
"Pagi guys!" Itu Raka, ia kenal betul dengan suara itu.
"Mari kita sambut pasangan kita, Romeo dan Julietnya kelas sepuluh!" Sorak seseorang yang Kinanti ketahui namanya Reno.
Ella dengan wajah yang tampak kusut menimpali, "Apaan sih, nggak jelas banget!"
"Wah prahara rumah tangga kembali terjadi, lo apain Ka, dia?" Faisal tak kalah heboh.
Raka hanya tersenyum, "Biasa cewek lagi PMS."
"Wah harus waspada lo, kalau perlu siap sedia," timpal anak lainnya yang Kinanti lupa namanya itu.
Kinanti sedikit merasa iri dengan Ella, bukankah gadis itu sangat bahagia ada seseorang disampingnya?
Bahkan seseorang yang akan dengan sabar menghadapinya saat tengah datang bulan.
Andai saja Kinanti punya pacar juga seperti Raka, pasti hidupnya akan berjalan sedikit menyenangkan.
Astagfirullah, Kinanti menggelengkan kepalanya, apa yang baru saja dirinya pikirkan.
Inget Kinanti bahkan kamu nggak punya waktu untuk hal itu.
"Selamat pagi anak-anak!" Seorang guru memasuki ruang kelas.
Seperti aba-aba semua otomatis duduk di tempat masing-masing. Namun Kinanti sedikit khawatir pasalnya teman sebangkunya yaitu Syahril masih belum masuk kelas.
"Perkenalkan saya Bima, yang akan mengajar pelajaran Seni Budaya di kelas ini, mungkin beberapa siswa sudah mengenal saya, tapi tidak masalah saya akan menilai dengan adil." Berbeda dengan guru kebanyakan Bima tampak lebih santai.
Kinanti belum pernah melihat Bima sebelumnya, tapi rasanya ia mengenali seseorang yang sangat mirip dengan pria saat ini berdiri di depan kelas.
"Kursi paling belakang siapa itu, kok masih ada yang kosong bangkunya?"
Tanyanya kemudian. Sontak seluruh penjuru kelas melihat tempat duduk disebelah Kinanti.
"Itu Syahril Bang, eh Pak. Dia memang selalu telat, Nah, tuh anaknya!"
Faisal menunjuk ke arah pintu dimana seseorang yang sedari tadi dibahas dengan santai memasuki kelas.
Melihat kehadiran Syahril, akhirnya Kinanti kini dapat bernapas dengan lega.
"Mohon maaf saya telat Pak, lho kok .... " Syahril tampak sedikit terkejut melihat Bima.
Bima dengan santainya melipat lengan baju hingga siku, "Ternyata hari pertama saya masuk Nusa Bangsa langsung ketemu sama siswa yang akan menguji kesabaran."
"Mohon maaf Pak, saya tadi pagi belum sarapan jadi ke kantin sebentar."
Meski dilingkupi rasa penasaran kenapa tiba-tiba tetangganya ada di sekolah bahkan dikelasnya Syahril mencoba bersikap senormal mungkin layaknya siswa pada umumnya.
"Kira-kira cocoknya kita hukum apa ya?"
Bima mencoba untuk memanfaatkan posisinya saat ini dengan sedikit bermain-main dengan Syahril.
Syahril melotot tak terima, "Pak, saya janji nggak akan mengulanginya lagi. Saya langsung duduk aja ya?"
__ADS_1
"Harus dihukum Pak," celetuk siswa berambut sedikit pirang bernama Liam.
Sontak seisi kelas bersorak kompak, "Hukum! Hukum! Hukum!"
"Oke, tenang ya. Jangan mengganggu kelas lainnya yang tengah belajar," tutur Bima coba menenangkan kelas yang tampak sedikit kacau.
"Em, Syahril, karena ini pelajaran Seni Budaya, saya minta kamu menyanyikan sebuah lagu."
Kini semuanya bersorak senang, layaknya mendapatkan tiket konser gratis. Berbeda dengan Kinanti yang hanya diam sedari tadi mengamati apa yang terjadi dikelasnya, ia tak banyak memberikan komentar.
"Mohon maaf Pak, saya tidak bisa nyanyi. Saya janji besok-besok nggak akan telat, beneran deh Pak, boleh saya duduk ya?" Dari pada menjalankan hukumannya Syahril berusaha memohon agar diloloskan kali ini.
"Ya tidak bisa. Silahkan Syahril. Anak-anak mari kita saksikan penampilan Syahril!" Sambut Bima bersemangat layaknya MC pencarian bakat yang disambut sorakan dari siswa di kelasnya.
Tak ada pilihan lain, kini Syahril hanya bisa menatap teman sekelasnya dengan rasa kesal.
Lagu apa yang harus dia nyanyikan sekarang.
Akhirnya dia memutuskan untuk menyanyikan lagu Dewa 19 yang berjudul Risalah Hati.
"Reff aja ya Pak," tawarnya dengan pasrah.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, akhirnya Bima mengiyakan tawaran Syahril tersebut.
"Iya, boleh."
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku,
Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa.
Tanpa menunggu respon dari Bima dan teman-temannya Syahril langsung berlari ke arah tempat duduknya.
