
Kinanti menghela napas lega saat sekolahnya masih sepi.
Pagi ini memang Kinanti bertekad untuk berangkat lebih pagi, selain karena pekerjaannya selesai lebih cepat kinanti merasa malu karena rambutnya lebih pendek dari biasanya.
Padahal Kinanti yakin tak ada juga yang akan memperdulikannya.
Meskipun Kinanti telah berusaha untuk memperbaiki rambutnya, tetap saja Kinanti nggak pede dengan penampilannya.
Kinanti sudah bertekad hanya akan tidur seharian hari ini. Ia kemudian menatap tangannya yang masih terbungkus dengan kain bekas goresan gunting kemaren.
Mungkin nanti dia akan ke UKS meminta perban.
Saat Kinanti masuk ke kelas ia hampir saja jantungan, Faisal telah duduk di sana menggunakan seragam olahraganya.
"Faisal?"
Faisal yang memainkan ponselnya mendongak, "Kinanti?"
Kinanti tersenyum senang, teringat pertengkaran mereka kemaren.
"Kamu pagi banget hari ini," ucap Kinanti lalu melewati meja Faisal begitu saja.
Kinanti menyadari tatapan Faisal sepertinya menyadari penampilan Kinanti yang berubah.
Ternyata benar Faisal mengekori Kinanti hingga gadis itu duduk.
"Kamu, potong rambut?"
Kinanti meringis, "Iya nih."
Kinanti lantas menyentuh rambut sepundaknya yang ia biarkan begitu saja.
Faisal semakin maju mendekatinya, hampir saja memangkas jarak antara mereka membuat Kinanti mundur.
"Kenapa Sal?'
Faisal tak menjawab, pemuda itu menyentuh rambut Kinanti.
"Yakin kamu potong rambut?" Faisal menatap Kinanti menyelidik, "Bukan ulah Nenek?"
Kinanti jadi kikuk sendiri, apa Faisal dapat melihatnya yang tengah berbohong?
"Emang nggak rapi ya?"
"Enggak. Ini kelihatan banget di potong paksa, dan tangan kamu ....... "
Faisal kini melepas rambut Kinanti, tatapannya jatuh pada tangan Kinanti yang berusaha disembunyikan.
"Kinanti," panggil Faisal lembut, "Ikut aku."
Faisal tak menunggu jawaban Kinanti, ia lantas menarik tangan Kinanti lembut.
Kinanti merasa gugup, namun juga ada sebagian hatinya yang menghangat, "Mau kemana?"
"UKS," jawab Faisal tanpa menghentikan langkahnya.
UKS berada di sebelah lapangan atau lebih tepatnya dekat ruang guru, berjalan dengan tangan yang di tarik Faisal seperti ini membuat beberapa siswa menatap heran.
Tapi sepertinya Faisal tak terusik sama sekali, apalagi waktu ada siswa yang mengenakan seragam olahraga sama seperti pemuda itu Faisal hanya bilang mau ke UKS sebentar.
Kinanti sebenarnya merasa senang, namun juga malu, setelah ini pasti banyak yang akan membicarakannya.
Setibanya di UKS Faisal masih diam, namun pemuda itu membiarkan pintu UKS tetap terbuka.
Kinanti tak banyak bicara, namun ia baru menyadari wajah Faisal terlihat marah.
"Kamu kenapa?" Kinanti memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
UKS yang masih lenggang membuat Faisal harus mencari sendiri apa yang ia butuhkan, sepertinya penjaga ruang kesehatan sekolah belum datang.
"Kamu duduk dulu ya," suruh Faisal mendorong tubuh Kinanti agar duduk di salah satu tempat tidur.
Kinanti menurut, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk dirinya banyak protes.
Faisal mengambil kursi yang ia letakkan tepat di hadapan Kinanti, dengan kasa dan betadine di tangannya.
"Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini terus. Sakit banget rasanya. Kamu tinggal sama aku aja ya?"
Faisal membuka kain yang mengikat tangan Kinanti asal-asalan itu.
"Ngawur kamu!"
Faisal tertawa sumbang, "Nenek kamu jahat banget."
Kinanti tak menjawab, ia memperhatikan tiap gerakan Faisal yang membersihkan tangannya menggunakan alkohol.
Terasa sedikit perih membuat Kinanti menarik tangannya pelan, namun langsung Faisal tarik kembali.
"Tahan ya, sakit sebentar."
Kinanti menatap Faisal, "Kamu mau tanding basket lagi?"
"Iya, sekolah kita masuk semi final."
Kinanti berbinar, "Wah! Kamu hebat banget."
Faisal tertawa kini wajahnya terlihat tak kesal seperti tadi, "Sama tim aku juga."
