Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku

Kamu Kenangan Manis Dalam Penderitaanku
BAB 34 : Drama Malin Kundang


__ADS_3

Kinanti panik saat Pak Bima masuk, ternyata hari ini tiba saatnya drama mereka akan dipentaskan, tentunya di kelas.


Tak seorangpun dari kelompoknya yang mengajak Kinanti latihan, atau sekedar memberi tahunya.


Cepet banget udah dua minggu emangnya? batin Kinanti.


Kinanti melihat kanan kirinya yang mulai bergabung dengan kelompoknya satu persatu, namun belum ada yang memanggil dirinya.


Kinanti bingung siapa saja kelompoknya.


"Mulai deh kebingungan," gurau Syahril membuat Kinanti mendongak untuk melihat pemuda itu.


"Lupa, siapa aja kelompok aku."


Syahril dengan gemas mencubit kedua pipi Kinanti, membuat Kinanti meringis kesakitan.


"Sakit!"


"Lagian bisa ya orang lupa sama kelompoknya sendiri," ujar Syahril heran, ia kemudian melepaskan tangannya yang berada di pipi Kinanti.


"Woi, Syahril! Sini lo!"


Faisal berteriak memanggil Syahril, selain memang mereka satu kelompok, ternyata Faisal cemburu melihat apa yang Syahril lakukan pada Kinanti.


"Bentar! bawel banget dia," kata Syahril menunjuk malas pada Faisal.


Kinanti hanya mengangkat kedua bahunya, tak peduli.


Syahril mengedarkan pandangannya, "Teman-teman yang saya hormati! siapa yang satu kelompok sama Kinanti?"


Suara Syahril membuat seluruh penjuru kelas melihat ke arahnya.


"Kinanti di sini!"


Salah satu siswa yang Kinanti sudah tahu namanya Rima mengangkat tangan, lalu melambai ke arahnya.


"Sini Ki," suruh nya.


Kinanti tersenyum, berdiri dari kursinya, "Makasih ya Syahril."


Syahril dengan entengnya menarik pipi Kinanti, membuat Kinanti kesal bukan main.


"Sakit!"


Syahril tertawa-tawa bodoh, namun tak lama dirinyalah yang berteriak kesakitan.


"Woi sakit! siapa sih!"


Syahril mengeram saat kepalanya dipiting dari belakang.


"Bacot lo! buruan kita mau mulai!"


Ternyata Faisal yang melakukan hal tersebut, membuat Syahril yang lebih pendek dari nya pasrah di tarik Faisal.


"Kinanti, kamu gabung sama yang lain gih. Biar aku eksekusi dulu biawak ini," kata Faisal membuat Kinanti hanya geleng-geleng melihat tingkah nya.


"Ayo anak-anak mempersiapkan diri!"


Pak Bima sedari tadi memperhatikan kelakuan mereka.


"Itu yang dua di belakang buruan! mau saya karungin terus buang ke Ciliwung?"


Sontak seisi kelas tertawa terbahak-bahak.


"Lempar aja Pak!" Liam ikut nimbrung dan menarik Syahril yang masih di bawah ketek Faisal.


"Basmi aja Pak biar kelas kita nggak terkontaminasi," teriak Rio kemudian.


Semua murid di kelas tertawa membuat Bima kembali menghela napas, sulit sekali menghadapi anak inti yang katanya isinya anak-anak cerdas.

__ADS_1


Saat seluruh teman di kelasnya sibuk tertawa Raka hanya diam saja menatap Kinanti.


Ada rasa senang dalam dirinya karena nanti akan mempertemukan Kinanti dan Bunda. Namun ada sebagian dalam dirinya pula yang khawatir akankah Kinanti sama bahagianya dengan dirinya?


Kini Kinanti mulai mendekati kelompoknya, berbeda dari pertama kali kehadirannya yang tak dianggap, kini mereka menyambut Kinanti.


"Sini! sini! maaf ya kita nggak pernah ngajak lo latihan, karena pasti lo sibuk kan bantu Nenek?"


Ternyata karena kasihan, batin Kinanti.


Namun itu membuat Kinanti juga merasa dipahami.


"Iya, nggak masalah. Makasih atas pengertiannya."


Setelah mengatakan hal tersebut Kinanti sedikit merasa tak enak hati melihat beberapa properti yang temannya buat, seperti perahu-perahu dari kardus.


"Maaf ya aku nggak bantu apa-apa," ucap Kinanti tulus.


Lalu salah satu temannya yang bernama Vera mengibaskan tangan, "Nggak masalah Kinanti. Toh yang latihan beberapa orang aja, yang lain cuman pendukung kaya bantu-bantu ngasih properti atau cuman goyang-goyang jadi gelombang air laut."


Lalu semuanya tertawa mendengar perkataan Vera, termasuk Kinanti.


Teman sekelompok nya terdiri dari, Rima, Tika, Vera, Tiwi, Ilham, Yuda, Imam, dan Sania.


Kelompok mereka akan mementaskan cerita Malin Kundang.


"Jadi sama seperti waktu kita latihan ya, Rima jadi Ibu, Imam jadi Malin Kundang. Tika jadi istrinya Malin Kundang, Ratu jadi anaknya. Sedangkan yang lainnya jadi figuran ya Kita, masukin properti dan lainnya," jelas Vera lalu kemudian gadis berambut segi itu melihat Kinanti.


"Kinanti, kamu jadi batu ya."


Sontak semuanya yang berada di kelompok yang sama tertawa.


"Nanti lo pake itu ya Ki," ujar Ilham menunjuk salah satu karton yang telah di bentuk lingkaran dan dicat warna hitam.


Kinanti mengangguk.


