
Jam sembilan malam dirumah sakit, tampak Mama Uly memeluk jasat putrinya dengan tangis histeris. Tampak semua ART, supir, satpam sedang berkumpul disana, menghibur beliau.
"Kenapa kamu pergi secepat ini nak, kenapa kamu harus tinggalkan Mama, kenapa..." hu huuuu...
"Mama" Anggak yang baru masuk berdiri terpaku disamping jenazah sambil menggandeng Kartika. Menepuk pundak Mama Uly.
"Rangga..." Mama balik badan lalu menghambur kepelukan Angga.
"Diana telah pergi Rangga, kenapa harus Diana yang dipanggil duluan, kenapa bukan aku saja," tangis Mama semakin pecah.
"Mama... sabar ya Ma." Rangga mengusap-usap punggung wanita tua ini.
Mama melepas pelukanya, menatap Kartika yang berdiri di samping jenazah. Kemudian memeluknya. "Maafkan Diana nak... Maafkan Diana" huhuuu...
"Tika sudah memaafkan Diana Bu. Ibu yang sabar," Kartika pun menangis. Walaupun bagaimana, Diana adalah seorang yang telah memberi pekerjaan ketika baru merantau. Kartika tidak hanya melihat dari sisi buruk mantan madunya. Tetapi... seburuk apapun seseorang, pasti ada sisi baiknya.
"Terimakasih nak, kamu orang baik." Mama melepas pelukan kembali menatap Diana yang sudah terbujur kaku.
"Sudah Ma, sebaiknya kita segera bawa ke rumah duka jenasah Diana." pungkas Angga.
Angga segera memerintahkan mantan anak buahnya agar mempersiapkan semua, yang sudah berada di pelataran rumah sakit.
Jenazah di bawa pulang beriringan, sampai dirumah duka langsung dikebumikan malam itu juga, setelah di mandikan dan di kafani.
Itulah, seberapa banyak harta yang kita miliki, seberapa besar cinta yang kita rasakan. Semua milik Allah, jangan merasa sombong karenanya. Seperti yang dialami Diana.
Kini Diana telah tiada, doa dari orang-orang terdekatnya lah, yang kini mengiringi. Tidak ada harta yang ia bawa kecuali kain kafan yang membungkus tubuh Nya.
Kartika Angga dan juga Mama Uly telah menabur bunga di atas gundukan tanah. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan Diana.
"Rangga... Kartika... Mama mohon nak, tinggalah beberapa hari dirumah Mama ya, ajak Jeni kesini. Mama kesepian nak" air mata Mama bercucuran.
"Baik Ma" tanpa berfikir lagi Kartika meminta Angga agar menjemput Jeni.
"Aku tunggu disini saja Mas menghibur ibu" kata Kartika. Angga mengangguk menyetujui, lantas berangkat menjemput Jeni. Waktu sudah jam 11 malam sebenarnya kasihan Jeni pasti dia sudah tidur.
********
"Apa? Diana meninggal?" Mbak Rum terkejut mendengar penuturan Angga.
"Iya Mbak, Mama minta aku menjemput Jeni Mama ingin ditemani dalam beberapa hari ini," tutur Angga menirukan seperti yang dituturkan Mama tadi.
"Kami ikut Ga" Aldi menyahut.
__ADS_1
"Angkat Jeni Ga" kata Aldi setelah memesan taksi.
"Baik Mas" Angga menggendong Jeni, sedangkan Aldi menggendong Nisa. Arumi mengikuti dari belakang. Kedua bapak itu menggendong anaknya yang masih dalam keadaan pulas. Kasihan jika mereka di bangunkan. Mereka pun berangkat.
"Turut berduka Bu" ucap Rumi dan Aldi setelah sampai dirumah duka. Setelah menidurkan anak-anak mereka dikamar tamu.
"Terimakasih Nak, maafkan Diana ya" Mama Uly kembali menangis. Kartika, dan suami mereka menghiburnya.
Malam itu Aldi dan Rumi menginap dirumah duka keesokan harinya baru pulang.
Sementara Angga dan keluarga kecilnya tinggal dirumah Mama Uly hingga selesai tahlilan tujuh hari. Mama merasa terhibur sedikit melupakan Diana karena kehadiran Jeni.
********
Setahun kemudian setelah Diana meninggal. "Hoek, hueek..." Kartika memuntahkan isi perutnya.
"Kenapa sayang..." Angga memijit tengkuk Kartika dikamar mandi. "Kita periksa ya, sudah seminggu loh, kamu muntah-muntah begini" sambung Angga.
"Nggak tahu Mas, akhir-akhir ini kepalaku juga pusing terus," ucapnya sambil digandeng Angga keluar lantas membantunya berbaring di tempat tidur.
