
"Sakit, Nek," lirih Kinanti saat berusaha menarik tangannya.
"Kamu masih mau ketemu sama perempuan yang sudah tega ninggalin kamu?!"
Nenek menatapnya nyalang, pun remasan di tangan Kinanti yang semakin kencang.
"Lepasin anak saya!" Teriak Dewi.
"Kamu ngapain kembali Dewi?!"
Nenek kembali berteriak membuat beberapa orang yang juga tengah menjalankan pemeriksaan menatap ke arah mereka.
Raka tak tinggal diam, terlebih saat dirinya melihat tangan Kinanti yang semakin memerah.
"Saya mau mengambil anak-anak!" Meski tatapan Dewi menatap lurus pada perempuan paruh baya yang pernah mengusir dirinya, namun kedua tangan nya dengan setia merengkuh tubuh Nana yang ketakutan.
"Terlambat, mereka sudah nggak ingat kamu masih hidup!"
"Nenek!" Dengan satu hentakan Kinanti menghentak tangannya, yang juga di bantu Raka.
"Kamu mau kurang ajar Kinanti?! Lupa yang ngasih makan selama ini siapa?!"
"Nenek, tolong jangan gini. Kinanti berterima kasih selama ini Nenek kasih izin kami tinggal di rumah Nenek, tapi sekarang Kinanti mau ikut Ibu," ucap Kinanti pelan.
Nenek kembali maju, ingin menarik Kinanti. Untungnya Raka dengan sigap, membawa tubuh Kinanti agar dapat bersembunyi di balik tubuhnya.
"Anak nggak tahu terima kasih!"
"Cukup ya Bu! dulu Ibu mengusir kenapa sekarang Ibu jahat sama anak-anak saya?!"
Teriakan Dewi tampaknya semakin membuat geram Nenek, terlebih saat Nenek semakin maju berusaha meraih rambut Dewi.
Kinanti yang panik berteriak, "Tolong! tolong!"
Mendengar adanya keributan, beberapa petugas keamanan datang.
"Tolong jangan membuat keributan di sini!"
Melihat tangan Nenek yang sudah bertengkar di kepala Dewi, petugas tersebut berusaha menarik tangan perempuan itu.
"Kamu sudah merusak anak saya Dewi!"
__ADS_1
Teriak Nenek saat tubuhnya berhasil di jauhkan dari Dewi, yang masih mendekap Nana.
Namun Dewi tak tinggal diam, selama ini sudah cukup dirinya yang terus mengalah, "Anak Ibu yang sudah merusak saya! anak Ibu juga yang tidak bertanggung jawab sama saya dan anak-anaknya!"
Tubuh Nenek di tarik menuju pintu luar, namun tatapannya tajam melihat Kinanti.
"Pulang kamu!"
Salah seorang petugas keamanan yang masih berdiri di ruangan tersebut mendekati Dewi, "Kalau ini masalah keluarga, tolong di bicarakan baik-baik di luar Bu. Ini rumah sakit, banyak pasien yang butuh istirahat."
Dewi mengangguk, "Terima kasih Pak."
Raka merengkuh pundak Kinanti yang terlihat kalut.
Karena bagi Kinanti, inilah yang dirinya inginkan bertemu dengan Ibu. Tapi perihal Nenek juga penting bagi dirinya, Neneknya yang telah membiayai hidup dan sekolah selama ini.
"Kinanti tenang, Nak. Semua akan baik-baik saja, ada Ibu. Sekarang kamu jangan bertanggung jawab apapun, ini semua salah Ibu, ini masalah orang dewasa. Jadi biar Ibu yang mikirin, kamu jangan ya."
Dewi menyadari apa yang Kinanti pikirkan, bahkan dirinya mewanti-wanti anaknya itu untuk tak membebani dirinya sendiri.
"Sekarang aku harus gimana Bu?"
Kinanti mendekati Dewi, ia terduduk di tepi ranjang tempat tidur Nana.
Kinanti menggeleng.
"Kalau adek?" Dewi beralih pada Nana, dengan jawaban yang sama Nana menggeleng.
"Jadi sekarang nggak ada alasan, untuk Ibu tetap diam aja. Apalagi membiarkan kalian tinggal di sini," ucap Dewi tegas, namun kelembutan tetap terdengar.
"Dewi ada apa? tadi di depan pada bilang ada keributan," tanya Burhan yang baru kembali dari ruangan Dokter.
"Ibu, Prabu ke sini."
Mendengar jawaban istrinya, Prabu menghela napas.
"Semuanya harus kita selesaikan sekarang."
Tak lama petugas keamanan kembali masuk, "Permisi Bu, Pak. Ibu yang tadi tidak mau pulang, karena kembali membuat keributan jadi kami tahan di kantor keamanan."
Kinanti berdiri, "Kayanya Nenek bakal nekat Bu, biar Kinanti aja yang nemuin."
__ADS_1
"Enggak Kinanti. Biar Ibu aja," ucap Dewi tegas.
"Kinanti aja Bu," kata Kinanti berusaha membujuk.
"Sudah gini aja, kita temui Nenek sama-sama," tutur Burhan memberikan jalan tengah.
"Enggak. Kinanti, kamu jagain adek aja ya di sini, Ibu takut Nenek bakal apa-apain kamu," ujar Dewi masih bersikeras agar Kinanti tak menemui mertuanya itu.
"Bun, Dek Nana biar kau aja yang jaga."
Raka akhirnya menawarkan diri, ia tahu betul situasi saat ini.
"Benar sayang, biar Nana sama Raka. Kita omongin semuanya secara baik-baik," simpul Burhan kemudian.
Akhirnya Dewi setuju, Raka yang akan tinggal menjaga Nana.
Sedangkan dirinya, Kinanti dan suaminya akan menemui Ibu Prabu.
Sebelum Kinanti benar-benar pergi, ia mengecup pipi gembul Nana.
"Kamu di sini dulu ya, habis ini Kakak janji kamu nggak akan di pukulin Nenek lagi."
Nana mengangguk semangat, meski matanya berkaca-kaca.
"Kinanti," panggil Raka, ia kemudian menarik tangan Kinanti dan menggenggamnya untuk beberapa saat, "Kamu jangan takut ya."
Kinanti tersenyum, dirinya lalu memantapkan diri sebelum menyusul Dewi dan Burhan yang telah mencapai ambang pintu.
Kinanti memantapkan diri, apapun yang terjadi nanti dirinya harus siap, demi Nana, demi Ibu nya.
Kinanti akan memilih untuk berani kali ini.
[]
Hai! makasih banyak yang udah nungguin ❤
Memang kalau resah, gundah, gulana, bikin cerita bakal stuck ya.
Makanya dari kemaren ketik-hapus-ketik-hapus mulu.
Aku akan kembali ke niat awal, menebar kebermanfaatan di setiap tulisan, kemaren aku lupa dan mikir kalau pembacanya dikit berarti sia-sia.
__ADS_1
Padahal setiap karya akan punya jalannya masing-masing, makanya aku berterima kasih sekali sama teman-teman yang sudah menyemangati dan menikmati karya aku.
Berarti banget lho ❤😘