Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 16 : Sulit Digapai


__ADS_3

Jangan tanya kenapa Faisal saat ini sudah berada di depan gedung putih bertuliskan Rumah Sakit Harapan.


Karena yang terlintas di otaknya saat itu hanya rumah sakit ini, lokasi yang paling dengan rumah Kinanti. Ia harus dengan sabar membujuk Sarah agar memberitahunya.


Setelah pertengkarannya dengan Raka, Faisal bergegas untuk izin pulang lebih awal pada wali kelasnya dengan alasan ada urusan keluarga.


Hal tersebut bisa dipastikan hanya cerita karangannya, rasa khawatir pada Kinanti lebih besar dari apapun saat ini.


Faisal menyadari itu, meskipun ia belum lama mengenal teman sekelasnya itu namun entahlah sedari awal Kinanti mampu mengambil perhatiannya.


Entah raut wajah yang selalu sedih, menghindari setiap kerumunan dan hanya memilih tidur di bangkunya. Semua hal itu selalu menjadi perhatian Faisal, bahkan beberapa perempuan menyatakan perasaan tak digubris olehnya.


Sarah tetangganya itu memang patut diacungi jempol karena mampu meluluhkan tembok Kinanti, sehingga mereka bisa berteman.


Saat Faisal hendak memasuki pagar, ia melihat Kinanti yang sedari tadi menjadi objek kekhawatirannya melangkah gontai baru saja keluar.


Faisal awalnya memutuskan untuk tak menampakkan dirinya, ia memilih mengikuti Kinanti dari belakang. Bisa gawat kalau Kinanti mengetahui keberadaannya, pasti gadis itu akan sangat marah.


Namun Faisal mulai khawatir melihat Kinanti yang entah mengapa semakin membungkuk, ditambah punggungnya bergetar.


Gadis itu memukul-mukul dadanya sendiri, ia tak menggubris beberapa orang mulai memperhatikannya.


Kini tak ada pilihan lain biarkan saja kalau memang Kinanti akan marah.


Faisal kemudian mulai mendekati Kinanti, perasaannya seketika turut sakit melihat keadaan Kinanti saat ini.


Air mata gadis itu bercucuran, bahkan wajahnya yang biasa tampak pucat kini memerah dengan mata bengkak. Kinanti masih memukul-mukul dadanya.


"Kinanti, kamu nggak apa-apa?" Bodoh sekali batin Faisal, jelas-jelas Kinanti tak terlihat baik-baik saja, namun hanya kata itu yang terlintas.


Faisal semakin merutuki dirinya saat Kinanti semakin menangis, ia kebingunan harus berbuat apa yang pada akhirnya hanya memegangi bahu Kinanti yang terlihat semakin lemah.


Tak ada lagi yang mampu Kinanti tutupi, di depan Faisal ia menangis semakin tak terkendali Kinanti akhirnya menjatuhkan kepalanya pada dada Faisal.


Faisal seketika membeku, ia hanya berharap semoga Kinanti tak mendengar degup jantungnya saat ini. Kinanti kini menyandarkan kepala sepenuhnya pada dada Faisal.



Posisi mereka saat ini tentunya membuat orang yang berlalu-lalang menganggap pertengkaran dua anak muda yang sedang menjalin kasih.

__ADS_1


Faisal tak memperdulikannya, saat ini ia berusaha untuk menenangkan Kinanti dengan mengelus bahu gadis itu lembut.


Beberapa saat kemudian Kinanti mulai tenang, ia kemudian tersadar dengan cepat mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.


"Maaf ya," ucapnya kemudian, setelah merasa lebih baik.


"Udah tenang sekarang?" Faisal sedikit menundukkan kepalanya agar posisinya sejajar dengan Kinanti.


Kinanti hanya mengangguk, ia merapikan sisa air mata serta riap rambutnya yang tadi sempat berantakan.


Faisal kemudian merangkul pundak Kinanti mengajaknya untuk mencari tempat duduk terdekat, hal tersebut ia lakukan karena semakin banyak orang yang tampak penasaran dengan apa yang terjadi.


"Kita cari minum ya?"


Kinanti tak menolak, hanya diam saja saat Faisal menyuruhnya duduk di kursi depan Indomaret.


Faisal masuk kedalam untuk mencari sesuatu yang mungkin membuat Kinanti lebih baik, ia akhirnya mengambil susu kotak rasa coklat dalam kulkas.


Saat Faisal mengantre untuk membayar dari pintu kaca ia dapat melihat Kinanti yang melamun, apa Ki yang baru aja kamu alami? Faisal menghela napas.


Setelah pembayaran selesai, ia lantas duduk tepat di samping Kinanti.


"Minum dulu," suruhnya mengulurkan susu kotak.


Faisal hanya mengangguk ia memperhatikan setiap gerakan Kinanti disampingnya saat ini, "Jangan terlalu kuat Ki, kamu boleh kok sesekali lemah."


