
Sekolah masih tampak seperti biasanya, tak ada yang berubah. Semua siswa masuk di jam yang sama, proses belajar berlangsung kemudian istirahat dan pulang.
Sarah merasa khawatir dengan Kinanti pasalnya ini sudah hari kedua temannya itu masih tak menampakkan diri, bahkan pesan yang Sarah kirim masih tak dibalas.
Ditengah kesedihan yang Kinanti alami, tetap saja dunia ini akan berjalan seperti biasa.
Namun Sarah masih tak menemukan jawaban mengenai masalah yang tengah Kinanti hadapi.
Sarah kemudian memutuskan untuk menemui Kinanti sepulang sekolah, meskipun Kinanti kerap melarangnya, kali ini Sarah tak peduli.
Lantas ia coba untuk mengajak Farah sahabatnya yang saat ini sibuk dengan ponsel disampingnya, "Far, hari ini kita kerumah Kinanti, yuk?"
Farah meletakkan ponselnya, "Emang nggak apa-apa? Terakhir kali kita diam-diam ngikutin Kinanti pulang, dia marah banget, lho."
Memang keduanya pernah sekali mengikuti Kinanti, setelah mereka mendengar Kinanti menangis di toilet sekolah.
Bukan tanpa alasan, keduanya menyadari Kinanti terlihat tak baik-baik saja, ditambah lebam di seluruh muka sahabatnya itu membuat mereka khawatir setengah mati.
"Masalah itu kita pikirin belakangan, yang penting sekarang keadaan Kinanti aman atau sebaliknya. Gue khawatir banget."
Sarah tak berbohong, dua hari ini ia selalu merasa gelisah.
"Iya juga, gue juga khawatir sama Kinanti. Takutnya kenapa-napa lagi," imbuh Farah memiliki perasaan yang sama.
"Nah, itu dia. Apalagi Neneknya kaya gitu kan. Kemaren gue denger lagi katanya emang Kinanti sama adeknya selalu di siksa sama Nenek mereka."
Sarah tanpa sadar menaikkan suaranya karena merasakan emosi.
"Lo kenapa banyak tahu tentang Kinanti daripada gue?" Tanya Farah penasaran.
Sarah mengikat rambutnya karena sedikit gerah, "Gue tetanggaan sama kakek Kinanti."
"Ha?" Farah memang terkejut, karena dia memang dekat dengan Kinanti akan tetapi ia tak mengetahui begitu banyak cerita keluarga sahabatnya.
Farah hanya tahu bahwa Kinanti tinggal dengan neneknya karena kedua orang tuanya bercerai.
__ADS_1
Sarah sepenuhnya menghadap pada teman sebangkunya, "Gini, jadi Nenek Kinanti itu menikah sama Kakeknya, tapi sekarang udah cerai. Akhirnya mereka pisah, nah, Kakeknya Kinanti sekarang udah punya keluarga baru kebetulan tinggalnya di kompleks perumahan sama kaya gue."
"Komplek Imam Bonjol?" Tanya Farah memastikan.
"Iya, satu kompleks sama gue. Tapi lo tahu nggak, istri keduanya kakek Kinanti itu masih suka ghibahin mantan suaminya itu, ya nenek Kinanti ini. Makanya Ibu gue juga sering dengar cerita kalau Kinanti sama adeknya suka dipukul, ya dari cerita istri kedua kakek Kinanti ini." Sarah coba menjelaskan sesingkat mungkin pada temannya agar mudah dipahami.
"Bentar, kok lo tahu kalau itu istri mudanya kakek Kinanti. Maksud gue gini, oke kalian tetanggaan, kok lo tahu Kinanti cucunya tetangga lo ini?" Farah tampaknya masih membutuhkan penjelasan lebih.
"Satu sekolah tahu kali Far, kalau Kinanti cucunya dokter Ibrahim, tau sendiri dokter itu obatnya manjur makanya seluruh kota ini kenal palingan sama beliau. Kinanti juga setiap tahun kalau lebaran pasti dateng kerumah Kakeknya, sama Tentenya gitu," terang Sarah.
Farah mulai mengangguk-angguk paham, "Kenapa Kinanti nggak milih tinggal sama kakeknya ya?"