"Kamu tunggu disini, aku siapkan mobil, kita kedokter." kata Angga tidak mau dibantah. Angga mengeluarkan mobilnya dari garasi. Saat ini mereka sudah pindah kerumah Rangga sejak enam bulan yang lalu.
Usaha Rangga saat ini sudah maju, begitu juga dengan usaha Kartika. Jeni saat ini sudah kelas tiga SD.
*******
"Selamat Mbak, Mas. Mbak sudah mengandung tiga bulan" dokter memberikan hasil USG.
"Alhamdulillah... kamu hamil sayang..." seketika Angga memeluk Kartika dari samping karena mereka duduk bersebelahan didepan dokter. dokter tersenyum menatap mereka.
"Jangan terlalu capek ya Mbak, saya buatkan resep anti mual, dan vitamin" dokter menulis resep lalu menyerahkan kepada Angga. Mereka lantas keluar, setelah mengucap salam.
"Yee... yeee..." Jeni mau punya adik Yah?" Jeni kegirangan ketika malam harinya Angga dan Kartika bercerita. Jeni lantas mencium pipi Kartika.
"Kira-kira adik Jeni nanti perempuan apa laki-laki ya Bun?" tanya Jeni kemudian.
"Kamu maunya apa?" Kartika balik bertanya.
"Apa saja, Jeni nggak masalah Bun" Jawab Jeni.
"Nah itu jawabannya, apa pun yang Allah berikan kita harus bersyukur," nasehat Kartika lantas menoel hidung Jeni. "Sekarang sudah hampir jam sembilan sebaiknya kamu bobok, okay..." Imbuh Kartika.
"Iya Bun, Jeni pun segera kekamar saat ini ia sudah punya kamar sendiri.
__ADS_1
*******
"Mas... bangun, Mas" hampir jam dua belas malam Kartika membangunkan suaminya yang sedang tidur memeluknya.
"Ada apa sayang..." Angga cepat-cepat bangun. "Kamu mau apa?" sambungnya, siap siaga, setelah mencuci muka dikamar mandi.
"Aku mau rujak kangkung buatan Mas" ucapnya sambil menelan ludah yang bercucuran, membayangkan rujak kangkung.
"Siap" Angga bergegas menuju kulkas mencari barangkali Bibi menyimpan sayur kangkung. Nasip berpihak kepadanya. Ternya benar, di kulkas sudah siap kangkung.
Dengan semangat Angga menyalakan kompor mengukus kangkung.
Ia ambil cabe, kencur, dan sedikit terasi menghaluskan dan yang terakhir memasukkan gula merah.
Angga kemudian meniriskan kangkung menatapnya tersenyum. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan melewatkan momen kehamilan anak keduanya ini.
Angga akan menebus kesalahanya dulu ketika sempat menyia-nyiakan Jeni, tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya.
Setelah matang Angga meletakkan kanggkung didalam piring yang masih berwarna hijau menyiram atasnya dengan Bumbu. Lalu membawanya kekamar.
"Sayang... ini sudah jadi" Angga membangunkan Kartika yang baru setengah tidur.
"Sudah jadi Mas" Kartika mengendus rujak dalam piring memejamkan mata. "Baunya enak banget Mas" Lalu meletakkan pecel di atas pangkuan.
"Aku suapi ya" Angga memutar kangkung dengan garpu lalu menyuapi istrinya.
"Terimakasih ya Mas" kata Kartika merasa tidak enak hati harus membangunkan suaminya tengah malam.
"Sama-sama, aku justeru senang melakukan ini, apapun yang kamu ingin jangan sungkan, aku akan menebus kesalahanku yang dulu. Karena sudah menyia-nyiakan berlian seperti kalian." jujur Angga.
Kartika menangis dalam pelukan suaminya. Tangis bahagia doanya kini telah terkabul, keluarga mereka bisa berkumpul.
...Tamat....
"Assalamualaikum... redher yang berbahagia. Akhirnya Buna bisa menyelesaikan kisah ini. Semoga ada yang bisa diambil hikmah dari kisah ini.
Saat ini Kartika dengan suaminya hidup bahagia dengan kedua anaknya.
Jeni saat ini sudah kuliah, sedangkan adiknya masih SMP. Semoga keluarga mereka tidak akan ada cobaan lagi.
Doakan Buna sehat dan bisa menulis kisah yang berbeda. Aku sudah ada catatan tapi tidak untuk sekarang. Karena banyak pekerjaan di dunia nyata yang tidak bisa di tinggalkan.💪💪💪✍✍✍.
Terimakasih untuk reader yang masih setia. ❤❤❤
__ADS_1
.