Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 19 : Cantik


__ADS_3

Kinanti mematut dirinya di depan cermin, ia mengenakan dress selutut berwarna biru muda.


Kinanti teringat dress ini ia dapatkan dari Tante Eva, katanya ini baju beliau waktu masih sekolah.


Kinanti memang hampir tak pernah membeli baju, semua pakaian di lemarinya ia dapatkan lungsuran entah dari saudara ataupun tetangganya.


Kinanti membiarkan rambut lurusnya tergerai jatuh di bahunya yang ramping.


Namun sepertinya ada yang kurang, Kinanti akhirnya menambahkan jepit kecil berbentuk pita di atas telinganya sebelah kanan.


"Wah! Kakak cantik banget!"


Kinanti hampir saja terlonjak mendengar seruan Nana yang kini turut menatapnya dari kaca.


"Nana, kamu bikin Kakak hampir jantungan!"


Nana tersenyum merasa bersalah, "Maaf kak."


Hari ini Kinanti memilih untuk mengajak Nana datang ke pesta ulang tahun Sarah, ia pun tak lupa bertanya terlebih dahulu pada sahabatnya itu apakah tak masalah kalau ia mengajak adiknya.


Untung saja Sarah malah bersemangat ingin bertemu dengan Nana.


Lagi pula Kinanti akan merasa sangat bersalah jika ia bersenang-senang, sedangkan Nana harus di rumah sendiri.


Neneknya baru nanti sore akan pulang, hal itu Tante Eva sampaikan melalui pesan singkat semalam.


Kinanti mengambil sisir untuk merapikan rambut adiknya itu.


"Kak," panggil Nana pelan.


"Hmm?"


Nana memainkan karet warna-warni di atas meja rias, "Enak gini ya, nggak ada Nenek. Hidup kita tenang banget. Aku lebih suka hidup berdua dengan Kakak."


"Hushh! nggak boleh gitu. Mau bagaimanapun beliau Nenek kita Dek."


Meskipun dalam hati Rani bersorak setuju, tetap saja ia harus memberikan contoh yang baik pada Nana.


"Ikat dua ya?" Kinanti meminta persetujuan Nana dengan menatap adiknya dari cermin.


Nana mengangguk, "Emang Kakak lebih suka kalau Nenek ada di rumah?"


Kali ini Kinanti sempat bingung menjawab, "Ya enggak sih," namun ia buru-buru meralat, "Tapi ya lebih baik Nenek sehat, dari pada beliau terbaring di rumah sakit."


"Kalau Nenek lagi nggak sakit, kerjaannya mukulin aku," ucap Nana cemberut.


"Sabar ya. Semoga setelah Nenek pulang nanti, nggak galak lagi."


Ya meskipun pasti itu sangat mustahil, apalagi setelah apa yang Ayah Kinanti lakukan.

__ADS_1


"Mendingan sekarang kita berangkat ya, sebelum telat nanti datang ke acaranya."


Pesta ulang tahun Sarah di mulai pukul satu siang, tak seperti pesta malam pada umumnya.


Karena akan ada santunan anak yatim, kalau acaranya diadakan malam hari sahabatnya itu khawatir jika acaranya menjadi pesta malam anak-anak muda.


Kalau ada yang sampai nakal membawa minuman bisa bahaya.


Kinanti bersama Nana akan naik angkot, ia sudah hapal betul jika ke rumah Sarah, karena sama dengan kompleks perumahan Kakeknya.


Mungkin jika sempat nanti Kinanti akan mampir, itupun kalau Kakeknya sedang tidak sibuk.


Karena kalau Kakek tak ada Nenek tirinya lah yang akan menyambut mereka dengan muka tak suka, yang selalu dengan sengaja diperlihatkan.


Di sini nasib Kinanti sama dengan Ayahnya, sama-sama anak broken home.


Yang dirinya tak menyangka, kenapa pula Ayahnya tega melakukan hal yang sama pada anaknya sendiri, bukankah beliau telah lebih dulu merasakan sakitnya jadi anak dari orang tuanya yang bercerai? Kinanti hanya dapat menghela napas.


Mungkin memang Ayahnya tak pernah memikirkannya sejauh itu.


Sekitar lima belas menit Kinanti sampai juga di kompleks Imam Bonjol, meski tak langsung turun di depan rumah Sarah, ia hanya perlu berjalan kaki beberapa meter saja.


"Kak, aku malu hehe," ucap Nana setelah mereka turun dari angkot.


Kinanti terkekeh, "Sejak kapan kamu tahu malu?"