"Lha nanti keliatan mukanya doang?" Tanya Tiwi polos membayangkan Kinanti akan memakai karton tersebut yang kemudian dihadiahi toyoran oleh Yuda.


Suara tawa kembali membahana.


"Itu yang di belakang tolong tenang dulu," seru Pak Bima membuat kelompok Kinanti seketika diam.


Di depan sana kelompok pertama sudah mulai menyiapkan diri.


Kinanti melihat Faisal dan Raka yang mengenakan kain batik yang melilit di kepalanya serta entah tongkat kayu di tangannya.


Sedangkan para perempuan telah melilit selendang beragam warna di pinggangnya.


"Mari kita saksikan Drama pertama kira, yang berjudul Jaka Tarub!"


Pembukaan tersebut di ucapkan oleh Liam yang berlaku sebagai seorang MC.


Seperti cerita rakyat Jakarta Tarub pada umumnya, ceritanya di mulai dari para pemuda yang tengah menggembala mendapati para bidadari yang tengah mandi di sungai.


Lalu pemuda itu yang diperankan oleh Faisal mengambil salah satu selendang dari bidadari yang tengah mandi dengan riang.


Ternyata yang menjadi pasangan Faisal dan Nadia.


Faisal akan menjadi suami Nadia, bidadari yang tak dapat kembali ke kayangan.


Mulanya Kinanti menyimak dengan cermat setiap ceritanya, namun saat adegan Faisal melamar Nadia entah kenapa Kinanti senewen.


Kinanti berdecak beberapa kali, padahal ia dan Faisal hanya berteman seperti yang lainnya.


Hanya saja entahlah, bahkan Kinanti mengesampingkan ketampanan Raka yang menggunakan ikat kepala.


Kinanti memilih tidur seperti biasanya, sampai pada akhirnya ia dibangunkan oleh Vera.


"Bangun Ki," ucap Vera pelan, "Giliran kelompok kita."

__ADS_1


Untung posisi Kinanti di belakang sehingga Pak Bima tak mengetahui bahwa dirinya tidur.


Saat mereka akan maju ke depan Rima mendekatinya, "Ki, emang lo pacaran sama Faisal?"


Kinanti menatap Faisal yang ternyata juga tengah melihat ke arahnya, buru-buru Kinanti menggeleng, "Enggak kok."


Setelahnya mereka bersiap, seperti rencana awalnya semua berjalan sesuai arahan Vera tadi.


Semua berjalan lancar, di buka dengan Malin Kundang yang meminta izin pada Ibunya untuk merantau.


Lalu pada akhirnya Malin Kundang menjadi sukses kaya raya, memiliki seorang istri yang cantik dan seorang anak.


Namun Malin tak menganggap Ibunya sendiri, hingga Ibunya terluka dan mengutuk anaknya yang durhaka itu menjadi batu.


Muncullah Kinanti yang telah mengenakan karton bulat hitam besar sebesar tubuh Kinanti yang memiliki lobang di tengah, sehingga hanya menampilkan wajah polosnya.


Belum lagi di belakang karton tersebut terdapat tali yang di kaitkan ke kedua tangan Kinanti seperti tas depan, membuat Kinanti sulit berjalan.


Suara tawa tiba-tiba muncul di seluruh ruangan.


"Itu telor ceplok gosong apa gimana?"


Celetukan Budi membuat semuanya tergelak, termasuk Pak Bima.


"Batunya gosong banget, eh tengah-tengahnya muncul cewek cantik," seloroh Tio ikut menimpali.


Meski yang teman sekelasnya komentari adalah batu buatan kelompoknya yang sangat tidak niat itu, namun Kinanti merasa malu sendiri.


Mukanya terasa panas, kalau saja bukan karena nilai pasti Kinanti akan berlari ke bangkunya.


Kinanti refleks menutup mukanya saat melihat Faisal yang berada di bangku depan, tepat di depannya mengeluarkan ponsel.


"Ki, pose dulu buat kenang-kenangan."


Kinanti semakin merasa malu, untungnya Vera sadar dan buru-buru menyelesaikan pertunjukan mereka.


Seisi kelas semakin tertawa kencang saat Kinanti yang hendak menggerakkan tubuhnya kesulitan, dengan karton besar itu ia beberapa kali harus limbung puncaknya Kinanti tersandung batu sungguhan yang di jadikan properti.


"Ahahaha Kinanti!"


"Sakit perut gue, lucu juga Kinanti."


"Bisa ngelawak dia."


Beragam komentar Kinanti dengar, meski sakitnya tak seberapa namun malunya bukan main.


Faisal dan Raka berlari menolong Kinanti yang kesulitan untuk bangun.


Namun tetap ada tawa di kedua mulut pemuda itu.


"Kinanti yaampun, kamu kok bisa jatuh," tawa Faisal semakin membahana.


"Kinanti ayo bangun, pelan-pelan," ucap Raka menarik tangan satunya lagi agar Kinanti dapat berdiri kembali.


"Kinanti kamu baik-baik saja?"


Pak Bima turut mendekat, sedangkan Kinanti mengelus dahinya yang mencium lantai.


"Nggak apa-apa Pak," ringis nya.


Kinanti tak pernah menyangka seisi kelas akan menertawakannya, namun kali ini membuat Kinanti merasa senang bukan karena mengasihani seperti biasanya.


"Gemesin!"


Faisal tersenyum di sampingnya membuat bibir Kinanti refleks ikut tersungging.


[]


Ps. Maaf ya mau nyari ilustrasinya waktu karton yang Kinanti pakai nggak nemu 😂

__ADS_1


Bayangin aja telor ceplok yang gosong ya 🍳😂


__ADS_2