Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 26


__ADS_3

"Memang kenapa om? kok tanya soal Ayah, Ayah mungkin lupa ya om, sama Bunda dan Jeni." Jenita langsung murung, ingat lagi Ayahnya.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Om minta maaf, karena sudah membuat kamu sedih, tetapi... jika Ayah kamu minta maaf, kamu mau memaafkan dia?"


"Tentu om, kata Bunda, sebesar apapun kesalahan orang yang nakal sama Jeni, Jeni harus memberi maaf." kata Jeni lugas.


Angga tersenyum, tanganya terulur, mengusap lembut pangkal kepala anak perempuanya.


Mereka diam karena pelayan restoran datang membawa buku menu.


"Jeni mau pesan apa?" tanya Rangga sambil menulis dibuku menu. Angga masih ingat makanan kesukaan Kartika maka tidak perlu menunggu Kartika kembali. Angga langsung memesankan makan siang untuknya.


"Jeni mau sop ayam saja Om"


"Okay... cantik" tangan Angga memencet hidung Jeni. Hingga membuat Jeni tertawa.


"Bunda lama banget ke toilet nya? ngantri ya, Bun?" tanya Jeni ketika Kartika baru saja sampai dari toilet.


"Betul, restoran sebesar ini toilet nya cuma dua, jadi lama deh," keluh Kartika, kemudian ambil handphone yang Jeni letakkan di atas meja.


"Jangan dihapus ya Bun" Jeni khawatir fhoto yang ia ambil di hapus.


"Nggak sayang." Kartika melihat lagi hasil jepretan Jeni, dengan ekspresi yang sulit diartikan. Angga pun ikut melihat fhoto dirinya dengan Kartika yang terlihat mesra, mengulas senyum.


"Jangan senyum-senyum!" sinis Kartika lalu menutup handphone kembali memasukkan ke dalam tas.


"Bunda jangan galak-galak sama om"


"Bunda galak pasti ada sebab, karena om nakal, sama seperti kalau kamu nakal kan Bunda menasehati kamu."


"Om ganteng nggak boleh nakal, sama bunda ya" Jenita menggoyangkan telunjuknya.


"Iya deh, om nggak nakal." pungkas Angga.


Tak lama kemudian, pesanan datang.


Angga meletakan Gurame bakar saos kecap didepan Kartika. Baru kemudian untuk dirinya sendiri.


Kartika melirik Angga yang sudah mulai memasukan suapan pertama.


Ia kembali menatap Gurami di depannya, kaget juga ternyata suaminya masih ingat makanan kesukaannya. "Ah bodo amat! mau ingat, mau nggak, yang jelas dia sudah mengkhianati aku," gumamnya.

__ADS_1


Tidak banyak bicara lagi mereka menyantap makanan, hingga habis. Setelah makan mereka pulang.


"Om pulang dulu ya" pamit Rangga kepada Jeni sedangkan Kartika sudah lebih dulu masuk. "Om ganteng nggak masuk dulu?" tanya Jeni sedikit kecewa.


"Lain kali saja sayang" ucapnya sembari masuk kedalam mobil


"Hati-hati ya Om" Jeni melambaikan tangan kepada Angga yang sudah menyalakan mobil.


"Iya sayang" Angga pun pergi setelah melambaikan tangan membalas lambaian Jeni sambil tersenyum.


Rangga melanjutkan perjalanan menuju pt Diana Group.


*******


Siang berlalu malam pun tiba. Jam delapan malam Rangga sampai di rumah. Pekerjaan kantor lumayan banyak hingga terlambat pulang.


"Hebat sekali kamu sekarang Ga! mendingan nggak usah pulang sekalian, menginap saja dirumah istri mu!" hardik Diana yang sedang duduk di sofa bersama Mama Uly.


"Malam Ma" Rangga tidak menghiraukan omelan istri mudanya. Mendekati Mama dan mencium punggung tangan beliau.


"Malam Ga, tumben, pulangnya sampai malam?" tanya Mama Uly yang sejak tadi memperhatikan menantu dan anaknya. Mama Uly paham, jika situasinya begini anak dan menantunya pasti sedang bertengkar.


"Iya Ma, pekerjaan lumayan banyak, saya mandi dulu Ma."


"Baik Ma" Angga ingin beranjak.


"Alaaahhh... banyak pekerjaan, cuma alasan itu Ma! habis ketemu anak sama istrinya seharian!"


Rangga tidak menjawab langsung naik tangga sambil membawa koper. Dia tidak mau ribut didepan mertua.


Merasa di abaikan Diana semakin marah. "Rangga!" bentaknya, ia beranjak ingin menyusul. Tetapi Mama menarik tangan Diana hingga jatuh ke kursi.


