanti.
Setelahnya suara Ayah Sarah terdengar, membuat semua perhatian teralih.
"Assalamualaikum semuanya, terima kasih sudah datang ke acara syukuran bertambahnya usia anak kami, Sarah. Mohon doa nya ya, yang baik-baik pokoknya," tutur Ayah Sarah terlihat begitu santai.
"Aaminn!" Anak-Anak serentak.
"Pulangnya pada hati-hati ya, yang masih tinggal main di sini boleh sekali."
Semuanya lantas bersorak "Mau!"
Setelahnya satu persatu berpamitan termasuk Kinanti, sore ini Neneknya akan pulang makan lebih baik ia segera bergegas.
"Sarah aku pamit juga ya," ucap Kinanti pada sahabatnya.
"Kamu nggak mau di sini dulu bareng kita?"
Sarah terlihat keberatan.
Kinanti pun sebenarnya masih sangat betah untuk tetap tinggal beberapa waktu lagi, namun ia tak dapat melakukannya.
"Maaf ya, aku pengen banget sebenarnya. Tapi aku harus pulang, bisa jadi sebentar lagi Nenek akan pulang dari rumah sakit."
Sarah memeluk Kinanti beberapa saat, "Makasih ya udah dateng. Far, lo masih di sini kan?"
Sarah kemudian beralih pada Farah setelah mengurai pelukannya pada Kinanti.
"Sorry banget Rah, gue udah janjian mau jalan sama Beno," ringis Farah terlihat sedikit merasa bersalah..
"Pacaran mulu lo!"
"Hehe, next time ya kita main ke sini lagi ya Ki?" Farah berusaha mencari dukungan.
Kinanti mengangguk, "Iya, nanti kapan-kapan ya."
"Kinanti jangan pulang dulu, Tante bawain kamu kue-kue ya? mau kan?" Ibu Sarah tahu-tahu menyentuh lembut tangan Kinanti.
"Farah juga ya?" Ibu Sarah kemudian beralih pada Farah.
"Tante, jangan repot-repot," ucap Kinanti merasa tak enak.
__ADS_1
"Iya tante jangan repot ah," ucap Farah mendukung.
"Nggak.Nggak repot sama sekali, kalian jangan pulang dulu ya pokoknya tunggu di sini."
Menolak juga tak enak, Kinanti jadi serba salah. Ia melihat punggung Ibu Sarah yang menjauh, beberapa teman Sarah pun berpamitan, menyalami tangan beliau.
Termasuk Raka juga tampaknya akan langsung meninggalkan rumah Sarah, "Rah, pibesday! Gue balik duluan ya?"
Muncul Ela di samping Raka tersenyum, "Kita mau pergi soalnya Rah."
"Thanks ya udah dateng," ujar Sarah pada temannya.
"Kinanti mau pulang sekarang juga?"
Kini Raka bertanya pada Kinanti, membuat Kinanti sedikit gugup karena sedari tadi ia memperhatikan Raka. Namun Kinanti buru-buru menguasai dirinya, karena ada Ela yang kini juga menatap ke arahnya.
"Iya, bentar lagi langsung pulang."
"Oke, aku duluan ya. Duluan ya guys," pamit Raka sekali lagi.
Satu persatu mulai beranjak, rumah Sarah yang tadinya penuh kini lenggang.
"Ki, Aku anterin ya?"
Faisal menepuk pundak Kinanti dari samping, hampir saja Kinanti melonjak.
"Lho kamu masih ada di sini?"
"Dia kan emang rumahnya di sini Ki, tuh kelihatan tinggal beberapa langkah doang," tunjuk Farah pada rumah bernuansa abu-abu tua yang tepat di sebrang rumah Sarah.
"Oh," jawab Kinanti singkat.
"Aku anterin ya?" tawar Faisal lagi.
Sarah kembali setelah mengantar temannya satu persatu ke depan, "Modus Ki, jangan mau."
"Diam kau!" Faisal membuat gestur agar Sarah tak bicara lagi.
"Nggak usah Faisal, makasih sebelumnya. Tapi aku naik angkot aja. Aku juga sama Nana, nggak mungkin kita boncengan bertiga kan?"
Faisal menjawab dengan cepat, "Bisa kok, Nana duduk di depan."
"Faisal, nggak usah ya. Makasih. Tapi aku mau pulang sendiri."
Faisal menghela napas, Kinanti memang bukan perempuan yang biasanya lebih memilih memohon agar dibonceng dirinya. Sebaliknya Kinanti bersikeras menolak.
"Oke. kalau kamu maunya gitu."
Kinanti mendekatkan tubuhnya pada Faisal, membuat Faisal terkesiap.
"Lagi pula, kenapa kamu nggak nganterin Nadia aja?"
Lalu gadis itu tertawa, ternyata ia mengerjai Faisal.
"Yaampun, hampir aja kaget aku. Kinanti, aku sama Nadia nggak ada apa-apa," ucap Faisal kemudian.
"Kalau ada apa-apa juga nggak masalah," tutur Kinanti enteng ia lalu berlalu begitu saja menarik tangan Nana.
Sedangkan Faisal melongo, sebelum akhirnya menatap Kinanti nanar.
Aku sukanya sama kamu Ki, susah banget sih bikin kamu sadar.
[]
__ADS_1