
Pagi ini Kinanti harus berlarian berangkat ke sekolahnya karena kesiangan.
Tak hanya itu Kinanti harus membereskan baju-baju yang berserakan di lantai, dan ya, itu semua ulang Neneknya.
Neneknya itu punya kebiasaan yang aneh, beliau akan mengambil banyak baju dari lemari hanya untuk menentukan baju mana yang akan dipakainya untuk jualan pagi ini.
Baju yang di rasa kurang cocok akan di letakkan di sembarang tempat. Kinanti yang akan siap berangkat harus mengurungkan niatnya untuk membereskan baju-baju itu terlebih dahulu.
Karena kalau tidak Neneknya juga yang akan marah karena rumahnya berantakan. Kinanti geleng-geleng kepala kalau memikirkan neneknya yang sangat cepat emosi, walaupun itu kesalahan yang beliau ciptakan sendiri.
Seperti dugaannya Kinanti terlambat sampai sekolah. Pagar di hadapannya kini telah tertutup rapat.
Kinanti mengatur deru napasnya yang tersenggal karena berlarian. Saat napasnya mulai tenang terlihat seseorang yang baru datang di sampingnya.
Berbeda dengannya siswa itu tampak tenang menuntun motor yang mesinnya telah dimatikan.
"Yah, telat lagi," kata siswa di sampingnya.
Kinanti berusaha mengingat-ngingat siswa yang berdiri di sampingnya, oh iya, ini Syahril yang kemarin sempat duduk di sampingnya.
Syahril menatap Kinanti, "Kamu telat juga?"
Belum sempat Kinanti menjawab seorang petugas sekolah keluar menghampiri mereka.
"Kalian niat sekolah nggak sih, jam segini kok baru datang."
Kinanti meringis, "Maaf Pak, saya tadi ada kerjaan di rumah."
Petugas itu kemudian membuka gerbang sekolah.
"Masuk! Ada kepala sekolah tuh, nggak takut dikeluarin kalian?!"
Pertanyaan macam apa itu, pikir Kinanti. Tapi jika menilik raut kesal petugas itu pastilah pertanyaan tersebut lebih terdengar seperti ancaman.
"Yaampun Pak, janji deh besok nggak telat lagi," rengen Syahril yang dari tadi tampak diam saja sedikit keberatan dengan apa yang dikatakan Bapak penjaga itu.
"Salah kamu kenapa telat terus!"
"Pak saya baru dua kali ini lho," protes siswa dengan kaki jenjang itu.
Kinanti hanya diam saja dan langsung masuk begitu pagar dibuka lebih lebar.
"Udah buruan! mau masuk nggak?"
__ADS_1
Syahril masih ingin protes namun urung, ia akhirnya hanya diam dan mendorong motornya masuk kedalam.
Kinanti masih diam di tempatnya sampai petugas sekolah tadi mengajak mereka masuk melewati pagar utama yang ukurannya lebih kecil dari pagar masuk sekolah.
Disana terlihat beberapa guru yang sedang berbincang dengan kepala sekolah.
"Pak ini siswa yang telat," tunjuk petugas bertopi itu pada Kinanti dan Syahril.
Kata-kata penjaga tadi berhasil membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya, dan mungkin juga menatap Syahril yang berada di belakangnya.
"Lho ini kan cucunya Pak Dokter itu kan?"
Kinanti hanya menunduk, dia tahu siapa Dokter yang dimaksud itu.
Kakeknya, mantan suami Nenek. Beliau memang seorang dokter yang juga buka praktek di rumahnya sendiri, Dokter yang cukup terkenal, di kota kecil ini.
"Dokter siapa?" Kali ini kepala sekolah yang bertanya.
"Dokter Ibrahim, Pak," jawab guru lainnya, yang entah siapa Kinanti tak berani mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat.
"Syahril kamu telat terus dari kemaren kenapa?" kali ini Syahril yang menjadi sasaran.
"Em maaf Bu, saya bangun kesiangan."
Dari suaranya Kinanti tahu Syahril sedikit gelisah.
"Kinanti Pak. Maaf, saya telat karena tadi kesiangan, juga harus bantuin nenek."