Kinanti gemas ia kemudian mencubit pipi gembil adiknya, "Tenang aja, teman Kakak pada baik kok. Nanti kamu ketemu banyak kue yang enak-enak, jadi nggak usah malu."


"Serius Kak?" Mata Nana berbinar mendengar banyak kue yang akan tersaji.


"Iya beneran."


Kinanti menoleh ke arah kanan, tepat pada rumah dua tingkat Kakeknya. Namun sayang rumah itu tertutup terlihat tak ada orang satupun.


Rumah Sarah berjarak sekitar tiga rumah lagi dari rumah Kakeknya, jadi kalau tidak salah pagar berwarna biru tua itu adalah rumah Sarah.


Pagarnya terlihat terbuka, dan mulai ramai sebelum Kinanti yang menuntun tangan Nana memasuki rumah tersebut, mata Kinanti menangkap seseorang yang juga berjalan hendak masuk memainkan ponsel nya.


"Faisal?" panggil Kinanti menghentikan langkah Faisal.


Hari ini Faisal mengenakan kaos garis-garis berwarna biru serta celana jeans abu-abu, rambutnya tampak di sisir rapi seperti biasa.


Pemuda itu lalu mengangkat wajahnya, namun setelah matanya bertemu Kinanti entah mengapa ia sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersadar.


"Oh Hai! Kinanti kamu datang juga."


Faisal buru-buru memasukkan ponsel nya, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Man, Kinanti dengan dress selututnya tampak sangat cantik.


Untung saja Faisal tidak ngeces, bisa makin ilfil Kinanti nanti.

__ADS_1


"Iya, kemaren Sarah datang ke rumah ngasih undangan."


Faisal kemudian teringat bahwa kemaren ia pun berniat menjenguk Kinanti, sebelum rasa tak enak hati melingkupinya.


"Oh iya, kemaren anak-anak ke rumah kamu ya. Ini adek kamu? Hai cantik!"


Faisal beralih pada Nana, ia kemudian mengajak Nana bertos ria, untungnya Nana juga anak yang ramah, ia tersenyum lebar pada Faisal.


"Nama kamu siapa?" Faisal sedikit menunduk untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Nana.


"Nana Kak!"


"Lucu banget kamu," ucap Faisal menepuk pelan kepala Nana.


"Faisal, aku mau minta maaf kalau beberapa hari lalu mungkin kata-kata aku ada yang nggak enak mungkin?" Kini Kinanti berusaha memberanikan dirinya, bagaimanapun Faisal sudah menolongnya hari itu.


Faisal tertawa, ia tak pernah menyangka kalau Kinanti akan meminta maaf padanya, padahal ia merasa Kinanti tak melakukan kesalahan apapun.


"Nggak usah minta maaf Ki. Aku udah seneng lihat kamu baik-baik aja," tutur Faisal, entah kenapa ia terlihat lebih kalem hari ini.


Kinanti tersenyum canggung, bingung harus menjawab apa, yang akhirnya keluar dari mulutnya, "Makasih."


"Lagi pula," lanjut Faisal menatap Kinanti lekat, "Kamu cantik hari ini."


Kinanti sempat terbawa suasana, sebelum akhirnya ia menyadari bagaimana tingkah jahil Faisal biasanya, "Ck! Mulai deh! Nggak usah gombal aku tahu kalau kamu cuman mau ngerjain aku kan?!"


Sebenarnya Kinanti gugup, baru pertama kali ada laki-laki yang menyebutnya cantik, namun Kinanti memilih berpura-pura biasa saja.


Ia lantas menarik tangan Nana untuk masuk ke dalam.


Faisal buru-buru menyusul Kinanti, "Ki, aku serius kamu cantik!"


Belum juga Faisal dapat meraih tangan gadis yang belakangan ini ia pikirkan, Raka muncul dari dalam rumah Sarah.


"Kinanti sini! Ini Nana kan?"


"Iya kak!"


Raka entah melihat Faisal atau tidak, namun pemuda itu langsung menarik tangan Nana di sisi satunya, Nana pun dengan senang hati memberikan tangan pada Raka yang tersenyum hangat.


"Hai Raka," sapa Kinanti tersenyum manis.


Faisal menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras, yaelah ganggu mulu tu orang!


[]


Ps. Haduhhh ini kenapa Nana mau sama semuanya?


Ayo Na, pilih satu siapa yang paling kamu suka untuk Kak Kinanti😂

__ADS_1


__ADS_2