Kinanti menatap jalanan ramai di depannya yang saat itu mulai padat, "Bukannya aku selama ini lemah ya? makanya teman-teman di sekolah pada kasihan sama aku, termasuk kamu, mungkin."


"Makanya kamu nggak perlu pura-pura kuat, padahal kamu nggak sekuat itu. Kamu bisa kok cari tumpuan, kamu bisa cerita ke teman kamu biar nggak semuanya kamu tanggung sendiri."


Kinanti meneguk susunya, "Aku sudah terbiasa, semua hal aku tanggung sendiri."


"Makanya aku nggak mau kamu selalu sendiri, Ki. Kamu boleh berbagi sama aku." Faisal berkata dengan sangat lembut, agar dirinya tak terkesan memaksa.


"Kamu kok bisa tiba-tiba muncul tadi?" Kinanti kini menatap Faisal sepenuhnya.


Tak bisa lagi mengelak Faisal memilih untuk jujur meskipun sedikit salah tingkah, "Ya, aku kan khawatir. Kalau teman sekelas kita ada yang orang tuanya masuk rumah sakit pasti kamu juga khawatir kan?"


Kinanti sedikit aneh melihat tingkah Faisal, meskipun biasanya menyebalkan namun saat ini mengapa Faisal terlihat salah tingkah.

__ADS_1


Namun ia hanya mengangguk, "Makasih ya."


Faisal menyadari bahwa Kinanti hanya menghindari pembahasan sebelumnya, atau mungkin memang dirinya belum bisa membuat Kinanti merasa nyaman, sehingga butuh waktu bagi Kinanti untuk menceritakan apa yang sedang terjadi.


"Kinanti, walaupun kita belum dekat, aku nggak masalah kalau kamu suatu saat nanti minta bantuan. Malahan aku pengen banget jadi salah satu orang yang punya peran dalam hidup kamu. Itupun kalau kamu nggak keberatan," ujar Faisal jujur, meski kemudian ia menoleh menunggu reaksi gadis di sampingnya.


Kinanti seketika terenyuh, ia tak pernah menduga ada seseorang yang akan mengatakan hal demikian. Terlebih yang paling membuatnya terkejut orang itu Faisal, yang selalu mendekatinya dengan cara menjengkelkan.


"Faisal, kamu bersikap kaya gini karena kasihan sama aku?"


Faisal terkejut dengan pertanyaan tersebut, namun ia tetap menjawab yakin, "Enggak, Ki. Aku-"


"Aku sangat berterima kasih, tapi tolong kalau kamu cuma kasihan atau bahkan hanya karena penasaran aja jangan terlalu baik gini sama aku."


"Lho, kenapa? Aku beneran peduli sama kamu, bukan karena kasihan atau penasaran. Aku sejahat itu ya, dimata kamu?"


Kinanti kini bangkit dari duduknya, "Faisal, maaf banget. Aku mau pulang ada banyak hal yang harus aku kerjain di rumah."


Kinanti langsung berlari tanpa menghiraukan lagi panggilan Faisal.


Bukan apa-apa Kinanti tak mudah untuk menceritakan masalah hidupnya yang begitu kelam itu pada orang lain, terlebih fakta ia anak diluar nikah.


Belum lagi kedua orang tuanya yang memilih meninggalkannya, itu sudah cukup membuat Kinanti merasa tak seberharga itu didunia ini.


Kinanti tak mau merasa bergantung pada orang lain, salah satunya Faisal.


Pemuda itu pastinya seseorang yang hidupnya sangat berwarna, keluarga harmonis, memiliki banyak teman, tampan, populer.


Kinanti mengusap wajahnya kasar setelah ia menyadari air matanya menetes kembali. Pastilah setelah mengetahui bagaimana hidupnya, Faisal akan meninggalkan dirinya begitu saja seperti orang tuanya.


Bahkan Sarah dan Farah, Kinanti tak ingin terlalu dekat dan merasa nyaman dengan mereka. Lagi-lagi Kinanti merasa tak pantas, ia tak ingin merasakan ditinggalkan lagi oleh orang-orang yang berarti dalam hidupnya.


Saat Kinanti sibuk dengan berbagi skenario buruk dalam pikirannya, di tempat yang ia tinggalkan beberapa waktu lalu Faisal masih tak beranjak.


Faisal meremas kepalanya, "Bego banget gue, bego banget Faisal! Apa yang lo lakuin bikin Kinanti makin menjauh."


Faisal merutuk dirinya sendiri karena terlalu mendesak Kinanti, ia seharusnya tak boleh memaksa Kinanti apapun keputusan gadis itu.


"Ck! Bodoh banget, kalau gini gimana dia bakal nyaman coba deket sama gue!" Gerutu Faisal, pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun kemudian Faisal menarik napas untuk menenangkan dirinya, Kinanti sekarang lagi kacau banget, dia cuma butuh waktu, jangan nyerah Faisal, batinnya kemudian.


[]


__ADS_2