Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 24 : Faisal dan Kekhawatirannya


__ADS_3

"Pakai jaket aku ya," ucap pemuda di sampingnya setelah beberapa menit saling diam.


Kinanti tak menjawab, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Saat ini mereka berada di sebuah cafe yang entah di mana.


Kalau memang keadaannya harus diketahui orang lain, mengapa selalu orang ini yang ia temui saat keadaannya kacau?


Kinanti masih terdiam saat seseorang di sampingnya mulai meletakkan jaket di tubuhnya.


"Em ..... maaf. Aku nggak seharusnya ke rumah kamu ya?"


"Kalau kamu tahu kenapa nekat ke rumah aku sih!? Mau kamu apa Faisal?!"


Meski suaranya naik satu oktaf, namun tak terdengar kemarahan dalam kalimatnya. Justru sebaliknya, mata Kinanti terlihat seperti kaca yang siap pecah.


Saat tubuh Kinanti mulai bergetar, Faisal tak kuasa menahan tangannya untuk tak memeluk gadis rapuh itu.


Teringat beberapa waktu lalu saat Faisal berdiri kikuk di depan ruko Kinanti, sepertinya ia datang di waktu yang tidak tepat, sangat-sangat tidak tepat, ia sadar akan hal itu.


Namun melihat keadaan Kinanti, tangan Faisal mengepal.


Emosinya membuncah, mengetahui sedikit kisah Kinanti sudah cukup membuatnya dapat menebak luka di wajah Kinanti pasti ulah wanita paruh baya yang sedari tadi bersikap ramah padanya.


Namun semuanya hanya kamuflase belaka, Faisal sangat sadar akan hal itu.


Kinanti yang melihatnya masih bergeming seperti bingung akan melangkah maju atau kembali masuk.


"Itu Kinanti nya, kalau bisa kalian ngobrol di luar aja ya Nak," ucap Nenek Kinanti yang di buat-buat sangat hangat.


Meski kepalanya mengangguk namun Faisal ingin melakukan sesuatu untuk Kinanti.


Mungkin ini jadi kesempatan yang tepat untuk membantu Kinanti.


Pikirnya begitu, namun sayang saat Faisal melangkah mendekati Nenek Kinanti untuk meminta penjelasan mengapa tega memperlakukan cucu perempuan beliau seperti itu, Kinanti menarik tangannya begitu saja.


"Kita keluar aja ya," pinta Kinanti memelas, ia beberapa kali menggeleng membuat Faisal tak memiliki pilihan lain.


Seluruh tubuh Faisal rasanya lemas, berpikir keras apa yang sekiranya bisa ia lakukan untuk mengurangi beban hidup gadis yang saat ini dalam rengkuhannya.


Kinanti menarik tubuhnya, ia lalu mengusap hidungnya yang turut berair.


Faisal menatap Kinanti dalam diam, seakan merekam tiap gerakan gadis itu dalam ingatannya.


Wajahnya yang pucat membuat tangan Faisal tergerak untuk menyentuh dahi Kinanti.


"Panas badan kamu," lirihnya sebelum helaan napas keluar lagi dengan kasar dari mulutnya.


Setelah menggosok hidungnya beberapa kali Kinanti lalu beralih pada Faisal.


"Jadi, kamu sebenarnya mau ngapain?"

__ADS_1


Faisal tak menjawab, pemuda tersebut bangkit dari kursinya ia lalu keluar begitu saja, meninggalkan Kinanti yang semakin bingung.


Lima menit berlalu Faisal masih tak kembali, Kinanti menoleh kanan-kiri tak banyak pengunjung, namun tak mungkin juga di pulang begitu saja.


Seorang pelayan yang tak terlihat seperti pelayan meletakkan segelas susu coklat dingin di atas meja.


"Di minum dulu nih, sambil nungguin Faisal.''


Kinanti tersenyum canggung, sepertinya pria yang seusianya 20 tahunan itu telah mengenal Faisal, atau mungkin memang mereka berteman? Entahlah.


Kinanti tersenyum lagi merasa tak enak hati, apalagi dirinya tak membawa selembar pun uang untuk membayar.


"Mohon maaf Bang, tapi saya nggak pesan minun."


Pria itu mengibaskan tangannya, "Udah nggak apa-apa, gratis buat pacar Faisal mah."


"Eh, enggak. Aku bukan pacar Faisal," jawab Kinanti cepat membuat pria itu menatapnya heran.


"Oh bukan? Masak sih. Soalnya baru kali ini Faisal bawa cewek kesini."


Tatapan pria itu lalu jatuh pada jaket Faisal yang masih setia nangkring di tubuh Kinanti.