Lantas semuanya tertawa dengan tingkahnya itu, meskipun beberapa juga tampak kecewa karena hanya mendengarkan sedikit bagian dari lagu tersebut.
"Tepuk tangan semuanya," tutur Bima menarik kembali perhatian seisi kelas.
Kinanti kini beralih pada Syahril yang sudah tepat disampingnya, "Wah ternyata suara kamu bagus."
Menggelengkan kepalanya tanda tak terima dengan pujian tersebut, "Enggak, malu banget gue."
"Nah sekarang kita kembali ke pelajaran kita ya anak-anak."
Semuanya kembali fokus dan mengeluarkan peralatan tulisnya.
"Untuk materi pertama kita akan membahas Drama. Pasti kalian tahu kan, kalau belajar tak selalu melalui materi. Maka dari itu saya mau kalian membuat pertunjukan Drama sungguhan yang akan saya ambil nilainya."
Salah satu siswi mengangkat tangannya, "Kelompoknya kita pilih sendiri atau Bapak yang menentukan?"
"Sebelumnya siapa nama kamu?" Tanya Bima pada siswi tersebut.
"Melisa Pak," jawabnya sambil memperlihatkan nametag nya.
"Oke Melisa. Jadi karena kalian semuanya berjumlah 30 akan saya bentuk menjadi tiga kelompok dengan masing-masing sepuluh orang ya," jelas Bima.
__ADS_1
Bima membuka absen yang terletak di mejanya, "Untuk anggotanya, kalian saya bebaskan memilih saja. Bisa langsung mendiskusikan dengan kelompok masing-masing. Saya kasih waktu satu minggu untuk kalian tampilkan."
Semuanya tampak terkejut, "Yah, Pak jangan dong, kita butuh waktu untuk latihan."
"Oke, kalau begitu dua minggu ya?" Bima memberikan opsi lain.
"Siap!" Jawab semuanya serempak.
Kecuali Kinanti tentunya, entah bagaimana kali ini ia merasa tertekan dengan tugas tersebut. Kelompok mana yang akan menerima dirinya menjadi rekan.
Berbeda dengan Syahril, pemuda itu kini malah asyik menggulir telepon genggam di tangannya.
Kinanti semakin panik saat melihat kursi barisan depan mulai membentuk kelompok, mereka tak menghabiskan waktu lama untuk memilih rekan.
"Mereka udah sekolompok dari kelas sebelumnya." Syahril tampaknya sadar apa yang tengah Kinanti perhatikan.
"Ha? Kok bisa?"
"Lah lo nggak tahu ya? Lo selama ini gaul sama siapa sih Ki, bisa nggak tahu mereka." Syahril semakin tak habis pikir.
Bukannya mendapat pencerahan Kinanti semakin bingung, "Ha, maksudnya?"
"Ha, he, ho, mulu lo. Mereka anak-anak hits gitu, lihat aja tampilannya, dan coba kamu perhatiin deh mereka kalau ngumpul selalu barengan," tunjuk Syahril tepat di wajah Kinanti.
Lalu Kinanti teringat cerita Sarah tempo hari, oh mereka yang katanya satu geng itu, pikirnya kenapa pula hampir setiap hari ia mendengar anak-anak hits itu.
"Mereka udah satu sekolah dari SMP, denger-denger sih. Selain itu mereka pinter semua, pasti sepuluh besar nggak ada celah buat orang lain masuk."
"Maksud kamu bakal diisi sama nama mereka?" Kinanti masih tak melepaskan tatapannya dari segerombolan siswa siswi di depan sana.
Berbeda dengan sudut kelas lainnya, mereka memang terlihat otomatis merapat tanpa harus mendiskusikannya terlebih dahulu.
Kalau begitu memang tak ada lagi harapan bagi Kinanti untuk bergabung.
"Nyari kelompok sono," suruh Syahril sedikit mendorong pundak Kinanti.
Dengan malas Kinanti menatap orang disampingnya itu, "Kamu sendiri kenapa nggak nyari?"
"Woi, Syahril! Sini nggak lo, mau gue seret?" Seseorang dari kelompok yang sedari tadi mereka bicarakan memanggil Syahril.
Syahril lantas beranjak, "Gue nggak perlu nyari kelompok lagi. Semangat Kinanti."
Masih dengan senyuman yang menurut Kinanti menyebalkan, Syahril meninggalkan tempat duduknya.
Sekarang Kinanti sedikit mengetahui sifat Syahril yang menurut dia itu mungkin bisa dikatakan menyebalkan, berarti memang teman sebangkunya sedari tadi menyombongkan dirinya bahwa dia pintar dan hits itu? ah sudahlah hari ini sudah berapa kali kata hits dia ucapkan.
Lihat saja saat ini ia sudah bergabung begitu saja dengan gengnya, sambil tersenyum melambaikan tangannya ke arah Kinanti.
Sadar akan sesuatu Kinanti menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali, entah kenapa belakangan ini ia mudah sekali kesal, padahal biasanya ia hanya menganggap semua hal terjadi disekelilingnya hanya angin lalu saja.
Kinanti kini harus memfokuskan dirinya untuk memberanikan diri bergabung dengan kelompok manapun, dibenaknya hanya memikirkan nilai Seni Budayanya harus terisi dengan baik.
[]
__ADS_1