Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 25 : Jepit Kupu-Kupu


__ADS_3

"Aku tahu kamu bakal jawab gitu."


"Lalu kenapa kamu masih milih buat nanya?"


Faisal menyandarkan tubuhnya, "Aku khawatir sama kamu, Ki."


Kinanti kembali menyuap bubur banyak-banyak ke dalam mulutnya, berharap bubur itu segera tandas dan ia bisa pulang.


"Sama Nana juga," lanjut Faisal kini memain-mainkan plester hansaplas di tangannya.


Kinanti dengan susah payah menelan makananya, "Kamu nggak berhak khawatir. Lagi pula kita belum lama kenal, nggak ada alasan buat kamu khawatirin aku."


Faisal berdecak gemas, "Apa sih yang bikin kamu sebatu ini. Semua orang khawatir sama kamu Kinanti."


"Kalian nggak perlu khawatir sama aku."


"Nggak bisa gitu dong!"


Kinanti kini meletakkan sendok plastik dengan kasar, "Apa mau kamu?! Nggak usah ikut campur hidup orang lain!"


Faisal membuka mulutnya, oke kali ini ia sadar sudah terlalu mendesak Kinanti.


"Kinanti maaf, maksud aku bukan gitu."


Kinanti melempar jaket yang masih berada di pangkuannya ke tubuh Faisal.


"Kalau kamu udah tahu hidup aku susah, ruwet, tolong jangan ditambahin dengan sikap kamu yang nggak jelas gini."


Faisal berusaha tetap tenang, wajah Kinanti semakin pucat ia tak ingin membuat Kinanti semakin tak nyaman.


"Maaf," ucapnya pelan, "Aku beneran nggak mau kamu selalu mengalami kekerasan lagi, bahkan dilakukan sama orang terdekat kamu."


Kinanti kini turut menyandarkan tubuhnya pada bangku yang ia duduki, "Kamu bahkan nggak tahu apa-apa Faisal."


Faisal memiringkan tubuhnya agar menghadap Kinanti sepenuhnya, "Aku tahu Ki, aku tahu yang selama ini anak-anak sekolah bilang bener kan?"


Kinanti menutup matanya sesaat, rasanya sesak di dadanya semakin bertambah.


"Iya, semuanya benar."


Faisal menatap Kinanti dengan iba, "Lalu apa yang bikin kamu bertahan?"


"Aku harus gimana Faisal? Orang tuaku nggak ada, aku harus kemana?"


Faisal terdiam, ia pun tak tahu jawaban apa yang harus dirinya berikan.


Namun baru kali ini ia melihat Kinanti seputus asa ini.


"Nenek itu Ibu dari Ayahku, mana mungkin aku tega melaporkan beliau. Belum lagi, sekarang aku tinggal sama beliau, yang jadi orang tua aku sekarang ya cuma beliau."

__ADS_1


Faisal memberanikan diri untuk bertanya, "Apa nggak ada tempat lain, Ki?"


Kinanti menggeleng, "Nggak ada."


Suara Kinanti kembali bergetar, matanya jauh menerawang entah kemana.


"Apa yang Nenek lakuin ke aku dan Nana, karena rasa sakit hati beliau atas perbuatan Ayah aku. Jadi beliau nggak seratus persen salah."


Faisal masih mempertahankan posisinya, ia menatap Kinanti semakin lekat.


"Apapun alasannya, Nenek kamu salah karena jahat sama kalian," tutur Faisal.


Kinanti tak menjawab, ia lalu bangkit dari duduknya, "Aku harus pulang Sal."


Tampaknya Kinanti masih enggan terbuka, lantas Faisal buru-buru mengambil obat dan memberikannya pada Kinanti.


"Minum obat dulu ya, badan kamu panas."


Faisal berlari ke arah bar, lalu kembali dengan segelas air putih di tangannya.


Kinanti masih berdiri, namun ia mengangguk saat Faisal kembali membujuknya.


"Ki, please."


Selesai Kinanti menuruti perkataannya, Faisal kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya.