Kinanti berharap dengan alasannya tersebut kepala sekolah dapat memaklumi kesalahannya.
"Sekarang saya tanya, kamu mau sekolah atau mau bantuin nenek kamu?" Kinanti tampak bingung dengan pertanyaan kepala sekolah barusan.
"Em, dua-duanya Pak," cicitnya hampir tak terdengar.
"Kalau mau bantuin nenek kamu silahkan pulang. Tapi kalau masih mau sekolah mulai besok, saya nggak mau lihat kamu telat lagi."
Sekarang Kinanti menyesali jawabannya tadi.
"Maaf Pak," ucapnya terasa sangat berat, bahkan tas beban tas di punggungnya terasa semakin membebani tubuhnya yang lemas.
Kepala Sekolah kembali geleng-geleng kepala, "Kakek kamu dokter lho, masak cucunya ke sekolah aja nggak disiplin gini."
Kinanti tak mengerti hubungannya apa antara Kakeknya yang seorang Dokter, dan dia yang tidak disiplin.
__ADS_1
Padahal Kinanti tinggal dengan Neneknya bukan dengan Kakeknya. Kinanti hanya bisa menunduk menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kalian berdua harus membersihkan sampah di lapangan! Termasuk daun kering," perintah Kepala sekolah dengan tegas.
"Pak tapi kami nanti telat mengikuti pelajaran di jam pertama," ucap Syahril sedikit memelas.
"Memang dari tadi sudah telat kan. Cepat sekarang! Kalau protes lagi saya tambahin."
Tanpa pikir panjang Kinanti bergegas mengerjakan hukumannya, Syahril juga tampak tak ada pilihan lain selain mengekori Kinanti.
Lapangan mereka tepat di tengah-tengah sekolah, di mana kantor kepala sekolah dan ruang guru berada di tengah-tengah, dan ruang kelas letaknya persis mengelilingi lapangan, sehingga bisa di katakan sekolahnya berbentuk lingkaran besar, namun bukan lingkaran sempurna.
Kinanti melepas tasnya yang cukup berat dan meletakkan di atas kursi panjang depan kantor guru, tanpa sadar Syahril mengikuti apa yang Kinanti lakukan.
"Tumben kotor gini sih, daun juga kenapa coba pada jatuh-jatuh gini," gerutu Syahril.
Kinanti tak menjawab, ia mengambil tempat sampah, yang kemudian mulai memunguti sampah.
"Biasanya juga bersih, kayanya emang sengaja tau Ki."
"Biasanya kan di sapu Pak Mamat," ujar Kinanti yang teringat seorang petugas yang tugasnya memang membersihkan sekolah. Tapi dua hari ini tak terlihat mungkin ada keperluan mendesak.
"Kok lo diem aja sih," protes Syahril yang hari ini Kinanti dengar kesekian kalinya.
Kinanti menoleh menatap Syahril sejenak yang kemudian menjawab, "Udah jangan ngeluh mulu ayo cepetan, biar cepet kelar."
"Ini nggak akan selesai daun sebanyak ini, yaampun." Syahril tampak gemas sendiri.
Kinanti hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Kamu emang cucunya Dokter Ibrahim ya?" Kali ini Syahril lebih mendekat.
Kinanti berhenti sejenak, dan memasukkan daun di tangannya ke dalam tong sampah.
Apakah ia harus menjawab hal ini, baru kemaren Kinanti gelisah karena teman-temannya mengetahui kalau dirinya tinggal bersama nenek tanpa orang tua, apakah sekarang juga masa lalu kelam Neneknya harus diketahui oleh orang lain?
Kinanti hanya bisa bergeming, namun gagal saat Syahril bersikeras ingin mengetahui hal tersebut.
"Kinanti, Iya kan? kamu cucunya Dokter Ibrahim itu kan?"
"Udah ngaku aja, tadi guru-guru aja pada tahu," ucap Syahril lagi kini menggoyang-goyangkan tubuh Kinanti yang melamun dengan pikirannya sendiri.
Kinanti akhirnya mengangguk lemah, sudahlah biar saja setelah ini semua orang semakin tahu betapa kejam hidup ini bagi Kinanti dan keluarganya.
__ADS_1
"Iya," jawabnya lemah.
[]