Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 37 : Rumah Sakit


__ADS_3

Meski Kinanti udah nyaman berada di rumah Raka, namun ia tak boleh berlama-lama karena Nana di rumah sendirian.


Ibu nya berjanji akan menjemput mereka secepatnya bersama Burhan.


Setelah sekian lama doanya terkabul Kinanti merasa sebagian tekanan di dadanya berkurang.


"Happy banget ya?"


Faisal sedikit menolehkan kepalanya agar suaranya dapat Kinanti dengar.


Akhirnya Faisal yang mengantar Kinanti, karena pemuda itu beralasan dia lah yang dapat mengambil hati Nenek.


Senyum Kinanti mengembang, "Iya."


Tanpa sadar Kinanti mengulurkan tangannya untuk memeluk Faisal dari belakang.


Kinanti bahkan menyandarkan kepalanya ke punggung pemuda itu.


Jangan tanya kenapa, Kinanti pun tak tahu hanya saja ada rasa lelah dan bahagia yang jadi satu membuatnya ingin merebahkan kepalanya.


Bersyukur hari ini jalanan tak begitu ramai.


"Akhirnya, aku sebagai orang luar bisa ngerasain itu, Ki. Dan aku ikutan bahagia, lega, bersyukur, jadi satu."


Tangan Faisal terulur, sekilas ia mengusap lembut tangan Kinanti, meski awalnya terkejut dengan apa yang gadis di belakangnya lakukan.


"Makasih," ucap Kinanti.


"Jadi sekarang rencana kamu apa?"


Kinanti menatap Faisal yang tengah fokus dengan jalanan dari spion motor, "Em, potong rambut? biar rambut aku rapi. Soalnya kata Ibu rambutku mengenaskan."


Tawa Kinanti berderai, kali ini tawa yang tentunya bahagia.


Faisal turut tergelak, "Tapi bukan itu maksud ku."


"Apa dong?"


"Kita bisa pacaran sekarang?"


Tubuh Kinanti menegak, ia lalu memukul punggung Faisal kencang sampai pemuda itu kesakitan.


"Pikiran kamu kenapa pacaran mulu sih! Kita masih kecil, harus fokus belajar."


"Iya aku tahu, tapi gimana ya aku bingung kalau mau peduli sama kamu. Alasan apa yang harus ku pakai, apalagi kayak tadi Raka nanya aku siapanya kamu, aku kan nggak tahu mau jawab apa. Kalau temen, aku yakin kita lebih dari teman kan?"


Kinanti tersenyum, "Ya jawab aja sahabat."


"Nggak boleh lebih?"


"Nggak."


Kinanti menjawab tegas, namun ada sebagian hatinya yang menghangat.


Seperti rencana awal, Kinanti memilih untuk tak menceritakan kalau ia bertemu dengan Ibunya.


Ibu sendiri yang besok akan menjemput Kinanti dan Nana.


"Kenapa baru pulang?"


Nenek sudah berkacak pinggang saat melihatnya turun dari motor Faisal.


"Maaf Nek, tadi Kinanti di panggil guru ke kantor," ujar Faisal yang langsung nyelonong meraih tangan Nenek untuk ia cium.


Padahal Kinanti sudah mewanti-wanti, agar Faisal segera pergi setelah mengantarnya pulang.


Nenek langsung pasang wajah senyum lebar, "Oh iya, nggak apa-apa. Nenek juga pengennya Kinanti fokus sekolah. Nggak ada masalah kan?"


"Enggak Nek, tenang aja Kinanti murid berprestasi di sekolah."


Kinanti hampir saja menyemburkan tawa, ternyata Faisal punya bakat akting.


Setelah itu Faisal pamit pulang, Kinanti sempat berbisik terima kasih karena Nenek dengan mudahnya percaya dengan perkataan pemuda itu.


"Masih nggak kapok juga! Mau digundulin sekalian kepala kamu. Sudah di bilang waktunya pulang, langsung ke rumah nggak usah mampir kemana-mana!"


"Maaf Nek, tadi dipanggil wali kelas," jawabku mengulang perkataan Faisal.


Kinanti dengan sigap mengambil tumpukan piring kotor dari etalase jualan Nenek.

__ADS_1


"Aku cuci piring dulu ya, Nek."


Namun Nenek hanya melengos dan pergi entah kemana.


Aku menghela napas lega, akhirnya ia tak merasakan pukulan hari ini.


Kinanti ingin segera menceritakan semuanya pada Nana. Pasti Nana akan sangat bahagia.


Saat Kinanti naik, ia mendapati Nana yang tertidur meringkuk di kamar.


Betapa terkejutnya Kinanti, karena suhu tubuh Nana sangat tinggi.


Nana demam, Kinanti mengambil air termos yang ia masukkan ke dalam baskom kemudian Kinanti mengompres Nana.


Semoga saja suhu tubuh Nana segera menurun.


"Nana, Dek. Kamu kecapekan ya?"


Nana hanya bergumam, namun tubuhnya menggigil.


"Dingin ya?"


Kinanti mengambil selimut, dan menutup seluruh tubuh Nana.


"Udah makan?"


Nana menggeleng lemah, Kinanti dengan cepat mengambilkan makanan untuk adiknya.


Kinanti kemudian teringat Ibunya, ia tadi sempat menyimpan nomor telpon Ibunya.


Kinanti dengan cekatan membuat segelas teh hangat, dan makanan dengan ponsel yang ia loudspeaker.


"Halo? Kinanti?"


"Iya Bu, ini Kinanti."