"Iya, itu pasti."
Faisal meniup luka Kinanti sebelum ia mengolesi salep di sana.
"Kali ini karena apa?" tanyanya kemudian.
Faisal berdecak, "Nenek kamu kelewatan."
Kinanti tak menjawab, ia malah asik memperhatikan Faisal di hadapannya.
Kenapa bisa Faisal suka padanya, padahal dengan tampang cowok itu pasti akan dengan mudah menggaet gadis seperti Nadia atau Ela yang memang populer di sekolah.
Kinanti masih larut dalam pikirannya sendiri saat tiba-tiba ada angin masuk yang mengenai wajahnya membuat Kinanti harus menutup mata.
"Ih! Faisal!"
Faisal tertawa terbahak-bahak, ternyata dialah yang telah meniup mata Kinanti.
"Mulai jahilnya!"
Faisal semakin tergelak, "Lagian kamu kenapa ngelihatin aku."
Pipi Kinanti kini memerah, karena tertangkap basah.
"Asik! Kinanti mulai suka sama aku," seloroh Faisal tertawa-tawa kesenangan.
"Enggak ya! Jangan kepedean."
Masih dengan sisa tawanya Faisal memotong kasa yang kemudian ia gunakan untuk menutup luka Kinanti.
"Bawa hp nggak?" tanya Faisal.
Kinanti takjub dengan kelihaian Faisal dalam membungkus lukanya, "Bawa, kenapa?"
"Catat nomor ponsel aku, jaga-jaga kalau kamu kaya gini lagi."
"Dih, ngapain," jawab Kinanti cepat.
__ADS_1
"Aku kayanya butuh kotak P3K yang bisa dibawa kemana-mana," imbuh Faisal lagi.
Kini luka ditangan Kinanti telah terbalut sempurna, lengkap dengan plester hansaplas.
"Sini," ucap Faisal menengadahkan tangannya.
Kinanti bingung, "Apa?"
"Hp kamu."
Kinanti kemudian mengeluarkan hp androidnya yang sudah sangat ketinggalan jaman. Benda itu satu-satunya pemberian Ayahnya.
Faisal mengetikkan sesuatu di sana yang kemudian pemuda itu mengetikkan sesuatu pada ponselnya sendiri.
"Ngapain?" Kinanti memajukan tubuhnya untuk melihat apa yang Faisal lakukan.
Faisal masih sibuk dengan ponsel di tangannya, "Jangan dekat-dekat, nanti dikira kita ngapain."
Refleks Kinanti kembali mundur, "Ck! Nggak jelas."
"Kalau aku sih nggak masalah kamu mau deket-dekat. Tapi kita di sekolah, aku nggak mau ada yang ngomongin kamu."
"Siapa sih yang mau deket-deket kamu!"
Faisal tertawa renyah hingga hilang keseimbangan, membuat pemuda itu hampir terjatuh kalau saja Kinanti tak menahannya.
"Kalau Hp itu jatuh, aku nggak punya yang lain," kata Kinanti yang gugup kemudian melepas tangan Faisal yang tadi dirinya tahan.
Faisal yang juga terlihat gugup mengembalikan ponsel Kinanti.
Hampir saja Kinanti membanting ponselnya saat membaca nama yang tertera di layar.
Faisal Ganteng :)
"Faisal!"
Pemuda itu menyimpan kontaknya dengan nama tersebut.
Faisal hanya tertawa-tawa bodoh, "Nanti sore main mau?"
"Aku nggak bisa," jawab Kinanti jujur.
Ia kemudian teringat pada telpon Raka kemaren malam.
"Nggak boleh Nenek ya? Tenang nanti aku ke rumah kamu deh," ucap Faisal enteng.
"Enggak, aku ada janji sama Raka," jawab Kinanti yang kemudian bangkit ia harus segera masuk kelas karena bel telah berbunyi.
"Raka?"
Kinanti mengangguk, "Raka ngajak aku ke rumahnya, katanya orang tua dia mau ketemu aku."
"Ha? Ngapain?" Faisal meletakkan kembali semua peralatan yang tadi dirinya ambil ketempat semula.
Kinanti mengangkat bahunya, "Aku nggak tahu. Semangat ya tanding basketnya."
Kinanti berusaha melemparkan senyum semanis mungkin untuk Faisal, "Makasih udah perban luka aku."
Faisal mengacak rambut Kinanti gemas, "Iya sama-sama."
"Faisal!"
Kesal Kinanti karena rambutnya semakin berantakan.
Kinanti tak sadar bahwa saat ini Faisal setengah mati menahan rasa penasaran.
Apakah ini yang Raka maksud waktu itu, kalau sahabatnya itu berhak menjaga Kinanti?
__ADS_1
[]