Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 21


__ADS_3

Kartika terpaku didepan pintu kamar, rasanya kakinya sulit untuk melangkah. Menatap pria yang ia cintai sekaligus ia benci sedang bercanda dengan anaknya.


"Bunda... ada Om ganteng, katanya belanjaan Bunda ketinggalan di mobil." Jeni mencairkan ketegangan.


Kartika melihat Jenita yang sedang nyaman duduk di pangkuan Rangga, dan mengalungkan kedua tangannya keleher Ayahnya. Tampak setumpuk kebahagian di wajah Jeni. Perasaannya Kartika campur aduk.


"Oh iya, kamu sih... tadi nggak mau ingetin bunda." Kartika bersikap biasa saja, padahal dadanya sesak melihat suaminya itu. Kartika menarik kursi agak menjauh dari Angga kemudian ikut duduk.


"Hihihi... Om sih? nggak mau ingetin." Jeni mendongak ke atas menatap Angga yang masih betah meletakkan dagu di atas kepala Jeni. Angga tersenyum kedua pipi itu pun saling menempel.


Batin Angga berharap Kartika akan duduk di sebelahnya. Jika masih boleh berharap, ingin merapikan poni yang menutup dahi wanita yang masih tetap terlelak di hatinya hingga kini. Namun apa lah daya Angga untuk saat ini, mungkin hanya bisa bermimpi.


"Om juga lupa." Angga terkekeh, merapikan rambut panjang Jeni yang berantakan.


Sementara Arumi bingung, bagaimana saat ini harus bersikap kepada Angga. Sedangkan Jeni, sudah lengket dengan Ayahnya.


Begitu juga dengan Kartika, sebenci apapun Ia kepada Angga. Angga tetaplah Ayah Jeni, tidak ada bekas anak. Kartika menarik nafas berat.


Keempat orang dewasa itupun, larut dalam pikiran masing-masing.


"Kak Anisa... ini Om ganteng, katanya kamu mau kenalan." suara cempreng Jeni, memecah kekakuan.


Jeni tersenyum senang melihat kakak sepunya yang baru keluar dari kamar mandi. Ternyata habis makan Ice cream tadi Nisa langsung mules.


"Kenalkan Om, saya Anisa!"


"Kamu Anisa? ya ampuuun... saya tinggal waktu itu masih umur dua tahun, tapi sekarang sudah besar." Rangga keceplosan.


"Om kenal saya dari kecil?" Dahi Nisa berkerut-kerut.


"Kok Om sudah kenal kak Nisa dari kecil?" otak cerdas Jenita menangkap keganjilan.


"Nisa.. Jeni... temani Mama bikin minuman ya" Arumi mengalihkan.


"Iya bude" Jeni membuntuti Nisa yang sudah jalan lebih dulu.


"Saya tinggal sebentar ya Ga, mau shalat dulu" kilah Aldi ingin memberi kesemparan untuk mereka berdua untuk bicara.

__ADS_1


"Silahkan Mas,"


Tinggal Kartika dan Angga berdua. Sejenak mereka bungkam. Lima menit kemudian. "Tadi belanjaan kamu ketinggalan, aku kesini mau mengantarkan ini." Rangga mengulang kata kata Jeni ia bingung mau bicara apa.


"Terimakasih, jika sudah tidak ada keperluan, lebih baik anda pulang!" usir Kartika secara halus. "Saya peringatkan! jangan katakan apapun pada Jeni. Karena Jeni bukan anakmu, tapi anakku!"


"Tik, aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Jeni, aku tidak bisa jauh darinya. Hukum aku Tik, aku mengaku salah, tapi jangan hukum aku dengan menjauhkan kami." lirih Angga.


Bulir bening jatuh dari kelopak mata Kartika. "Hahaha..." Kartika tertawa di buat-buat, untuk menutup rasa sakit hati karenanya. "Hai bos! kemana saja kamu selama ini? enteng sekali bicara anda!" Kartika mengusap air mata dipipinya yang tak mau kompromi, terus saja mengalir.


"Awalnya saya memang ingin mencari anda, agar kita bisa berkumpul demi Jeni. Tapi apa?! pertemuan pertama yang saya pikir menjadi pertemuan tangis bahagia"


"Tetapi kamu justeru menciptakan tangis luka! kamu menuduh saya selingkuh." kata-kata Angga tiga bulan yang lalu, ternyata sungguh melukai perasaan Kartika.


