Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 36 : Masa Lalu yang Tuntas


__ADS_3

"Kinanti!"


Dewi berusaha mengejar Kinanti.


"Kinanti maafin Ibu."


Namun Kinanti berusaha menulikan telinganya.


Tak hanya Dewi ketiga pria itu mengejar Kinanti.


"Kinanti!" Raka berusaha menarik tangan Kinanti.


Kinanti tak berusaha menoleh sedikitpun, ia masih membelakangi mereka.


"Kinanti kamu harus dengerin penjelasan Bunda dulu, baru kamu boleh ambil keputusan," ucap Raka berusaha menekan suaranya.


Faisal yang masih belum paham hanya mengikuti alurnya, namun ia telah berhasil membaca situasinya. Bunda Raka juga Ibu Kinanti, namun dalam benaknya ada pertanyaan besar, kok bisa?


"Kinanti maafin Ibu, tolong kamu dengerin dulu penjelasan Ibu," lirih Dewi berusaha merengkuh Kinanti meski kembali di tolak.


Dengan wajah yang penuh dengan air mata Kinanti menatap Dewi terluka.


"Apa lagi yang mau Ibu jelasin? Ibu sudah menikah lagi dengan tega ninggalin aku sama Nana? Dan sekarang Ibu hidup enak dengan suami Ibu dan anak Ibu, bukannya ini semua sudah cukup untuk Ibu? untuk apa lagi aku sama Nana."


Dewi mencoba menggenggam tangan anaknya yang bergetar.


"Iya Ibu minta maaf, tapi ada banyak hal yang belum kamu tahu Kinanti. Boleh kasih kesempatan Ibu?"


Pundak Kinanti semakin bergetar, namun ia tak berusaha menghempaskan tangan Ibu nya.


Raka menatap ujung sepatunya, semuanya berakhir tak seperti yang dirinya harapkan. Ternyata Kinanti menyimpan luka yang teramat setelah di tinggalkan Bundanya.


Burhan kali ini maju, ia turut membujuk Kinanti.


"Nak, tolong kasih kesempatan Ibu mu ya. Dia nggak salah apa-apa," ucap Burhan lembut ia mengusap puncak kepala Kinanti.


Namun pertahanan Kinanti tak sekuat itu, kakinya terasa kebas ia lantas terjatuh di tanah dengan tangisan di bibirnya.


Dewi tak ingin buang waktu, ia merengkuh Kinanti kuat-kuat seakan tak ingin lagi melepaskan anaknya itu.


Untuk beberapa saat mereka membiarkan Kinanti mengeluarkan semua bebannya selama ini, memberikan waktu untuk Kinanti benar-benar puas menangis sampai Kinanti tenang.


Begitu pula dengan Dewi, anaknya tumbuh besar tanpa dirinya. Dirinya telah melewatkan banyak hal.


"Kita masuk ya?"


Burhan menepuk pundak Dewi, ia lantas beralih pada Kinanti yang mulai tenang.


"Kinanti kita masuk dulu ya?"


Meski tak menolak, namun Kinanti tak banyak protes saat Dewi menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.


Meski hatinya tadi sempat bergemuruh marah, namun dalam lubuk hatinya Kinanti merindukan Ibu nya.

__ADS_1


Faisal masih di sana, ia diam menyaksikan tiap momen keluarga ini. Ingin mengambil langkah pulang namun rasanya tak enak izin di waktu seperti ini, apalagi ini menyangkut Kinanti. Gadis yang Faisal sayangi.


"Tangan Kamu kenapa?" Dewi mengelus pelan tangan Kinanti setelah mereka duduk di ruang tengah.


"Nenek," jawab Kinanti singkat.


Lalu Kinanti menatap Raka yang juga tengah menatapnya, "Kamu udah tahu dari lama?"


Raka mengangguk, "Semenjak Bunda dan Ayah menikah."


Kinanti menghela napas, pantas saja selama ini Raka baik padanya.


"Ibu juga tahu semuanya dari Raka. Kamu sama adek selalu disiksa Nenek kan?"