"Mungkin dia nggak mau ninggalin neneknya yang sendiri. Tapi gue juga ogah kali, istri kedua dokter Ibrahim tuh nyinyir banget. Apalagi anaknya ada empat masih tinggal di rumah itu semua, ya pasti ributlah kalau Kinanti tinggal disitu," timpal Sarah coba menebak apa yang Kinanti pikirkan.
"Iya juga sih. Bentar, kalau kompleks perumahan Imam Bonjol berarti lo, Faisal, Syahril, tetanggaan dong?" Tanyanya kemudian.
"Tambah satu lagi, Pak Bima," jawab Sarah sambil mengacungkan satu jarinya.
"Dih, lo sama Pak Bima emang satu rumah," ujar Farah dengan memutarkan bola matanya.
Belum sempat Farah menjawab seseorang terdengar menjawab, "Gue ikut!"
Sarah dan Farah melihat ke arah jendela kelas yang memang tengah dibuka, posisi tempat duduk keduanya yang tepat di samping jendela membuat seseorang dari luar tak sulit untuk mendengar percakapan.
Ternyata bukan hanya satu orang, dua kepala sudah muncul di balik jendela kelas, "Gue ikut ya?" ulangnya lagi saat tak mendapatkan jawaban, sedangkan kedua orang yang ditanya masih tampak terkejut.
"Yaampun kalian dari tadi nguping kita?" Alih-alih menjawab Sarah menuduh kedua orang itu, yang ternyata Faisal dan Raka.
"Enak aja, baru lewat kita. Iya kan, Ka?" Faisal tak terima dituduh.
"Eh sebentar, kalian udah baikan?" Tanya Farah mengingat momen di kantin dua hari lalu.
Raka mengedikkan bahunya, "Kita emang nggak pernah lama-lama kalau ribut. Lagian nggak ada yang perlu dipermasalahkan."
Sarah melipat kedua tangannya, "Nggak percaya gue, kalau Faisal sependapat sama lo. Iya kan Sal?"
__ADS_1
Faisal kini menatap tajam sahabat di sampingnya, "Lihat nanti deh, kalau alasan dia masuk akal gue terima. Kalau sebaliknya berarti dia ngajak gue ribut, aw!" Faisal meringis saat kakinya diinjak.
Sarah kini menatap Raka curiga, "Alasan apa ? Lo punya alasan kuat buat deketin Kinanti?"
"Udah nggak usah dengerin Faisal. Jadi kalian mau kerumah Kinanti kapan?" Raka memilih untuk tak menghiraukan pertanyaan Sarah.
Meskipun masih penasaran namun Sarah mengesampingkannya saat ini, karena itu tak sulit baginya, nanti Sarah cukup mencari tahu lewat tetangganya yang menyebalkan itu.
"Nanti pulang sekolah," jawabnya kemudian.
"Oke kita ikut!" Jawab keduanya dengan serempak, sebelum akhirnya menghilang dari balik jendela.
Farah yang tengah menggulir ponselnya terkejut, "Ya ampun, besok lo ulang tahun kan?"
Sarah kemudian teringat sesuatu, ia dengan girang berkata, "Sekarang kita punya alasan buat ke rumah Kinanti kan?"
Keduanya kemudian sumringah, "Undangan buat gue mana?" Farah meletakkan kedua tangannya di depan muka Sarah dengan gestur meminta.
"Hampir aja gue lupa kalau udah nyiapin undangan, karena dari kemaren kepikiran Kinanti."
Lalu Sarah membuka tas ranselnya, untuk mengambil secarik kertas kecil dengan gambar kue beserta foto kecilnya di sana.
Orang tua sarah memang selalu membuat acara sederhana untuk merayakan bertambahnya usia anak-anak mereka.
Meskipun sudah dewasa, hal seperti itu tak pernah orang tuanya lupakan.
"Tapi Far, apa gue nggak masalah bikin acara gini padahal Kinanti lagi ada masalah," ucap Sarah sambil memberikan kartu undangan kecil pada sahabatnya itu.
"Lho, ini malah ide bagus. Kalau Kinanti lo undang, jadi dia bisa sedikit punya waktu buat nggak mikirin masalahnya. Ya, meskipun cuma sebentar, tapi menurut gue dia bisa have fun sama kita," jelas Farah dengan ide tersebut.
"Semoga aja, ya."
Sarah berharap apa yang dikatakan Farah benar, semoga dengan datang kerumahnya nanti, dapat membuat Kinanti sejenak melupakan masalahnya.
[]
__ADS_1