
"Kasian dia ditinggal orangtuanya."
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinganya.
Kinanti tadinya berniat untuk membalas perkataan teman sekelasnya yang bahkan belum ia kenal, namun urung saat Kinanti hanya menghela napas beberapa kali dan tetap lanjut melangkahkan kakinya.
Kinanti bingung dari mana semua orang tahu mengenai dirinya. Dari mulai dia masuk ke Nusa Bangsa, semua orang seakan bisa membacanya.
Kinanti tak habis pikir mengapa juga orang-orang mengasihaninya, dia sangat membenci hal itu.
Sedikit lagi sampai ke kantin lagi-lagi Kinanti harus berhenti sejenak berpikir apakah dia harus melanjutkan niatnya untuk makan atau lebih baik kembali ke kelas.
Di depan sana ada gerombolan siswa yang sedang berkumpul bahkan sesekali mereka terlihat saling melempar candaan, ini kelemahan Kinanti, dia bahkan tak pernah berani melewati kerumunan sendirian.
Namun semakin lama dia berdiri di tempatnya sekarang, malah akan mengundang tatapan aneh dari orang-orang yang melewatinya.
Tanpa bisa ditahan kaki dan tangannya mengeluarkan keringat dingin. Kinanti merutuk dirinya sendiri mengapa hal-hal seperti ini selalu terjadi saat dirinya gugup dan ketakutan.
Kinanti ayo demi perut kamu, harus berani! Kinanti menyugesti dirinya sendiri dalam hati.
Beberapa orang di sana mulai menyadari keberadaan dirinya, Kinanti tak punya pilihan lain akhirnya dia memberanikan dirinya.
Belum sempat Kinanti melangkah seseorang melewatinya, "Yuk bareng."
"Syahril, tungguin!"
Setelah sadar siapa yang melewatinya, Kinanti langsung bergegas mengekori pemuda itu.
Kinanti merasa sangat bersyukur, dan beberapa kali berterima kasih kepada Syahril.
Saat akhirnya melewati gerombolan tadi Kinanti hanya menundukkan kepalanya dengan tetap mengikuti langkah Syahril, Kinanti hanya sempat mendengar ketika beberapa siswa bertanya tentang dirinya, yang di jawab Syahril seadanya.
"Siapa Ril?"
"Cie cie! cantik tuh, Cewek lu?"
Syahril tampaknya tak terganggu ia menjawab dengan tenang, "Temen, Bang."
Sampai di kantin mereka terpisah setelah Kinanti mengatakan terima kasih sekali lagi.
Kinanti memilih untuk membeli sebungkus nasi gurih dan beberapa tempe goreng untuk mengganjal perutnya.
Saat Kinanti mengedarkan pandangan dia melihat gerombolan teman sekelasnya ada di ujung kantin, termasuk Faisal dan Raka, sepertinya mereka yang kata Sarah se-geng karena di manapun selalu bersama, termasuk di kelas mereka akan menyatukan kursi hanya untuk saling bercanda saat jam kosong.
Kinanti masih berjalan mencari tempat duduk saat akhirnya dia melihat seseorang yang tampak familiar memunggunginya.
"Sarah. Yaampun nggak ngajak aku makan," protes Kinanti yang langsung meletakkan nasi di samping Sarah.
"Eh Ki, maaf tadi aku lihat kelas kamu belum keluar jadi aku duluan sini," jelas Sarah menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.
Ternyata Sarah tidak sendirian karena ada Farah ikut bergabung membawa semangkuk bakso.
"Eh Kinanti, cie jadi anak kelas inti. Gimana rasanya gabung anak-anak hits?"
"Farah udah sembuh?" Kinanti tak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Farah.
__ADS_1
"Masih agak flu, makanya pengen makan yang anget-anget. Tolong sambelnya dong," pinta Farah.
Kinanti memberikan semangkuk sambel yang ada di dekatnya.
Sarah menyuap makanannya, "Pacaran mulu, sih."
"Seru tahu hujan-hujanan bareng pacar," timpal Farah cengengesan.
"Lu pikirannya pacaran mulu kenapa, sih." Sarah geleng-geleng menatap sahabatnya itu.
Farah hanya mengedikkan bahunya, ia lantas kembali beralih pada Kinanti, "Eh gimana enak nggak sekelas sama anak-anak pinter?"
Kinanti menelan nasinya terlebih dahulu sebelum menjawab,
"Jadi kamu pengen tahu rasanya sekelas sama anak hits, atau rasanya sekelas sama anak pinter?"
"Sama aja, kan mereka anak hits dan pinter," ucap Farah yang langsung menyeruput kuha baksonya.
"Ya gitulah, mereka aktif semua, kalau di suruh ngerjain di papan tulis hampir setengah kelas tunjuk tangan. Tapi, ya gitu, udah berkelompok. Kalau aku jangan tanya, sampai sekarang belum kenal sama mereka semua."
Kinanti mengingat kembali suasana di kelasnya saat mereka semua saling lempar candaan Kinanti tetap berdiam diri di tempat duduknya, tanpa dilibatkan.
"Kamu sesekali bergaul sama mereka kali Ki, nanti juga lama-lama kenal. Ikut nimbrung gitu," kata sarah setelah meneguk es jeruknya.
"Bingung aku mau nimbrung gimana, mereka kaya punya pembahasan sendiri yang nggak ada habisnya, sedangkan aku nggak tahu mau ngomong apa, lagi pula aku malu banget."