"Sebelum itu, Kinanti mau nanya, kenapa Ibu ninggalin aku dan Nana? Nana masih sangat kecil Bu, kok Ibu tega?"


Dewi bisa merasakan kemarahan dalam kalimat yang putrinya lontarkan. Namun ini saatnya anaknya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Dulu waktu Ibu baru masuk kuliah, Ibu pacaran sama Om Burhan, Ayah Raka," ucap Dewi membuka kisah masa lalu mereka.


"Om Burhan dan Ayah kamu, Prabu berteman dekat. Tapi mereka jauh berbeda, Burhan fokus pada pendidikan nya sedangkan Prabu tak pernah masuk kelas, preman kampus jadi labelnya saat itu."


Dewi berusaha menangkap ekspresi Kinanti, memastikan putrinya mendengarkan tiap ceritanya.


"Waktu ulang tahun kampus, ada acara malam yang nggak bisa Ibu tolak karena panitianya pacar Ibu, Om Burhan. Dan malam itu juga Prabu melecehkan Ibu."


Dewi mengusap kasar air matanya, dadanya selalu terasa terhimpit mengenang masa kelam itu.


"Ibu hamil, tapi Om Burhan nggak tahu. Ibu menyembunyikan fakta tersebut darinya, sampai Ibu minta putus tanpa alasan yang jelas. Begitu perut semakin membesar Ibu di usir dari rumah, dan putus kuliah begitu juga dengan Prabu. Namun Prabu berjanji akan menikahi Ibu, dan bertanggung jawab.


Dari sana akhirnya kami tinggal bersama. Namun dengan kondisi finansial yang naik turun. Waktu hamil kamu, Ibu sering kali harus menahan lapar karena Prabu kerja serabutan. Sampai akhirnya kamu lahir, Ibu perlahan mulai menerima Prabu. Hidup kami sedikit membaik, Ibu juga berusaha bekerja di warung, apapun Ibu coba lakukan waktu itu.


Tapi kebiasaan Prabu yang mabuk-mabukan dan main perempuan tak berubah. Sampai Ibu hamil Nana, Prabu tetap melakukan hal itu. Sampai akhirnya, Prabu baru membawa Ibu bertemu Nenek kamu.


Nenek tak menerima Ibu dan kamu, juga Nana yang masih di dalam perut Ibu. Kita di usir dari rumahnya. Ibu tak ada pilihan lain, begitupun Ayah kamu. Sampai puncaknya Prabu bawa pulang perempuan lain yang juga sedang mengandung.


Ibu nggak tahan lagi, Prabu semakin menjadi-jadi. Jarang pulang, dan selalu pulang dalam keadaan mabuk.


Pada masa-masa sulit itu entah bagaimana kerja alam semesta, Ibu kembali dipertemukan dengan Om Burhan.


Ternyata setelah dia mendengar Ibu menikah dengan Prabu, Om Burhan melakukan hal yang sama. Dia menikah dengan Suci, teman sekelasnya. Sayangnya ternyata Suci tak berumur panjang, Suci meninggal saat Raka berumur sepuluh tahun.


Kami saling menceritakan kesedihan kami Nak, tapi tak ada perselingkuhan. Kami bertemu layaknya sahabat lama. Meski kemudian Om Burhan berkata bahwa selama itu ia masih mencintai Ibu."


Dewi menceritakan kisahnya panjang lebar, diam sejenak ia mengelus rambut Kinanti.


Kinanti sepertinya mulai menemukan benang merah, mengapa semua ini terjadi pada orang tuanya, dan juga hidupnya.


"Ibu nggak sanggup lagi, Ayah kamu semakin nggak peduli dengan Kita. Bahkan bersikap kasar pada Ibu. Akhirnya Ibu memutuskan untuk minta cerai dan pergi dari rumah. Kalau masalah kamu dan Nana ,,,,,,,," Dewi diam sejenak.


"Ibu minta maaf banget. Ibu memang sangat berdosa waktu itu meninggalkan kalian. Ibu hanya perempuan biasa yang tak sekuat itu. Ibu pikir agar Prabu tahu rasa, Ibu kasih kalian berdua ke Prabu agar dia sadar bahwa ada tanggung jawab yang harus dia pikirkan.


