
Faisal baru kembali ke sekolah setelah waktu istirahat berakhir.
Tadinya ia akan menuju kantin untuk mencari Kinanti, namun ia urungkan siapa tahu Kinanti berada di kelas.
Benar saja Kinanti ternyata tengah menelungkup kan kepalanya di atas meja. Pasti Kinanti tak berani keluar kelas karena rambutnya.
Faisal meletakkan tasnya di bangku sebelum menghampiri Kinanti.
Namun niat itu tak dapat ia lakukan saat Nadia menghampirinya.
"Sal, temenin ke UKS yuk."
Faisal menatap Nadia jengah, semakin hari Nadia semakin membuatnya tak nyaman.
"Sama yang lain aja ya, gue ada urusan," ucap Faisal sambil lalu.
"Gue tadi jatuh di lapangan, nih jadi lecet gini," tutur Nadia memperlihatkan sikunya yang berdarah.
"Kenapa tadi nggak langsung ke UKS aja? Kan ada Mbak Sari yang akan ngobatin lo," ujar Faisal menyebutkan salah satu penjaga UKS.
Nadia memasang ekspresi sedih yang biasa ia lakukan, "Tadi Mbak Sari juga nggak ada."
Gadis itu kemudian meniup sikunya sendiri.
Bahu Faisal menurun, kalau sudah begini ia tak enak jika menolak.
Faisal kembali melihat ke arah Kinanti yang sekarang juga tengah melihatnya.
Kinanti tersenyum tipis, sebelum gadis itu menyadari ada Nadia di samping Faisal.
"Ayo temenin!"
Nadia kini mulai menarik tangan Faisal, membuat Faisal kembali beralih padanya.
"Sama Ela aja ya Nad?" Faisal masih berusaha membujuk.
Nadia menatap seisi kelas, "Ela nggak tahu di mana. Ayo dong, kamu tadi pagi juga nemenin Kinanti kan?"
Faisal menatap Nadia makin jengah, Kinanti sudah pasti berbeda.
Setelah Faisal mendapati Kinanti yang kembali menjatuhkan kepalanya, ia kemudian menepis tangan Nadia.
"Yaudah Ayo!"
Faisal kemudian keluar mendahului Nadia, ia bahkan tak repot-repot untuk menunggu Nadia yang kesulitan mengejar langkahnya.
"Faisal tungguin!"
Faisal menatap kebelakang sesaat, "Keburu masuk, gue belum ganti baju."
Seorang murid yang keluar dari kantor menyapa Faisal.
__ADS_1
"Kemana sal?"
"UKS," jawabnya singkat tanpa menghentikan langkahnya.
Lalu murid itu mendapati Nadia yang berjalan cepat.
"Jadi Dokter lo hari ini," canda murid itu yang masih di dengar oleh Faisal.
Karena murid itu pula yang tadi pagi melihat Faisal menuju UKS bersama Kinanti.
Basa-basinya di hadiahi umpatan oleh Faisal, "Bacot!"
Berbeda dari tadi pagi, Mbak Sari ternyata ada di dalam tengah berbicara entah dengan siapa di balik tirai.
Setelah Faisal memanggil petugas kesehatan tersebut, Mbak Sari muncul.
"Kenapa?" tanya Sari pelan, kemudian menjatuhkan pandangannya pada Nadia yang berada di balik tubuh Faisal.
"Siapa Mbak?" Faisal malah kembali bertanya pada Mbak Sari yang membawa baskom berisi air di dalamnya.
"Anak kelas sebelas, lagi haid."
Faisal kemudian mengikuti Mbak Sari ke mejanya, "Tolong obatin luka teman saya Mbak."
Mbak Sari menatap Faisal dan menatap Nadia secara bergantian.
"Yang tadi pagi?"
Mbak Sari mengambil kotak P3K kemudian menyuruh Nadia untuk duduk di tempat tidur.
"Jatuh ya?" Tanya Mbak Sari tersenyum pada Nadia.
Nadia mengangguk, "Iya Mbak, kesandung tadi."
Mbak Sari mulai mengobati luka Nadia, "Kamu pacarnya Faisal?"
"Bukan, Mbak Sari. Keseringan gosip sama anak-anak nih pasti," seloroh Faisal.
Nadia hanya tersenyum kikuk.
"Beneran bukan kamu yang Faisal ajak tadi pagi?"
Tanya Mbak Sari tak menghiraukan Faisal yang masih berada di ruangan kesehatan tersebut.
"Bukan, Mbak.
Bukan Nadia yang menjawab, melainkan Faisal yang kini berdiri di samping Nadia.
Mbak memutar matanya, "Banyak banget cewek kamu Sal. Nggak boleh lho, mainin hati perempuan."
"Aku nggak pernah mainin perempuan," bela Faisal.
__ADS_1
"Lha ini apa?" Mbak Sari menunjuk Nadia setelah menempelkan plester pada siku gadis itu.
Faisal menggeleng, kenapa pula Mbak Sari mendesaknya, "Teman Mbak, semuanya teman."
"Yang tadi pagi juga?"
Faisal tertawa, "Ada deh!"
"Tuh kan! Jangan dekat-dekat dia ya! Buaya Faisal tu," ucap Mbak Sari kemudian menatap Nadia.
"Iya Mbak, saingan saya terlalu banyak."
Faisal hampir saja tersedak, Nadia kenapa mengatakan hal itu? Jadi Nadia masih berharap padanya?
Mbak Sari pun sepertinya juga kaget dengan jawaban Nadia. Mulanya diam kemudian berpura-pura tertawa.
"Wah parah lu Sal!"
Faisal kesal bukan main, "Mbak kok tahu kalau aku tadi pagi ke sini?"
"Aku tadi pagi lihat, mau masuk nggak jadi," jawab Mbak Sari enteng.
"Kenapa nggak masuk Mbak, gue udah bingung nyariin perlengkapan buat obatin luka."
Mbak Sari malah ketawa-tawa tanpa dosa.
"Kinanti kenapa?" Tanya Nadia kemudian.
Faisal yang melihat tangan Nadia telah terbalut dengan sempurna segera mengajak gadis itu masuk kelas.
"Ayo ke kelas, gue harus ganti baju. Mbak Indah makasih ya!"
Faisal keluar begitu saja, dengan Nadia yang berlari kecil menyusulnya.
"Faisal! Kamu sama Kinanti sebenarnya ada apa sih? Kalian pacaran?"
Nadia menarik tangan Faisal, "Sal?!"
Mendapat pertanyaan ini dari mulut seseorang yang ingin Faisal hindari sebenarnya mudah, tinggal dia bilang bahwa benar Kinanti pacarnya.
Namun sayangnya hubungan Faisal dengan Kinanti belum sejauh itu, belum lagi Faisal khawatir kalau ada yang menganggu Kinanti nantinya.
"Maaf Nad, aku nggak ada waktu untuk ngomongin hal ini sama kamu," tutur Faisal melepaskan tangan Nadia perlahan.
Faisal kemudian berlari meninggalkan Nadia yang diam-diam semakin menyimpan dendam pada Kinanti.
"Apa sih hebatnya Kinanti!"
Nadia menggertak kan giginya, sedari tadi ia menyimak percakapan Faisal dengan Mbak Sari.
Belum lagi tadi pagi seisi kelasnya membicarakan Faisal dan Kinanti yang tadi pai terlihat bergandengan menuju UKS, Nadia tak terima karena Faisal lebih memilih Kinanti dari pada dirinya.
__ADS_1
[]