"Kamu ini Na, suami baru pulang! boro-boro kamu buatkan minum, malah marah-marah." Mama Uly geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak semata wayang nya.


"Kenapa sih! Mama selalu membela Rangga? menjadi keras kepala kan jadinya?!"


"Diana, kamu tidak boleh begitu sama suami, jangan seperti teman, bicara asal, tidak di saring dulu. Kalau sampai Rangga tidak kuat dengan kelakuan kamu! dia tidak akan betah dirumah." nasehat Mama Uly panjang.


"Diana kesal Ma, istri tua Rangga datang ke Kota, dan saat ini mereka sering pergi bersama. Diana tidak mau di duakan Ma." Diana menatap Mama Uly berkaca-kaca. "Apa lagi, mereka punya anak perempuan, dan jika Diana perhatikan sangat menyayangi anaknya." sambung Diana menahan sesak di dalam dada.


"Kalau menurut Mama sih, memang sewajarnya suamimu begitu, selama ini kan, kita sudah merebut dia darinya."

__ADS_1


"Tapi Diana nggak mau Ma, Rangga hanya milik aku." kekeh Diana.


"Terserah kamu Na, yang penting Mama sudah peringatkan, jika kamu begini terus, Mama yakin. Rangga akan pergi dari kamu"


"Mama sih, nggak berharap begitu, amit-amiiittt... jangan sampai kalian berpisah." Mama menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Makanya Na, Mama kan sudah sarankan, kamu cepat hamil agar Rangga mempunyai anak dari kamu, dan ada ikatan yang kuat, tapi kamu menolak kan."


"Ngga tahu lah Ma" ujar Diana kemudian masuk kedalam Kamar.


Sampai dikamar, Diana mendengar gemericik air, ternyata Rangga sedang mandi. Diana merebahkan tubuhnya dikasur, ia memikirkan kata-kata Mama Uly. Sudah saatnya memberi anak kepada Rangga. Diana bangun dari tidur ia membuka lemari, ambil lingerie, membuka piama yang ia kenakan lalu menggantinya.


Diana kembali ketempat tidur, membayangkan dulu ketika awal-awal menikah dengan Rangga.


Flashback on


Sudah enam bulan Diana di nikahi Rangga. Namun, Rangga belum memberikan haknya kepada Diana.


Rangga selalu tidur di sofa tiap kali Diana meminta nafkah batin, Rangga tidak memberikan. Rangga tidak ingin berkhianat dengan Kartika. Apalagi selama menikah dengan Diana, Rangga tidak ada gairah ranjang, hingga suatu malam Rangga mengigau.


"Kartika... kesini sayang..." tangan Rangga menggapai-gapai. Saat itu Diana masih terjaga kemudian mendekati sofa.


"Iya Mas..." Diana memeluk Rangga.


"Kartika... kamu kah itu?" ucapnya sambil terpejam.


"Iya Mas... ini aku" Diana meraba tempat-tempat sensitif milik Rangga yang sedang nglindur. Diana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menarik tubuh Angga hingga jatuh ke lantai yang beralaskan karpet, menindih tubuh Diana.


Terjadilah pergulatan di malam itu, hingga sampai puncak nirwana. "Kartika... aku mencintaimu" Rangga pun tergolek lemas dan tidur hingga pagi.


Keesokan harinya, Rangga bangun terlebih dahulu, ia mengerjapkan mata merasa ada yang memeluk perutnya. Angga menoleh ternyata ada Diana disampingnya dalam keadaan tidak memakai sehelai kain pun di tubuhnya. "Apa yang aku lakukan ya Allah..." Angga bergumam hingga terdengar Diana.


"Tidur lagi Ga... masih jam lima kok" Diana menarik Angga yang sedang duduk agar


kembali tidur. Tetapi Angga tidak menyahut ia berlalu menuju kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Rangga mengguyur tubuhnya sambil menangis. Diana segera berjalan pelan mengikuti Rangga, karena pintu kamar mandi tidak dikunci. Diana terperangah, apa yang di lakukan Rangga. Rangga yang sedang duduk memeluk lutut dalam guyuran shower tubuhnya berguncang. Diana geram segitu cintanya Rangga kepada Istrinya. Kenapa bukan kepadanya? Diana langsung mengobrak abrik isi kamar.


Flashback off.


"Ga" panggil Diana manja. "Sini bobo" ucapnya sambil menepuk bantal di sebelahnya.

__ADS_1


Rangga tidak menjawab mengambil piama kedalam lemari, kemudian memakainya. Lalu tidur di sofa.


__ADS_2