"Kenapa Nak?"


Kinanti mematikan loudspeaker, dan menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya.


"Adek sakit Bu, badannya panas."


"Ya Allah, bawa ke rumah sakit ya, nanti Ibu ke sana," ucap Dewi di sebrang yang terdengar panik.


"Tapi Nenek Bu?"


Pasti Nenek tak akan mengizinkannya, sama seperti biasanya mereka hanya diizinkan meminum obat warung.


"Biar Ibu nanti yang hadapin Nenek, sekarang Kinanti tenang ya. Bawa Nana ke rumah sakit, Ibu segera ke sana."


Dewi memutus sambungan telpon begitu saja.


Kinanti kemudian beralih pada Nana, "Dek kita ke rumah sakit ya?"


Nana semakin menggigil.


Perlahan Kinanti membantu Nana agar dapat duduk, ia lantas membantu adiknya agar mengisi perutnya yang pasti kosong sedari siang.


Hanya dua sendok Nana menggeleng, "Mulut aku pait, Kak."


Kinanti pun tak memaksa lagi, ia menggendong Nana di punggungnya.


"Kita mau ke mana Kak?"


Kinanti berusaha menuruni tangga dengan Nana di punggung nya.


"Kita ke rumah sakit ya."


"Nggak usah kak, kita nggak punya uang," lirih Nana berusaha menolak.


"Udah kamu jangan khawatir ya. Yang paling penting kamu harus diperiksa."


Hati Kinanti sebenarnya bergemuruh tak tenang, namun ia telah membulatkan tekadnya.


Apapun yang akan Nenek katakan, Kinanti akan tetap membawa Nana ke rumah sakit.


Nenek tengah melayani pelanggan saat Kinanti keluar.


"Nek, aku mau bawa Nana ke rumah sakit. Nana badannya panas."

__ADS_1


Kinanti merasakan tangan Nana yang memeluk lehernya dari belakang semakin erat.


Mungkin ini kesempatan bagus, karena di depan pelanggan Nenek tak akan selepaa biasanya kalau marah.


Meskipun matanya memicing, namun akhirnya Nenek mengangguk.


"Sana! kalau nggak perlu di opname langsung bawa pulang!"


Kinanti mengangguk, ia kemudian berlari membawa Nana ke rumah sakit terdekat.


Kinanti panik bukan main, ia sedikit berteriak minta tolong pada perawat agar menangani Nana.


"Suster tolong adek saya," mohon Kinanti pada seorang suster yang mendatangi dengan kursi roda.


"Adeknya kenapa?"


"Suhu tubuhnya tinggi suster."


Suster tersebut kemudian membawa Nana ke dalam ruangan gawat darurat.


Untung saja ada Dokter piket yang ready, sehingga Nana langsung di tangani.


Kinanti menunggu dengan diam saat Nana di periksa.


Tak berselang lama, Ibunya datang bersama Burhan dan Raka.


"Kinanti, ya ampun Nana. Anak saya kenapa Dok?"


Dewi panik, ia mengusap dahi panas Nana.


Nana sempat membelalakkan mata, dengan bantuan memori yang ia miliki ia ingat itu Ibunya.


Tak banyak momen bersama Ibunya, karena saat orang tua mereka berpisah Nana masih berusia lima tahun.


"Adek Nana, ini Ibu," ucap Dewi pelan mengelus pipi Nana.


Nana menatap Kinanti, "Kak."


Kinanti mengangguk, ia kembali mengeluarkan air mata. Semoga dengan bertemu Ibu, keadaan Nana semakin membaik.


"Bisa ikut saya ikut saya ke ruangan?"


Dokter menatap mereka secara bergantian.


"Saya saja," ujar Burhan, sekilas mengangguk pada Dewi.


Dewi menciumi wajah Nana yang pucat, "Dek, adek kenapa sayang? Adek harus kuat, harus sembuh ya, biar kita bisa kumpul bareng."


Nana mengangguk, anak itu tersenyum meski terlihat lemas.


Berbeda dari Kinanti yang sempat marah, sepertinya Nana yang masih kecil hatinya masih begitu polos.


Nana hanya berpikir akhirnya akan keluar dari rumah Nenek yang selama ini memukulinya.


Raka mendekati Kinanti, ia merangkul pundak Kinanti berusaha menguatkan.


Saat mereka menikmati momen ini, tiba-tiba tangan seseorang menarik tubuhnya.


"Ngapain kamu di sini?!"


Bukan dirinya yang di tanya, melainkan Ibunya yang masih merangkul Nana.


Nenek, Neneknya kenapa harus datang?


Tangan Kinanti di remas dengan keras, Kinanti tahu itu sebuah ancaman yang Neneknya coba sampaikan.


Tatapan Ibu tak kalah menggelap, perempuan yanng pernah mengusirnya dan juga memperlakukan anaknya dengan tidak baik ada di hadapannya.


Kinanti semakin ketakutan, remasan di tangannya kian menguat. Kuku Nenek terasa menancap di pergelangan tangannya. Ia takut apa yang akan terjadi selanjutnya.


[]


Ps. Hari ini cukup menghabiskan energi hehe


karena aku awalnya bingung mau lanjut cerita ini atau enggak, apalagi ceritanya sepi.


Jadi aku memaksa diri untuk lanjut, tentunya butuh energi lebih.


Tolong bantu like dan komen yang banyak yaaa buat aku semangat hehe

__ADS_1


Makasih banget untuk kalian yang sudah setia membaca cerita ini😘


__ADS_2