Kinanti menyadari hal tersebut, lantas ia lepas jaket varsiti tersebut, "Ini, ini dipinjemin kok. Bukan karena aku pacarnya, kita teman satu sekolah, Bang."


Kinanti kemudian teringat pada momen saat Faisal tahu-tahu memeluknya waktu dirinya menangis, pasti karena itu Abang-Abang di hadapannya ini menganggap mereka pacaran.


Pria tersebut tertawa, karena melihat wajah panik Kinanti.


Kinanti lagi-lagi hanya dapat tersenyum canggung, "Makasih, Bang."


Pintu kaca utama cafe terbuka, muncul Faisal di sana dengan beberapa kantong kresek putih.


Pria yang memberikan susu coklat dingin pada Kinanti ternyata turut menoleh, "Dari mana lo? ceweknya di tinggal sendirian."


Kinanti membuka mulutnya untuk protes kembali namun Faisal lebih dulu menjawab, "Nyari sarapan Bang. Thanks ya susunya, dia cepet tenang kalau minum susu coklat."


Pria tersebut lalu menatap Kinanti jahil dan penuh kemenangan, "Tuh kan, pacarnya. Nyampe hapal gitu."


Kinanti menatap kesal pada Faisal, kenapa pula pemuda itu seperti paling tahu tentang dirinya.


Faisal meletakkan bawaannya ke atas meja, lalu ia kembali pada pria yang masih berdiri di sampingnya menatap Kinanti dan Faisal bergantian.


"Ck! udah sana lanjut kerja Bang!"


Pria dewasa tersebut tertawa sebelum berlalu.


"Kamu kenal sama orang itu?"


Kinanti akhirnya mencoba mencari bahan obrolan di tengah Faisal yang mengeluarkan styrofoam yang entah apa isinya, serta banyak obat-obatan.

__ADS_1


"Itu Bang Tama, aku sering kesini makanya dia hapal kayanya."


Faisal mengangkat tangannya yang ia dekatkan ke dahi Kinanti, membuat Kinanti refleks mundur.


"Mau ngapain?"


Faisal menahan lengan Kinanti, "Itu luka kamu harus di obatin," ucapnya sebelum menyingkap rambut yang sengaja Kinanti gunakan untuk menutupi lukanya.


Kinanti menyentuh sobekan kecil di pelipisnya, "Udah aku obatin tadi."


"Diobatin lagi, itu harus diperban nanti infeksi mau?"


Kinanti cemberut mendengar ancaman Faisal, akhirnya Kinanti tak membantah lagi saat temannya itu mulai sibuk menyiram kapas dengan alkohol untuk mengobati lukanya.


Kinanti sempat berdegup saat Faisal menggeser kursinya agar posisi mereka lebih berdekatan, sebelum buru-buru ia tepis.


Faisal dengan telaten mengolesi salep di lukanya, tak sampai situ pemuda itu menutupnya dengan kain kasa lengkap dengan plester hansaplas.


"Nah, kalau gini lebih aman," tutur Faisal setelah melihat hasil perbannya, yang berakhir sempurna.


Kinanti menyentuh perban yang telah menempel sempurna di sana, "Makasih."


"Sekarang makan ya?"


Faisal membuka styrofoam yang ternyata isinya bubur ayam, membuat Kinanti yang sedari tadi malam belum makan meneguk ludahnya.


Namun Kinanti berusaha tetap menolak.


"Maaf Faisal, aku nanti aja makan di rumah. Kamu kenapa ke rumah ku? Aku nggak bisa lama-lama kasihan Nana sendirian di rumah."


Faisal tak menjawab ia justru memberikan sendok plastik ke tangan Kinanti.


"Pokoknya kamu harus makan dulu. Habis itu minum obat, baru deh aku anterin pulang."


Kinanti menghembuskan napas lelah, Faisal memang selalu begini selalu memaksa.


"Faisal-"


"Hussh diem. Makan dulu ya," ucap Faisal menutup mulut Kinanti dengan jari telunjuknya.


Karena tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar berdebat akhirnya Kinanti diam, ia mulai menyuap buburnya dengan malas-malasan.


"Aku pengen ketemu kamu, Ki. Nggak tahu kenapa. Dan aku nggak nyangka kalau keadaan kamu lagi separah ini," tutur Faisal pelan, namun apa yang dirinya katakan hal jujur.


Entah kenapa sejak semalam ingin bertemu dengan Kinanti.


Faisal menatap Kinanti dengan hati-hati, "Kita lapor polisi ya?"


Gerakan tangan Kinanti terhenti, ia menatap inti mata Faisal, sebelum mengatakan hal yang telah Faisal prediksi lebih dulu.

__ADS_1


"Nggak usah ikut campur."


[]


__ADS_2