Farah sedikit terlihat mulai kepedesan, "Emang mereka nggak pernah ngajak ngomong kamu?"
Kinanti menelan nasinya terlebih dahulu, "Ya ada sih beberapa, nanyain nama, atau tinggal di mana. Tapi ya udah, gitu aja."
"Belum mungkin, nanti juga deket, proses." Sarah kali ini menimpali.
"Eh, nggak usah, aku nggak masalah kalau harus sendirian juga. Pokoknya kalian tenang aja." Kinanti berusaha meyakinkan temannya, walaupun dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakannya, namun hal itu lebih baik dari pada harus bersama Faisal.
Memang benar Kinanti sangat sulit untuk berteman dengan orang baru, namun baginya hal tersebut tak akan jadi masalah, toh selama ini Kinanti masih oke-oke aja cukup baca buku atau tidur seperti biasanya.
"Nenek kamu masih suka mukulin kalian?" kali ini Sarah yang bertanya.
Kinanti menarik napas sebelum menjawab,
"Masih."
"Sebenarnya apasih yang bikin Nenek kamu jadi berubah gitu, ini udah nggak bener Kinanti," ucap Sarah mulai kesal dengan apa yang dilakukan Nenek Kinanti.
Napsu makan Kinanti kini benar-benar hilang, entah kenapa untuk menelan makanannya sangat sulit.
"Ki, kita lapor polisi aja ya." Farah kini berpindah duduk tepat disampingnya, yang semula berada di hadapannya.
"Iya Ki, benar kata Farah. Aku tahu kamu nggak tega ngelaporin beliau karena saat ini kamu tinggal sama Nenek kamu kan?"
Keduanya menatap Kinanti yang saat ini mulai berkaca-kaca menahan tangis. Namun bukan Kinanti namanya kalau begitu saja membiarkan teman-temannya tahu akan kerapuhannya.
Kinanti tersenyum lantas, "Udah ya teman-temanku yang baik, aku lagi ngga pengen bahas ini. Kita lanjut makan ya."
"Ki, ngga gini caranya menghadapi masalah. Kamu ngga bisa buat mendem apa-apa sendiri."
__ADS_1
Farah terlihat gemas kali ini, memang hanya mereka berdua yang tahu sebagian kisah hidup Kinanti. Itupun karena pernah suatu ketika mereka tak sengaja melihat Kinanti yang menangis sesegukan di toilet.
"Farah, udah ya. Please."
Kinanti tampak memohon.
Sarah yang paham akan situasi saat itu memberikan kode, agar Farah tak melanjutkan lagi apa yang ingin ia katakan
Farah yang ingin protes akhirnya hanya bisa menghela napas.
"Oke kali ini aku akan tetap diam. Tapi Ki, kamu tahu kan kalau ada apa-apa kamu punya Aku dan Sarah," tutur Farah mengingatkan.
Kinanti sebenarnya sangat bersyukur memiliki teman em mungkin sudah seperti sahabat baginya. Tapi Kinanti juga tak mau membuat kedua sahabatnya itu ikut masuk dan memikirkan permasalahannya, baginya cukup dirinya saja yang menanggung semua ini.
Walaupun belakangan Kinanti sadar bahwa dirinya tak sekuat itu.
Rasanya Kinanti ingin berlari dan menangis saat ini juga, "Makasih ya."
Hanya itu yang terlintas di mulutnya saat itu.
"Haloooo cewek-cewek cantik!"
Tiba-tiba mereka di kagetkan dengan kehadiran Faisal yang entah dari mana datangnya.
Sarah cukup kesal karena kehadiran Faisal sangat mengganggu, "Apaan si lo gajelas banget!" Omelnya setelah menyadari Kinanti saat ini hampir mengeluarkan air mata.
"Ganggu tau nggak," kesal Farah ikut-ikutan.
"Sewot amat kenapa, sih. PMS mulu ya lo."
Kali ini Faisal menarik kursi tepat di depan Kinanti, sebelum akhirnya panik menyadari Kinanti yang terlihat tak baik-baik saja.
"Eh Ki, kamu kenapa? Hidung kamu merah gitu, kepedesan ya?" Faisal mengulurkan tisu, nadanya terdengar benar-benar panik.
"Dih, sok care banget lo," timpal Sarah
"Iya ni, jangan deket-deket deh sama temen gue," larang Farah mengibaskan tangan Faisal yang memegang tissue.
Faisal kesal bukan main, "Eh nenek lampir pada diem deh, berisik!"
Raka yang baru datang menyadari ketegangan temannya dan dua orang di meja tersebut berniat mencairkan suasana.
"Lagi pada ngomongin apa ni, harga bakwan naik ya? Soalnya kan harga minyak juga naik."
Faisal melirik tajam kearahnya, "Diem anjing, nggak lucu."
"Calm, bro. Kinanti kamu nggak kenapa-napa kan? Merah gitu mukanya,"
tanya Raka melirik Kinanti yang dari tadi diam saja.
"Eh nggak apa-apa kok."
Kinanti mencoba tersenyum setulus mungkin agar dirinya terlihat baik-baik saja.
tanpa sadar Faisal sedari tadi memperhatikan nya.
__ADS_1
Kinanti kayanya kamu nggak pernah senyum semanis itu di depan gue.
[]