"Sebenarnya, aku mau ngasih ini ke kamu."


Kinanti diam beberapa detik, matanya berbinar melihat benda cantik di tangan Faisal.


Tanpa meminta persetujuan Kinanti, Faisal memasangkan jepit yang ia beli semalam di rambut Kinanti.


"Cantik," ucapnya tulus, "Cantik sekali."


Kinanti yang tadi jantungnya sempat berdegup kembali berdegup kencang, membuat dirinya kini gugup setengah mati.


Setelah tadi membuatnya kesal, kemudian deg-degan, tak habis pikir, lalu membuatnya kesal lagi, dan sekarang kenapa Faisal bisa menciptakan beragam rasa dalam satu waktu.


Kinanti menggeleng, ada yang tak beres dengan hatinya, atau mungkin dengan kepalanya.


"Kenapa?" Faisal tampak khawatir, "Kamu pusing?"


Kinanti menggeleng lagi, kali ini membuat Faisal justru menatapnya bertanya.


Kinanti menyentuh jepit kupu-kupu di kepalanya, "Ini maksudnya apa?"


Faisal mengedikkan bahu, "Aku lihat kamu kemaren cantik pakai jepit rambut. Pas semalam keluar ingat kamu, jadi yaudah aku beli."


"Maksud aku kenapa kamu ngasih ini?"

__ADS_1


"Aku ..... yakin kamu mau tahu?"


Kinanti mengernyit bingung, "Emang kenapa?"


"Makanya aku tanya, yakin kamu mau tahu?"


Kinanti tak ambil pusing lagi, "Terserah kamu deh."


"Kamu kalau sama Raka kenapa senyum mulu, tapi kalau sama aku justru sebaliknya. Kenapa gitu?"


Kinanti meminun susu coklatnya, "Nggak kok. Perasaan kamu aja."


"Kamu suka sama Raka?"


Kinanti merasa tersudut kan kali ini, "Tuh! kamu nyebelin Faisal, makanya aku lebih suka dekat sama Raka."


"Benar kan kamu suka sama Raka! Raka keterlaluan, pasti kamu suka sama dia karena dia baik sama kamu kan? Dia memang tukang ngasih harapan."


"Nggak, dia memang orang baik. Memangnya kenapa?"


Faisal mengacak rambutnya kasar, "Kenapa nggak aku aja Ki?"


"Ha? maksud kamu apa?"


Faisal menatap Kinanti, kali ini ia benar-benar tak dapat menahannya lagi. Biarkan saja Kinanti akan menganggapnya apa, yang penting Faisal telah berusaha.


"Aku suka sama kamu. Kenapa kamu malah suka sama Raka. Raka itu udah punya pacar Ki," ucapnya tanpa jeda.


Kinanti diam, ia berusaha mencerna perkataan Faisal sebelum akhirnya tertawa.


Pagi ini suasana hatinya benar-benar berubah-ubah drastis.


"Kamu nggak lagi keceplosan kan?"


Faisal menahan malu, rasanya pipinya hampir meletus karena panas.


Kinanti berdiri kembali, "Aku mau pulang Sal."


Faisal mengambil jaket dan kunci motornya, apapun hasilnya yang penting Faisal telah mengungkap isi hatinya.


Meski malu, namun entah kenapa hatinya terasa lebih ringan.


Apalagi setelah Kinanti menahannya sebelum meninggalkan rumah gadis itu.


"Aku belum yakin aku suka sama Raka atau enggak. Tapi Setiap kali ada Raka aku ngerasa nyaman, tatapan Raka ngingetin aku sama Ibu aku, Sal. Jadi aku belum bisa jawab apa-apa."


Ada sedikit harapan yang tumbuh di hati Faisal, semoga saja perasaan Kinanti pada Raka hanya bertahan sampai di sana. Raka hanya mengingatkan Kinanti pada Ibunya, tak lebih dari itu.


[]

__ADS_1


Ps. Biasa kan ya sayy anak-anak remaja masih labil masih bingung sama perasaannya😂


Kataku sih Gassss ada Faisal😍😂


__ADS_2