"Kamu menolak kehadiran Jeni, bahkan hampir saja anda membunuh saya di toilet jika tidak ada orang yang baik hati menolong." Kartika kembali mengusap air matanya dengan punggung tangan.


"Tik. Ma--" Angga ingin berucap namun tika cepat memotong.


"Apa? anda pasti akan bilang minta maaf kan?! basi!" Kartika pun melenggang masuk kedalam kamar. Menekan rasa sakit di dada. Kartika duduk dilantai pinggir ranjang. Tangisnya pecah, bahunya bergetar hebat. Namun begitu, Kartika menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar keluar kamar.


"Tapi kok cuma satu, buat yang lain mana?"


"Dibawa sama bude, kan Jeni hanya bikin kusus buat om."


Rangga spontan menarik tangan Jeni hingga jatuh didadanya. Rasa bersalah semakin dalam, air mata yang menggenang pun menetes. Inilah anak yang telah di sia sia kan tumbuh menjadi anak yang baik. Angga pesimis jika suatu saat nanti Jeni tau bahwa Angga Ayah yang meninggalkan dirinya. Apakah Jeni akan memaafkan dirinya? Angga memeluk Jeni dengan kuat.


Aldi selesai shalat melihat interaksi antara anak dan Ayah itu menghentikan langkah. Menarik lengan Istri dan anaknya memberi ruang tidak ingin mengganggu moment indah itu.


"Om ganteng... Jeni nggak bisa napas nih" ucapnya cekikikan senang.


Angga merenggakan pelukan menatap wajah anak umur tujuh tahun, tapi gaya bicaranya seperti orang dewasa itu. Menatap lekat.


"Om ganteng kok nangis?" tangan kecil itu terulur meraba pipi sang Ayah melihat mata Ayahnya berair menarik tissue di atas meja. Mengusap lembut.


Angga kembali menarik tubuh mungil itu dalam pelukanya. Hatinya tersentuh rahang kekar berwibawa itu kini berubah sendu.


"Om ganteng, teh nya dingin."

__ADS_1


"Oh iya kita minum berdua ya" Rangga menyeruput sedikit teh yang katanya keburu dingin itu padahal masih mengebul.


"Ini cemilanya Om" Anis membawa piring disusul Aldi dan Rumi.


"Terimakasih cantik, jadi merepotkan." tersenyum ramah.


"Loh Kartika mana?" tanya Aldi.


"Dikamar Mas." Angga menjawab ragu.


Pasti dia menangis di dalam kamar, ini gara-gara kamu Ga. Arumi.


"Jeni, Nisa. Sudah hampir jam sembilan, kalian sikat gigi terus bobok ya nak"


"Iya Ma"


"Iya Bude"


"Om ganteng... Jeni bobok dulu, kapan-kapan main lagi ya." Jeni seperti belum ingin berpisah dengan Om ganteng. Ia berdiri di depan Angga memegang kedua lutut Ayahnya yang dia panggil Om ganteng itu.


"Siap cantik." Angga mencium dahi Jeni lembut. Jeni lalu masuk ke kamar bundanya.


"Bunda sudah tidur?" Jeni menyingkirkan rambut bundanya yang menutupi mata.


"Mau bobo sayang, kamu sudah shalat belum?" tanya Kartika sambil terpejam tidur miring agar anaknya tidak melihat mata sembabnya.


"Sudah bareng pakde tadi, tinggal sikat gigi doang." ucapnya sambil jalan kekamar mandi.


Sementara diluar. "Mas, Mbak. Saya pulang dulu sudah malam. Maaf sudah merepotkan." pamit Angga lalu meminum teh nya kembali.


"Nggak repot Ga, sering-sering kesini, tengok anakmu."


"Terimakasih kasih Mas, Mbak" Angga pun keluar diantar Aldi hingga teras rumah. Sedangkan Arumi hanya diam saja.


Angga meninggalkan rumah Aldi, dia menjalankan mobilnya bukan kerumah Diana melainkan menuju hotel.


Untuk saat ini menenangkan diri akan lebih baik, daripada pulang sudah dipastikan kena amukan Diana.

__ADS_1


__ADS_2