Ibu beneran nggak menyangka kalau kalian juga di tinggal di tempat Nenek. Untuk hal ini, kamu berhak marah Kinanti. Kamu berhak marah sepuasnya pada Ibu. Ibu egois dan mementingkan diri sendiri, dengan kabur begitu saja." Suara Dewi parau karena menahan sesak, ada banyak penyesalan dalam dirinya.

__ADS_1


Burhan berdehem, "Maaf kan Om juga Kinanti, harusnya sebelum kami menikah Om harus minta izin kamu. Tapi Om tak melakukannya. Setelah kejadian itu, Ibu kamu depresi berat, ada trauma mendalam yang ia rasakan. Lima tahun kemaren, saat kamu berpikir Ibu mu meninggalkan kamu dan Nana, Ibu kamu tengah berjuang untuk memulihkan jiwanya kembali."


Mendengar penjelasan Burhan, air mata Kinanti kembali berderai.


Tangannya kini membalas genggamam tangan Dewi.


"Maaf Bu, Kinanti nggak tahu kalau Ibu sama menderitanya."


Dewi menggeleng, "Kamu nggak salah Nak, semua ini salah Ibu dan Prabu yang nggak bisa jaga kalian. Nggak bisa jadi orang tua yang baik untuk kalian."


Kinanti memeluk Ibunya, ia tenggelamkan kepalanya di dada Ibunya yang ia rindukan selama ini. Ia hirup dalam-dalam aroma perempuan yang telah melahirkannya.


"Kalian tinggal di sini ya?" Ucap Dewi setelah mengurai pelukannya.


"Nenek-"


"Kamu jangan mikirin Nenek Nak, beliau sudah terlalu jahat sama kalian. Om mau kamu tinggal sama kami, biar semuanya Om yang urus. Memang sekarang ayah kamu di mana?"


Burhan tak bercanda, ia benar-benar ingin Kinanti dan Nana tinggal di bawah atap yang sama dengan mereka menjadi keluarga yang utuh.


Kinanti meremas roknya, merasa malu karena perbuatan ayahnya sendiri, "Ayah di penjara Om."


Dewi tercekat, namun ia tak kaget.


"Dari dulu memang Prabu keterlaluan!"


"Tapi kalau Kinanti tinggal di sini, apa nggak masalah?" Kinanti menatap Raka yang sedari tadi menyimak dalam diam.


"Aku nggak masalah Kinanti, kita bisa tinggal bersama," jawab Raka cepat.


"Apa aku nggak ganggu kebahagiaan yang udah kamu punya?" Kinanti masih ragu, ia tak ingin Raka tertekan dengan keberadaan dirinya nanti.


Raka berjongkok di hadapan Kinanti, "Nggak. Nggak sama sekali, justru aku bahagia, kamu bisa kumpul sama Bunda. Dan ya kita jadi saudara mungkin?"


"Berarti lo nggak boleh suka sama Kinanti ya!" Faisal yang sedari tadi juga diam menyusul Raka.


Raka memutar matanya malas, menyadari cecurot itu masih di rumahnya.


"Bacot! ganggu aja sih lo! pulang sana!"


Lalu Kinanti tertawa di susul Dewi dan Burhan bersamaan.


Entah bagaimana sekarang, apakah Kinanti harus bahagia padahal ayahnya di penjara. Belum lagi Nenek, bagaimana reaksi Neneknya mengetahui hal ini?


Namun Kinanti menggeleng cepat, ia hanya akan menikmati momen sekarang.


Sentuhan lembut di pundaknya terasa membuat Kinanti menoleh, perempuan yang telah melahirkannya tersenyum hangat seolah semuanya akan baik-baik saja.


"Ibu, dan Ayah Burhan, aku izin jadi pacar Kinanti ya?"


Pertanyaan aneh Faisal muncul membuat Raka melemparnya dengan bantal sofa, sedangkan ketiga orang lainnya kembali tertawa bersama.


[]

__ADS_1


__ADS_2